
Kerajaan Elf. (Lanjutan bab 21)
Tiga pasukan menunggu dengan tenang perintah serangan serentak oleh putra mahkota. Setiap mereka sudah mengkonfirmasi posisi dan tinggal bergerak saat melihat tanda. Termasuk pasukan di perbatasan negara
peri.
“Senja tinggal satu jam lagi.”
Putra Mahkota sudah sangat tidak sabar untuk meletuskan penanda ke langit. Baginya, waktu satu jam itu terasa seperti satu tahun. Dia terus mengkhawatirkan keluarganya. Dari beberapa penduduk yang menyembunyikan mereka, diketahui bahwa bendera kerajaan Elf telah berkibar di
kediaman kakeknya Felix Ockenlische.
Sementara itu, di kediaman Angel, keadaan sedikit lebih tenang setelah Orc terakhir berhasil mereka bunuh, Lalu mayat-mayat mereka digulingkan jatuh dari ketinggian pulau yang melayang itu.
Para Orc yang menguasai pintu teleportasi di bawah
menjadi sangat murka melihat Sepuluh Orc yang sebelumnya lolos naik ke atas, kini kembali tak bernyawa. Mereka berusaha menjebol pertahanan pintu
teleportasi namun tak juga berhasil.
“Panggilkan ahli teleportasi dan pecahkan kode-kode sialan ini!” teriak pemimpin
penjaga orc di sana. Betapa memalukan, sepuluh Orc kalah dengan makhluk lemah
dan cantik seperti Elf di atas sana.
“Tak berguna!” murkanya sambil menendang jasad Orc ke sepuluh yang dijatuhkan dari langit.
Satu Orc datang melapor. “Ahli teleportasi sedang berusaha menjebol teleportasi ke istana Felix Ockenlische.”
“Hah! Kenapa kita hanya punya satu ahli teleportasi?” ujarnya jengkel. Dia ingin menyerang ke atas, tapi sekarang harus menunggu.
“Kalian terlalu malas dan bodoh, sampai tak bisa
menjadi ahli teleportasi!” umpatnya. Dia menyesali kebodohan sebagian besar
bangsanya. Hingga mereka sangat kesulitan untuk mempelajari urusan serumit jalur teleportasi.
Bawahannya hanya diam menunduk mendengar gerutuan pimpinan tim mereka. Tak ada yang bisa dilakukan sekarang. Seperti apapun mereka menguasai kota, jika kerajaan itu masih berdiri dan bendera kerajaannya masih berkibar, artinya kerjaaan itu belum jatuh!
“Para Elf yang lemah ini terlalu pintar. Mereka mengantisipasi hal seperti ini dengan membangun istana-istana di ketinggian
pulau-pulau yang melayang itu. Jadi, meskipun mereka lebih lemah, kerajaan ini
__ADS_1
lebih sulit ditaklukkan!” Pimpinan tim itu harus mengakui kecerdasan para Elf.
“Hanya menunggu waktu saja mereka takluk. Jika istana
dan persediaan makanan mereka dihancurkan seperti yang terjadi di istana
Pangeran Glenn, maka tak lama lagi mereka akan menyerah!” salah seorang
bawahannya mengatakan pemikirannya.
“Ya. Hanya menunggu waktu. Biarkan saja mereka kelaparan! Hahaha ….”
“Bagaimana kalau Putra Mahkota kembali dengan pasukannya?” tanya yang lain.
“Tentara kita sudah memenuhi kota. Terutama di jalan masuk dari tempat tugas Pangeran tampan itu.” Pimpinan tim itu menyeringai
mengerikan.
“Ya. Mereka tidak akan bisa melewati pasukan kita yang
menjaga perbatasan barat!” kata salah seorang dari mereka dengan optimis.
“Memangnya kapan Orc bisa kalah jika bertarung berhadapan?” Pimpinan itu mengejek sinis.
berapi-api.
Seorang Orc yang menjadi kurir, datang dan menyerahkan sebuah surat. Lalu dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Pimpinan tim itu membaca pesan dan melipatnya lagi.
“Aku harus berkumpul dengan jenderal di pintu teleportasi benteng istana!” ujarnya.
“Kalian jaga gerbang ini. Jangan sampai ada lagi yang
lolos turun dari sana! Kecuali kalian mau dihukum seperti dua Orc bodoh di sana
yang melepaskan dua Elf melompat turun!” Tunjuknya ke arah dua bawahannya yang
sekarang sedang diikat di tiang dan tidak diberi makan serta minum sama sekali.
“Akan kami kerjakan!” jawab para Orc di sana dengan semangat.
Pimpinan tim kecil Orc itu mengangguk dan pergi ke tempat rapat yang diketuai oleh jenderal perang mereka.
Tinggallah tim Orc yang terdiri dari sepuluh orang, menjaga dengan santai. Mereka tidak khawatir sedikit juga. Karena seluruh kota sudah dikuasai. Sementara pasukan Putra Mahkota yang ditakuti, sudah di hadang di jalan masuk perbatasan kota barat.
__ADS_1
“Lihatlah kota yang biasanya ramai ini. Sekarang seperti
kota mati. Penduduknya sangat penakut hingga langsung bersembunyi di dalam rumah masing-masing!” ujar mereka jumawa.
“Mereka adalah orang yang lemah. Hanya mengandalkan
kekuatan tentara saja untuk melindungi kerajaan. Sampah!” ejeknya.
“Mereka terlalu dimanja dan mendapatkan kemudahan tinggal di sini. Jika kita berkuasa nanti, mereka hanya akan menjadi budak rendahan!” tambah yang lain. Para Otc itu makin semangat menjatuhkan mental penduduk di sekitar, dengan ejekan dan umpatan yang merendahkan itu.
Di dalam kediaman seorang peri pohon, yang tak jauh
dari maskas Orc di pintu teleportasi, Pangeran Levyn menahan kemarahan hingga
wajah tampannya memerah seperti buah apel yang sedang ranum.
“Beraninya mereka menghina para Elf!” geramnya.
Pengawalnya menenangkan agar pangeran muda itu
bersabar. “Mereka tahu bahwa para Elf yang bersembunyi di rumah pasti akan mendengarkan hinaan yang mereka lontarkan!”
“Anda tahu apa tujuannya?” tanyanya pada Levyn.
“Mereka hanya orang gila yang sombong!” ujar Levyn.
Pengawalnya menggeleng. “Mereka ingin menjatuhkan
mental penduduk, agar takut dan mudah dikuasai. Atau---”
“Atau apa?” tanya Levyn tak sabar.
“Atau memancing para Elf yang berhati panas untuk
keluar dan mencari keributan, lalu membunuhnya dan menjadikan hal itu contoh
bagi penduduk lain agar tidak macam-macam!” kata pengawal itu bijak.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Pangeran Levyn merasa lesu.
Pengawalnya mengintip langit dari lubang di atas pohon. Langit mulai kemerahan. “Kita hanya perlu menunggu dengan sabar sesuai
instruksi Putra Mahkota!”
__ADS_1
*****