
Dua pengawal yang menunggang kuda akhirnya menemukan desa seperti yang dikatakan oleh penjaga perbatasan. Mereka memutuskan berhenti dan beristirahat sejenak.
"Itu ada penjual makanan," kata yang satu. Temannya mengangguk dan melompat turun dari kuda.
"Apa anda menjual sarapan?" tanyanya sambil memegang tali kuda.
Pria yang sedang memasak sambil membelakangi, berbalik. Wajahnya menjadi cerah.
"Ya. Silakan masuk. Aku baru mengeluarkan roti dari dari panggangan," katanya senang, karena mendapat pembeli pertama pagi itu.
"Berikan kami roti dan minuman!" pesan pengawal itu sambil mengikat tali kuda mereka pada tiang.
Keduanya mengambil duduk di bangku panjang. Karena bangku lain terlihat kecil untuk mereka duduki.
"Kalian mau ke mana?" tanya penjual sambil menyajikan rotinya.
"Kami mau ke pantai. Ada tugas dari tuan kami untuk menyebeangi dinding cahaya yang ada di laut di tempat kalian," jelas satu pengawal.
"Ah ... Sudah lama aku tak mendengar cerita tentang dinding cahaya itu. Untuk apa ke sana? Tak pernah ada yang kembali jika pergi ke sana!" cegahnya.
"Kami harus melaksanakan perintah," sahut pengawal itu ringan.
"Bahkan jika karena itu kalian mati?" tanya penjual roti.
"Negara kami sedang diserang Orc. Jadi kami harus mencari bantuan lain ke seberang sana!" jelasnya.
"Apa! Orc menyerang Kerajaan Elf? Bagaimana bisa? Ini sangat berbahaya!" ujarnya terkejut.
"Kerajaan Para Penyihir sudah lebih dulu mereka kalahkan!" imbuh satu pengawal.
"Ya ampun. Apa mereka mau menguasai semua negara di sini?"pria penjual roti itu setengah berteriak.
"Sang Raja harus tahu mengenai hal ini!" ujarnya mulai khawatir.
"Kemungkinan Raja kami sudah mengabarkan tentang serangan ini ke negara tetangga. Jadi berhati-hatilah!" para pengawal itu memperingatkan.
"Apa Anda tahu jalan tercepat menuju pantai itu?" Pengawal kembali ke topik semula.
"Kalian bisa mengikuti jalan desa ini, nanti akan langsung mengarah ke pantai. Atau mengikuti pedagang ikan yang biasa ke sana," jawabnya.
Setelah kuda-kuda diberi makan dan minum, kedua pengawal itu melanjutkan perjalanan. Mereka menaiki kuda dan berjalan perlahan. Karena jalanan di situ kecil dan berliku, melewati rumah-rumah para kurcaci di pinggir-pinggir tebing batu.
"Kalian mau ke mana?" Seorang kurcaci tua yang berdiri di pinggir kebunnya, menyapa.
"Kami mau ke pantai, tempat dimana ada dinding cahaya di lautannya," jawab pengawal itu.
"Untuk apa ke sana? Raja sudah melarang kami mendekati dinding cahaya itu. Sangat berbahaya!" cegahnya
"Kami tahu. Tapi kami harus melaksanakan perintah," jawab pengawal itu dengan senyum tipis, untuk menenangkan kurcaci tua itu.
__ADS_1
"Kau mungkin bisa mati di sana. Tapi masih bisa tersenyum!" Kurcaci tua itu menggelengkan kepala dengan heran.
Pria itu memperhatikan kedua orang itu melanjutkan jalan menuruni tebing, menuju pantai.
Setengah jam perjalanan, kedua pengawal itu kebingungan. Tak ada jalan lagi di depan mereka. Hanya tebing menjulang yang tampak di depan mata.
"Apa kita salah jalan?" ujar yang satu. Mereka melihat ke sekitar. Mungkin saja ada jalan terputus yang tak terlihat.
"Tak mungkin salah jalan!" bantah temannya. "Kau lihat sendiri tadi, ada seorang kurcaci yang berjalan seratus meter di depan kita."
"Lalu, hilang ke mana dia?"
"Aahh ... tanpa penunjuk jalan, maka kita akan tersesat!" gerutunya.
"Istirahat dulu, dan pikirkan cara lain," ajak temannya yang sudah lebih dulu duduk di batu pinggir jalan.
"Pemandangan desa kurcaci itu sangat indah dilihat dari bawah sini," gumamnya mengagumi.
"Hei, kita bukan mau piknik!" ketus temannya.
"Sabarlah ... pasti ada jalan. Kita cuma belum menemukannya saja. Istirahat dulu sambil menikmati keindahan tempat ini."
Temannya duduk masih dengan wajah tak puas. Mereka melayangkan pandang ke sekitar tebing, untuk melihat celah yang mungkin dilewati oleh para kurcaci itu.
Tak lama seorang kurcaci muncul dan berbicara dengan seseorang yang belum kelihatan. Dua pengawal itu terkejut melihatnya tiba-tiba muncul dari dinding karang. Kemudian menyusul seseorang yang menarik gerobak penuh ikan segar.
