
“Hah … kau ini!” Eric tersenyum lebar. Kakinya melangkah masuk dan ikut duduk di meja Hasheem yang sudah menunggu.
Tangan pria itu memanggil pelayan. Seorang pria berpakaian tradisional segera datang. “Ada pesanan lain, Tuan?” tanyanya.
“Ya. Mereka tamuku. Berikan mereka tehmu yang sangat lezat itu!” katanya.
“Baik, Tuan. Mohon ditunggu sebentar.” Pelayan tadi kembali ke meja kerjanya dan mulai menyeduh teh yang harumnya menggelitik perut.
Eric mengeluarkan beberapa lembar uang dari tempat penyimpanannya. Dua lembar uang kertas seratus ribuan, diletakkan di atas meja.
“Seperti ini uang kami,” katanya.
Hasheem mengambil selembar uang dan memperhatikannya. Dia tak menduga ada uang yang bentuknya seperti itu. Ini nilainya berapa?” tanya Hasheem keheranan.
“Seratus ribu rupiah!” jawab Eric. Kemudian dia juga mengeluarkan koin yang umum digunakan di Kota Pelabuhan. Dua koin diletakkan di atas meja juga.
“Ini juga bisa dipakai di tempat kami.”
Hasheem kembali memperhatikan koin dengan lambang dua sayap terbentang itu dengan seksama. “Kami tidak pernah melihat mata uang seperti ini.”
“Itulah sebabnya aku menolak minum teh. Beberapa hari lalu, kami berakhir sial karena uang kami tidak diakui disini.” Eric kembali menjelaskan.
“Baiklah … aku akan menyimpan uang kalian ini. Teh itu aku yang membayarkannya.” Hasheem mengulas senyum lebar. Tak lama teh yang ditunggu telah datang dan dihidangkan di meja.
“Tadi kalian bilang, kalau kalian datang ke tempat ini lewat dinding cahaya. Aku tidak tahu kalau ada dinding cahaya lain di negeri kami,” kata Hasheem penuh selidik.
“Seperti yang kami bilang. Kami adalah Suku Cahaya. Dan kalau kita melewati satu dinding cahaya, maka kita tak bisa kembali lewat jalan yang sama lagi. Dinding yang kita lewati itu bahkan sering tak bisa dilihat lagi. Dia seperti menghilang. Jadi kami harus mencari dinding cahaya lain yang bisa dilihat di negeri yang kami datangi. Itu adalah dinding untuk dimasuki, bukan dinding untuk datang!” Dimas menjelaskan panjang lebar.
Hasheem dan Asad terdiam memandang mereka.
“Kurasa, kau menjelaskannya terlalu panjang. Dia tak mengerti,” kata Eric.
“Aku mengerti maksudmu!” Hasheem mengangkat tangannya dan mengangguk.
“Jadi, kalian sudah mencoba masuk ke sana?” tanya Robert.
“Itu bukan kesengajaan. Pamanku sedang mengejar domba kami yang lari dan hilang cukup banyak di ladang penggembalaan. Aku juga ikut mengejar domba-domba yang berlari ke satu arah. Di depan mata kami, domba itu hilang begitu saja. Sayangnya, pamanku terlambat menghentikan larinya. Dia sudah mencapai tempat itu dan hilang bersama domba-domba!” Hasheem menerawang, mengingat kejadian itu.
“Aku mengatakan apa yang kulihat. Ayahku melarang kami menggembala domba di tempat itu lagi. Kemudian anggota suku menandai tempat itu dengan batu, agar tidak ada lagi yang secara tak sengaja melewatinya dan ikut hilang.”
“Kapan kau mengalaminya?” tanya Hakon.
“Saat aku masih kecil. Tapi pengalaman itu tak pernah bisa kulupakan. Sejak itu pamanku tak pernah kembali.”
__ADS_1
“Jika pamanmu ingin kembali, maka dia harus mencari dinding lain. Meskipun dia belum tentu akan tiba di negeri yang persis sama. Kami saja sudah melewati beberapa dinding cahaya. Namun, kota tujuan kami masih misteri!” Robert menimpali.
“Sesulit itu?” gumam Asad.
“Memang sesulit itu. Jadi tidak kusarankan kalian untuk mencoba memasukinya. Karena tempat yang ada di baliknya, bisa saja adalah tempat yang mengerikan. Karena kami juga pernah beberapa kali mengalaminya, jelas Robert.
Ketika semua anggota suku Beiduin telah selesai dengan urusannya dan kembali serta ikut duduk minum teh, suasana menjadi semakin ramai. Tak lama mereka berjalan menuju gerbang kota.
“Kita tak punya kuda seperti mereka,” Kata Hakon lewat pikirannya.
“Kalau ada kesempatan, sebaiknya kita keluarkan kuda kita,” kata Eric. Dengan rencana itu, Hakon, Dimas dan Arjun berjalan di belakang Eric dan Robert. Mereka membiarkan anggota suku Beiduin itu berjalan lebih dulu. Setelah melewati gerbang, semua orang sudah menuntun tali kekang kudanya masing-masing.
“Ah, aku tidak tahu kalau kalian memiliki kuda,” kata Hasheem.
