The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 65. Teori Kapal Hantu


__ADS_3

Eric membagi beberapa orang untuk memanen tanaman biji-bijian yang sebelumnya mereka lewati. Kata Robert, itu oat liar yang bisa jadi pengganti gandum. Mencari ikan di sungai seperti yang dikatakan Robert, dan mencari bahan makanan lain di laut.


“Jangan kalian habiskan semuanya. Tinggalkan beberapa di berbagai tempat, agar dia bisa tumbuh lagi,” pesan Eric pada para pemanen.


“Baik!” Hakon menjawab cepat. Dia akan memimpin beberapa anggota sukunya untuk memanen oat tersebut.


Anggota tim yang lain dipimpin Gerarld, mencari ikan di sungai. Kakek Kang ditemani dua suku cahaya yang tersisa, pergi ke laut untuk mencari bahan makanan di sana.


Robert mendekati Eric. Meminta beberapa yang lain untuk memperbaiki sebisanya pondok lapuk itu, agar bisa mereka tempati malam nanti. Dan bisa jadi tempat meletakkan pintu teleportasi nantinya. Eric segera mengatur beberapa lainnya untuk memperbaiki pondok kayu willow yang dibangun Robert dan timnya saat itu.


Di awasi Arjun, beberapa yang tersisa, termasuk dua Elf, segera bergerak cepat. Pagar-pagar willow yang sudah meninggi langsung ditebang dan dijadikan dinding-dinding baru. Setelah satu jam, dua Elf itu bisa melihat bentuk asli pondok tersebut, meskipun belum rapi dan sempurna.


Rancangan aslinya sudah sangat bagus. Dengan batang-batang pohon yang bisa tumbuh lagi ini, bagian utama pondok itu jadi utuh. Yang perlu mereka ganti adalah atap dan lapisan dinding yang dibuat dari anyaman batang kecil willow. Semua bekerja sama agar pondok itu segera selesai dan mereka bisa beristirahat untuk perjalanan esok hari.


Jason dan Aila pergi ke pantai. Mereka menemukan sarang lebah madu yang luar biasa besar di sana. Hal itu dilaporkan pada Robert yang sedang menyusuri sungai untuk menemukan kolam air panas bersama Dimas.


“Hati-hati. Kami waktu itu memang membuat peternakan lebah di bekas pondok yang lama,” ujar Robert.


Jason dan Aila menghindari sarang lebah itu. Mereka menikmati keindahan pantai berpasir yang luas di sana. Kemudian menemukan ladang bunga yang sangat indah dan langsung membuat mereka berteriak gembira.


Jason yang paling senang. “Ini bukan sekedar bunga. Ini herba yang ada dalam catatan kakek!” serunya gembira. Dengan cekatan dia memetik bunga-bunga, bahakan mengambil tanaman mudanya untuk ditanam nanti di kebun obat ibundanya di Kota Pelabuhan. Aila membantu sepupunya itu dengan semangat.


Sore hari, kediaman mereka sudah bisa ditempati. Beberapa wanita sudah berkutat di dapur sederhana peninggalan senior mereka. Memasak hasil laut yang sangat menggiurkan dan menerbitkan air liur saat mencium aromanya yang semerbak.


Robert kembali dengan senyuman sumringah dan tubuh basah.


“Apa kau menemukan kolam air


hangat itu?” tanya Eric yang sejak tadi hanya terbang berkeliling mengawasi


semua pekerjaan anggota timnya.


Robert mengangguk. “Aku menemukannya. Persis seperti waktu itu. Lorong yang sama yang ada di balik tebing!”

__ADS_1


“Syukurlah. Kita bisa berangkat besok pagi, kalau begitu,” kata  Herdan gembira. Dia sangat tidak sabar untuk bisa bertemu lagi dengan Bangsa Elf.


“Kita baru bisa pergi setelah Ubbe kembali. Dia sedang pulang ke Dunia Kecil. Jika kita meninggalkannya, maka kita tak bisa pulang lagi!” kata Eric.


Herdan diam. Dia melupakan tentang petugas  pintu teleportasi itu, karena sangat bersemangat untuk pulang. Kemudaian dia mengangguk tanda setuju dengan pendapat Eric.


“Makanan sudah siap. Apa kalian mau makan di sini atau di tepi pantai?” tanya Sofie.


“Di tepi pantai jauh lebih indah, makan sambil menikmati sandyakala *1),” saran Robert.


“Lebih baik kita ikuti Robert. Dia yang tahu seluk beluk tempat ini,” timpal Kakek Kang.


“Oke! Mari kita ke pantai!” ajak Eric.


Semua beramai-ramai pergi ke pantai sambil membawa semua makanan. Arjun dengan cepat menyalakan api unggun setelah mengulkan kayu-kayu yang berserakan di pantai, akibat sapuan ombak.


