
Bagaimana tidak pedih. Hatinya sebagai seorang ibu tentu sangat ingin suaminya terus mencari putri mereka yang hilang. Tapi waktu yang berjalan sekian lama, membuat negara mereka menjadi semakin genting. Apa gunanya menemukan Cristal, jika negara Elf sudah hilang?
“Bibi …. Jangan bicara seperti itu. Aku tahu kesetiaan Paman dan Bibi. Dan semuanya berubah begitu cepat dan diluar dugaan. Cristal juga penting. Dia adalah kehormatan negeri kita. Jika kita menyerah mencarinya, maka para Orc itu akan semakin besar kepala dan tidak menghargai kita lagi!” jelas sang pangeran.
Angel menunduk sedih. Air matanya jatuh perlahan di pipinya yang kini tirus dan mulai menampakkan kerutan. Pangeran Mahkota merasa sedih melihat keadaan bibinya seperti itu. Tapi dia juga sedang tak berdaya. Mereka butuh bantuan tenaga dari negara tetangga. Namun tak ada satu negara pun juga yang menyatakan kesediaan untuk berperang melawan Orc secara bersama-sama. Mereka hanya meningkatkan penjagaan di perbatasan masing-masing.
“Apa lagi yang ingin Bibi katakan?” tanya sang pangeran sopan.
Angel menyeka air mata di pipinya dan menatap sang pangeran dengan mimik serius. Hal itu membuat Pangeran Mahkota mengernyitkan dahi, memikirkan hal serius apa yang mungkin tidak diketahui di negara itu. Tubuhnya mencondong ke depan, mengikuti Angel.
“Kau pasti ingat kalau aku berasal dari dunia lain!” bisik Angel.
Pangeran itu mengangguk. Dia menunggu rahasia apa yang akan disampaikan Angel.
“Kami datang dari lorong pohon maple di hutan sihir. Tempat itu sangat indah …,” Angel menjeda kalimatnya sambil mengamati respon keponakan Glenn yang terlihat tak sabar menunggu kelanjutan ucapannya. “ … di sana ada banyak bahan makanan, hasil laut, ternak dan obat yang bisa kita bagikan untuk rakyat!” bisiknya hati-hati.
Pangeran Mahkota tertegun. Dia pernah mendengar cerita itu dari ayahnya. Raja terdahulu itu menceritakan apa yang didengarnya dari para tamu, teman seperjalanan Angel.
“Tapi hutan sihir itu sangat berbahaya, Bibi. Bahkan jika bukan karena Paman Glenn tak sengaja lewat sana, bibi dan teman-teman tidak akan selamat hari itu!” Sang Pangeran mengingatkan.
“Suamiku menggunakan sihir untuk melawan sihir di hutan. Mungkin kau bisa utus beberapa orang ke sana, dengan didampingi seorang penyihir, agar aman!” saran Angel.
“Kita tak punya penyihir, di sini.” Pangeran Mahkota menggeleng.
Dia ikut memikirkan rencana Angel itu. Sesuatu yang terlihat mustahil, tapi pantas dicoba, agar mereka bisa bertahan dalam situasi sulit. Tanpa makanan, maka semangat tentaranya bisa turun. Masalahnya … entah karena apa, kota Elf yang biasanya dihuni oleh berbagai macam bangsa, sekarang tak tersisa satu penyihir pun di sana. Entah apakah mereka semua kembali ke negaranya, atau bagaimana, sang pangeran belum sempat memeriksanya.
__ADS_1
“Aku tahu seseorang,” bisik Angel makin lirih.
Sang pangeran terkejut. Dia lebih mencondongkan lagi kepalanya, untuk mendengarkan informasi yang menurut Angel itu sangat rahasia. “Siapa, Bi?”
“Putraku, Levyn!”
“Bibi!” Pangeran Mahkota itu terkejut.
Bagaimana bisa bibinya menawarkan nama putranya sendiri untuk pergi ke hutan sihir yang sangat misterius dan mereka hindari. Hanya Pangeran Glenn yang berani melintasi tempat itu. Karena dia adalah keturunan bangsa Penyihir. Glenn punya kemampuan sihir yang diturunkan dari sang ibu yang kini jadi Ratu permaisuri negeri Elf.
“Yang Mulia …, Levyn adalah putra ayahnya. Meski dia tidak semahir Glenn, dia tetap punya kemampuan untuk menangkal sihir di hutan itu!” jelas Angel keras kepala.
