
Negara Peri juga melakukan rapat penting hari itu, terkait perseteruan Elf dan Orc. Sore hari, penjaga perbatasan melaporkan kalau ribuan tentara Orc berkumpul di Tanah tak bertuan. Raja memerintahkan menambah pasukan penjaga di perbatasan, untuk menahan para Orc yang mungkin memasuki wilayah mereka saat pecah perang dengan Elf.
Pasukan baru, dikirim dari kota-kota terdekat. Sekarang hutan perbatasan itu menjadi lebih ramai dari biasanya. Jika sebelumnya hanya ada pasukan pejaga perbatasan yang dipimpin Pangeran Karl, sekarang ada banyak pemimpin kelompok pasukan lain. Mereka sama sekali tidak merasa perlu mendengarkan masukan dari sang pangeran yang lebih mengenal setiap jengkal hutan perbatasan. Hal ini membuat penasehat sekaligus pengawal pribadinya itu tak senang.
“Tidakkah kalian seharusnya menaruh rasa hormat! Dia seorang pangeran kerajaan! Lebih dari itu, dia dan pasukan penjaga di sini jauh lebih mengetahui seluk beluk tanah ini!” Pria itu berdebat pada beberapa pemimpin pasukan baru yang mengadakan rapat tanpa mengundang sang pangeran.
“Dia hanya orang buangan! Sudah bagus dia dan keluarganya tidak diasingkan atau dihukum mati atas niatan penggulingan raja!” kecam yang lain.
“Jaga bicaramu! Apa kau punya bukti terkait hal itu! Bahkan sang raja tidak dapat membuktikan praduganya!” pengawal itu sangat emosi mendengar tuduhan tak berdasar itu.
“Tak ada bukti, bukan berarti tidak benar!” yang lain menimpali.
“Kalian menfitnah keluarga Pangeran Taksa! Aku akan laporkan ini ke istana! Beraninya kalian para prajurit rendah bermain politik saat bekerja!” Pengawal itu menyentakkan tangan dua pria yang menahannya. Lalu pergi dari tempat pertemuan itu.
Terdengar suara tawa mengejek di belakangnya. “Sayang sekali. Dulu dia adalah pengawal paling cemerlang di istana. Sekarang malah berakhir di hutan! Sementara teman seangkatannya sudah menjadi jenderal dengan banyak pasukan!” komentar mereka mencibir.
“Makanya jangan salah memilih tuan!” yang lain mengingatkan.
***
“Sudahlah. Biarkan saja mereka. Aku juga tidak peduli. Biarkan masing-masing kita bertarung di tempat yang sudah ditentukan saja!” kata Karl, saat penasehatnya mengadukan apa yang terjadi.
“Kita ditempatkan untuk menjaga perbatasan dengan Negara Penyihir! Mereka ingin mengambil semua kesempatan untuk tampil cemerlang dalam peperangan ini!” kata penasehatnya lagi.
“Untuk mendapatkan hasil yang besar, mereka harus memberikan pengorbanan yang besar juga! Biarkan saja! Mana surat tugasku!” tanya Karl.
Penasehat itu menyerahkan surat tugas yang diberikan oleh para pimpinan pasukan baru itu pada Karl.
Pangeran itu membacanya sebentar kemudian mengangguk. Melipat kertas itu dan menyimpannya di balik pakaiannya. “Dengan surat tugas ini, maka pihak istana tak bisa mengecamku jika terjadi hal buruk pada para pasukanamatir itu!” kata Karl sinis.
“Kumpulkan pasukan kita dan berangkat malam ini juga menuju pos baru di perbatasan negara Penyihir!” perintah Karl.
“Baik!” Penasehat sekaligus pengawal pribadi Karl segera pergi untuk melaksanakan perintah.
Dalam sepuluh menit, semua pasukan penjaga perbatasan asli itu berkumpul. Mereka telah diberi tahu bahwa tempat tugas mereka akan dipindahkan. Jadi mengangkat cukup banyak perlengkapan, termasuk tenda, alat masak, obat-obatan dan senjata. Setiap ekor kuda harus membawa beban di punggungnya.
