
Semua anggota tim mencari ke sekitar. Sesuatu yang bercahaya hijau kebiruan. Dan ternyata tidaklah mudah mencari sesuatu yang tidak diketahui lokasi tepatnya. Hingga sore menjelang, mereka masih belum menemukannya.
Dengan lesu, semua kembali berkumpul dan menyiapkan tempat beristirahat. Suara lolongan serigala terdengar bersahut-sahutan meremangkan bulu kuduk.
“Buat dinding yang lebih kuat. Serigala-serigala itu sangat lapar dan berbahaya!” Robert mengingatkan.
“Berbahaya bagaimana Apakah kalian tidak bisa mengalahkannya?” tanya Khort ingin tahu.
“Harus bisa! Tapi jangan lupakan kewaspadaan. Dua teman kami tewas akibat serigala di hutan salju. Aku juga pernah mengalaminya.” Robert menujukkan bekas lukanya yang sangat lebar dan juga hampir membuat dia kehilangan nyawa saat itu.
“Kata Ibu, Ayah juga pernah diserang serigala.” Sofie menimpali.
“Ya, ayahmu dan aku cukup beruntung, karena yang menggigit kami bukanlah serigala yang bisa merubah sifat manusia menjadi liar, seperti yang menyerang Alex.”
Robert tak dapat melupakan apa yang menimpa Alex dan Lena malam itu. Peristiwa paling mengerikan yang pernah dialaminya seumur hidup. Melihat Alex perlahan kehilangan kewarasan dan memakan kekasihnya sendiri.
Anggota tim itu memperkokoh dinding perlindungan mereka dengan dua lapis batang pohon. Dibuat saling menjalin dengan ranting-ranting pinus. Kemudian ditutupi dengan tumpukan salju tebal. Icye menambahkan kekuatannya pada tumpukan salju itu, hingga merubahnya menjadi es batu keseluruhannya.
“Sekarang kau membuat kita seperti kumpulan makanan di dalam freezer,” gelak Evans, diikuti yang lainnya. Icye cemberut.
Namun, Robert justru memerintahkan Icye untuk merubah salju di sekeliling tempat perlindungan menjadi es yang licin, agar serigala tak mudah mendekati tempat perlindungan mereka.
Mereka beristirahat lagi di hutan salju malam itu. Hanya saja, sedikit lebih ramai dengan irama lolongan serigala. Hari kembali berganti. Malam mereka lalui dengan aman.
“Sekarang bagaimana rencana selanjutnya?” tanya Robert pada Eric.
Aku pikir, mencari dinding cahaya pembatas dengan cara kita kemarin, tidak cukup efektif. Bagaimana kalau kita cari dengan pembagian grup seperti sebelumnya?” Eric meminta pendapat.
“Begitu juga boleh. Kita buat grup seperti kemarin lagi, agar pencarian lebih luas.”
__ADS_1
Tidak berlama-lama, mereka sudah siap dengan grup masing-masing. Lalu naik ke atas pucuk-pucuk pinus itu, kemudian menyebar menurut tugas masing-masing.
Sebelum siang, sesuatu menarik perhatian Sofie. “Lihat itu! Apakah itu yang dicari Robert?” Tunjuknya ke satu arah. Arjun mendekat ke tempat yang ditunjukkan Sofie. Dia merabanya dengan tangan, untuk meyakinkan diri bahwa itu adalah dinding tak kasat mata yang dulu pernah O lihat di dunia kecil pertanian, bersama A dan Z.
“Menurutku, ini memang dinding cahaya. Tapi tak ada celah menuju dunia lain di sini.”
“Berarti kita harus mencarinya!” Eric menimpali.
“Panggil yang lain ke sini. Menemukan celah terbuka itu juga bukan perkara mudah. Karena kita tak tahu sepanjang apa batas dinding ini!” kata Arjun.
“Biar kupanggil yang lain.” Sofie mengabarkan penemuan mereka.
Tak lama, semuanya sudah berkumpul di sana. Memperhatikan dinding cahaya transparant itu dengan takjub. Ternyata memang ada pembatas antar dunia di tempat itu.
