The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 70. Melawan Kantuk


__ADS_3

Kakek Kang, Robert, Dimas, Eric, Arjun dan Khort berusaha menyalakan api dari ranting kering dan tumpukan daun maple kering.


Khort ternyata sangat mahir membuat api dari ranting kering yang digesek. Setelah asap tebal mereda, maka api mulai menyala dan membakar daun-daun yang ditumpuk.


Khort membantu menyalakan api di tumpukan daun lainnya. Sekarang mereka punya dua api unggun. Namun, rasa lelah dan mengantuk itu, makin lama semakin kuat.


“Bagaimana ini?” tanya Eric yang mulai kelelahan.


“Seingatku, dulu Liam terbangun karena tetesan embun pagi.” Robert berkata ragu.


“Lalu?” tanya Eric lagi.


“Sebaiknya cari tempat yang kira-kira tetesan embun bisa jatuh membasahi wajah kita!” kata Kakek Kang.


“Itu maksudku,” timpal Robert.


“Itu ada tetesan air pohon maple. Bagaimana kalau kita berbaring di bawahnya?” tanya Khort.


“Maka kau tak akan tidur hingga pagi!” balas Arjun segera.


Dia sedikit kesal dengan pertanyaan bodoh itu. Sudah sangat jelas, bahwa tetesan air di wajah akan membangunkan orang. Kenapa malah mau tidur di bawah tetesan air pohon maple?


“Itu dia!” Eric menjentikkan jarinya.


Semua orang memperhatikan eric yang berjalan ke tempat pohon-pohon maple ditusuk dan meneteskan air. Kemudian berbaring di bawahnya. Dalam beberapa saat, wajahnya basah oleh tetesan air. Matanya terbuka lebar. Beberapa saat dia membuka mulut dan menampung air untuk minumnya. Kemudian dia bergeser hingga air menetes di dahi.


“Perhatikan!” katanya.


Tangannya mengambil selembar daun maple yang selebar telapak tangan itu. Meletakkannya di dahi, hingga tetesan air jatuh di sana dan mengalir turun.


“Bagaimana kalau kita coba cara ini agar bisa menahan kantuk. Jika pun tertidur, bukankah percikan air ini lama kelamaan akan membangunkan kita juga?” katanya.


“Teori yang meragukan!” celetuk Dimas.


“Tapi, cara Eric bisa kita modifikasi.” Arjun mengangguk-angguk. Sepertinya dia sudah menemukan sesuatu.


“Setiap kita akan berjaga, maka wajib menampung air itu dan membasuh wajah. Biar segar dan kantuknya hilang! Sederhana sekali,” katanya enteng.

__ADS_1


“Baiklah, mari kita coba untuk cuci muka dulu, sebelum mataku tak bisa dibuka lagi!”


Kakek Kang langsung menuju satu batang pohon lain dan menampung tetesan airnya dengan tangan. Tak lama dia mengusap wajah dengan tangan yang basah. Dia duduk di samping pohon dan terus menampung air, untuk menghilangkan dahaga.


Semua akhirnya mengikuti langkah itu dan duduk bersandar di batang-batang pohon, di sekitar teman-teman mereka yang tertidur.


“Apa kau masih mengantuk?” tanya Eric pada Kort yang bersandar di pohon di sampingnya.


“Belum,” sahut Khort. Matanya masih merasa segar karena baru dibasuh.


“Bagaimana kalau kita coba trik ini pada yang lain. Apakah berhasil membangunkan mereka atau tidak?” cetusnya iseng.


“Coba saja!” Eric mengangguk tak peduli. Dia mencoba memejamkan mata di bawah tetesan air yang diyakininya bisa membangunkannya besok pagi


Khort menampung air dengan kedua telapak tangannya. Setelah merasa cukup, dia mendekati Asgeir, salah seorang suku cahaya yang tidur didekatnya. Air di telapa tangan diteteskan ke wajah Asgeir. Pria itu bangun dan melompat dengan cepat.


“Ada apa?” tanyanya. Pria itu jelas sangat terkejut.


Semua menoleh pada kedua orang itu. “Aku mencoba teori cuci muka itu padanya. Dan berhasil,” jelas Khort cuek.


“Kalau begitu, selamat bergabung dalam tim jaga malam. Basuhkah wajahmu dulu dengan air dari pohon maple. Minum airnya biar laparmu terobati, lalu duduk dan cari tempat bersandar!” kata Kakek Kang.


