
“Baik. Ini semua sudah dibagi untuk masing-masing keluarga. Bagaimana cara kita membawanya?” tanya raja.
Dengan cepat Dean mengibaskan tangan. Lalu semua itu hilang dari pandangan.
“Kami datang, Pemimpin,” lapor Red. Di belakangnya, berjalan Kakek Kang.
“Tepat waktu sekali, Red. Aku menugaskanmu membantu penjagaan post teleportasi bawah istana ini,” perintah Dean.
“Baik, Pemimpin.” Red mengangguk hormat.
“Sebaiknya kau makan dulu,” pesan Dean pada Red lewat pikirannya.
Red mengambil beberapa buah yang ada di antara bahan makanan dan menyimpannya. “Siapa yang bisa mengantarku ke post teleportasi bawah?” tanya Red.
“Biar kuantar.” Kepala pengawal istana menyahut cepat.
“Mari,” ujarnya lagi sambil menunjukkan jalan. Red mengikuti di belakang.
Hakon dan Arjun sudah mengambil bagian bahan makanan milik pangeran mahkota. Lalu keduanya kembali membawa sang pangeran pergi.
“Jangan lupa meminta Dimas ke sini dan selamatkan lebih banyak lagi penduduk,” pesan Dean lewat pikiran.
“Baik!” sahut Arjun.
“Yang Mulia, sepertinya ini waktunya kita mengirimkan bahan makanan untuk para kerabat Anda lainnya,” ajak Dean.
“Baiklah.” Raja mengangguk.
“Kakek Kang, bisakah Anda membawa sang raja?” tanya Dean hormat.
“Tentu, Dean,” angguk Kakek Kang.
“Aku juga akan mengantarkan orang-orang ini ke pulau terapung.” Eric ikut serta. Dean tersenyum dan mengangguk.
“Dean, aku dan Sofie akan menyelamatkan lebih banyak penduduk malam ini,” kata Robert.
“Oke, berhati-hatilah!” pesan Dean.
__ADS_1
Sekarang ruang pertemuan itu hanya diisi oleh para pekerja istana yang mengangkuti bahan makanan untuk disimpan sementara di gudang obat. Mereka sangat senang melihat bahan makanan kembali melimpah di istana. Tak masalah meskipun harus bekerja hingga larut. Semua mengerjakan tugasnya masing-masing dengan penuh semangat.
Jason dan tabib, juga telah pergi ke pulau terapung lain untuk mengumpulkan herbal. Itu mungkin akan sangat dibutuhkan saat peperangan besar pecah. Mereka harus punya cukup persediaan obat untuk semua orang. Keduanya sangat bersemangat bila melihat tanaman herbal. Seakan itu emas permata.
***
Esok paginya, empat jenderal yang berada di bawah komando pangeran mahkota, telah berkumpul di tendanya. Mereka membicarakan rencana untuk memasukkan para prajurit, ke rumah-rumah warga yang sudah dikosongkan. Dengan cara seperti itu, maka peperangan bisa langsung dilakukan di tengah kota, tepat di hadapan para Orc.
Sore itu, semua prajurit yang dari pinggir kota sudah berkumpul dekat dengan post teleportasi pulau terapung pangeran Glenn. Lima bawahan Hakon, membantu memindahkan para prajurit ke rumah-rumah kosong, sambil menyisir penduduk yang masih tertinggal di sana.
Malam hari, di ruang pertemuan istana. Para jenderal, penasehat dan beberapa kerabat istana lain telah berkumpul. Bersama dengan Dean dan Raja Felix, mereka mematangkan rencana.
“Bagaimana rencana Anda Pemimpin Cahaya?” tanya Raja Felix. Bahkan meskipun Dean ingin dia dipanggil nama saja, sopan santun sang raja melarangnya berbuat seperti itu.
“Yang pertama, kita kirim Eric dan Pangeran Levyn pergi ke negeri Para Penyihir. Sebelumnya, hubungi Pangeran Glenn lebih dulu. Jika mungkin, minta dia menunggu anak-anak kita datang dan mencari Putri Cristal bersama-sama,” kata Dean.
“Itu ide yang bagus.” Raja mengangguk lalu menoleh pada cucunya Levyn.
“Kau pergilah temui nenekmu. Minta dia buatkan surat untuk ayahmu. Dan tanya padanya apa yang perlu kau lakukan jika menghadapi situasi sihir di sana,” perintah Raja Felix.
“Baik, Kakek.” Levyn keluar dari ruang pertemuan untuk menemui sang ratu.