"Mereka penjual ikan!" seru pengawal itu tanpa sadar.
"Oh, bukan. Kami ingin pergi ke pantai, tapi tadi tak kelihatan jalan menuju ke sana. Jalan mana yang kalian tempuh?" tanya satu pengawal.
"Itu! Kau lihat tebing batu besar itu? Ada terowongan di baliknya. Itu satu-satunya jalan menuju pantai dari sini." Kurcaci itu menunjuk ke arah depan.
"Ada jalan di balik tebing batu itu? Kami kira itu jalan buntu!" kata dua pengawal itu dengan tampang bodoh.
"Itu terowongan. Kalian tidak bisa menaiki kuda di sana. Tuntun saja!" saran kurcaci penjual ikan.
"Baik, terima kasih. Kami harus melanjutkan perjalanan sekarang." Dua pengawal itu menunduk hormat dan menuntun kuda mereka pergi.
"Gelap sekali terowongan ini." komentar satu pengawal.
"Dan sempit!" timpal yang lain.
Terowongan itu memang tidak diperuntukkan bagi mereka. Bahkan kuda yang dibawa pun harus sedikit menundukkan kepala agar bisa lewat. Mereka berjalan beriringan dengan lambat.
*
*
"Perintah Putra Mahkota, mereka akan memulai penyerangan serentak petang nanti, ditandai dengan suar cahaya!"
__ADS_1
Dini hari itu, para komandan pasukan kembali berkumpul saat seekor burung yang dikirim Putra Mahkota, sampai.
"Perjalanan kita sangat jauh. Belum lagi halangan di jalan. Kita mungkin harus mulai berjalan sekarang," saran salah seorang komandan.
Pangeran Glenn mengangguk dan berpesan. Berhati-hatilah!"
"Baik!"
Para komandan pasukan mengumpulkan semua prajurit dan memulai perjalanan kembali ke kerajaan.
"Baik, karena kita semua sudah terbangun, baiknya langsung melanjutkan perjalanan juga," katanya.
Pengawal pribadi dan sedikit bantuan dari pengawalan Pangeran Felix, bersiap.
Dengan diterangi kelip cahaya kunang-kunang, mereka menerobos gelapnya hutan. Hingga pagi menjelang, sampai di desa yang sudah kosong sama sekali. Bau bangkai tercium sangata kuat.
"Periksa desa ini!" perintah Glenn.
Para pengawalnya memeriksa setiap rumah di desa kecil itu.
"Kosong!"
"Di sini juga Kosong!"
"Kosong juga!"
"Aku menemukan di mana penduduk desa!" ujar seorang pengawal. Glenn menghela kudanya ke sana. Bau bangkai makin menguat. Pikiran buruk mengisi kepalanya, terutama karena melihat pengawal di situ menutup mulut dan hidung mereka dengan lengan.
"Biadab!" ujar Pangeran Glenn murka. Di tempat itu bertumpuk para penduduk yang dirantai kakinya, tewas diracun. Tubuh mereka membiru dan membusuk dengan cepat.
"Bakar desa ini!" perintahnya marah. Para pengawal itu melaksanakan perintah dengan segera. Membakar tempat yang seluruh penduduknya tewas diracun, adalah pilihan paling tepat saat ini, untuk menghindari mewabahnya penyakit dari bangkai beracun.
"Sudah sampai mana para Orc itu masuk?" gumam Pangeran Glenn risau. Yang paling dirisaukannya adalah rakyat Kerajaan Elf. Mereka mungkin akan mengalami nasib yang sama seperti rakyat Kerajaan Penyihir.
Satu jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan, hingga menemukan persimpangan jalan. Satu mengarah ke negara Orc, satu lagi ke arah kota penyihir terdekat.
"Menurut kalian, di manakah para Orc akan menyembunyikan Cristal?" tanyanya.
"Arah kiri itu memang mengarah ke negara Orc. Namun, jalan ke sana tidaklah mudah. Ada hutan gelap dan tebing curam yang mengelilingi kerajaan itu. Apa mungkin mereka membawa sang putri ke sana?" Randal mengatakan pendapatnya.
"Menurutmu, mereka mungkin membawa Cristal ke kota yang sudah mereka kuasai?" Glenn menyimpulkan.
"Akan tetapi, menilik jalur ini sepertinya sudah nyata. Artinya mereka memang sering menggunakannya. Bagi yang berpengalaman, mungkin tidak akan terlalu sulit lagi." Kepala pengawal yang mewakili pasukan Pangeran Felix, mengatakan pendapatnya juga.
"Kalau kita ke kota, maka kita akan berhadapan dengan pasukan Orc. Apa kalian siap untuk bertarung?" Pangeran Glenn mengatakan kemungkinannya.
"Siap!" jawab para pengawal itu serempak.
"Ayo!" Glenn menghela kudanya mengarah ke kota terdekat. Dia ingin mendapatkan informasi tentang Cristal, sebelum gegabah memasuki sarang Orc di negara mereka.
__ADS_1
******