
Wajah Raja Felix langsung cerah mendengar penuturan Sofie. Dia ikut berdiri dan membalas salam Dean. “Selamat datang di negeri kami, Pemimpin Bangsa Cahaya. Maafkan jika penerimaan kami kurang berkenan,” kata raja rendah hati.
Ratu, Angel dan para tamu lain yang ada di ruangan itu ikut berdiri dan membungkuk hormat pada Dean.
Tangan Dean menahan pundak sang raja, agar tidak menunduk. “Jangan seperti ini. Saya tidak terbiasa.,” ujarnya.
Raja kembali berdiri dan tersenyum pada pria yang seusia putranya itu. “Kalau begitu, mari … silakan duduk.” Raja duduk lebih dulu, agar yang lain ikut duduk. Dean dan Sofie kembali duduk di kursinya.
“Di mana putramu, Eric dan Robert?” tanya raja.
“Maafkan kelancangan mereka. Tapi keduanya masih tertidur di sana,” Dean menunjukkan wajah bersalah.
“Tidak apa. Mereka sudah bekerja keras menyelamatkan rakyatku dan memang tidak tidur sekejap pun kemarin. Biarkan mereka istirahat,” kata sang raja.
“Ajak mereka makan dulu,” kata ratu.
“Oh aku sampai lupa kalau kita sedang di meja makan. Mari kita makan. Perutku juga sudah lapar.” Raja mempersilakan semuanya untuk makan.
Setelah sang raja mulai makan, barulah yang lain mengikuti. Mereka makan sambil berbincang senang tentang apa yang sudah dilakukan Eric dan timnya sejak dia datang. Para pejabat Elf itu penuh harapan besar dengan kehadiran Dean di negara mereka.
“Mari kita berbincang di ruang pertemuan,” ajak raja setelah acara makan malam itu usai. Maka rombongan itu berjalan ke sana.
Tapi kemudian Eric datang bersama Robert. “Ayah,” panggilnya.
Dean berhenti dan membalikkan badan, menunggu putranya datang.
“Arjun dan Hakon akan ke sini. Mereka telah menyelamatkan beberapa rakyat Elf dan ingin mengantarnya ke pulau terapung tempat pengungsian,” lapor Eric.
“Ayo ikut ke pertemuan,” ajak Dean.
Eric dan Robert mengangguk, Rombongan itu kembali melangkah.
“Apa kau sudah makan?” tanya Dean pada Eric lewat pikiran.
“Sudah, ayah,” jawab Eric.
__ADS_1
Lalu Arjun dan Hakon datang bersama Paneran Mahkota. Mereka mengikuti ke ruang pertemuan. Sekarang banyak orang berkumpul di sana, termasuk pejabat negara Elf yang tadi ikut makan malam bersama.
“Baiklah, karena Pemimpin Bangsa Cahaya ada di di sini, mari kita mulai pembicaraan antar dua negara.” Raja memulai pertemuan itu.
Dean mengangguk. “Yang Mulia, bolehkah saya bicara lebih dulu?” tanya Dean.
“Tentu saja. Silakan,” ujar raja.
“Sofie datang dengan surat yang dibuat Eric. Yang pertama kami lakukan di sana adalah mengumpulkan bahan makanan yang ada dan membawanya ke sini sesegera mungkin. Saya harap ini bisa untuk membantu negeri ini bertahan.”
Dean mengibaskan tangannya ke lantai kosong yang ada di depannya. Bahan makanan langsung menggunung di ruang pertemuan itu.
“Waahh …,” seru para pejabat Elf. Mereka sangat lega. Sudah lama mereka tidak melihat bahan makanan sebanyak itu.
“Terima kasih bantuannya, Pemimpin Bangsa Cahaya,” ujar raja dan pangeran mahkota.
“Panggil saja saya Dean, Yang Mulia. Sementara inilah yang bisa kami kumpulkan dari daerah sekitar,” kata Dean.
“Ini sudah sangat banyak. Tak mengapa. Eric sudah memberi solusi yang tak terbayangkan tadi siang.” Raja tersenyum penuh arti pada Eric.
Dean menghela napas kemudian melanjutkan. “Penduduk anda harus menanam sendiri bahan pangan yang mereka butuhkan. Jadi Anda dan para pejabat bisa memusatkan perhatian untuk mengusir para Orc!” tegasnya.
“Saranmu itu benar. Setelah rakyat diungsikan ke tempat aman dan punya bahan makanan melimpah, maka mereka harus bisa mengurus dirinya sendiri untuk sementara.” Raja mengangguk setuju.
