
Eric berhasil menyelinap pergi saat empat Orc sibuk mencari
di sudut-sudut dapur. Sekarang dia berdiri di depan bangunan kecil yang
suram. Dilihatnya samping bangunan besar
yang barusan dilewatinya. Tak ada seorang pun penjaga di sana.
Dengan cepat dia mendekati bangunan kecil yang terpisah itu
dan menyembunyikan diri. Didekatkannya telinga ke dinding bangunan. Namun, tak
terdengar apapun dari dalam. “Tempat apa ini?” pikirnya.
Eric mengelilingi bangunan itu dengan hati-hati. Tak bersuara
sedikit juga, bahkan tanpa menginjak tanah. Ya, pria muda itu melayang rendah
di tanah. Untuk menghindari jebakan yang mungkin ada.
“Aneh. Bangunan ini tak punya pintu. Dari mana mereka masuk
kalau begitu?” Eric mengerutkan dahi dan berpikir.
Setelah melihat sekitar yang sunyi, dia melayang tinggi ke
dekat atap, mencari celah ventilasi yang mungkin dimasuki. Dan dia
menemukannya. Sebuah lubang ventilasi tepat di bawah atap. Ukurannya yang
memadai, membuat Eric bisa memasukkan kepala ke dalam. Hanya saja, dia tak
melihat apapun, di bawah sana, kecuali lubang ventilasi lain di seberangnya.
Matanya bercahaya untuk memberinya sedikit penerangan dalam
kegelapan. Memang tak ada hal mencurigakan di dalam bangunan itu hanya ada tumpukan
barang berdebu. Bangunan itu lebih mirip gudang, meskipun Eric tidak tahu
bagaimana semua tumpukan barang itu bisa masuk ke sana.
Ditariknya kepala dari
sana dan menyelinap cepat. Dia mendengar langkah kaki keras berdebum di tanah.
Tak lama beberapa Orc melewati dirinya yang bersembunyi dalam bayangan. Keduanya
diam tak bicara. Langkahnya teratur. Sepertinya mereka adalah penajga yang
berpatroli.
“Thorn, apa yang sudah kau temukan?” tanya Eric lewat
pikiran.
“Belum ada apapun!” sahut Thorn.
“Berhati-hatilah. Ternyata mereka juga memakan manusia!” Eric
memperingatkan.
“Ya Tuhan ....”
Hanya kalimat itu yang didengar Eric dari Thorn. Dia
menyelinap lagi menyusuri bangunan besar. Sebuah pintu terbuka lebar dan ada
cahaya dari dalam. Suara-suara Orc yang berbinang, terdengar ramai. Eric melewatinya
dan terus mencari tempat yang mungkin jadi persembunyian tawanan.
Setelah berkalan lebih dari lima puluh meter, telinganya yang
tajam mendengar suara-suara halus dari balik jendela yang tertutup. Didekatkannya
telinga untuk mendengarkan.
“Hah ... sialan. Telingaku ternodai!” kesalnya dalam hati.
Dengan cepat dia melewati tempat itu dan mencari lagi.
“Aku belum menemukan hal aneh di bangunan ini. Bagaimana denganmu?”
tanya Eric pada Thorn. Dia sudah memeriksa hampir setengah bagian bangunan
__ADS_1
bagian belakang itu.
“Aku juga tak menemukan apapun!” timpal Thorn.
“Mungkinkah ini kediaman seorang pembesar saja?” tanya Eric.
“Setinggi apa jabatanya sampai punya begitu banyak pengawal
yang melindungi?” Thorn bertanya balik.
“Tadi di dapur aku mendengar para Orc berkata tentang puteri.
Kukira, mungkin pemilik bangunan adalah seorang puteri. Atau ... istri pemilik
bangunan seornag putri!” jawab Eric.
“Kalau begitu, mungkin saja. Apa kau ingin kita memeriksa ke
tempat lain?” tanya Thorn.
“Ya! Kita hanya buang-buang waktu mencari di tempat tak jelas
seperti ini!” Eric kesal sendiri. “Ayo pergi!”
Eric meletakkan tangannya pada dinding bangunan. Membuatnya
segera menyala merah seperti bara api. Sambil melesat cepat, tangannya menempel
ke banyak dinding bangunan dan meninggalkan bara api.
“Kau di mana? Aku sudah di atas!” panggil Thorn.
“Sebentar ... kau harus lihat hasil karyaku!” balas Eric
sambil terus mengitari bangunan dengan kecepatan tinggi.
Tak lama kedua pria itu melihat bagaimana bangunan di bawah
terbakar di mana-mana, tak terkecuali bangunan dapur yang terpisah dari
bangunan utama!
Di bawah sana, para Orc berhamburan keluar bangunan. Sebagian
sibuk mencari air untuk memadamkan api. Sebagian lainnya menjerit melengking
Eric tak melihat ada manusia lain yang ikut keluar dari sana.
