
Saat sarapan, Dean memperhatikan Eric yang sudah rapi. "Apa kau berubah pikiran?" tanyanya ingin tahu.
"Ya. Aku bersedia mengikuti apa yang ayah katakan!" ujarnya tegas.
"Bagus! Selesaikan sarapanmu. Sebentar lagi, semua akan berkumpul." Dean mengangguk puas. Senyumnya terkembang.
Semua sudah berkumpul di depan kediaman Pemimpin Cahaya. Dua puluh orang yang akan melakukan misi penyelamatan ke negara Elf sudah menyandang senjata dan perlengkapan masing. Masing.
Dokter Dimas keluar dengan dua pasien Elf yang dirawatnya. Herdan memegangi Khort yang masih terpincang-pincang. Zoella mencarikan kursi untuk pria itu duduk agar bisa mendengarkan pengumuman ayahnya dengan nyaman.
Beberapa waktu berikutnya, Liam, Laras, Kang, Nastiti, Yoshi dan Yabie juga datang bersama putra putri mereka. Pemuda-pemuda Bangsa Cahaya yang ikut serta juga diantar oleh kepala suku.
"Selama aku pergi, kutitipkan Dunia kecil itu padamu," ujar Kakek Kang.
"Tentu saja, Kakek Kang," jawab Kepala Suku Cahaya.
"Nanti cucuku Kang dan putranya akan membantu. Panggil saja dia jika kalian ada kesulitan," pesannya.
"Akan kami ingat itu, terima kasih." Kepala Suku itu kembali mengangguk.
"Baiklah, mohon perhatiannya. Aku tahu kalian sudah tak sabar untuk pergi. Namun, ijinkan aku memberi nasehat sedikit." Dean mulai bicara.
Orang-orang langsung diam. Tempat itu jadi hening seketika. Mereka mendengarkan dengan seksama. Apa yang akan disampaikan Pemimpin Cahaya.
"Tim perjalanan ini akan dipimpin oleh putraku Eric. Kakek Kang akan mengawasi kalian semua, Lalu Robert dan Arjun menjadi penunjuk jalan serta penasehat," Dean menjelaskan struktur tim itu.
"Tim kesehatan yang tidak terlalu kuat, harus kalian lindungi. Ubbe yang mendapat misi membuka jalur teleportasi, juga karus kalian lindungi. Sampai di sini paham?" tanyanya.
"Paham," jawab anggota tim.
"Biasakan mendiskusikan setiap situasi, sebelum mengambil keputusan. Dan jika sudah diputuskan, maka patuhilah! Dengan begitu perjalanan akan berlangsung dengan aman.
"Baik!" jawab mereka serempak.
"Hal terpenting adalah, kita tidak mengetahui titik teleportasi ke sana. Jadi, perjalanan kalian ini akan sangat berat, sebab harus menyusuri kembali jalan yang pernah kami lalui dulu. Hati-hati dengan bahaya yang menghadang. Cuaca dan juga hewan buas!" Dean mengingatkan.
"Apa kalian siap?" tanyanya dengan senyuman khas.
"Siap!" Teriakan itu membahana di pagi yang mulai merangkak naik.
"Baik. Kalian bisa bersiap. Aku serahkan pengarahan pada Robert." ujar Dean.
__ADS_1
Robert mengangguk.
"Pertama, karena kita akan melintasi langit bumi, maka untuk awal mula agar tidak menarik perhatian para pemerhati langit di sana, Maka hanya lima orang saja yang boleh terlihat!" Robert menjelaskan rencananya.
"Yang berada di luar adalah Saya, Arjun, Eric, Dokter Dimas dan Hakon. Yang lainnya bersembunyi di kalung penyimpanan, untuk sementara. Ubbe, kau bersama denganku," tambah Robert lagi.
Hakon segera bergerak menyembunyikan para pemuda dan pemudi Suku Cahaya. Arjun menyembunyikan Kakek Kang dan cucunya Gerald. Eric menyembunyikan Sofie, Aila dan Evan. Sementara Dokter Dimas menyimpan Jason serta dua pasien Elf ke dalam penyimpanannya.
Tempat itu kini mulai sunyi. Aslan mendekat. "Jika sudah siap, mari kuantar ke pintu teleportasi," katanya.
"Aku berangkat, Ibu." Eric memeluk Widuri, kemudian menyusul ayahnya dan Aslan serta anggota tim lain ke gua dimana pintu teleportasi utama berada.
"Kalian akan keluar di langit Indonesia. Tempat dimana dulu kalian juga keluar saat mencari jalan pulang. Perhatikan jubah Pemimpin Cahaya yang dulu dipakai untuk menutupi dinding pemisah antar dimensi," jelas Aslan.
"Aku masih mengingatnya." kata Robert.
