The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 112. Istana Raja Orc


__ADS_3

Eric berhasil menyelinap pergi saat empat Orc sibuk mencari


di sudut-sudut dapur. Sekarang dia berdiri di depan bangunan kecil yang


suram.  Dilihatnya samping bangunan besar


yang barusan dilewatinya. Tak ada seorang pun penjaga di sana.


Dengan cepat dia mendekati bangunan kecil yang terpisah itu


dan menyembunyikan diri. Didekatkannya telinga ke dinding bangunan. Namun, tak


terdengar apapun dari dalam. “Tempat apa ini?” pikirnya.


Eric mengelilingi bangunan itu dengan hati-hati. Tak bersuara


sedikit juga, bahkan tanpa menginjak tanah. Ya, pria muda itu melayang rendah


di tanah. Untuk menghindari jebakan yang mungkin ada.


“Aneh. Bangunan ini tak punya pintu. Dari mana mereka masuk


kalau begitu?” Eric mengerutkan dahi dan berpikir.


Setelah melihat sekitar yang sunyi, dia melayang tinggi ke


dekat atap, mencari celah ventilasi yang mungkin dimasuki. Dan dia


menemukannya. Sebuah lubang ventilasi tepat di bawah atap. Ukurannya yang


memadai, membuat Eric bisa memasukkan kepala ke dalam. Hanya saja, dia tak


melihat apapun, di bawah sana, kecuali lubang ventilasi lain di seberangnya.


Matanya bercahaya untuk memberinya sedikit penerangan dalam


kegelapan. Memang tak ada hal mencurigakan di dalam bangunan itu hanya ada tumpukan


barang berdebu. Bangunan itu lebih mirip gudang, meskipun Eric tidak tahu


bagaimana semua tumpukan barang itu bisa masuk ke sana.


 Ditariknya kepala dari


sana dan menyelinap cepat. Dia mendengar langkah kaki keras berdebum di tanah.


Tak lama beberapa Orc melewati dirinya yang bersembunyi dalam bayangan. Keduanya


diam tak bicara. Langkahnya teratur. Sepertinya mereka adalah penajga yang


berpatroli.


“Thorn, apa yang sudah kau temukan?” tanya Eric lewat


pikiran.


“Belum ada apapun!” sahut Thorn.


“Berhati-hatilah. Ternyata mereka juga memakan manusia!” Eric


memperingatkan.


“Ya Tuhan ....”


Hanya kalimat itu yang didengar Eric dari Thorn. Dia


menyelinap lagi menyusuri bangunan besar. Sebuah pintu terbuka lebar dan ada


cahaya dari dalam. Suara-suara Orc yang berbinang, terdengar ramai. Eric melewatinya


dan terus mencari tempat yang mungkin jadi persembunyian tawanan.


Setelah berkalan lebih dari lima puluh meter, telinganya yang


tajam mendengar suara-suara halus dari balik jendela yang tertutup. Didekatkannya


telinga untuk mendengarkan.


“Hah ... sialan. Telingaku ternodai!” kesalnya dalam hati.


Dengan cepat dia melewati tempat itu dan mencari lagi.


“Aku belum menemukan hal aneh di bangunan ini. Bagaimana denganmu?”


tanya Eric pada Thorn. Dia sudah memeriksa hampir setengah bagian bangunan

__ADS_1


bagian belakang itu.


“Aku juga tak menemukan apapun!” timpal Thorn.


“Mungkinkah ini kediaman seorang pembesar saja?” tanya Eric.


“Setinggi apa jabatanya sampai punya begitu banyak pengawal


yang melindungi?” Thorn bertanya balik.


“Tadi di dapur aku mendengar para Orc berkata tentang puteri.


Kukira, mungkin pemilik bangunan adalah seorang puteri. Atau ... istri pemilik


bangunan seornag putri!” jawab Eric.


“Kalau begitu, mungkin saja. Apa kau ingin kita memeriksa ke


tempat lain?” tanya Thorn.


“Ya! Kita hanya buang-buang waktu mencari di tempat tak jelas


seperti ini!” Eric kesal sendiri. “Ayo pergi!”


Eric meletakkan tangannya pada dinding bangunan. Membuatnya


segera menyala merah seperti bara api. Sambil melesat cepat, tangannya menempel


ke banyak dinding bangunan dan meninggalkan bara api.


“Kau di mana? Aku sudah di atas!” panggil Thorn.


“Sebentar ... kau harus lihat hasil karyaku!” balas Eric


sambil terus mengitari bangunan dengan kecepatan tinggi.


Tak lama kedua pria itu melihat bagaimana bangunan di bawah


terbakar di mana-mana, tak terkecuali bangunan dapur yang terpisah dari


bangunan utama!


Di bawah sana, para Orc berhamburan keluar bangunan. Sebagian


sibuk mencari air untuk memadamkan api. Sebagian lainnya menjerit melengking


Eric tak melihat ada manusia lain yang ikut keluar dari sana.


