The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 117. Dua Naga Kuno


__ADS_3

Di luar kubah cahaya.


Eric dipanggil oleh Robert untuk melihat apa yang terjadi di


dalam kubah itu. Pemuda itu turun bersama Dean. Dean sudah memastikan tidak ada


lagi para wanita dan anak-anak yang keluar dari pintu lain kota. Itu sebabnya


Eric langsung membangun kubah dan mengurung kota.


Di depan kubah, pria berambut pirang terbaring tak bergerak


di atas tanah kotor. “Apa maksudnya?” tanya Eric.


Dia diantar oleh seseorang. Orang itu bicara sesuatu, tapi


kami tidak mendengarkan,” jawab Robert  jujur.


Eric mendekat ke dekat dinding kubah dia meletakkan tangan,


unutk bertanya, saat beberapa Orc ikut berjejer rapi dan menunduk di belakang


pria pirang itu. Eric bisa mendengar apa yang dikatakan oleh orang  berpakaian prajurit di belakang. Dirinya


bahkan ikut tertegun saat mendengarkan kata-kata pria itu pada sisa prajuritnya


yang bahkan tidak melebihi jari kaki dan tangannya.


“Pria yang sangat terhormat dan bertanggung jawab,” ujar Eric


dalam hati.


“Aku tahu maksudnya,” ujar Eric setelah berkumpul dengan


Dean, Robert, dan Arjun.


“Apa?” tanya Arjun.


“Mereka yang menunduk itu adalah para penduduk kota yang


terjebak dalam peperangan kita. Pemimpin penjaga perbatasan menyuruh mereka


memohon untuk menyelamatkan nyawa warga sipil. Prajuritnya sendiri hanya


tinggal belasan!” kata Eric.


“Kau percaya?” tanya Robert.


“Aku tidak bertanya pada mereka. Hanya menguping pembicaraan


mereka saja. Dan pria di depan itu juga orang sipil!” Eric mempercayai


intuisinya.


“Satu hal lagi. Kurasa para prajurit yang tersisa itu berhak


tahu apa yang terjadi sebenarnya.” Eric melanjutkan. “Ibu kota mereka sudah


menjadi abu!”


“Apa?” Arjun dan Robert terkejut.


“Yah, aku tak dapat menahan kekesalan saat menyelamatkan


putri Elf itu. Jadi, kuhabisi seisi kota tanpa aba-aba!” Eric mengakui


perbuatannya.


“Astaga!” Mata Arjun membulat tak percaya.


“Aku akan memberi tahu mereka yang sebenarnya!” ujar Eric.


“Apa maksudmu?” cegah Robert.


“Ya memberi tahu mereka kalau ibukota dan raja mereka sudah


mati. Sia-sia saja mereka mempertahankan tempat ini! Dan mati sia-sia.


“Sebaiknya berdiskusi dulu dengan Pangeran Mahkota. Dia berhak


tahu apa yang telah terjadi, karena ini adalah perangnya. Jadi biarkan dia ikut


serta membuat keputusan!” usul Dean bijak.


“Ayah benar,” Eric mengangguk setuju.


Sofie, panggilkan Pangeran Mahkota dan bawa ke sini,”


perintah Dean.

__ADS_1


“Baik, Pemimpin,” sahut Sofie. Gadis itu segera terbang.


Di tendanya, di Tanah tak bertuan, Pangeran Mahkota sedang


berbintang dengan Pangeran Taksa yang baru kembali dari istana Elf, untuk


menjenguk Karl. Mereka bersyukur karena Cristal sudah kembali dan peperangan


tinggal menunggu waktu untuk berakhir. Semua ornag merasa lega dan bahagia di


Tanah tak bertuan. Para prajurit kurcaci biru juga ikut senang karena keputusan


bergabung  dalam barisan Pangeran


Mahkota, memang sangat tepat. Meskipun hanya menjadi bagian pembuat dan ransum,


mereka sudah sangat senang. Semua berbaur dengan gembira, minus warga negeri


Penyihir yang nyaris musnah.


Kakek Kang yang duduk di luar tenda bersama Gerald, melihat


Sofie datang dari garis depan. “Ada informasi apa?” tanya Gerald.


“Aku harus bertemu dengan Pangeran Mahkota,” ujar gadis itu.


“Di dalam!” tunjuk Gerald ke arah tenda.


Sofie mengangguk dan melangkah ke sana. Memberi tahu seorang


pengawal sang pangeran maksud kedatangannya.


Pengawal itu masuk dan tak lama terdengar perintah masuk bagi


Sofie.


“Ya, apakah Pemimpin Dean memerlukan bantuan?” tanya Pangeran


Mahkota antusias. Dia sangat terbantu dengan kedatangan bangsa Cahaya. Peperangan


jadi lebih cepat selesai. Kemenangan sudah dipastikan menjadi milik bangsa Elf!


