
Jason membisikkan sesuatu pada Sofie. Gadis itu mengangguk sebelum mendekati Ubbe yang sudah bersiap di depan sebuah pintu teleportasi dengan cahaya kehijauan.
“Kembalilah segera!” pesan Eric. Sofie dan Ubbe mengangguk.
“Kami berangkat!” kata Sofie. Tangannya memegang lengan Ubbe dan membawanya melompat masuk ke dalam pintu cahaya dan meninggalkan cahaya terang tubuhnya.
“Dia pasti gadis hebat dan pemberani!” komentar Raja Felix lagi.
“Dia memang gadis paling berani di kelompok kami,” Robert mengangguk setuju.
“Jadi, apa yang bisa kita lakukan lagi? Tanya Raja.
“Kita hanya bisa menunggu pemimpin kami ataupun utusannya, datang ke sini,” kata Robert.
“Sementara itu, tempat ini akan ditutup dan dijaga oleh Gerald dan Fire,” kata Eric.
“Siap!” jawab Gerald dan Fire bersamaan.
“Dan karena tempat ini sangat luas, bolehkan kami beristirahat di sini?” tanya Eric.
“Jangan seperti itu. Masih banyak kamar kosong di istana besar ini,” tukas raja.
“Tidak perlu, Yang Mulia. Kami biasa saja dengan keadaan seperti ini. Kediaman kami sangat biasa dan sederhana. Ibu saya bilang, hidup sederhana seperti orang-orang di desa, jauh lebih tenang dan membahagiakan,” jelas Eric.
“Baiklah. Kau tinggal katakan saja apa yang kalian butuhkan. Pelayan akan berusaha memenuhinya.” Raja tidak mendesak lagi.
Yang Mulia, kami ingin membicarakan hal lain,” kata Robert.
“Oh, kukira lebih baik kita bicarakan di dalam istana saja,” angguk raja.
“Tentu!" Robert dan Eric pergi mengikuti raja. Sementara Jason, Gerarld dan Fire tetap tinggal di tempat itu.
***
Di pulau terapung milik Glenn.
Dengan didampingi Aila, Dimas kembali memeriksa kesehatan pangeran mahkota di pagi hari. Dia mengangguk puas dengan perkembangan pesat pria itu.
“Anda membuat kemajuan besar. Tapi saya pikir, akan lebih baik jika Anda meminum obat ini sekali lagi,” saran Dimas. Pangeran mahkota mengangguk.
“Ijinkan saya periksa sebentar,” kata Aila.
“Siapa dia? Bukankah yang datang kemarin adalah seorang pria?” tanya pangeran mahkota, setelah mendengar suara Aila yang lembut seperti suara wanita.
“Yang kemarin adalah Jason, sepupu saya,” jawab Aila. Dia masih berdiri di samping, menunggu ijin pangeran mahkota.
“Apa kau juga tabib?” Pangeran mahkota menyelidiki.
__ADS_1
“Kami mendapat kemampuan ini dari orang tua kami yang punya kemampuan penyembuhan Bangsa Cahaya. Ibu saya dan ayah Jason bersaudara kandung. Dan ibu Jason adalah seorang tabib terkenal yang ayahnya juga sangat terkenal di tempat kami.” Aila menjelaskan lagi.
“Wah … satu keluarga tabib dan penyembuh. Hebat sekali!” Pangeran mahkota mengangguk. “Silakan periksa.”
Aila mendekat dan meletakkan tangan di atas kepala pangeran mahkota. Sebuah cahaya putih lembut menyusup masuk ke tubuh pria itu. Memberikan rasa nyaman yang tak bisa diterjemahkan.
Meski hanya lima menit Aila melakukannya, seluruh tubuh pangeran mahkota telah kembali merasa segar, seperti segala penyakit di dalamnya telah disembuhkan.
“Aku merasa yang kau lakukan ini, sama dengan obat yang diberikan oleh sepupumu itu. Rasanya sangat nyaman dan tubuh terasa enteng,” puji pangeran mahkota.
“Terima kasih pujiannya Yang Mulia,” Aila membungkuk sedikit di samping Dimas.
Dimas menyerahkan sebotol obat yang dicampur air abadi pada pangeran mahkota.
"Jason mempelajari ibu obat-obatan dari ibunya. Dia memadukan ilmu pengobatan dengan kemampuan penyembuhan yang dimilikinya. Kemarin kondisi anda sangat berat, itu sebabnya hanya dengan menambahkan obat ini baru Anda bisa merasakan perbedaan. Sementara sekarang, Aila tinggal menyempurnakan apa yang telah dimulai Jason.” Dimas menjelaskan.
“Oh … aku mengerti sekarang.” Pangeran mahkota itu mengangguk dan berterima kasih sekali lagi untuk bantuan gadis lembut dan cantik seperti bunga itu.
“Apakah orang tua kalian tidak khawatir melepas kalian dalam misi ini?” tanya pangeran mahkota.
“Tidak. Karena ada paman yang akan menjaga keselamatan kami di sini,” jawab Aila sopan.
“Paman?” gumam sang pangeran.
“Apakah Tuan Robert adalah pamanmu?” tanya pangeran lagi. Hanya pria itu yang diketahuinya lebih tua dari yang lain.
“Bukan. Paman kami adalah Eric. Pemimpin Bangsa Cahaya adalah kakek kami,” jelas Aila lagi.
“Pemeriksaan Anda sudah selesai. Kami akan memeriksa para prajurit yang ada di sini.” Dimas mengundurkan diri.