“Kita beri waktu pesan itu sampai. Mungkin sebelum pagi muncul, Eric, Levyn, Gerald dan Hakon bisa berangkat ke sana.”
“Lalu kita bagaiamana?” tanya pangeran mahkota.
“Jika semua rakyat sudah diungsikan, maka yang pertama dilakukan adalah mengirim Robert, seorang jenderal yang paling mengenal seluk beluk istana, dan beberapa prajurit terlatih, menyusup ke istana utama!” jelas Dean.
“Anda ingin membebaskan ayah dan keluargaku?” tanya pangeran mahkota penuh harap.
“Itu yang pertama harus kita kerjakan. Kita tentu tidak mau mereka menjadikan keluargamu sebagai sandera yang bisa melemahkan rencana kita, bukan?” Dean bertanya balik.
“Tentu. Memang itu yang harus kita lakukan lebih dulu.” Raja Felix setuju.
“Bersamaan dengan itu, Arjun akan menyerang pintu teleportasi istana utama dan merebutnya. Menahan orang di atas untuk turun, dan orang dari bawah, untuk naik!” kata Dean.
“Sofie dan para suku cahaya lain akan membantu Pangeran Mahkota dan para jenderal mengusir orc ke perbatasan!” Dean menuntaskan rencana yang dipikirkannya.
__ADS_1
“Bagaimana menurut kalian, rencana ini?” tanya Raja Felix pada pangeran mahkota dan para jenderal yang hadir.
“Ini rencana yang sangat bagus. Jadi para jenderal Orc tidak bisa lagi memberi komando pada para bawahannya, karena mereka terjebak di istana!” ujar salah seorang jenderal.
“Benar!” Yang lain setuju.
“Menurutku, itu memang rencana yang sangat bagus untuk memutus hubungan mereka. Nanti aku akan membagi pasukan jadi lima kelompok. Kuharap setiap kelompok bisa dibantu oleh satu orang Bangsa Cahaya,” harap pangeran mahkota.
“Tentu saja. Asgeir, Vidar, Tugot, Iron dan Thorn bisa membantu masing-masing kelompok. Maka Sofie bisa bergerak fleksibel untuk membantu melindungi kalian dari para orc yang bersembunyi. Bagaimana?” tanya Dean.
“Itu lebih baik. Jadi kami punya pengawas yang melihat bagian belakang. Terima kasih. Kita sepakati seperti itu saja!” Pangeran mahkota mengangguk setuju.
“Satu hal lagi,” kata Dean, sebelum pertemuan itu diakhiri.
“Ya, katakan saja.” Raja memberinya ijin bicara.
“Jangan memberi tahu rencana kita ini pada negara tetangga lebih awal. Katakan saja saat penyerangan sudah kita mulai. Bukan aku tidak mempercayai mereka, tapi menjaga jangan sampai pesan yang kita kirim, dicegat oleh Orc dan bocor!” Dean memperingatkan.
“Serahkan urusan pengiriman pesan itu padaku. Aku yang akan mengirim pesan besok pagi, setelah melihat perkembangan yang terjadi di sini.” Raja Felix memutuskan.
“Baik. Kalau begitu, rencana sudah kita buat. Lakukanlah seperti itu.” Raja menutup pembicaraan.
Orang-orang membubarkan diri. Sebagian jenderal kembali bersama pangeran mahkota, sebagian lagi menetap di istana, karena prajuritnya ada di area istana.
Seorang kerabat kerajaan yang sebelumnya terjebak di pulau terapungnya, berkata pada Raja Felix.
“Yang Mulia, ijinkan aku menjadi penunjuk jalan di istana utama. Aku yang paling tahu setiap sudut dan ruangan tersembunyi di sana,” katanya menawarkan diri.
“Ah, saudaraku Wulfric, aku memang memikirkanmu untuk pergi bersama dengan Robert.” Raja Felix mengangguk.
“Pemimpin Bangsa Cahaya, bisakah saudaraku Wulfric Ockhenlich yang menjadi penunjuk jalan istana? Dia selama bertahun-tahun pernah menjadi Kepala pengawal istana itu. Tapi kemudian pensiun karena tua,” kata Raja Felix.
“Oh, tentu saja. Robert memang membutuhkan penunjuk jalan yang sangat berpengalaman.” Dean mengangguk setuju.
“Kalau begitu, mari kita bicarakan detail rencana kita,” ajak Robert.
“Tentu saja. Ayo,” kata Wulfric. Lalu keduanya pergi bersama beberapa prajurit yang telah dipilihkan oleh Kepala pengawal istana Raja Felix.
__ADS_1
*****