“Pemimpin meminta Anda untuk datang ke sana dan mendiskusikan


perkembangan terakhir,” jawab Sofie ringkas.


“Tentu saja. Ayo!” Pangeran Mahkota langsung berdiri dari


jika perlu.


“Aku juga ingin melihat ke sana. Bolehkah?” tanya Pangeran Taksa.


“Mari kita tanya Kakek Kang, apakah bersedia menambah


penumpangnya seorang lagi,” ajak sang pangeran dengan senyum lebar.


Keduanya keluar, diikuti oleh Sofie.


“Kakek Kang, saya diminta Pemimpin Dean untuk ke kota


perbatasan Orc,” ujar Pangeran Mahkota.


“Ayo, akan saya antarkan.” Kakek Kang segera berubah jadi


seekor naga besar.


“Hanya saja, pamanku Pangeran Taksa, juga ingin ikut melihat


keadaan di sana,” tambah pangeran Mahkota lagi.


“Saya bisa mengantarnya,” Gerald menawarkan diri. Dia juga


langsung merubah bentuk tubuhnya menjadi seekor naga, untuk mengantarkan kedua


orang itu.


“Baiklah, terima kasih. Mari kita pergi.” Pangeran Mahkota segera


menaiki punggung kakek Kang. Pangeran Taksa mengikuti langkahnya, dengan


menaiki Gerald.


Dua naga itu terbang mengikuti Sofie ke kota perbatasan, yang


sebelumnya dilanda perang dahsyat.


Di balik rerimbunan pohon di sisi kiri dan kanan jalur


perbatasan menuju kota yang sekarang sudah dikurung oleh kubah raksasa, Para bawahan

__ADS_1


pemimpin perbatasan berlindung dengan kebingunan saat melihat kota mereka telah


dikurung dengan sesuatu yang di luar imajinasi mereka.


“Apa yang harus kita lakuakn sekarang? Pemimpin sudah


terkurung di sana!” ujar salah satu ari kelompok itu. Mereka seperti anak ayam


yang kehilangan induk.


“Kurasa, inilah saatnya kita keluar dan menyerang beberapa penjaga


di bawah sana!” ujar yang lain.


“Tidak! Pemimpin bilang, kita harus menunggu isyarat yang


diberikannya, baru menyerang!” bantah yang lain.


“Isyarat apa? Dia sudah kalah dan terkurung di sana. Mungkin


saja dia sedang menunggu kita untuk membuat gerakan agar kurungan itu dibuka!”


bantah orc yang ain lain.


“Apa kau lupa kekuatan mereka? Selain bisa terbang, senjata


mereka aneh-aneh dan sangat kuat. Hanya perlu disentuh sedikit saja. Aku


melihat salah seornag teman kita langsung terbakar menjadi bola api!” ujar


yanga lain membantah.


“Aku juga ada melihat salah seorang yang lain, tiba-tiba


membeku. Lalu saat sebilah pedang menghantam, tubuhnya jadi hancur


berkeping-keping!”


“Mereka sangat mengerikan!”


“Ada yang tubuhnya terbelah dua hanya dengan sepotong cahaya


merah!”


“Jadi, kalian takut?” tanya yang lain dengan gemas.


“Lihat itu! Ada yang lain lagi!” tunjuk seornag Orc yang


sedang mengintip situasi di jalan perbatasan menuju kota.


“Astaga, makhluk apa lagi itu?”


“Besar sekali!”


“Itu, bukankah Pangeran Elf?” tunjuk salah seorang Orc pada Pangeran


Mahkota yang duduk di punggung Kakek Kang.


Di sisi seberang, Parajurit Orc yang mengintip, sama kesalnya


dengan temannya yang lain. Salah seorang dari mereka membidik Pangeran Mahkota Elf


dengan panah.


Gerald yang menyadari hal itu, mengibaskan sayapnya menghalau


anak panah. “Pegangan yang erat!” perintahnya pada Pangeran Taksa.


Gerald membalikkan badan dan kembali ke arah bukit di sisi


kiri jalan perbatasan itu. Tiba-tiba dia membuka mulut dan  menyemburkan api dari mulutnya ke arah semak


belukar dan pepohonan rimbun di sana.


Suara pekik Orc yang tersulut api, segera terdengar. Gerald masih


menyemburkan apinya dengan marah, sekali lagi ke arah sana dan segera membakar


pepohonan. Lalu dia pergi mengikuti Kakek Kang yang menunggunya di tempat.


Di tebing bukit sisi lain. Para Orc yang bersembunyi, menutup


mulut rapat-rapat dengan tangan, agar suara mereka tak terdengar oleh makhluk


asing dan mengerikan itu.


“Ka--kau lihat itu?” ujarnya tergagap.


“Makhluk mengerikan dari mana itu?”

__ADS_1


“Kita sedang berperang dengan siapa, sebenarnya?”


__ADS_2