“Apakah sudah berkumpul semua?” tanya Karl.
Pangeran itu terlihat sudah siap untuk berangkat. Kudanya dan kuda penasehat itu sudah dipenuhi dengan berbagai barang kebutuhan mereka.
“Sudah!” jawab pasukannya serempak.
Karl menunjukkan surat tugas yang dipegangnya. “Kita ditugaskan menjaga perbatasan dengan negara Penyihir!” ujarnya. Lalu melipat dan menyimpan lagi kertas itu.
__ADS_1
“Apa?” anggota pasukannya terkejut.
“Tuan, bukankah para Orc itu berada di Tanah tak bertuan? Kenapa kita menjaga di perbatasan negara penyihir?” tanya mereka tak mengerti.
“Tugas menghalangi Orc di Tanah tak bertuan, diambil alih oleh pasukan baru yang ditugaskan istana!” jawab Karl enteng.
“Kenapa bukan kita?” mereka bertanya-tanya tak mengerti.
“Jika semua sudah siap, mari kita berangkat. Kuharap kita bisa tiba lebih cepat sebelum matahari muncul. Agar bisa beristirahat sejenak sebelum peperangan itu dimulai!” Karl segera menaiki kudanya dan mengikuti pengawalnya yang membuka jalan bagi pasukan itu.
Pangeran itu berjalan dengan kepala terangkat dan tanpa menoleh ke kanan kiri sedikit juga. Sementara anggota pasukan itu memerah wajahnya mendengar cemooh dari para anggota pasukan yang baru dikirim oleh kerajaan.
Mereka hanya prajurit penjaga perbatasan biasa. Tapi sangat mengetahui perseteruan panas di istana. Dunia mereka yang sebelumnya damai, kini dikotori oleh para pimpinan pasukan yang dikirim istana.
Setelah semua mereka meninggalkan tempat itu, seorang pimpinan pasukan meludah ke tanah. “Cuih! Aku senang pasukan pengkhianat itu tidak berada di sini lagi. Tak terbayang jika mereka memasukkan Orc agar menyerang istana!” fitnahnya keji.
Prajurit lain saling pandang. Sekarang mereka mengerti alasan pasukan Pangeran Karl dipindahkan ke tempat lain.
***
Di perbatasan negara Kurcaci Biru, Para pasukan perbatasan mereka juga sudah bersiaga di hutan yang bersisian dengan Tanah tak bertuan. Mereka harus menjaga perbatasan itu dari Orc yang mungkin mencari kesempatan kabur ke negara mereka.
Tembok perbatasan di sana telah dibangun sangat tinggi, sepanjang wilayah yang berbatasan dengan Tanah tak bertuan. Membangun tembok kokoh adalah salah satu upaya mereka mengimbangi Orc yang bertubuh raksasa dengan mereka yang bertubuh mini.
Pasukan panah mereka telah bersiaga di diatas tembok-tembok. Siap memanah Orc yang berani mendekati rintangan pagar kayu berduri yang mereka pasang sepuluh meter dari tembok. Para Kurcaci ini terkenal dengan kelincahannya dan selalu bergerak dalam kelompok.
“Tolong beri minum dulu kudaku!” perintahnya.
Jenderal itu menyuruh pengawalnya memberi minum kuda sang pangeran yang juga tampak kepayahan.
“Ini minuman Anda,” tawarnya.
Pangeran muda itu menyambar gelas yang disodorkan sang jenderal. Dia langsung meneguk habis isinya. Kemudian menagtur napas kembali.
“Anda kabur dari istana lagi? Apa Anda ingin raja memenggal leherku?” Jenderal tua itu marah.
“Anda guruku, mau ke mana lagi aku pergi jika bukan ke sini?” kelit sang pangeran Kurcaci seenaknya.
“Perang ini bukan permainan, Pangeran. Ini sungguh-sungguh! Anda tahu informasi yang kami terima? Raja Elf mengatakan bahwa penduduk negara Penyihir sudah hampir musnah dibunuh Orc!” Jenderal itu memperingatkan.
