
"Bagaimana dengan elf yang terluka itu?" tanya komandan pasukan perbatasan negara peri.
"Dia akan segera pulih," jawab tabib. Pria tua itu sedang sibuk merawat pria yang seorang lagi, yang mereka duga adalah bagian dari Bangsa Penyihir.
"Akan tetapi, pria ini kondisinya sangat mengkhawatirkan!" tambahnya.
"Kurasa, aku harus meminta pemimpin pasukan di kota untuk mengabarkan hal ini pada Bangsa Penyihir juga." kata komandan itu.
"Mungkin saja dia salah satu utusan yang menjemput ke negeri Elf dan menjadi penunjuk jalan untuk kembali ke negara mereka. Tak diduga dicegat Orc di jalan." Pria yang terus bersamanya memberi pendapat.
"Itu masuk akal." Komandan pasukan itu mengangguk.
"Lakukan yang terbaik untuknya!" pesan komandan itu sebelum beranjak ke luar rumah tabib.
"Aku harus menyuruh prajurit lain untuk memberi kabar tentang hal ini ke kota," ujarnya.
"Lebih baik seperti itu. Dengan begitu, maka Kerajaan Penyihir juga mengetahui apa yang telah terjadi pada rombongan putri Elf itu!" sahut pria paroh baya itu menyetujui.
"Apakah kau benar-benar akan menambah jumlah prajurit perbatasan?" tanya pria itu lagi.
"Ya!" Berita ini sudah sampai ke negeri Elf. Mereka pasti sedang mengirim pasukan untuk mencari sang putri. Dan Orc tak akan tinggal diam. Kita harus bersiaga di perbatasan, mencegah para Orc kabur ke sini. Juga menyiapkan obat-obatan yg mungkin diperlukan!"
"Kau tahu, aku semakin heran padamu. Dengan kebijaksanaan seperti ini, Kenapa kau memilih penugasan di perbatasan yang dikelilingi hutan, ketimbang istana?" Pria itu menggelengkan kepala.
"Terlalu damai di sana!" ujarnya singkat.
"Apa kau tidak merindukan ibumu?" ajuknya.
"Untuk menunjukkan bahwa aku menyayanginya, maka aku akan membantu para Elf itu di perbatasan!" ujarnya tegas.
Komandan memberi perintah pada satu prajurit untuk menyampaikan berita ke kota. Seekor burung pemberi pesan datang menghampiri pria paroh baya itu. Sang komandan hanya melihat sebentar dan tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali dengan urusan pria yang menjadi pengawal dan penasehatnya itu.
"Ibumu mengirimkan pesan. Pamanmu Pangeran Glenn sudah berangkat pagi tadi membawa pasukan untuk mencari putrinya Cristal yang hilang.
"Putri yang hilang itu sepupuku?" kepala pria itu langsung tegak. Matanya menatap tajam.
"Aku akan ke perbatasan sekarang. Jika Paman Glenn berangkat pagi, besar kemungkinan mereka akan melewati tanah tak bertuan siang ini." Komandan itu bergegas berdiri. Mengambil busur dan meletakkan di punggung.
Pria paroh baya langsung mengikuti. Diserahkannya burung pengantar pesan pada salah seorang prajurit. "Kirim pesan ke istana. Katakan Pangeran Adriel akan menjaga perbatasan dengan Negara Penyihir, menunggu Pangeran Glenn!" perintahnya cepat.
"Baik!" Prajurit itu bergerak cepat menulis pesan, sementara burung itu beristirahat.
__ADS_1
Saat dia sudah selesai dengan tugasnya, sang pangeran yang adalah komandan pasukan penjaga perbatasan telah pergi meninggalkan desa. Tempat itu sunyi, dan dia kecewa karena tak bisa ikut serta ke perbatasan bersama setengah pasukan yang ada di sana.
Kelompok prajurit peri melangkah cepat menuju post jaga perbatasan. Sementara sang komandan telah dibawa menghilang oleh pria paroh baya yang melindunginya. Mereka langsung ke garis batas tanah dua negara. Berharap dapat membantu Pangeran Elf jika mereka mengalami kesulitan di sana.
*
***
Satu jam berlalu, perbatasan dengan Negara Penyihir tinggal seratus meter lagi. Mereka sedang melintasi tebing yang sangat berbahaya, karena biasa jadi tempat berhenti para Orc yang ingin menjebak pelintas.
Kuda berlari kencang hingga memasuki batas tanah Bangsa Penyihir. Pangeran Glenn meningkatkan kewaspadaan. Jika tanah tak bertuan bisa dilewati dengan aman, maka berita jatuhnya perbatasan Negara Penyihir bukanlah omong kosong.
"Apakah Cristal dan rombongannya dijebak di perbatasan ini?" batinnya cemas. Tak heran pasukan kecil itu kalah. Mereka sudah lelah dan kehilangan kewaspadaan karena Tanah Tak Bertuan dapat dilintasi dengan aman. "Para Orc itu benar-benar licik!" gumamnya menahan amarah.