"Baik." Aslan memeriksa koordinat pada pintu di depannya. "Sudah siap!" ujarnya.
Dyah memeluk Robert. "Aku akan merindukanmu," ujarnya dengan berat hati.
Kemudian dia menoleh pada adiknya. "Dimas, kau harus menjaganya!" pesan Dyah.
"Apa tidak salah? Dia lebih berpengalaman dariku!" geleng Dimas heran.
"Iya, kami akan saling menjaga," janji Robert cepat, sebelum muncul pertengkaran. Dimas juga mengangguk-angguk agar kakaknya tidak lagi sewot dan memperlambat perjalanan.
Robert mengangguk pada Dean dan Indra. "Aku berangkat!" ujarnya sebelum melompat ke pintu teleportasi. Arjun menyusul, kemudian Eric, Dokter Dimas dan Hakon. Kelima orang itu segera menghilang dan cahaya pintu teleportasi itu kembali redup.
"Tempat ini akan menjadi lebih sunyi tanpa anak-anak muda yang biasanya meramaikan suasana," keluh Dyah.
"Mari saya antar," kata Aslan sopan. Dyah mengangguk dan memegang tangan Aslan. Mereka menyusul Dean dan yang lainnya keluar dari gua.
"Nanti juga akan terbiasa," ujar Aslan sekenanya.
"Aku tidak ingin terbiasa dengan ini. Aku ingin mereka semua kembali dengan selamat ke sini!" ketus Dyah.
Aslan diam saja. Tak berani menjawab lagi, takut salah bicara. Diantarnya Dyah ke kediaman Dean. Di sana masih berkumpul Niken, Nastiti, Yoshi dan yang lainnya.
Menurut kalian, apakah hutan salju itu masih akan sama seperti saat kita ke sana?" tanya Widuri.
"Sudah puluhan tahun berlalu. Mungkin pondok-pondok yang dulu kita bangun, sudah tenggelam di bawah salju!" Laras terkekeh geli.
__ADS_1
"Apakah tidak ada musim lain di sana?" Niken bertanya lirih.
"Jika tak ada musim panas, maka benar apa yang dikatakan Laras. Pondok-pondok itu akan terbenam di bawah salju tebal."
"Maka Robert akan kesulitan menemukan jalur yang sama," Indra menimpali.
"Sulit? Dan kalian mengirim dia ke sana!" Dyah kembali meradang.
"Pesan itu untuknya. Dan memang Robert yang tahu jalan ke sana. Timku tidak melewati jalur itu." Dean menjelaskan dengan sabar.
"Kau hanya perlu mendoakan semoga semuanya baik-baik saja, di sana," potong Widuri.
"Mungkin sebaiknya Adrian dan Abimanyu diminta ke sini jika mereka libur. Agar kau tak kesepian," saran Laras.
"Ibuku sakit tua. Mereka menjaga di sana," keluh Dyah.
"Kau bisa ke sana juga sesekali. Atau bawa ibumu ke sini untuk mendapat suasana baru." Nastiti menimpali.
"Kurasa aku akan berkunjung ke sana, sebentar," angguk Dyah.
*
*
"Di mana pintu antar dimensinya?" tanya Eric mencari ke sana kemari, setelah mereka keluar dari pintu teleportasi. Sekarang kelompok itu melayang di langit antara Indonesia dan Singapura.
"Kita terbang perlahan dulu. Waktu itu juga tidak persis langsung terlihat setelah keluar dari pintu teleportasi," jelas Robert.
Tim kecil itu terbang perlahan. "Apakah itu yang kalian maksud?" Hakon menunjuk ke atas.
Ada sesuatu yang berkibar. Sesuatu yang hanya bisa terlihat oleh mata mereka. Kelimanya terbang mendekat dan menemukan jubah Penguasa Cahaya yang disangkutkan Dokter Candra di sana, untuk menghindarkan pesawat lain salah masuk dan terjebak di dunia tak dikenal.
"Entah apakah benar ini jalan masuk pesawat kita dulu atau bukan. Tapi hanya ini celah dimensi yang kutahu di dunia ini," kata Robert. Mereka jadi saling berpandangan heran Robert bahkan tidak yakin jika itu adalah pintu masuk yang benar.
"Kita coba saja kalau begitu! Kecuali masih ingin mencari-cari yang lainnya lagi." Eric mendesak dengan halus.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebelum kehadiran kita terdeteksi oleh pengawas di bawah," Dimas mengingatkan.
"Baik. Kalian harus bersiap menghadapi segala kemungkinan di balik ini!" Robert mengingatkan. Tangannya terulur dan mereka saling berpegangan.
Kelimanya melompat serempak setelah menarik jubah Penguasa Cahaya dari tempat dia disangkutkan.
__ADS_1
"Aaaaahhhhhh ...!"
*********