
Di luar kubah cahaya.
Eric dipanggil oleh Robert untuk melihat apa yang terjadi di
dalam kubah itu. Pemuda itu turun bersama Dean. Dean sudah memastikan tidak ada
lagi para wanita dan anak-anak yang keluar dari pintu lain kota. Itu sebabnya
Eric langsung membangun kubah dan mengurung kota.
Di depan kubah, pria berambut pirang terbaring tak bergerak
di atas tanah kotor. “Apa maksudnya?” tanya Eric.
Dia diantar oleh seseorang. Orang itu bicara sesuatu, tapi
kami tidak mendengarkan,” jawab Robert jujur.
Eric mendekat ke dekat dinding kubah dia meletakkan tangan,
unutk bertanya, saat beberapa Orc ikut berjejer rapi dan menunduk di belakang
pria pirang itu. Eric bisa mendengar apa yang dikatakan oleh orang berpakaian prajurit di belakang. Dirinya
bahkan ikut tertegun saat mendengarkan kata-kata pria itu pada sisa prajuritnya
yang bahkan tidak melebihi jari kaki dan tangannya.
“Pria yang sangat terhormat dan bertanggung jawab,” ujar Eric
dalam hati.
“Aku tahu maksudnya,” ujar Eric setelah berkumpul dengan
Dean, Robert, dan Arjun.
“Apa?” tanya Arjun.
“Mereka yang menunduk itu adalah para penduduk kota yang
terjebak dalam peperangan kita. Pemimpin penjaga perbatasan menyuruh mereka
memohon untuk menyelamatkan nyawa warga sipil. Prajuritnya sendiri hanya
tinggal belasan!” kata Eric.
“Kau percaya?” tanya Robert.
“Aku tidak bertanya pada mereka. Hanya menguping pembicaraan
mereka saja. Dan pria di depan itu juga orang sipil!” Eric mempercayai
intuisinya.
“Satu hal lagi. Kurasa para prajurit yang tersisa itu berhak
tahu apa yang terjadi sebenarnya.” Eric melanjutkan. “Ibu kota mereka sudah
menjadi abu!”
“Apa?” Arjun dan Robert terkejut.
“Yah, aku tak dapat menahan kekesalan saat menyelamatkan
putri Elf itu. Jadi, kuhabisi seisi kota tanpa aba-aba!” Eric mengakui
perbuatannya.
“Astaga!” Mata Arjun membulat tak percaya.
“Aku akan memberi tahu mereka yang sebenarnya!” ujar Eric.
“Apa maksudmu?” cegah Robert.
“Ya memberi tahu mereka kalau ibukota dan raja mereka sudah
mati. Sia-sia saja mereka mempertahankan tempat ini! Dan mati sia-sia.
“Sebaiknya berdiskusi dulu dengan Pangeran Mahkota. Dia berhak
tahu apa yang telah terjadi, karena ini adalah perangnya. Jadi biarkan dia ikut
serta membuat keputusan!” usul Dean bijak.
“Ayah benar,” Eric mengangguk setuju.
Sofie, panggilkan Pangeran Mahkota dan bawa ke sini,”
perintah Dean.
__ADS_1
“Baik, Pemimpin,” sahut Sofie. Gadis itu segera terbang.
Di tendanya, di Tanah tak bertuan, Pangeran Mahkota sedang
berbintang dengan Pangeran Taksa yang baru kembali dari istana Elf, untuk
menjenguk Karl. Mereka bersyukur karena Cristal sudah kembali dan peperangan
tinggal menunggu waktu untuk berakhir. Semua ornag merasa lega dan bahagia di
Tanah tak bertuan. Para prajurit kurcaci biru juga ikut senang karena keputusan
bergabung dalam barisan Pangeran
Mahkota, memang sangat tepat. Meskipun hanya menjadi bagian pembuat dan ransum,
mereka sudah sangat senang. Semua berbaur dengan gembira, minus warga negeri
Penyihir yang nyaris musnah.
Kakek Kang yang duduk di luar tenda bersama Gerald, melihat
Sofie datang dari garis depan. “Ada informasi apa?” tanya Gerald.
“Aku harus bertemu dengan Pangeran Mahkota,” ujar gadis itu.
“Di dalam!” tunjuk Gerald ke arah tenda.
Sofie mengangguk dan melangkah ke sana. Memberi tahu seorang
pengawal sang pangeran maksud kedatangannya.
Pengawal itu masuk dan tak lama terdengar perintah masuk bagi
Sofie.
“Ya, apakah Pemimpin Dean memerlukan bantuan?” tanya Pangeran
Mahkota antusias. Dia sangat terbantu dengan kedatangan bangsa Cahaya. Peperangan
jadi lebih cepat selesai. Kemenangan sudah dipastikan menjadi milik bangsa Elf!