“Lalu bagaimana cara kita memerangi para Orc ini? Negara tetangga kami bahkan tidak mau membantu karena takut negaranya akan jadi incaran invasi Orc berikutnya!” sela pangeran mahkota.
“Masalah negeri ini bukan cuma invasi Orc, tapi juga penculikan Cristal. Menurutku, semua itu saling terkait. Jadi, kita harus membahas dan menyelesaikannya secara bersamaan.” Dean mengeluarkan pendapatnya.
Raja dan seisi ruangan terdiam. Memang itulah hal oertama yang terjadi. TApi invasi dan penaklukan Orc yang begitu cepat, membuat mereka bahkan tidak sempat lagi memikirkan tentang Putri Cristal.
“Bisakah Anda memberikan jalan keluarnya?” tanya pangeran mahkota.
“Menurutku, kita harus membagi beberapa tim. HArus tetap ada tim yang dikirim untuk mencari Cristal. Bagaimanapun juga, kita tentu tidak mau jika setelah memerangi dan menghabisi Orc disini, lalu tiba-tiba muncul ancaman dengan menunjukkan putri kalian sebagai sandera!” jelas Dean.
“Kau benar.”
__ADS_1
Raja Felix harus mengakui bahwa pemikiran Dean mungkin saja terjadi. Penyerangan ke ibukota datang setelah setengah tentara yang menjaga ibukota dikerahkan untuk mencari Cristal. Mereka masuk dengan udah karena pangeran mahkota dan setengah tentara berada di perbatasan. Ibu kota jatuh hanya dalam semalam!
“Orc pasti sudah merencanakan semuanya, sejak mereka membuat keributan di perbatasan dengan negara Kurcaci Biru. Pangeran Makota dikirim ke sana. Dari waktu ke waktu kerusuhan meningkat. Membuat raja mengirimkan setengah pasukan untuk menajaga perbatasan itu!”
Setelah itu, mereka menculik Cristal. Mereka pasti sudah menduga, raja akan mengirim cukup banyak prajurit untuk mencarinya. Semua memang berhubungan. Saat negara nyaris kosong, mereka menyerang masuk dan kita langsung jatuh!” Raja menjadi kesal sendiri.
Para pejabat Elf itu menunduk. Bahkan meski mereka sangat kesal sekarang, semuanya sudah menjadi bubur.
“Lalu bagaimana membagi pasukan kita yang tinggal sedikit ini?” Pangeran mahkota tak sabar.
“Aku ingin mengirim putraku untuk mencari Putri Cristal. Tapi harus ada yang menjadi penunjuk jalan baginya, karena kami tentu saja tidak mengetahui tentang wilayah ini sama sekali,” kata Dean.
Para pejabat Elf itu berpandangan, siapa kira-kira yang akan dipiliih raja untuk mencari Cristal.
“Pilihlah orang yang tidak akan mengganggu jalannya peperangan, jika dia tak ada,” tambah Dean lagi.
Raja dan pangeran mahkota berpikir keras.
“Aku ingat pada Pangeran Levyn. Apakah dia tahu jalan ke sana?’ tanya Robert.
“Dia tidak bisa ke mana-mana!” kata raja dan pangeran mahkota serempak.
“Kenapa?” tanya Dean heran.
“Aturan negara kami jelas melarang seorang pangeran meninggalkan postnya, jika pangeran di atasnya sedang pergi berperang. Dia harus siap diangkat menggantikan posisiku jika hal buruk terjadi!” jelas pangeran mahkota.
Dean dan Robert berpandangan. Dean menggeleng tidak setuju. “Bagaimana jika peperangan itu berkecamuk di ibu kota. Lalu kalian berdua terancam, karena sama-sama berada di ibu kota? Menurutku, hanya masuk akal jika peperangannya di luar kota. Tapi sekarang berbeda. Jadi kalian harus dipisahkan!”
“Agar jika terjadi sesuatu, maka yang satu masih ada!” timpal Eric cepat sambil menjentikkan jarinya. Dean mengangguk.
Raja dan pangeran mahkota terlihat tidak setuju dengan pendapat Dean.
Robert mengangkat tangannya ingin bicara. “Saya melihat kemampuan sihir Pangeran Levyn di hutan sihir. Eric akan membutuhkannya di sana. Karena, meskipun Eric punya kemamppuan besar, dia masihlah awam soal sihir menyihir. Kami tidak akan membahayakan nyawa Calon pemimpin masa depan kami!”
*****
__ADS_1