“Kuda-kuda ini terlalu lelah tadi. Jadi kami membayar seseorang dengan sedikit makanan untuk mengurus kuda-kuda ini,” jelas Robert.
“Bagus kalau begitu. Perjalanan kita akan jadi lebih cepat. Mari berangkat!” katanya memberi aba-aba. Anggota suku Beiduin lain terlihat patuh pada perintahnya.
Kuda-kuda digebah untuk berlari di pasir yang masih masih terasa panas di kaki. PAsir dan debu beterbangan di belakang rombongan itu. Kuda-kuda itu terus berlari kencang. Eric dan timnya tak mau kalah soal bertanding kecepatan kuda. Meski jarang dipakai, tapi kuda-kuda itu adalah kuda alam liar di peternakan mereka.
Senja segera menjelang, Tapi bintang dan bulan sabit di langit, cukup berhasil membuat mereka terus berlari hingga kuda-kuda kelelahan sendiri. Rombongan itu berhenti di tengah-tengah gurun pasir. Jauh dari mata air, jauh pula dari kota lain.
“Apa kalian tidak takut dengan para perampok kafilah yang beroperasi malam hari?” tanya Robert.
“Yang mengikuti rombongan kali adalah orang-orang yang masih bertarung. Itu sebabnya kami tidak merasa perlu
“Aku mengerti.” Sahut robert.
Hakon, Arjun dan Eric membengun tenda mereka sendiri. Itu bisa digunakan oleh mereka berlima. Semua anggota kafilah itu langsung beristirahat setelah menikmati makan malam.
Tengah malam, robongan yang terdiri dari tiga tenda itu menjadi sangat berisik. Mereka bicara dengan ramai, seperti kehabisan akal.
“Ada apa?” tanya Eric pada seseorang yang terlihat sibuk membereskan tenda yang mereka tempati sebelumnya.
“Hasheem menerima pesan darurat lewat burung pengantas pos,” kata orang itu.
“Soal apa surat itu, kalau boleh tahu? Mungkin saja kami bisa membantu.”
“Ketua suku sudah lama sakit. Tadi pesan dikirim untuk mencari Haseem, menyuruhnya pulang!” kata orang itu.
“Kami ikut!” Eric memutuskan dengan cepat.
“Kami juga punya Dokter di sini,” kata Robert secepat kilat.
__ADS_1
“Apa itu dokter?” Hasheem menimpali pembicaraan mereka.
“Semacam tabib, kalau di tempatmu” jelas Robert lagi.
“Kalau begitu, coba periksa ayahku nanti,” perintah Hasheem.
“Baik, akan kuperiksa nanti. Sekarang kita bergantung pada kecepatan, agar terlambat mendengar wasiatnya. Semua anggota rombongan lansung membereskan tenda. Mereka
Sebelum dini hari, rombongan itu sudah berlari lagi di hamparan pasir. Menggebah kuda seperti orang kesetanan. Mereka harus tiba secepatnya di dusun Suku Beiduin.
Eric melihat langit timur sudah mulai terang. Didekatinya kuda Hasheem yang tengah berlari. “Apakah kita masih jauh lagi?” teriaknya agar didengar oleh Hasheem.
“Mungkin saat matahari naik, baru desa kami terlihat!” Hasheem ikut berteriak, mengalahkan gemuruh derap kaki kuda yang berlarian.
“Kau sangat khawatir. Aku bisa membawamu lebih cepat sampai rumah, kalau mau!” Eric berteriak menawarkan bantuan.
“Bagaimana caranya? Kuda-kuda bisa mati kalau dipacu berlebihan!” teriak Hasheem lagi.
“Asalkan kau tidak berbuat jahat pada kami nanti. Aku akan membawamu pulang dalam lima menit!” teriak Eric.
“Kurasa kau mulai gila karena kepanasan!” Hasheem lanjut menggebah kudanya dan meninggalkan Eric di belakang.
“Aku akan membawanya pulang lebih dulu. Kalian berhati-hatilah,” pesan Eric di kepala Robert.
“Dok, usahakan agar kudamu bisa terbang tanpa terlihat. Kau harus tiba di sana secepatnya!” pesan Eric.
“Baik!” sahut Dimas.
Setelah itu, Eric melesatkan kudanya lebih cepat dan mengejar Hasheem.
“Maafkan aku!” teriak Eric.
“Apa?” Hasheem tak mengerti.
Eric menyambar kuda Hasheem. Membuat kedua kuda mereka terbang rendah di ata spermukaan pasir. Begitu rendah, hingga tak terlihat mata kalau mereka sebenarnya terbang.
“Apa yang kau lakukan?” Haseem bisa membedakan antar berkuda yang membuat tubuhnya bergoncang, dengan sesuatu yang tak dimengertinya. Kudanya terasa ringan melayang.
“Aku membawamu pulang lebih cepat untuk menemui ayahmu!” balas Eric dengan teriakan juga.
“Apakah di depan itu kotamu?” tuntuk Eric ke depan mereka.
“Ya, itu kotaku!” Hasheem benar-benar terkejut. Berapa cepat Eric membuat kudanya berlari? Ditolehnya ke belakang. Anggota sukunya sudah tak terlihat lagi. Mereka pasti berada di balik bukit pasir di belakang.
__ADS_1
“Apa kau sejenis hantu?”
*****