“Mari kita cari celahnya. “Ingat, untuk tidak menggunakan tubuh kalian untuk menemukan dinding itu. Karena jika sudah lewat tanpa memberi tahu, maka tidak akan bisa kembali. Maka kalian akan sendirian di sana!” Robert memberi peringatan keras.
Tim itu kembali dibagi dua. Satu mengarah ke kiri, satu ke kanan, agar bisa menemukan celah menuju dunia lain. Mereka memeriksa dari barisan dinding atas, hingga ke bagian yang dekat dengan permukaan salju.
“Tetap perhatikan sekitarmu. Jangan sampai tiba-tiba disambar serigala!” Robert memperingatkan yang memeriksa bagian paling bawah.
“Ya!” jawab anggota suku Cahaya yang memeriksa di bawah.
Lewat tengah hari, seorang anggota tim Hakon menemukan celah. Semua kembali berkumpul di tempat itu. Robert mencoba memasukkan tangannya ke balik dinding cahaya. Tangannya tak terlihat hingga siku.
“Ini memang celah dindingnya.” Robert dan Arjun mengangguk sepakat.
“Biar kujelaskan sekali lagi. Segala sesuatu yang ada di balik dinding cahaya ini, tak ada yang kita ketahui. Entah dunia seperti apa yang ada di sana. Entah bagus atau pun buruk. Kita harus bersiap untuk mengantisipasinya!”
“Kami mengerti!” jawab yang lain penuh semangat.
__ADS_1
“Begini saja. Kita coba salah satu dari kita memasukkan kepalanya saja dan melihat keadaan di sana. Kita pegang bagian tubuhnya yang lain di sini. Dia harus memberi tanda. Jika di sana bagus, maka goyangkan tangan kanan. Jika buruk, goyangkan tangan kiri!” Eris memberi ide.
“Jadi, maksudmu, jika dunia di sana itu buruk, maka orang yang memasukkan kepalanya itu harus tetap masuk, karena kepalanya tak mungkin kembali. Kemudian kita mencari celah dunia lainnya lagi. Apakah seperti itu?” Sofie menatap Eric tajam.
“Eh, maksudku bukan seperti itu juga.” Eric menggaruk-garuk kepalanya.
“Karena sejauh ini kita tidak menemukan celah dunia lain lagi, maka sebaiknya kita memasuki celah itu untuk melanjutkan perjalanan. Jika tidak, maka kita akan terus terjebak di sini.” Kakek Kang menengahi.
“Tunggu! Biarkan Ubbe mencatat kordinat di sini, untuk mengetahui jalan ke tempat ini suatu hari nanti!” Dokter Dimas mengingatkan.
Maka Ubbe memeriksa beberapa hal menggunakan alatnya, untuk menentukan titik kordinat hutan salju tersebut. Dia mencatatnya dengan cermat. Sementara anggota Suku Cahaya lain menjaganya di permukaan salju, dari incaran serigala yang sesekali terlihat di antara pepohonan pinus.
“Aku sudah selesai,” katanya satu jam kemudian.
“Mari berfoto dulu!” kata Sofie.
Dia mengeluarkan kameranya. Anggota tim itu langsung berkumpul dan menunjukkan berbagai gaya di depan kamera. Berbeda dengan dua orang Elf itu yang tak pernah mengenal kamera sebelumnya. Mereka berdiri di antara Eric, di tengah-tengah kerumunan, dan tampak kikuk.
“Mari berpegangan! Jangan sampai terlepas!” Arjun
mengingatkan. Bayangan O muncul di benaknya. Kematian Dewi yang melintasi dinding cahaya dan langsung jatuh ke tengah laut, membuat dirinya bergidik.
Kakek Kang kali ini bersedia memberi tumpangan di punggung pada dua Elf. Sementara Ubbe, naik ke punggung Gerald. Sekarang mereka bisa ikut menikmati perjalanan seru tim itu.
Robert memasuki tempat itu lebih dulu, diikuti oleh Eric dan Sofie. Kemudian semua anggota suku Cahaya dan yang lainnya menyusul
Setelah sampai di dunia baru itu, mereka semua terdiam. “Tempat macam apa ini?”
******
__ADS_1