
Aktifitas pagi itu dimulai dengan mencari ikan di sungai. Gerald kembali menjadi pencari ikan terbanyak hari itu.
Sementara Kakek Kang sangat senang bisa terbang bebas di atau laut lepas yang jauh lebih luas dari pada yang ada di dunia kecil Bangsa Cahaya. Bersama dengan Evan, mereka mencari kerang dan cumi-cumi yang sangat banyak.
Robert mengajak Eric dan Arjun pergi ke ujung lain pantai itu.
“Mau kau bawa ke mana kami?” tanya Arjun tak sabar.
“Kalian lihat saja sendiri,” kata Robert penuh teka teki. Dia terus menyusuri bagian pantai berbatu di sebuah ceruk. Kemudian berlari dengan wajah gembira. Eric dan Arjun ikut juga berlari tanpa mengerti apa yang mereka kejar.
“Lihat!” kata Robert. Tangannya mengembang ke kanan dan kiri.
Arjun dan Eric melihat di sekitar mereka lebih teliti. Ternyata ada sangat banyak tiram besar tergeletak di sana.
“Apa ini harta karunmu?” tanya Eric dengan wajah berseri-seri.
Sebenarnya, semua yang datang ke sini waktu itu, mengambil cukup banyak mutiara dan batu-batu bagus di kolam air panas,” jelas Robert.
“Kenapa kalian tidak pernah bilang punya harta karun?” tanya Arjun.
“Karena yang tersisa itu lenyap di laut ganas Negara Kurcaci Biru. Aku tak punya apapun selain baju di badan!” kesal Robert.
“Kalau begitu, mari kita kumpulkan. Bawa ke dunia kecil dan pelihara di sana,” ujar Eric.
“Benar. Jadi kita tetap bisa memanennya secara berkala,” Robert kagum dengan pemikiran Eric.
“Tapi jangan pula kalian habiskan semua yang di sini,” saran Arjun.
“Benar. Waktu itu juga kami hanya mengambil tiram yang besar-besar saja. Yang masih kecil, kami biarkan tumbuh besar,” jelas Robert.
“Ayo panen!” ajak Eric tak sabar. Mereka mengambil tiram-tiram mutiara yang sudah sangat besar yang ada di ceruk itu. Yang masih kecil-kecil, dibiarkan tetap hidup dengan tenang di tempatnya.
Semoga ayahmu berkenan datang dan memeriksa tempat ini sesuai dengan suratku,” harap Robert.
“Sarapan sudah siap!” Sofie memanggil Eric lewat pikirannya.
“Ayo kita kembali,” ajak Eric setelah mereka tidak lagi menemukan tiram yang ukurannya memadai.
Mereka sarapan dengan gembira. Terutama orang-orang yang baru mereka lepaskan tadi malam. Usut punya usut, mereka sudah sangat lama diculik dan dibawa berlayar oleh bajak laut itu. Beberapa mereka bahkan ada yang ditinggalkan di pelabuhan lain, jika ada yang membeli untuk dijadikan budak.
“Apa kalian masih ingin pulang ke tempat asal?” tanya Eric.
“Kami tidak ingat dari mana kami berasal,” jawab salah seorang yang tampaknya lebih tua dari lainnya.
“Bagaimana dengan keluarga kalian?” tanya Dimas.
“Entahlah … bukan tak ingin pulang. Tapi, setelah bertahun-tahun, saya bahkan tidak yakin istri saya masih menunggu. Selain itu, saya tidak ingat jalan pulang. Kapal itu menyinggahi banyak tempat. Dan kami tidak selalu bisa turun untuk bisa mengenali setiap kota.”
__ADS_1
“Sulit juga,” gumam Robert.
“Kami bersedia bekerja untuk kalian, asalkan diberi cukup makan, kebutuhan dan tempat tinggal. Hidup dengan manusiawi, bukan sebagai budak,” kata salah seorang dari mereka. Kemudian yang lain mengangguk mengiyakan.
“Ini keputusan besar. Jika menyangkut timku, aku bisa membuat keputusannya. Tapi, tinggal di sini itu akan berbeda, karena pulau ini dikuasai oleh bangsa kami,” kata Eric.
Mendengar itu, mereka terlihat lesu. Bagaimana mau pulang kalau tidak tahu jalan pulang?
“Apakah kalian menunggu lama?” Sebuah suara mengejutkan semua orang.
“Ayah!”
Eric langsung berdiri menghampiri Dean yang tersenyum senang. Di belakangnya muncul Ubbe, dan beberapa orang suku Cahaya lain termasuk Sonny.
“Apa kau sudah mulai merindukanku?” Dean tersenyum lebar melihat Eric yang langsung berdiri dan menghampirinya dengan tak sabar.
Eric cemberut. “Aku mau melapor,” bantahnya.
“Oh, jadi kau tidak merindukanku?” Dean masih menggoda dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Aku merindukan ibu!” ketus Eric sebal. Dan itu membuat Dean tertawa sepenuhnya.
“Katakan apa yang mau kau laporkan,” kata Dean. Dia mengambil duduk di antara Robert dan Arjun.
“Kemarin malam, kami melihat kapal bajak laut,” jelas Eric.
Dean mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan oleh Eric, Robert, Arjun dan Kakek Kang. Dilihatnya kesepuluh orang baru yang kurus tak terurus itu. Memikirkan sejenak solusi untuk mereka semua.
“Ini ayahku, pemimpin bangsa kami. Bangsa Cahaya. Urusan kalian aku serahkan pada ayahku,” jelas Eric.
