The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 66. Menyelamatkan Tawanan Bajak Laut.


__ADS_3

Orang-orang di dua perahu itu menurunkan beberapa orang yang diikat rantai. Menggiring mereka untuk mengambil air tawar dari air terjun kecil dekat pondok Robert yang lama.


“Mereka itu terlihat kepayahan. Mereka pasti budak yang didapat dari menculik orang-orang!” kata Arjun.


“Kita harus membebaskan mereka!” Eric sudah tak sabar melihat orang-orang yang dirantai dan kepayahan itu masih dicambuki hingga jatuh ke tanah.


“Kita lihat dulu. Mungkin saja orang-orang itu adalah tahanan!” cegah Robert.


“Tahanan apa. Kapal itu jelas kapal bajak laut!” kata Kakek Kang. Mata naganya dapat melihat dengan jelas bendera hitam dengan lambang tengkorak berkibar di atas kapal.


“Kau yakin?” tanya Eric. Kakek Kang mengangguk pasti.


Tak menunggu waktu lagi, Eric segera terbang ke arah kapal. Kakek Kang menyusul untuk melindunginya.


“Mari kita ledakkan saja kapal hantu ini!” kata Eric. Sekarang dia bisa lihat bendera hitam bajak laut itu.


“Biar kulakukan untukmu!” kata Kakek Kang.


Dia mengelilingi kapal itu dan menyebabkan keributan dari para pelaut yang tak menyangka akan melihat naga di sana.


“Lihat! Itu naga! Ayo panah. Tapi jangan membuatnya mati. Dia mungkin akan sangat mahal jika dijual!” teriak kapten kapal gembira.


Beberapa panah meluncur. Eric menyapu semua panah itu untuk melindungi Kakek Kang. Keduanya bekerja sama. Beberapa orang kembali terkejut melihat ada manusia lain yang bisa terbang dan menyingkirkan semua panah yang mereka lepaskan.


Di pantai, Arjun dan Robert menghadang pelaut yang sedang memukuli orang-orang yang dirantai.


“Lepaskan mereka!” perintah Robert.


“Oh, ternyata ada orang lain lagi di pulau ini. Sekarang giliranmu untuk bergabung bersama mereka!”


Beberapa orang itu langsung menyerbu Robert dan Arjun yang berdiri berdampingan. Robert mengelak dan meladeni pertarungan yang ditawarkan tiga pria yang mengelilinginya. Mereka bertarung dengan sengit.


Sementara Arjun, enggan membuang tenaga. Dia melompat ringan untuk menyamarkan bahwa dia sebenarnya bisa terbang. Lompatannya yang tinggi berhasil menjangkau salah seorang pelaut yang memegang cemeti. Tangan Arjun memegang kepalanya dan menusukkan cahaya birunya yang sepanas api membara. Membuat orang itu terbakar dari dalam dan tak sempat menjerit.


Rekannya terkejut melihat temannya tewas dengan tubuh gosong dan penuh asap. Cemetinya dilontarkan untuk menyerang Arjun. Dia tak ingin berada dalam jangkauan tangan Arjun yang sangat berbahaya. Senajat apapun yang dimiliki pria itu, dia tak boleh sampai tertangkap!


Satu gerakan cemetinya melayang tepat ke wajah Arjun. Dengan cepat Arjun menangkap dan mengalirkan api birunya pada senjata itu. Begitu cepat, hingga langsung mengenai tangan pria tersebut.

__ADS_1


“Sialan!”


Pria itu menyumpah saat melihat tangannya terbakar dan penuh asap. Dia mencelupkan tangan itu ke dalam tong air yang mereka bawa.


Kemudian orang-orang di pantai itu terkejut. Ledakan dahsyat terdengar di lautan.


“Tidak!”


Tiga pelaut yang sedang bertarung dengan Robert, serta pria di dekat tong air terpana melihat kapal mereka hancur berkeping-keping. Yang lebih mengerikan dari itu, lidah api masih  terus keluar dari mulut seekor naga yang terus mengelilingi puing-puing.


Kakek Kang dan Eric ingin memastikan tidak ada seorangpun dari bajak laut itu yang lolos dari maut.


Di pantai, Robert dan Arjun bergerak cepat membereskan para pelaut yang tersisa. Tak seorang pun dari mereka dibiarkan hidup. Semua berakhir menjadi debu. Kakek kang dan Eric yang duduk di punggungnya, kembali ke pantai.


Para tawanan yang dirantai itu terkejut dan ketakutan. Mereka bergerak mundur dan merapat ke tebing, hingga tak bisa lari lagi.


“Tak perlu takut. Kami ingin menyelamatkan kalian dari para bajak laut itu!” kata Eric setelah melompat turun dari punggung Kakek Kang.


Orang-orang itu tak mudah mempercayai apa yang dikatakan Eric. Jadi mereka tetap menempel pada tebing dengan tubuh gemetar.


 “Kukira mereka pasti belum makan dengan benar,” Arjun menimpali.