Seorang komandan melajukan kudanya, menyusul Pangeran Glenn. "Tidakkah kita lebih baik istirahat dulu, di sini?" tanyanya setengah berteriak, mengalahkan deru suara kaki kuda.
"Tidak! Sangat berbahaya!" sahut Glenn.
"Tapi kuda kita kelelahan!" komandan itu memberi pertimbangan.
Glenn tak menjawab. Perhatiannya tertuju pada sesuatu tak jauh di depan mereka. Gerobak yang membawa putrinya sudah terlihat. Laju kudanya diperlambat. Pasukan di belakang mengikuti.
Glenn melompat turun dari kuda saat prasangkanya makin kuat. Randall mengikuti turun dan melindungi Glenn. Anggota pasukannya yang lain segera membawa kuda mereka untuk melindungi Glenn dari kemungkinan menjadi sasaran anak panah tersembunyi.
Para komandan pasukan ikut turun dan memeriksa. Mereka juga memeriksa gerobak yang ditinggalkan di pinggir jalan. Komandan itu terkejut. Semua barang di dalamnya masih utuh.
"Lihat ke sini! Barang-barang persembahan ini masih berada di tempatnya!" teriaknya.
Glenn mengangkat kepala ke arahnya dan berjalan ke sana. Dapat dilihatnya, bahkan kotak perhiasan Cristal yang isinya sangat berharga, tak disentuh oleh para Orc.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" ujar komandan lain bingung.
"Untuk apa Orc mencegat sang putri jika tak membawa harta benda berharga yang dibawanya?" tanya yang lain lagi.
"Berarti tujuannya memang hanya sang putri!" sahut yang lain.
"Apakah masuk akal bagi mereka menunjukkan maksud sejelas itu?" bantah yang lain heran.
"Benar. Bukankah mereka biasanya tak pernah puas melihat harta berharga dan berkilau?"
Pertanyaan dan bantahan-bantahan, membuat Glenn ikut memikirkannya juga.
__ADS_1
"Aku menemukan Orc mati di sini!" teriak komandan lain dari bawah pepohonan.
Glenn bangkit. "Randal, simpan perhiasan Cristal!" perintahnya.
"Baik!" jawab Randall cepat. Dia naik ke atas kereta dan mengeluarkan kotak perhiasan Putri Cristal.
Glenn setengah berlari pergi ke bawah pohon besar. Dia memang melihat seorang Orc yang tewas mengenaskan dengan tubuh gosong.
"Yang melakukan ini pasti bukan prajurit kita!" tunjuknya.
"Hanya ada dua kemungkinan, seorang bangsa penyihir membantu. Atau, Bangsa peri yang menemukan prajurit kemarin yang melakukannya," satu komandan pasukan membuat kesimpulan.
Glenn mengangguk. Dia berjalan untuk melihat sekeliling pohon dan menemukan sesuatu di balik semak belukar.
"Aku menemukan pedang Gilang!" Tangannya mengangkat pedang sahabat istrinya itu ke arah para komandan pasukan.
"Lalu, di mana dia?" celetuk yang lain.
Mungkin dia kalah dan dibawa bersama dengan Putri Cristal, entah ke mana.
Glenn kembali menggeleng. Itu tak masuk akal!" bantahnya.
"Lihat Orc ini. Dia mati oleh kekuatan lain. Jika Gilang dibawa pergi oleh Orc lain bersama putriku, artinya mereka pergi meninggalkan Orc ini dalam keadaan hidup.
"Lalu, apa perlunya orang itu membunuh Orc, jika bukan untuk menyelamatkan Gilang ataupun putriku?"
"Pangeran, Informasi yang diterima hanya mengatakan Petugas Perbatasan Negara Peri menemukan sepuluh prajurit tewas dan satu terluka parah, serta satu wanita. Tidak ada informasi mereka menemukan Tuan Gilang atau kabar dia hidup ataupun mati!" jelas salah seorang komandan.
"Tambahan lagi, prajurit selamat dan wanita itu ditemukan di tanah mereka yang lari dari tempat ini!" Seorang komandan menambahkan informasi.
"Kemungkinan, komandan pasukan menyuruh salah satu prajurit menyelamatkan gadis pelayan ke tanah para Peri, sementara yang lain bertarung-mati-matian!"
Semua terdiam mendengar analisis itu. Glenn menatap lurus ke arah hutan gelap yang mengarah ke tanah para peri.
"Aku ingin salah satu dari kalian membawa tim kecil dan pergi ke perbatasan dengan Negara Peri. Carilah informasi akurat dari komandan pasukan penjaganya!" kata Glenn.
Mendapatkan tatapan tajam dari Glenn,para komandan itu dengan cepat mengajukan diri untuk menjadi kelompok yang pergi itu.
"Bagus! Dapatkan informasi sebanyaknya! Kami akan meneruskan perjalanan ini, hingga menemukan putriku!" kata Glenn tegas.
"Baik!" jawab pria itu, Dia dengan cepat mengatur beberapa orang untuk dikirim ke Negara Peri mencari informasi yang benar.
__ADS_1
"Istirahat satu jam, lalu kita berangkat lagi!" perintah Glenn.
********