The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
36. Pelajaran Baru


__ADS_3

Gulungan air bah meluncur cepat ke arah mereka. Beruntung kelima orang itu bisa mengelak dan terbang lebih tinggi agar tidak hanyut disapu aliran deras sungai itu.


Rasanya tak percaya sungai kecil, jernih, dan tenang itu tiba-tiba berubah cepat menjadi liar. Gelundungan batu besar menabrak semua yang dilewatinya.


Kelimanya melihat ke arah hulu. "Aku tidak melihat mendung yang mungkin jadi indikasi bahwa di atas sana sedang hujan deras, yang bisa membuat sungai kecil ini kena air bah!" kata Robert.


"Lalu apa penyebab aliran air sebesar ini?" tanya Arjun heran.


Sungai kecil yang semula jernih itu kini sudah berubah warna kecoklatan. Sebab lumpur yang ada di dasar sungai ikut digulung naik. Air terjun yang tadi indah, kini berubah mengerikan, sebab disertai jatuhnya bebatuan.


"Tak bisa kubayangkan jika ada yang sedang mandi di bawah air terjun itu." Geleng Eric.


"Mengerikan!" timpal Hakon.


"Mari kita lihat ke sana. Aku ingin tahu apa yang jadi penyebab air bah ini." Eric melesat lebih dulu, tanpa menunggu persetujuan rekan satu tim.


"Hei, tunggu!" panggil Arjun.


"Anak ini ...." Robert menggelengkan kepala. Namun, mereka segera menyusul juga.


Aliran sungai itu lumayan panjang dan jauh dari tempat mereka semula. Namun, makin jauh, suasananya makin berbeda. Pepohonan mulai terlihat. Bahkan di beberapa tempat tampak cukup lebat.


Eric memperlambat terbangnya dan berputar di atas cekungan air yang cukup besar dan dalam. Tempat itu sedang bergolak seperti air yang sedang mendidih dalam panci.


Kelima Bangsa Cahaya itu menutup hidung. Ada bau sangat tajam yang muncul dari permukaan air.


"Ini gas metana," kata Dimas.


"Sangat berbahaya!" timpal Robert.


"Berarti ada sumber gas di bawah aliran air ini. Itulah yang membuat airnya terus bergolak!" jelas Dimas.


Eric sudah terbang lebih jauh lagi. "Di sini aliran air sungainya tenang dan sepertinya aku melihat makhluk air!" Eric bicara melalui pikiran mereka.

__ADS_1


"Berarti, aliran sungai terkontaminasi setelah melewati cekungan ini." Arjun menyimpulkan.


"Lalu, dari mana asal muasal bebatuan besar yang dibawa air tadi?" tanya Hakon masih tidak mengerti.


Akan tetapi, Dimas tidak perlu menjelaskan hal tersebut. Di depan mata mereka, cekungan air itu tiba-tiba bergolak lebih kuat dari sebelumnya.


Beberapa bongkah batu terlontar keluar dari air. Batu yang kecil bahkan dapat jatuh di tepian dan memenuhinya dengan tumpukan batu. Akan tetapi, yang lebih besar kembali jatuh dalam gelegak air yang makin lama makin besar riaknya.


"Awas!" Robert menarik Hakon yang dinilainya terlalu dekat ke permukaan air.


Mereka bisa melihat bagaimana air itu makin lama berputar makin kuat dan kencang. Lalu tersembur seperti diledakkan. Kemudian sejumlah besar air dan bebatuan kembali menggelinding menuju hilir.


"Ternyata seperti ini. Memang tak butuh hujan di hulu, kalau begini." Arjun menggelengkan kepalanya.


"Aku masih belum mengerti, kenapa batu-batu dan air bisa meledak!" gumam Hakon.


"Bukan meledak," Dimas meluruskan.


"Di bawah sana ada sumber gas. Jika lubang keluarnya tidak terhalang, maka dia akan keluar dan membuat riak-riak seperti ini saja. Akan tetapi, sepertinya di dasar cekungan ini dipenuhi batu. Jadi kadang lubang untuk mengeluarkan gas itu tersumbat. Butuh dorongan kuat agar gas dapat keluar dengan lancar. Itulah semburan besar yang kau sebut ledakan tadi." Dimas menjelaskan panjang lebar.


"Oh ... aku paham sekarang." Hakon mengangguk puas. Dia mendapat pelajaran baru hari itu.


"Gaes ... bisakah kalian menolongku sekarang?" Eric memanggil teman-temannya lewat pikiran.


Keempat orang itu melihat ke hulu, di mana Eric pergi memeriksa lebih dulu. Mereka segera melesat menyusulnya.


"Kau di mana?" tanya Robert. Mereka tidak melihat Eric di sekitar sungai.


"Kakiku terjerat tumbuhan air. Dan dia menarikku ke dasar sungai! Tolong!" jelas Eric.


"Gunakan kekuatanmu!" perintah Robert.


"Jiwa leluhur sedang marah. Dia tak mau membantuku sama sekali!" jelas Eric lagi.

__ADS_1


Empat temannya mencari-cari di mana kira-kira Eris menghilang. Seluruh permukaan sungai yang tenang itu diperiksa dengan teliti.


"Di sini permukaan airnya sedikit keruh!" Dimas memanggil teman-temannya.


"Eric!" panggil Arjun. Mereka menepuk dan mengacaukan air di bagian itu, hingga airnya benar-benar menjadi keruh.


"Cepat cari! Atau dia bisa mati tenggelam!" Hakon panik.


Diarahkannya tangan ke arah tempat yang dicurigainya. Memutarnya beberapa kali di udara, lalu kembali mengarahkan pada pasir dan lumpur di dasar sungai. Perlahan dia menarik tangan dan tanaman-tanaman air tercerabut dari dasar sungai. Semua dilemparkan ke sisi sungai. Tak ada Eric di situ.


"Kau di mana?" tanya Hakon. Tak ada lagi jawaban dari Eric.


Arjun dan Robert melakukan hal yang sama, menarik apapun yang ada di bawah tumpukan lumpur sungai.


Dimas menggeleng tak senang. Dia menggunakan kekuatannya untuk menahan aliran air, hingga dasar sungai tadi surut perlahan.


Arjun tak sabar melihat hal itu. Dia mengeluarkan api biru dari telapak tangannya dan langsung diarahkan ke seluruh permukaan sungai. Tempat itu kering seketika. Beberapa ikan mati terpanggang.


Hakon dan Robert mengerahkan kemampuan mereka untuk membongkar tanah lumpur yang mengering. Tanah itu mulai retak di sana sini, kemudian dibongkar dan dilempar ke pinggir.


"Aku melihatnya!" Arjun menunjuk ke bawah lapisan lumpur yang kering.


Hakon dan Robert makin semangat membongkar tanah itu hingga membentuk kawah mini.


"Cepat! Aliran air ini makin banyak dan akan masuk ke situ lagi!" Dimas memperingatkan.


Dia sudah berusaha membelokkan aliran air ke samping kanan dan kiri sungai. Tapi, dasar sungai adalah permukaan paling rendah. Pada akhirnya, semua air akan mengalir kembali ke sungai.


"Banyak akar yang menahan tanah ini hingga sulit dibongkar. Bertahanlah sebentar!" kata Robert.


"Eric! Apa kau mendengarku?" panggil Hakon khawatir. Namun, tak ada jawaban.


******

__ADS_1


__ADS_2