
Dua gadis itu mencari-cari Jason dan Hakon di keramaian pasar.
“Apa kalian tidak mengingat pesanku?” Suara Eric menggema di pikiran Aila dan Sofie.
“Kami kehilangan Jason dan Hakon setelah mereka mengejar seorang pencopet kecil!” jawab Sofie.
“Apa!”
Aila dan Sofie bisa membayangkan kemarahan Eric. Pria itu sangat tidak terduga kalau sudah marah. Mereka sangat tahu hal itu. Kemarahan Eric terakhir di gurun, belum hilang dari ingatan.
“Kalian di mana!” panggilan Eric menggema di pikiran aila dan Sofie lagi.
“Kami ada dekat toko karpet!” jawab Aila.
“Toko karpet mana? Aku tak jauh dari toko karpet!” balas Eric.
Sebab mereka tak bisa membaca tulisan di atas toko itu, maka Sofie hanya membayangkannya dan mengirimkan apa yang dilihatnya itu lewat pikiran pada Eric. Tak lama Eric sampai di sana. Di belakang, menyusul pula Arjun.
“Ke arah mana mereka menghilang?” tanya Eric.
“Kami tadi berdiri di sana. Pencuri kecil itu lari ke arah sini. Jason dan Hakon mengejar ke sini juga. Kami sudah mencari, tapi tidak menemukannya!” lapor Sofie.
“Ada bahaya sebentar lagi. Sebaiknya kalian masuk dalam penyimpananku,” kata Eric.
“Bagaimana dengan mereka?” mata Aila semakin khawatir sekarang.
“Aku yang akan mencarinya!”
“Aku akan tetap bersamamu!” Sofie berkeras. Namun, Eric menggeleng. Tangannya dengan cepat menarik Sofie masuk ke dalam penyimpanannya, menyusun Aila.
Beberapa orang terkejut melihat dua gadis lenyap dalam sekejap. Mereka sudah melangkah mendatangi Eric dengan suara ribut.
“Apa kalian tahu itu!” tunjuk Arjun ke arah langit.
Beberapa orang mengikuti telunjuknya. “Badai pasir!”
Teriakan keras dan saling bersahutan mengacaukan pasar itu dalam seketika. Semua orang berlari masuk ke toko-toko yang segera menutup pintu toko mereka. Mengabaikan segala barang dagangan yang sedang dipajang di luar.
“Hakon, Jason! Di mana kalian!” teriak Eric memanggil. Namun, tetap tak ada jawaban.
__ADS_1
“Bagaimana sekarang?” Arjun berjalan di samping Eric, terus menyusuri kota yang seketika menjadi kota mati. Sunyi dan semua tutup.
“Hakon! Jason! Apapun yang terjadi pada kalian saat ini, carilah tempat perlindungan. Sebentar lagi akan ada badai pasir!” pesan Arjun lewat pikirannya.
Gelap tiba-tiba melingkupi kota. “Eric, kita harus berlindung!” Arjun siap untuk melindungi Eric dengan bola cahaya birunya. Eric masih melihat ke kanan dan kiri, mencari-cari Jason dan Hakon.
“Eric!” panggil Arjun khawatir.
“Aku bisa merasakan keberadaan mereka. Jangan ganggu! Atau kita akan kehilangan mereka berdua!”
Eric bergerak cepat memasuki lorong-lorong sempit diantara bangunan-bangunan batu berwarna pasir. Arjun hanya bisa mengikuti. Beruntung seluruh rumah dan toko sudah ditutup. Kalau tidak, maka semua orang akan melihat bagaimana mereka berdua terbang rendah dengan cepat diantara dinding bangunan.
“Itu mereka!”
Eric terbang mendekati Jason dan Hakon yang tergeletak tak sadarkan diri. Dengan cepat Eric menyimpan keduanya dan menarik Arjun dalam lingkaran cahaya keemasannya.
Tepat setelah itu, berton-ton pasir jatuh di atas kepala mereka. Eric terus melayang naik melewati bagian atas badai. Menyaksikan kota yang dikelilingi benteng itu, tertimbun pasir. Arjun terkejut melihat kedahsyatan badai itu. Kota yang semula ramai itu sekarang berubah jadi bukit pasir kecil.
“Bagaimana kita menyelamatkan mereka?” tanya Arjun.
“Kita tunggu badainya berlalu!” Eric melihat dengan tenang.
Matanya terus mengawasi badai yang makin lama bergerak makin keluar dari tembok kota. Setelah itu, bola cahaya keemasan itu menghilang. Eric bergerak memutari kota dengan kecepatan tinggi. Kemudian melayang tepat di tengah kota dan mengatur gerakan angin untuk mengangkat butiran pasir yang membukit dan menimbun kota.