“Untuk itulah kita di sini. Menahan para Orc agar tidak melewati perbatasan dan membantai rakyat kita!” Pangeran muda itu ngotot.
“Biar kami yang melakukannya. Anda kembalilah dengan aman ke istana,” bujuk jenderal tua itu lagi.
__ADS_1
“Jika Anda khawatir keselamatan saya, maka saya hanya akan mengamati saja jalannya peperangan, bagaimana?” Pangeran itu membujuk.
Jenderal tua itu menatapnya tajam. Mencari kesungguhan atas kata-kata itu. Pangeran yang sedang dalam masa pemberontakan atas kekangan istana, tidak mudah dipercaya akan menurut begitu saja.
Pangeran itu mengangguk sekali lagi. “Aku hanya ingin melihat jalannya peperangan. Bukankah aku membutuhkan itu untuk pengalaman dalam memerintah negara, nantinya?” tambahnya lagi.
“Kalau soal itu, saya bisa menceritakannya saat perang berakhir!” ketus jenderal itu.
“Bisa! Tapi pasti berbeda dengan kalau aku melihat dengan mataku sendiri!” sang pangeran masih ngotot.
“Baiklah! Berjanjilah hanya melihat dari jauh. Jika keadaan mulai bahaya, Anda harus segara kembali ke istana!” Jenderal tua meminta pangeran itu berjanji.
“Oke, aku janji!” Kurcaci muda dan tampan itu mengangguk dengan sungguh-sungguh.
Jenderal itu menyerah. “Anda bisa istirahat malam ini. Kemungkinan peperangan pecah besok pagi!”
“Baik!”
Pangeran Kurcaci itu tersenyum samar dan membaringkan tubuhnya di dipan kayu dalam tenda. Dia memang butuh istirahat setelah melarikan diri dari pengawalnya sendiri.
***
“Para Orc mulai bergerak!” Eric mengatakannya pada Hakon.
“Akan kulaporkan pada Pangeran Glenn!” balas Hakon.
Setelah menerima aporan Hakon, Glenn melapor pada Raja Penyihir.
“Yang Mulia, tampaknya Penguasa Hutan Sihir tidak berkenan menerima permintaan kita. Hari sudah hampir pagi. Eric mengatakan bahwa Orc sudah bergerak di Tanah tak bertuan. Saya harus berangkat ke sana, sekarang!”
Raja mengangguk dengan prihatin. Sesungguhnya dia merasa atak pantas lagi menjadi raja, karena sudah tak memiliki rakyat dan pasukan lagi. Tapi Glenn masih menghormati keputusannya.
“Lalukanlah. Jika terlalu berat, Kembalilah ke negara kalian lewat perbatasan negara Peri!” pesannya.
“Paman!” Glenn terkejut mendengar pesan itu.
“Bagaimana kalau Paman dan semua kerabat di sini ikut dengan kami? Hakon bisa menyimpan banyak orang dalam penyimpanan ajaibnya. Jika keadaan sudah aman, Paman bisa kembali ke sini!” Glenn memikirkan ide ini sepanjang malam.
“Tidak! Seorang raja akan mati di atas tanahnya, dengan rakyatnya! Aku tidak akan pergi ke mana pun!” jawab raja tegas.
“Kami akan menjaga sekuat tenaga di perbatasan. Jika keadaan memburuk, pergilah ke hutan sihir. Para Orc tidak berani ke sana!” saran Glenn.
Raja mengangguk dan tersenyum. “Berangkatlah segera.”
__ADS_1
Hakon menyembunyikan Glenn dan pasukannya dalam penyimpanan. Setelah itu dia melesat cepat ke tempat Eric dan Gerald menunggu. Sinar pertama di ufuk sudah terlihat. Suara Orc yang riuh saat bersiap, terdengar seperti bunyi dengung kumpulan serangga pengerat.
Eric menatap Tanah tak bertuan dengan serius. “Bersiaplah! Peperangan akan dimulai sebentar lagi!"