“Pemimpin meminta Anda untuk datang ke sana dan mendiskusikan
perkembangan terakhir,” jawab Sofie ringkas.
“Tentu saja. Ayo!” Pangeran Mahkota langsung berdiri dari
jika perlu.
“Aku juga ingin melihat ke sana. Bolehkah?” tanya Pangeran Taksa.
“Mari kita tanya Kakek Kang, apakah bersedia menambah
penumpangnya seorang lagi,” ajak sang pangeran dengan senyum lebar.
Keduanya keluar, diikuti oleh Sofie.
“Kakek Kang, saya diminta Pemimpin Dean untuk ke kota
perbatasan Orc,” ujar Pangeran Mahkota.
“Ayo, akan saya antarkan.” Kakek Kang segera berubah jadi
seekor naga besar.
“Hanya saja, pamanku Pangeran Taksa, juga ingin ikut melihat
keadaan di sana,” tambah pangeran Mahkota lagi.
“Saya bisa mengantarnya,” Gerald menawarkan diri. Dia juga
langsung merubah bentuk tubuhnya menjadi seekor naga, untuk mengantarkan kedua
orang itu.
“Baiklah, terima kasih. Mari kita pergi.” Pangeran Mahkota segera
menaiki punggung kakek Kang. Pangeran Taksa mengikuti langkahnya, dengan
menaiki Gerald.
Dua naga itu terbang mengikuti Sofie ke kota perbatasan, yang
sebelumnya dilanda perang dahsyat.
Di balik rerimbunan pohon di sisi kiri dan kanan jalur
perbatasan menuju kota yang sekarang sudah dikurung oleh kubah raksasa, Para bawahan
__ADS_1
pemimpin perbatasan berlindung dengan kebingunan saat melihat kota mereka telah
dikurung dengan sesuatu yang di luar imajinasi mereka.
“Apa yang harus kita lakuakn sekarang? Pemimpin sudah
terkurung di sana!” ujar salah satu ari kelompok itu. Mereka seperti anak ayam
yang kehilangan induk.
“Kurasa, inilah saatnya kita keluar dan menyerang beberapa penjaga
di bawah sana!” ujar yang lain.
“Tidak! Pemimpin bilang, kita harus menunggu isyarat yang
diberikannya, baru menyerang!” bantah yang lain.
“Isyarat apa? Dia sudah kalah dan terkurung di sana. Mungkin
saja dia sedang menunggu kita untuk membuat gerakan agar kurungan itu dibuka!”
bantah orc yang ain lain.
“Apa kau lupa kekuatan mereka? Selain bisa terbang, senjata
mereka aneh-aneh dan sangat kuat. Hanya perlu disentuh sedikit saja. Aku
melihat salah seornag teman kita langsung terbakar menjadi bola api!” ujar
yanga lain membantah.
“Aku juga ada melihat salah seorang yang lain, tiba-tiba
membeku. Lalu saat sebilah pedang menghantam, tubuhnya jadi hancur
berkeping-keping!”
“Mereka sangat mengerikan!”
“Ada yang tubuhnya terbelah dua hanya dengan sepotong cahaya
merah!”
“Jadi, kalian takut?” tanya yang lain dengan gemas.
“Lihat itu! Ada yang lain lagi!” tunjuk seornag Orc yang
sedang mengintip situasi di jalan perbatasan menuju kota.
“Astaga, makhluk apa lagi itu?”
“Besar sekali!”
“Itu, bukankah Pangeran Elf?” tunjuk salah seorang Orc pada Pangeran
Mahkota yang duduk di punggung Kakek Kang.
Di sisi seberang, Parajurit Orc yang mengintip, sama kesalnya
dengan temannya yang lain. Salah seorang dari mereka membidik Pangeran Mahkota Elf
dengan panah.
Gerald yang menyadari hal itu, mengibaskan sayapnya menghalau
anak panah. “Pegangan yang erat!” perintahnya pada Pangeran Taksa.
Gerald membalikkan badan dan kembali ke arah bukit di sisi
kiri jalan perbatasan itu. Tiba-tiba dia membuka mulut dan menyemburkan api dari mulutnya ke arah semak
belukar dan pepohonan rimbun di sana.
Suara pekik Orc yang tersulut api, segera terdengar. Gerald masih
menyemburkan apinya dengan marah, sekali lagi ke arah sana dan segera membakar
pepohonan. Lalu dia pergi mengikuti Kakek Kang yang menunggunya di tempat.
Di tebing bukit sisi lain. Para Orc yang bersembunyi, menutup
mulut rapat-rapat dengan tangan, agar suara mereka tak terdengar oleh makhluk
asing dan mengerikan itu.
“Ka--kau lihat itu?” ujarnya tergagap.
“Makhluk mengerikan dari mana itu?”
__ADS_1
“Kita sedang berperang dengan siapa, sebenarnya?”