Keduanya turun di depan rumah tabib Yasmeen. Mengetuk pintu yang langsung dibuka. Wajah cemas wanita itu membuat Eric tak bisa berkata-kata.
“Kami tidak apa-apa. Kalian bisa bereskan kekacauan di luar.” Arjun memecah kecanggungan.
“Oh, syukurlah kalau kalian selamat. Bagaimana dengan teman-teman kalian?” Yasmeen mencari-cari orang yang tadi Eric bilang harus dicarinya.
“Tolong diperiksa. Kami menemukan mereka pingsan di sebuah lorong!” Eric mengeluarkan Jason dan Hakon.
Yasmeen bergerak cepat memeriksa dua pria muda yang masih belum siuman itu. “Sepertinya mereka mendapat pukulan keras di kepala!”
Eric memperhatikan hal itu. Memang ada memar di dahi Jason dan pelipis Hakon. Dia lega saat melihat kalung penyimpanan keduanya masih berada di tempatnya. Lalu tangannya yang bersinar emas kebiruan memindai tubuh dua orang itu.
“Berikan saja ini pada mereka dan biarkan istirahat sebentar.” Eric menyerahkan sebotol air abadi pada Yasmeen. Dan dia minum sebotol lainnya hingga habis.
“Apakah mereka baik-baik saja?” tanya Yasmeen penasaran dengan cara pemeriksaan Eric.
__ADS_1
“Mereka baik-baik saja.” Angguk Eric yakin. Kemudian dia pergi menemui Arjun dan mengeluarkan Aila serta Sofie.
Dua gadis itu menunduk dengan rasa bersalah. “Apakah Jason dan Hakon sudah ditemukan, Paman?” tanya Aila.
“Dia dirawat oleh tabib Yasmeen.” Sahut Eric.
Aila langsung berlari mencari Yasmeen. Meninggalkan Sofie untuk menghadapi Eric sendirian.
“Kami tidak bermaksud melanggar pesanmu.” Sofie menunduk, tak berani menentang mata pria itu.
Ternyata Eric tidak begitu marah. Pria itu duduk di atas hamparan karpet dan bantal beludru. Dia berbaring dan memejamkan matanya. Sofie yang masih mengira Eric marah lalu mendiamkannya, ingin mendekat dan membujuk Eric lagi. Tapi Arjun menahan tangannya.
“Biarkan dia istirahat sebentar. Tadi dia menyelamatkan seisi kota ini yang tenggelam oleh pasir. Dia pasti lelah.”
Sofie mendengar pesan Arjun lewat pikirannya. Dia mengangguk dan pergi mencari Aila. Dia menyesal tak dapat melihat kedahsyatan kemampuan Eric, karena disembunyikan di kalung penyimpanan.
Keesokan hari Robert, Dimas dan Ubbe sudah kembali. Mereka membawa dua orang bangsa Cahaya lain yang bertugas menjaga pintu teleportasi di tempat Yasmeen. Akhirnya pintu itu dipindahkan ke ruangan perawatan Silvia yang sekarang sedang kosong.
“Kami harus menempatkan orang kami di pintu teleportasi ini. Tanpa mereka, maka pintu ini tidak akan bisa kau gunakan!” kata Robert.
“Aku mengerti.” Yasmeen mengangguk.
“Jangan biarkan mereka kelaparan,” tambah Robert lagi.
“Tentu saja!” Yasmeen sedikit tersinggung mendengar kata-kata Robert itu.
“Bagaimana dengan ibuku?” Yasmeen mengalihkan pertanyaan pada Dimas.
“Kuharap dia bisa pulih secepatnya. Percayalah … dia sangat sennag bertemu dengan semua temannya di sana. Kau tak perlu khawatir. Dia akan kembali secepatnya. Atau, jika Ameera kembali ke sini, kau bisa bergantian pergi untuk mengunjungi dunia kami.” Dimas tersenyum menenangkan.
“Terima kasih.” Yasmeen menjadi lebih tenang sekarang.
“Mari kita bicarakan sesuatu yang serius,” kata Eric.
“Oh, apa itu? Apakah kalian sudah menemukan dinding cahaya?” kelakar Robert.
“Bukan aku, tapi dia!” Eric menunjuk Yasmeen.
“Kau?” Robert dan Dimas tak percaya.
__ADS_1
“Tidak, bukan aku. Tapi almarhum suamiku---”
*****