Orang-orang itu mengangguk mengerti. Harapan mereka tumbuh kembali setelah melihat bahwa pemimpin bangsa yang baru mereka temui itu tidaklah seperti raja-raja yang mengenakan pakaian kebesaran. Namun, mereka yakin bahwa sebagai pemimpin suatu bangsa, maka Dean pastilah yang paling hebat dari para ahli sihir yang mereka lihat tadi malam. Jadi mereka tak berani berbuat macam-macam.
Dean akhirnya menghadapi orang-orang baru itu. “Orang-orangku sudah menceritakan semuanya. Eric benar saat menawarkan kalian untuk pulang. Tapi karena kalian tidak ingin pulang dan ingin ikut dengan kami, maka saya tidak bisa menolak. Kalian bisa tetap tinggal di sini.”
“Terima kasih!” ujar orang-orang itu bahagia.
Eric tersenyum senang dan lega, karena ayahnya menerima dan pasti punya solusi untuk mereka semua. Ayahnya adalah orang paling bijak yang pernah dikenalnya.
“Kalian sendiri lihat, bahwa tidak banyak rumah di sini. Artinya, jika ingin tinggal, maka kalian harus bekerja keras dan mengikuti aturan kami. Bekerja dengan baik sesuai yang kami ajarkan. Maka kalian akan mendapatkan hasil yang baik,” jelas Dean lagi.
“Ya, kami akan bekerja keras dan mengikuti apa yang kalian perintahkan,” jawab mereka cepat dan bersemangat.
“Saya tidak memerintah dengan kejam. Semua terpulang pada diri masing-masing. Jika mengikuti apa yang disarankan, maka hasilnya akan baik. Jika tidak, maka jangan salahkan orang lain yang mendapat hasil lebih baik. Di sini kalian adalah orang merdeka!”
“Horee …!” seru mereka senang.
Dean membiarkan mereka meluapkan rasa gembira itu sejenak. Kemudian melanjutkan.
__ADS_1
"Orang yang bebas dan merdeka itu, harus membuat keputusan untuk dirinya sendiri, sesuai dengan aturan yang saya tetapkan. Apa kalian bisa?” tanya Dean.
“Bisa!” sahut mereka cepat.
Dean mengangguk. “Nanti saya diskusikan, di mana kalian bisa membuat rumah tinggal dan pekerjaan apa yang cocok,” putus Dean.
“Ya!” jawab mereka senang. Sekarang mata-mata yang semula kuyu itu telah berbinar penuh harapan.
“Kita harus diskusikan rencana kepergian ke negeri elf,” kata Dean pada Robert, Arjun dan Eric.
Bersama dengan dua Elf serta Dimas, mereka berdiskusi di dalam pondok para pria yang dulu pernah menjadi tempat berdiamnya Dokter Chandra.
“Bukankah ini jalan yang benar untuk menuju negara Elf?” Pertanyaan itu ditujukan pada Robert. Jadi dia mengangguk.
“Aku sudah memeriksa lorong pohon maple itu. Masih ada di sana,” tambah Robert.
“Bagus. Pergilah secepatnya. Kalau bisa pergi sekarang, itu juga bagus. Kalian sudah terlalu lama berputar di jalan. Kita tak tahu sejauh apa perkembangan di tempat Angel!” tegas Dean.
“Baik. Kami akan bersiap!” Eric mengangguk setuju.
Dua Elf itu keluar dan mengabarkan informasi tadi pada kelompok Hakon. Mereka semua akhirnya bersiap juga.
Eric menceritakan tentang paman Hasheem yang belum ditemukannya, karena tidak sempat menjelajahi tempat itu. Lalu temuan tiram mutiara pada Dean dan menyerahkan semuanya untuk ditempatkan di dunia kecil.
Robert juga mengatakan ada banyak sarang lebah madu di dekat pantai yang sudah bisa dipanen. Dia mengatakan tempat-tempat yang pernah dijelajahinya dan juga kuda-kuda liar yang indah di lapangan terbuka.
“Baik, nanti aku akan memeriksa semua yang kalian katakan itu. Jangan khawatirkan lagi. Fokuskan perhatian untuk menyelamatkan Cristal, putrinya Angel dan Glenn!”
Saat mereka semua keluar dari ruangan itu, semua anggota tim sudah siap untuk berangkat. Orang-orang baru itu melihat dengan heran, lalu bertanya. “Kalian mau ke mana?” tanyanya pada salah satu anggota Hakon.
“Mau menyelamatkan seorang putri yang diculik!” jawab Iron.
“Putri siapa?” tanya yang lainnya lagi dengan kepo.
“Putri teman pemimpin kami,” sahut Iron lagi.
“Apa semua sudah siap?” tanya Eric.
“Siap!” jawab anggota timnya.
“Ayo jalan!”
Eric melayang di depan bersama Robert yang menjadi penunjuk jalan. Yang lain segera mengikuti. Yang tidak bisa terbang, hanya bisa disimpan dalam kalung penyimpanan. Kecuali dua orang Elf yang menaiki punggung Kakek Kang dan Gerald. Mereka diharapkan bisa menjadi penunjuk jalan di hutan sihir, agar tidak tersesat.
"Kami pergi, Kakek," kata Jason dan Aila gembira. Dean melambaikan tangan pada keduanya.
Orang-orang baru itu sampai terduduk di tanah, melihat begitu banyak orang terbang di langit seperti burung tanpa sayap, kecuali dua ekor naga itu.
__ADS_1
“Apakah kita sudah mati dan bermimpi?” kata mereka.
*****