Dia menggeleng kecewa. “Ayo cari bangunan lain yang lebih megah dari ini!” ajak
Eric.
Thorn mengikuti Eric yang terbangnya sangat cepat. Mereka
makin jauh masuk ke dalam wilayah kerajaan Orc.
“Lihat itu!” tunjuk Eric ke hadapan mereka. Thorn melihat dan
memperhaikan kota besar yang lebih teratur rapi. Jalannya lurus dan bangunan
memenuhi semua sisi jalan. Ada banyak obor dipasang di sepanjang jalan sebagai
penerangan.
“Kukira, inilah ibu kota negara Orc!” bisik Thorn. Eric
mengangguk setuju.
“Ayo cari yang mana istananya!” Eric kembali melesat cepat,
seiring dengan ucapannya. Hal itu membuat Thorn selalu ketinggalan di belakang.
“Banyak bangunan besar dan luas serta berpenjagaan tinggi, di
sini!” Eric berhenti tiba-tiba. Matanya menatap tajam ke bawah. Beberapa
bangunan dengan halaman luas berada berdekatan.
“Yang mana istana?” celetuk Thorn.
“Yang bangunan seperti ini, pasti bukan!” tunjuk Eric ke
bawah. Di area itu hanya ada bangunan besar di depan pintu pagar. Lalu lapangan
kosong dan barisan bangunan kecil sepanjang temboknya ke belakang.
__ADS_1
Mereka melihat area bangunan lain. Kemudian melewatinya lagi.
Hingga satu blok area bangunan luas dan besar terlewati.
“Itu istananya!” tunjuk Thorn.
Sebuah bangunan yang menjadi pusat dari semua jalan utama kota itu. Eric mengamati dengan
seksama. “Mereka sangat percaya diri. Menempatkan istana tepat di tengah kota!”
komentar Eric.
“Mari perhatikan dulu detail bangunan ini. Jangan seperti
tadi, kita jadi meraba-raba dalam gelap!” tambahnya lagi.
Eric dan Thorn terbang berputar di udara, untuk memeriksa
setiap sudut bangunan megah tersebut. “Lihat bangunan-bangunan kecil di bagian
belakang itu. Kurasa, di sanalah harem sang raja tinggal!” tunjuk Thorn.
“Mari kita turun dan melihat lebih jelas dari atas atap!”
ajak Eric. Keduanya turun dan mengamati dati bubungan atap yang tinggi.
“Lihat itu!” Thorn menunjuk ke satu bagian.
Eric melihat para wanita Orc sedang bercengkrama di dekat
kolam. Lalu matanya menyisir tempat itu ada delapan ruangan di belakang. Namun hanya
ada tujuh wanita orc yang berada di tepi kolam. Ada banyak pengawal mengawasi
di sekitar kolam. Harusnya itu adalah pengawal masing-masing wanita itu.
“Lihat bangunan yang tersembunyi di belakang itu!” tunjuk
Eric. Matanya melihat dua orang Orc menjaga bangunan yang tidak terlalu terawat
dan kesepian.
“Mungkinkah Putri Elf ada di sana?” tebak Thorn.
“Mari kita periksa!” ajak Eric. Namun, tangannya dengan cepat
ditahan Thorn.
“Lihat itu!” mata pria itu melihat ke bagian bawah bangunan
tempat mereka bersembunyi.
Seorang Orc berpakaian indah berjalan ke taman belakang. Para
wanita segera berdiri dan membungkuk hormat padanya. “Dia rajanya,” desis Eric.
Pria itu duduk sebentar dengan para wanitanya dan tertawa
senang. Namun tak lama dia berdiri dan melangkah pergi. Persis ke arah bangunan
kumur dan kesepian itu. Para wanita di sana, tampak jengkel karena
ditinggalkan.
“Mari lihat!” Eric melesat cepat, hingga bayangannya tak
terlihat, kecuali seberkas jejak cahaya indah yang samar.
Sekarang, kedua bangsa Cahaya itu bersembungi di atap
kediaman harem terdekat. Pria tadi menaiki undakan tangga.
“Sang raja tiba!” seru penjaga.
Lalu pintu dibuka dari dalam Eric dan Thorn bisa melihat bahwa yang membuka pintu adalah seorang gadis dengan tinggi rata-rata manusia. Hanya saja, rambutnya putih.
“Itu gadis Elf!” desis Eric tak sabar. “Lihat telinganya!” Thorn mengangguk.
“Tapi itu bukan Putri Cristal. Wajahnya tidak mirip ibu dan ayahnya!” timpal Thorn.
“Bukankah dia diculik bersama dengan pelayannya?” bantah Eric.
“Menurutmu itu pelayan Putri Cristal?” tanya Thorn.
“Ssstt!” Eric mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan raja Orc itu dengan seorang wanita di dalam sana.
__ADS_1
Wajahnya tampak kesal. “Aku tak bisa mendengar apapun!”