
Herdan mengangguk tegas. “Kalau berjalan kaki dan hanya dengan kekuatan biasa, mungkin beberapa tahun baru saya bisa kembali.”
Raja Felix memperhatikan ekspresi pengawal Angel. Dia tidak menemukan kebohongan di sana.
“Seperti apakah negeri mereka?” tanya Raja Felix.
“Sangat misterius. Lebih baik Anda bertanya saja pada mereka tentang itu,” kata Herdan. Dia merasa tidak tahu terlalu banyak tentang Eric dan penduduk dunia itu.
Raja Felix mengangguk dan berdiri dari duduknya. Kemudian melanjutkan langkah ke lantai bawah, di mana para tamunya beristirahat. Hatinya langsung terenyuh melihat begitu banyak bahan makanan di tengah ruangan.
“Di mana mereka?” tanyanya.
“Di sebelah sini, Yang Mulia.”
Kepala pengawal menunjukkan jalan. Lalu Sang Raja melihat dengan tertegun. Anak-anak muda itu tidur dengan nyenyak di atas sofa-sofa yang ada di sana. Kemudian dia mengenali Robert diantara mereka. Dia tersenyum dan mengingat kenangan lama, saat pria itu dan yang lain menceritakan tentang dunia asal mereka.
“Kuharap kau mau menceritakan lagi tentang dunia barumu, padaku,” kata Raja Felix dalam hati.
Dia sangat ingin seluruh masalah di negara Elf selesai secepatnya. Agar tahta bisa dikembalikan pada Sang Raja atau pada Pangeran Mahkota. Lalu dia bisa pergi berkelana dengan istrinya ke dunia-dunia baru yang selalu menakjubkan bagi jiwa petualangnya.
“Biarkan mereka istirahat. Kalian, bagikan dulu buah-buahan pada smua pengurus istana, pengawal dan prajurit di pintu teleportasi di bawah sana. Setelah kalian punya cukup tenaga, baru kita bagikan bahan makanan ini pada rakyat!” perintahnya.
“Baik, Yang Mulia.” Kepala pengawal langsung berlari memanggil pelayan dan pengawal istana lainnya untuk mendistribusikan semua buah-buahan secara merata.
Raja Felix duduk di salah satu kursi. Di tangannya ada buah ranum yang menerbitkan selera. Matanya berkaca-kaca teringat pada persahabatan singkat dirinya dengan orang-orang negeri asing itu. Dan sekarang mereka datang dari negeri jauh untuk membantu, atas dasar pertemanan lama. Sementara negara tetangga, bahkan negara besannya, Negara Para Peri, tidak mengirim bantuan sama sekali.
Setelah semua bahan makanan dibagikan dengan teliti, Sang Raja bersiap naik ke kamarnya. “Layani mereka dengan baik. Dan besok pagi, siapkan sarapan bersama dengan mereka,” perintahnya.
“Baik, Yang Mulia Raja!” sahut para pelayan yang sibuk.
Malam itu, hati sang raja kembali penuh harapan. Berdasarkan keterangan Herdan, mereka adalah manusia-manusia yang punya kemampuan khusus . Raja Felix sangat berharap kemampuan itu bisa berguna untuk mengusir para Orc dan menemukan cucunya Cristal.
Pagi hari.
__ADS_1
Meja jamuan sudah disiapkan meskipun hanya sederhana. Kepala Pelayan Istana pergi mengabari tamu-tamu mereka untuk ikut sarapan bersama raja.
“Siapakah pemimpin di sini?” tanyanya sopan.
“Saya,” jawab Eric.
“Yang Mulia Raja mengundang anda semua untuk sarapan bersama dan membicarakan banyak hal,” kata Kepala Pelayan Istana.
“Oh, baiklah.” Eric langsung berdiri dari duduknya dan yang lain mengikuti. Mereka dipandu oleh Kepala Pelayan Istana menuju ruang jamuan makan.
Mereka masuk ke sebuah ruangan indah yang sudah ditata dengan sangat rapi. Piring dan gelas sudah diatur di meja. Beberapa pelayan berbaris di salah satu sudut, siap sedia melayani jamuan pagi sang raja.
Eric dan teman-temannya sudah duduk berdasarkan urutan kepemimpinannya. Semua sudah siap saat sang raja memasuki ruangan.
“Yang Mulia Raja, tibaaa …!” kata penjaga di luar ruangan.
Robert berdiri. Yang lain melihatnya dan cepat-cepat ikut berdiri juga. Kemudian membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat.
Raja duduk lebih. “Silakan duduk,” katanya. Barulah semua orang ikut duduk. Dia menoleh pada Eric yang
duduk di sisi kanannya.
“Apakah Kau yang memimpin tim ini?” tanyanya ramah.