“Apa kau membuat mereka takut?” Eric tersenyum.


Arjun hanya menggelengkan kepala. “Andai mereka mengetahui bahwa Kau lah yang paling menakutkan di sini.” Arjun tersenyum sumbang.


“Kami tinggal di pulau ini sejak lama. Tapi sudah lama tidak berkunjung. Beberapa orang kami dulu juga pernah mereka tangkap. Itu sebabnya kami membalas mereka!” jelas Eric ramah. Tangannya mengibas, dan semua orang yang tadi disembunyikannya, sekarang ada di pantai.


Para tawanan itu makin takut melihat Eric dan teman-temannya.


“Hei! Kau harus tentukan keputusanmu. Jika ingin menyembunyikan kami, maka sembunyikan saja. Jangan saat kami enak tidur dan istirahat, Kau keluarkan lagi!” protes Sofie pada Eric.


Sesaat kemudian dia menyadari sesuatu. Ada orang-orang lain di pantai itu. “Siapa mereka?” tanyanya ingin tahu.


“Kalian siapkan saja makanan dan minuman penambah tenaga!” perintah Eric tanpa menjawab pertanyaan Sofie.


Gadis itu menggerutu dan pergi untuk melaksanakan tugas.

__ADS_1


“Dok, coba kau periksa mereka. Mungkin ada yang sakit parah?” Eric memanggil Dimas. Dokter itu datang bersama Jason untuk memeriksa.


“Mereka tabib dan peracik obat kami. Kalau kalian merasa ada yang sakit, katakan saja pada mereka. Nanti bisa minum obatnya setelah makan. Kalian agar merasa lebih segar besok pagi,” jelas Eric.


Dimas mendekat. “Jangan takut. Kami orang yang baik. Mari kuperiksa,” bujuknya. Jason membantu memeriksa dengan caranya sendiri, kemudian mencatat temuannya. Hal itu akan disinkronkan nanti dengan pemeriksaan Dimas. Jadi mereka bisa menentukan obat yang tepat.


Eric memanggil Icye untuk membantu melepaskan rantai besi yang dipasang pada pinggang mereka. Gadis es itu menggenggam rantai besi besar itu dengan tangannya hingga membeku. Setelah itu, Eric menghentakkan besi yang sudah membeku itu dengan kekuatannya. Rantai yang mengikat mereka jadi satu, akhirnya terlepas satu per satu.


“Terima kasih,” ujar mereka dengan ekspresi bahagia.


Eric mengangguk. Berterima kasihlah padanya," kata Eric menunjuk Icye. Orang-orang itu segara mengucapkan terima kasih berulang kali pada gadis es itu.


“Makanan sudah siap!” panggil Aila.


“Ayo, berkumpul dan makan bersama di sana,” ajak Arjun ramah. Rasa taut di hati mereka perlahan menghilang setelah melihat kebaikan yang ditunjukkan oleh Eric dan kelompoknya.


Mereka berkumpul bersama. Suasana mulai ceria. Para tahanan yang mereka lepaskan itu makan dengan lahap. Kemudian meminum obat yang diberikan Jason dengan patuh.


“Kita harus kembali ke pondok,” kata Eric. Air laut makin naik ke bibir pantai. Maka rombongan yang makin besar itu berjalan masuk ke tengah pulau. Para wanita beristirahat di pondoknya sendiri. Jason, Dimas, Evan, dan dua elf, beristirahat di dalam pondok yang satu lagi.


Eric masih duduk di luar bersama anggota kelompok Hakon. Robert dan Arjun berbaring di sisi kiri dan kanannya. Tak jauh dari sana, ada kakek Kang dan juga Gerald.


“Apa yang akan kau lakukan pada mereka?” tanay Robert.


“Jika mereka mau tinggal di sini, boleh. Jika mereka ingin kembali ke tempat asalnya, masih ada dua perahu kecil yang kita tambatkan tadi,” jawab Eric.


“Kau tak kuatir jika mereka menceritakan tentang naga dan apa yang tadi kita lakukan?” tanya Robert lagi.


“Tidak! Toh kita tidak akan tinggal di sini. Nanti akan ada penjaga keamanan yang aku yakin bisa mengatasi siapapun orang yang mungkin datang setelah mendengar berita itu,” kata Eric santai.


“Apa tak bisa kita minta mereka menjaga rahasia sebagai balas budi untuk penyelamatan kita tadi?” tanya Kakek Kang.


“Sifat tiap orang berbeda. Kita tidak tahu siapa dan bagaimana kehidupan mereka sebelum diculik para bajak laut.” Arjun memberikan pendapatnya.


“Kukira, jika Kau menawarkan hal baik untuk mereka di sini, mereka akan lebih memilih tinggal,” kata Gerald.


“Kita lihat besok!” putus Eric. Dia bangkit berdiri dan pindah tidur ke dalam pondok para pria.

__ADS_1


Malam semakin larut. Semua tidur karena kelelahan.


 *****


__ADS_2