Sang Pangeran Mahkota kebingungan. Benar bahwa Levyn memiliki darah penyihir yang mungkin tidak akan terpengaruh oleh hutan sihir. Tapi pangeran muda itu adalah penerus berikutnya dari negara Elf, setelah ayah, ibu, adik serta anak istrinya ditawan para Orc, yang dia sendiri tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang.
“Aku harus memikirkan ini masak-masak, Bibi. Levyn adalah calon penerus negara kita berikutnya! Aturannya sangat jelas tentang itu!”
“Aturan yang aku tahu, jika Pangeran Mahkota tidak berada di ibu kota, maka penerus berikutnya dilarang meninggalkan kota untuk alasan apapun!” Kata Angel lantang.
“Tapi kita jelas pada satu hal, Kau ada di sini … di ibu kota! Jadi kita bisa mengirimnya pergi untuk mencari bahan makanan. Dengan begitu, kita bisa bertahan!” desak Angel.
“Bagaimana kalau selama dia pergi, terjadi sesuatu padaku?” tanya Pangeran Mahkota. Itulah yang dipikirkannya.
“Bagaimana kalau besok lusa, kita justru menyerah dengan sendirinya karena ketiadaan makanan! Bukan karena diserang Orc!” kata Angel tajam. Sikapnya yang teguh, memancar di sinar matanya yang semula penuh air mata.
Pangeran Mahkota itu menunduk, tak berani beradu pandang dengan bibinya.
__ADS_1
“Rakyat berusaha keras untuk bisa mengirim sedikit bahan makanan ke sini. Tapi apa kita tahu, mungkin itu adalah bahan makanan terakhir yang mereka miliki? Mereka berani mengadu nyawa untuk mencari bahan makanan. Lalu mengirimnya ke sini dan ke istana Raja. Melewati berlapis-lapis pasukan Orc di sepanjang jalan. Sering juga bahan makanan itu tak sampai ke tujuan, karena pengantarnya tewas dibunuh Orc saat ketahuan!” Angel mengeluarkan uneg-uneg di hatinya dengan geram.
Pangeran Mahkota menunduk makin dalam. Bukan dia tak memikirkan hal itu. Dia sangat mengerti. Laporan bawahannya juga mengatakan hal-hal seperti itu terjadi di banyak tempat.
Bahkan sekarang Orc tidak pandang bulu. Semua penduduk yang membawa bahan makanan, akan langsung dibunuh. Mereka sudah tak mau repot lagi memeriksa kemana tujuan makanan itu. Bahkan meskipun itu dicari untuk konsumsi pribadi. Hasil akhirnya hanya mati!
“Kalau kau tidak mau mengirimnya pergi, Biar aku yang mengutusnya!” kata Angel keras kepala. Dia sudah berdiri dari duduknya sekarang.
“Bibi!” Pangeran itu sangat terkejut.
“Kita harus mendahulukan kebutuhan pangan rakyat, Yang Mulia. Maafkan aku jika harus melanggar aturan negara sekali ini! Aku merasa harus melakukannya sebelum negara ini runtuh dengan sendirinya!” Angel melangkah ke pintu tenda.
“Tunggu!” Sang pangeran berdiri dari kursinya dan menunggu Angel berbalik. “Akan kulakukan saran Bibi,” angguknya pelan.
Wajah Angel berseri. “Terima kasih, Yang Mulia. Itu keputusan yang benar. Panggil dia dan berikan tugas yang bisa membuat dia merasa berharga sebagai seorang pangeran!”
Pangeran Mahkota terbelalak mendengar kata-kata tak terduga Angel. Bagaimana seorang ibu tak ragu sedikit juga mengirim putra kesayangannya ke tempat berbahaya. Hanya agar putranya bisa merasa berharga?
“Saya undur diri, Yang Mulia.” Angel membungkuk sedikit sebelum berbalik dan pergi. Di depan pintu tenda, dia berdiri sebentar dan berbalik.
“Bisakah memintanya untuk menemui saya sebentar, sebelum pergi?” tanya Angel penuh harap. Sang pangeran mengangguk.
“Tentu,” katanya.
“Panggilkan Pangeran Levyn ke sini!” perintah Pangeran Mahkota setelah Angel tak terlihat lagi. Penasehat itu pergi untuk menyampaikan perintah. Pangeran muda Levyn berada di pos teleportasi di bawah kediaman.
__ADS_1
*****