"Bisakah salah seorang dari kalian datang dan menjelaskan beberapa hal padaku?” tanya pangeran mahkota.
“Baik, akan saya panggilkan Arjun dan kakek Kang untuk menghadap Anda.” Dimas dan Aila keluar dari tenda sang pangeran.
“Arjun, bawa Kakek Kang untuk menghadap Pangeran Mahkota!” panggil Dimas lewat pikiran. Maka dua orang itu segera sampai di depan tenda.
“Ada apa?” tanya Kakek Kang.
“Tidak tahu. Mungkin Pangeran Mahkota ingin mengetahui tentang negeri kita atau rencana-rencana kita,” duga Dimas.
“Kalian mau ke mana?” tanya Arjun.
“Memeriksa kesehatan semua prajurit yang ada di sini,” jawab Dimas yang lalu pergi diikuti oleh Aila.
Arjun menemui pengawal sang pangeran yang berjaga di depan tenda. “Saya Arjun, dan ini Kakek Kang. Kami dipanggil menghadap,” katanya.
Pengawal itu masuk dan melaporkan kedatangan dua orang itu. Kemudian dia keluar lagi dan mempersilakan tamunya masuk.
__ADS_1
“Kami menghadap, Yang Mulia,” kata Arjun hormat. Kakek Kang mengikuti langkahnya.
“Terima kasih bersedia datang,” sambut sang pangeran.
Kemudian pengawal tadi datang lagi dengan membawa satu kursi kayu lain dan meletakannya di depan meja kerja sang pangeran.
“Mari silakan duduk,” ujar pangeran mahkota.
Arjun dan Kakek Kang duduk dengan tenang dan menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh sang pangeran.
“Kemarin aku bertemu dengan Eric yang menjadi ketua tim kalian. Setelah dari sini, dia pergi ke istana raja membawa bahan makanan. Aku ingin tahu sedikit, apa rencana kalian selanjutnya? Karena seperti yang kalian tahu, urusan kami tidak lagi sesederhana penculikan Cristal. Tapi negara kami diserang dan diduduki oleh Orc selama sebulan lebih. Sudah sangat banyak korban yang berjatuhan,” kata pangeran itu sedih.
“Aku tidak sempat memikirkan bagaimana nasib keluargaku yang ditawan oleh Orc di istana lain, karena sibuk mengatur serangan dan menjaga wilayah yang sudah kami kuasai.”
Kakek Kang dan Arjun bisa memahami kesedihan pria muda itu. Dia harus menghadapi gempuran itu sendirian, karena sebagian besar tentara di kota sudah lebih dulu dihabisi saat Orc menyerang datang.
“Itu sebabnya Eric ke istana. Dia pasti sudah memikirkan itu juga. Lagi pula, misi kami ke sini adalah untuk mencari Cristal, seperti yang dikatakan Angel di surat. Bahan makanan yang kami bawa sebenarnya hanyalah untuk bekal kami di perjalanan, juga yang bisa kami temui di dunia lain di balik hutan sihir,” kata Arjun.
“Untuk tambahan bahan pangan yang lebih besar, maka harus ada yang diutus untuk pulang dan mengatakan kondisi di sini pada Dean. Dialah yang bisa memutuskan akan membantu seperti apa,” tambah Kakek Kang.
“Kalian ingin kembali?” tanya pangeran itu kecewa.
Arjun berpikir sejenak. “Saya rasa Eric hanya akan mengirim Ubbe dan satu orang lain untuk mengabarkan hal ini.”
“Siapa Ubbe?” tanya pangeran lagi.
“Ahli teleportasi kami. Eric menuju istana bukan hanya untuk mengantar bahan makanan. Tapi juga untuk membuat jalur teleportasi seperti yang dipesankan oleh Dean,” jelas Arjun lagi.
“Teleportasi? Kalian membawa ahli teleportasi ke sini?” Pangeran itu tak dapat mempercayai pendengarannya.
“Ya. Karena Dean ingin menjalin hubungan baik dengan negara kalian,” tambah Kakek Kang.
“Oh, baiklah. Saya harap jalur teleportasi itu bisa segera selesai dan kita bisa membicarakan banyak hal yang lebih mendetail,” angguk pangeran mahkota penuh harap.
“Oh ya, saudaraku Levyn mengatakan bahwa kalian bisa terbang. Dan mencapai tempat ini bukan dengan teleportasi,” kata pangeran itu lagi.
“Ya, sebagian besar dari kami bisa terbang. Tapi ada juga yang tidak,” jawab Arjun.
"Kenapa mengikut sertakan yang tidak bisa terbang dalam tim kalian?” tanya pangeran heran.
“Karena kami butuh keahlian mereka. Sebagian tidak bisa terbang, bukan berarti mereka tak berguna. Umumnya mereka adalah orang-orang yang berotak encer. Sangat pintar. Contohnya Ubbe. Kami membawanya karena hanya ia ahli teleportasi pertama setelah yang utama!” jelas Arjun bangga.
“Atau adik-adik Eric yang menjadi dokter dan insinyur. Mereka tidak bisa terbang, tapi amat sangat pintar!” Kakek Kang memuji.
Pangeran mahkota itu mengangguk-angguk mengerti. “Kalian bangsa yang sangat hebat. Kurasa, setelah keadaan di sini membaik, kita bisa jalin kerjasama yang saling menguntungkan.”
Arjun dan Kakek Kang mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
“Aku sudah lama tidak melihat Kakek Felix. Bisakah kalian membawaku ke sana?” tanyanya penuh harap.
*****