“Benar, Yang Mulia. Saya Eric. Putra pimpinan bangsa kami,” katanya memperkenalkan diri.
Raja sedikit terkejut. Tak mengira kalau pria muda di sebelahnya ternyata adalah putra dari pemimpin bangsa mereka. Bangsa-bangsa yang menurut Herdan sangat hebat itu. Tapi penampilannya sangat bersahaja.
“Selamat datang di negeri kami. Dan terima kasih atas bantuan dari negerimu. Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada orang tuamu,” kata raja Felix.
Eric mengangguk. ”Tentu, Yang Mulia.”
Eric menoleh pada Robert. Dan memperkenalkannya. “Ini Paman Robert. Dengan petunjuk paman kami bisa sampai di sini. Apakah Yang Mulia mengingatnya?” kata Eric.
__ADS_1
“Tentu saja. Apa kabar Robert? Aku harap kita bisa berbincang-bincang seperti dulu. Dan aku sangat ingin tahu tentang negeri kalian,” balas sang raja.
“Tentu, Yang Mulia Raja. Dengan senang hati.” Robert tersenyum dan mengangguk.
“Baik, mari kita mulai sarapannya. Setelah itu, kita bisa bicarakan hal penting lain,” kata Raja Felix.
Jamuan makan dimulai dengan santai. Angel bahkan terkejut saat mengetahui bahwa Eric putra Dean dengan Widuri, Sofie adalah putri dari Niken dan Indra. Gerald adalah putra Nastiti. Ternyata mereka adalah generasi penerus dari teman-teman seperjalanannya dulu.
Setelah makan malam usai, Sang Ratu dan Putri Angel mengundurkan diri. Sofie, Gerlad, Ubbe, Jason dan Fire ikut keluar. Membiarkan Eric dan Robert membicarakan hal-hal penting yang mereka tidak ingin ikut campuri.
Raja ditemani oleh penasehat dan kepala pengawal istana. Mereka pindah duduk di ruang kerja sang raja.
“Mari kita mulai pembicaraan penting ini,” kata Raja Felix memulai diskusi.
“Negara kami sedang sangat kesulitan sekarang. Robert sangat tahu bagaimana indah dan tentram negeri ini dulu. Tapi sekarang semua porak poranda. Istana Glenn habis dibakar oleh Orc yang berhasil menyusup naik. Selain itu, Orc menahan keponakanku yang merupakan raja sebelumnya. Mereka sekeluarga ditahan di pulau terapung, yang lain. Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka sekarang!”
Raja Felix nampak tersengal mengutarakan semua kepedihan itu pada dua tamunya. Emosi yang ditahan, membuat hatinya teramat sakit.
Robert dan Eric masih diam. Memberi kesempatan sang raja untuk mengutarakan semua informasi yang mereka butuhkan.
Setelah menghela napas panjang, Raja Felix melanjutkan. “Lebih dari kehilangan yang keluarga kami alami, keadaan rakyat jauh lebih memprihatinkan. Mereka sangat tidak berdaya menghadapi kekuatan Orc yag secara fisik lebih unggul dari kami.”
Setelah sang raja terdiam cukup lama, Eric bertanya. “Jadi, apa yang bisa kami bantu di sini?” tanya Eric.
Dia membuka peluang agar raja itu mengutarakan apa-apa yang dibutuhkannya, alih-alih menawarkan segala sesuatu yang ungkin tidak menjadi prioritas sang raja.
Raja Felix berpikir keras. Berdiskusi dengan dua pria di sebelahnya. Kemudian menatap Eric lagi.
“Terima kasih untuk bantuan bahan makanan yang Anda bawa tadi malam. Semua sudah langsung dibagikan pada rakyat sejak tadi malam, hingga dini hari. Sekarang kami tidak punya persediaan lagi. Saya harap mereka bisa bertahan dalam tiga hari dengan semua yang bisa dibagikan itu.” Raja diam sejenak. Dia terlihat berat untuk mengatakan yang ada di kepalanya.
“Kami bisa mengirim bantuan lebih banyak lagi setelah ini,” kata Eric. Dia mengerti bagaimana beratnya lidah seorang penguasa meminta bantuan seperti itu. Raja Felix dan dua bawahannya itu menatap Eric terkejut. MEreka tak percaya melihat bagaimana anak muda itu mengatakan hal seperti itu dengan santainya.
“Terima kasih untuk tawaran bantuan kalian. Benar, kami sangat membutuhkannya. Tapi kami tidak akan merugikan negara yang rela membantu dengan meminta secara cuma-cuma. Beri tahu kami apa syarat bantuan itu. Jika kami mampu, maka akan kami penuhi,” balas Raja Felix.
__ADS_1