Mereka duduk melingkar menghadapi api unggun. Robert masih memanggang beberapa ikan lagi di sampingnya. Persediaan jika ada yang masih merasa lapar malam itu.


Saat langit berubah warna, semua terpukau. Sekali lagi, Robert benar. Pantai itu adalah tempat yang sangat strategis untuk mencari keindahan senja. Sofie berinisiatif mengeluarkan kamera dan mengambil foto mereka semua dengan latar belakang pantai di hiasi senja.


“Mari kita pulang dan beristirahat. Semoga Ubbe cepat kembali. Jadi kita bisa segera melanjutkan perjalanan,” ajak Kakek Kang tiba-tiba. Dia berdiri dengan cepat.


Eric melihat kepada Kakek Kang dengan heran. Tapi dia juga segera menyadari bahwa ada bahaya yang sedang datang mendekat.


“Kita kembali sekarang!” teriak Eric keras di kepala semua orang.


Mereka tak sempat terkejut, karena dengan cepat Eric mengangkat tangan dan menyapu tempat itu. Semua orang langsung hilang ke dalam penyimpanannya, kecuali Kakek Kang dan dirinya. Eric menarik air laut untuk membasahi pantai dan menghanyutkan semua bekas pesta mereka yang tersisa. Kemudian menyusul Kakek Kang yang sudah terbang lebih dulu.


Mereka segera menjauh dari pantai. Kemudian berhenti di kegelapan sambil terus mengamati laut lepas dari ketinggian. Beberapa cahaya kecil berkedip, muncul dari balik tebing ladang bunga paling jauh. Makin lama makin terlihat jelas bahwa itu adalah sebuah kapal layar. Eric mengamati dengan seksama. Robert dan Arjun dikeluarkan untuk melihat kapal itu bersama-sama.


“Apakah itu kapal yang dulu menculik Marieanne?” tanya Eric.


“Aku tidak yakin lagi. Waktu itu sudah lama berlalu,” jawab Robert.

__ADS_1


“Bukankah katamu tempat ini seperti kita kembali ke abad lampau? Apa tidak mungkin jika kapal itu adalah kapal yang sama dan berputar-putar terus dari sini hingga ke Kota Pelabuhan? Kita tidak tahu berapa kota yang disinggahinya dan berapa banyak penculikan serta kejahatan yang mereka buat!” kata Eric geram.


Arjun dan Robert menoleh pada Eric dengan heran. “Maksudmu, mereka terjebak di dunia ini saja? Tidak ke mana-mana dan tidak mati. Hanya mengitari tempat yang biasa dilaluinya di masa lalu?” Arjun bertanya bingung.


“Yah, aku pernah menonjoton film bajak laut yang terkenal di video. Mungkin saja mereka adalah kapal bajak laut yang terjebak di dunia dan waktu ini, dan telah menjadi hantu untuk meneror siapapun yang bisa melihat mereka muncul!” jawab Eric.


“Imaginasimu luar biasa!” Kakek Kang terkekeh geli, diikuti Robert dan Arjun.


“Kakek Kang! Anda juga pernah terjebak di dunia kecil itu bukan? Sebelum ditemukan oleh ayahku dan bangsa Cahaya lainnya!” Eric membantah.


“Ya! Tapi aku belum mati, tak mungkin bisa jadi hantu. Lagi pula, aku tidak mengganggu siapapun saat melewati berbagai pintu teleportasi milikku!” Kakek Kang menolak untuk dibandingkan dengan kapal yang mereka lihat.


“Itu karena naga kuno memang berusia panjang! Berbeda dengan manusia!” Eric mendebat.


“Ssttt!” Robert meminta mereka untuk tidak berisik.


“Mereka turun ke pantai!” Tunjuk Arjun.


“Waktu itu juga, kapal Viking itu merapat ke pantai untuk mencari air segar dan ikan-ikan,” kata Robert. Mendengar itu, mereka kembali memperhatikan dengan seksama apa yang akan dilakukan rombongan orang yang turun dari kapal layar besar itu.


“Kalau mereka memang orang jahat, apa yang akan kita lakukan?” tanya Eric. Pikirannya masih dikuasai teori kapal hantu.


“Kita lihat dulu saja.” Robert menenangkan pria muda yang darahnya masih bergejolak itu.


Meski cemberut karena teorinya tak diterima, Eric tetap ikut mengamati dua perahu yang sudah berlabuh di pantai. Orang-orang itu melihat sekitar sebelum turun.


Tiba-tiba Eric menunjuk dan berseru. “Lihat itu! Apa kataku!”


 *****


Keterangan:


*1) Sandyakala (Bahasa

__ADS_1


Sanskerta) artinya: Gurat merah langit saat senja.


__ADS_2