“Berarti, seperti itulah cara kita membangunkan penjaga berikutnya!” Dimas menyimpulkan.


“Berterima kasihlah pada Eric. Teorinya berhasil!” puji Arjun sambil berdehem.


“Aku tak butuh pujian,” balas Eric.


Tawa kecil terdengar di tengah hutan yang sunyi. Mereka berbincang dari jarak yang berjauhan, karena masing masing duduk di dekat sebatang pohon.


Menjelang pagi, giliran berjaga terakhir adalah Thorn, Vidar dan Turgot. Ketiga suku Cahaya itu telah membasuh wajah mereka seperti yang diingatkan oleh penjaga sebelumnya.


Awalnya mereka bisa berjaga sekitar satu jam. Kemudian hari menjadi semakin dingin dan berkabut. Api unggun sudah lama padam. Mereka meringkuk sambil bersandar di bawah batang pohon dan … tertidur!


*****


Di negeri Elf.

__ADS_1


Perang besar telah berlangsung beberapa kali. Pangeran Mahkota Elf menang beberapa kali. Akan tetapi, bangsa Orc juga membalas dengan telak dan berkali-kali mendorong sang Pangeran Mahkota kembali ke pinggiran kota


“Kita tak bisa terus seperti ini!”


Pangeran Mahkota memukul mejanya dengan geram. Pasukannya hanya tersisa sepertiga saja dari yang pertama dibawanya pulang. Mereka bertahan di pulau terapung kediaman Pangeran Glenn. Pasukannya menjaga pintu teleportasi itu dengan sekuat tenaga.


Pasukan yang yang semula membantu di perbatasan negara Peri, sudah didesak untuk bergabung dengan pasukan penjaga teleportasi yang menuju kediaman Raja Felix. Mereka harus mempertahankan istana dab raja baru mereka, apapun resiko yang harus diambil.


Kota Elf yang dulu ramai dan hidup dengan suara orang bercengkrama, sekarang sudah berubah menjadi kota mati. Banyak penduduk yang ditahan Orc, disuruh bekerja membuat senjata melawan pangeran dan pasukan mereka sendiri. Yang melawan hanya akan berakhir mengenaskan.


“Anda harus tenang. Kesehatan Anda memburuk akhir-akhir ini,” bujuk penasehatnya.


“Kesehatanku? Bagaimana kau bisa mencemaskan kesehatanku, sementara pasukan dan rakyatku mati setiap hari!” sergah sang pangeran marah.


Penasehat itu akhirnya hanya menunduk. Kesehatan adalah hal yang paling krusial. Selain tekanan situasi, kondisi pangan mereka memang sudah sangat genting. Rakyat terus dipantau oleh Orc dengan ketat. Tak mudah meloloskan bahan makanan untuk dikirim ke atas, tempat Pangeran dan Raja mereka tinggal.


“Sudah seminggu ini, semua pasukan kita praktis tidak makan dengan benar! Kita sudah kelaparan!” AKu bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada seluruh rakyat negara Elf! Apkah mereka bisa makan, atau para Orc juga membuat mereka bekerja hingga mati tanpa diberi makan!” geramnya.


“Yang Mulia, Putri Angel ingin bertemu.” Terdengar pemberitahuan dari luar tenda.


“Ijinkan masuk!” kata sang pangeran. Dia memperbaiki sikapnya, agar tidak terlihat lemah di hadapan Angel.


“Yang Mulia,” sapa Angel hormat begitu masuk ke tenda.


“Tidak perlu bersikap hormat seperti itu, Bibi,” kata Pangeran Mahkota ramah.


“Silakan duduk!” tunjuknya pada satu-satunya kursi yang ada di depan meja kerjanya yang sederhana.


Angel duduk. Keadaannnya juga terlihat lemah. Tapi, melihatnya masih bisa berjalan, itu artinya dia cukup beruntung masih terus diurus oleh para pelayannya yang setia.


“Apa ada yang bibi inginkan? Aku akan usahakan untuk mendapatkannya,” kata sang pangeran dengan penuh kasih.


Angel menggeleng. “Tidak. Bukan tentang itu.”


“Lalu apa? Apakah Bibi ingin tahu keadaan Paman Glenn?” tebak Pangeran Mahkota.


Angel mengangkat wajahnya. “Bagaimana keadaannya? Kapan dia akan kembali? Negara ini hampir jatuh! Dia harus mendahulukan kepentingan negara, ketimbang hal pribadi!” kata Angel menahan rasa perih di hatinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2