Dia menggeleng kecewa. “Ayo cari bangunan lain yang lebih megah dari ini!” ajak


Eric.


Thorn mengikuti Eric yang terbangnya sangat cepat. Mereka


makin jauh masuk ke dalam wilayah kerajaan Orc.


“Lihat itu!” tunjuk Eric ke hadapan mereka. Thorn melihat dan


memperhaikan kota besar yang lebih teratur rapi. Jalannya lurus dan bangunan


memenuhi semua sisi jalan. Ada banyak obor dipasang di sepanjang jalan sebagai


penerangan.


“Kukira, inilah ibu kota negara Orc!” bisik Thorn. Eric


mengangguk setuju.


“Ayo cari yang mana istananya!” Eric kembali melesat cepat,


seiring dengan ucapannya. Hal itu membuat Thorn selalu ketinggalan di belakang.


“Banyak bangunan besar dan luas serta berpenjagaan tinggi, di


sini!” Eric berhenti tiba-tiba. Matanya menatap tajam ke bawah. Beberapa


bangunan dengan halaman luas berada berdekatan.


“Yang mana istana?” celetuk Thorn.


“Yang bangunan seperti ini, pasti bukan!” tunjuk Eric ke


bawah. Di area itu hanya ada bangunan besar di depan pintu pagar. Lalu lapangan


kosong dan barisan bangunan kecil sepanjang temboknya ke belakang.

__ADS_1


Mereka melihat area bangunan lain. Kemudian melewatinya lagi.


Hingga satu blok area bangunan luas dan besar terlewati.


“Itu istananya!” tunjuk Thorn.


Sebuah bangunan yang menjadi pusat dari semua jalan  utama kota itu. Eric mengamati dengan


seksama. “Mereka sangat percaya diri. Menempatkan istana tepat di tengah kota!”


komentar Eric.


“Mari perhatikan dulu detail bangunan ini. Jangan seperti


tadi, kita jadi meraba-raba dalam gelap!” tambahnya lagi.


Eric dan Thorn terbang berputar di udara, untuk memeriksa


setiap sudut bangunan megah tersebut. “Lihat bangunan-bangunan kecil di bagian


belakang itu. Kurasa, di sanalah harem sang raja tinggal!” tunjuk Thorn.


“Mari kita turun dan melihat lebih jelas dari atas atap!”


ajak Eric. Keduanya turun dan mengamati dati bubungan atap yang tinggi.


“Lihat itu!” Thorn menunjuk ke satu bagian.


Eric melihat para wanita Orc sedang bercengkrama di dekat


kolam. Lalu matanya menyisir tempat itu ada delapan ruangan di belakang. Namun hanya


ada tujuh wanita orc yang berada di tepi kolam. Ada banyak pengawal mengawasi


di sekitar kolam. Harusnya itu adalah pengawal masing-masing wanita itu.


“Lihat bangunan yang tersembunyi di belakang itu!” tunjuk


Eric. Matanya melihat dua orang Orc menjaga bangunan yang tidak terlalu terawat


dan kesepian.


“Mungkinkah Putri Elf ada di sana?” tebak Thorn.


“Mari kita periksa!” ajak Eric. Namun, tangannya dengan cepat


ditahan Thorn.


“Lihat itu!” mata pria itu melihat ke bagian bawah bangunan


tempat mereka bersembunyi.


Seorang Orc berpakaian indah berjalan ke taman belakang. Para


wanita segera berdiri dan membungkuk hormat padanya. “Dia rajanya,” desis Eric.


Pria itu duduk sebentar dengan para wanitanya dan tertawa


senang. Namun tak lama dia berdiri dan melangkah pergi. Persis ke arah bangunan


kumur dan kesepian itu. Para wanita di sana, tampak jengkel karena


ditinggalkan.


“Mari lihat!” Eric melesat cepat, hingga bayangannya tak


terlihat, kecuali seberkas jejak cahaya indah yang samar.


Sekarang, kedua bangsa Cahaya itu bersembungi di atap


kediaman harem terdekat. Pria tadi menaiki undakan tangga.


“Sang raja tiba!” seru penjaga.


Lalu pintu dibuka dari dalam Eric dan Thorn bisa melihat bahwa yang membuka pintu adalah seorang gadis dengan tinggi rata-rata manusia. Hanya saja, rambutnya putih.


“Itu gadis Elf!” desis Eric tak sabar. “Lihat telinganya!” Thorn mengangguk.


“Tapi itu bukan Putri Cristal. Wajahnya tidak mirip ibu dan ayahnya!” timpal Thorn.


“Bukankah dia diculik bersama dengan pelayannya?” bantah Eric.


“Menurutmu itu pelayan Putri Cristal?” tanya Thorn.


“Ssstt!” Eric mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan raja Orc itu dengan seorang wanita di dalam sana.

__ADS_1


Wajahnya tampak kesal. “Aku tak bisa mendengar apapun!”


__ADS_2