The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 113. Menemukan Cristal


__ADS_3

Tak menunggu waktu lama, terdengar pertengkaran di dalam


bangunan kecil itu. Lalu bunyi suatu benda pecah, terdengar. Suara keras raja


Orc itu terdengar hingga keluar.


Namun para pengawalnya hanya menoleh sebentar saja. Mereka


kembali berjaga seperti semula. Saat Thorn membalikkan badan untuk mengamati


reaksi para wanita di kolam, dia juga terheran-heran. Mereka hanya mendongak


sebentar lalu menunjukkan wajah sinis dan kembali tak peduli.


“Mungkin sering terjadi pertengkaran di bangunan harem yang


tersembunyi itu,” kata Thorn.


“Kenapa kau menduga seperti itu?” Eric bertanya.


“Karena yang lain bersikap tidak peduli. Para wanita itu juga


tidak peduli,” sahutnya.


Akhirnya sang raja Orc melangkah keluar dengan kesal.


Wajahnya merah padam menahan murka. Dua pengawal yang mengikutinya, berlari


tergopoh-gopoh. Pria Orc itu melintasi danau di mana para wanita masiih


menunggunya dengan tersenyum manis. Dia mengatakan sesuatu yang membuat salah


seorang berteriak gembira dan yang lain terlihat kecewa.


Kemudian pria itu pergi diiringi salah satu wanita dengan


wajah berseri-seri. Lalu pengawal mengikuti dari belakang. Tampaknya, salah


seorang selir itu akan menari di kebun bunga bersama sang raja malam ini.


Eric dan Thorn kembali mengawasi rumah kecil yang terasing


itu. Ruangan itu kembali ditutup rapat. Dan penjaga kembali berdiri siaga di


tempatnya. Seorang wanita lain sedang berjalan dan masuk ke ruangan dengan


memegang wadah di tangan. Entah apa yang terjadi di dalam sana sebelumnya.


“Mari kita lihat siapa dia!” ajak Eric.


“Bagaimana caranya?” tanya Thorn. Mereka tidak punya


kemampuan menyamar jadi orang lain.


“Begini!”


Eric menjentikkan seberkas cahaya biru setipis jarum dan


nyaris tak terlihat, pada kedua penjaga. Mereka mengerang menahan sakit di


dada, lalu roboh dengan tubuh mengepulkan asap.


“Ayo!” Eric langsung melesat cepat dan membuka pintu ruangan


itu tanpa permisi. Thorn mengikuti.


Sebelum penghuni ruangan memekik, Eric mengurung dua wanita


yang ditemuinya,  dengan selubung cahaya


keemasan. Meskipun ada yang berteriak, suaranya tidak akan terdengar ke luar.


“Periksa, apakah ada yang lain di sini,” perintah Eric pada


Thorn.


“Oke!” Pria itu memeriksa di balik tirai dan sekat di


ruangan, mencari orang lain yang bersembunyi.


“Tak ada siapapun,” jawab Thorn segera setelah memeriksa.


Eric mengangguk dan mengamati gadis cantik di depannya. Tangannya


di letakkan pada permukaan selubung. “Apa kau Putri Cristal?” tanyanya.


“Aku tak akan memberi tahumu!” ujarnya ketus dengan muka


marah, melotot pada Eric.


Pria muda itu memiringkan kepalanya sedikit. “Tak masalah.


Jika kau bukan sang putri, maka kami akan meninggalkanmu di sini!” ujarnya


acuh.


“Ayo kita pergi, Thorn,” ajak Eric pada Thorn.


“Kau yakin? Kukira dia agak mirip Putri Angel!” ujar Thorn


memperhatikan lebih teliti.


“Dia ridak mengakuinya!” bantah Eric.


“Jangan begitu, ibunya yang meminta kita mencarinya. Dan kita


sudah berjalan sejauh ini, lalu kembali sia-sia?” tanya Thorn tak setuju.


“Mungkin dia sudah jatuh cinta pada raja Orc yang tampan tadi


dan melupakan suaminya yang sedang sekarat di sana!” jawab Eric ketus.


Namun, tangannya masih menyentuh permukaan selubung cahaya,


hingga gadis di dalamnya dapat mendengar percakapan keduanya. Dia sengaja


melakukan itu sebelum melangkah pergi.


Thorn sedikit bingung dengan cara Eric, dia tidak setuju,


tapi sangat tidak mungkin membantah pria itu. Jadi dia tetap mengikuti meskipun

__ADS_1


dengan keheranan.


“Mereka jelas para Elf, kau bisa lihat telinganya. Bagaimana bisa


kita tinggalkan di sini?” tanyanya sambil menyusul Eric.


Di dalam selubung, wanita yang tadi berbicara ketus,


memukul-mukul selubung cahaya dan memanggil-manggil putus asa.


“Apa kau mendengar sesuatu?” tanya Eric saat mereka menapaki


undakan tangga.


Thorn terheran-heran dengan pertanyaan itu. Namun, sikap Eric


yang sangat serius mencari-car suara entah dari mana, membuat Thorn ikut


mencari-cari. Pria itu sampai berbalik ke belakang dan melihat bagaimana wanita


dalam selubung itu memukul-mukul selubung dan mulutnya terbuka. Dia pasti


berteriak. Thorn mengerti maksud Eric sekarang.


“Kurasa ... kurasa gadis itu yang berteriak memanggil,”


tunjuk Thorn.


Eric ikut menoleh ke belakang dan menunjukkan wajah


keheranan. Matanya menyipit sebentar, lalu tak mengindahkannya lagi. Kalau kau


ingin tahu, tanya saja. Aku tunggu di sini dua menit!” katanya ketus.


Thorn bergegas kembali dan meletakkan tangan pada permukaan


selubung. “Ada apa?” tanyanya.


“Apakah kalian dikirim ibuku untuk mencari?” tanya gadis Elf


itu.


“Kami diminta mencari Putri Elf, Cristal. Karena kau bukan


dia, maka kai tidak akan mengganggumu!” Thorn yang telah mengerti permainan


Eric, akhirnya mengikuti trick pria itu.


“Aku putri Cristal!” ujarnya dengan wajah berseri dan penuh


harapan.


“Apa buktinya?” tanya Thorn lagi.


Dia melirik wanita lain yang juga ada dalam selubung berbeda.


Tubuhnya meringkuk sedemikian rupa di lantai. Wajah gadis yang terlihat putus


asa dan hampir menyerah. Garis hitam di bawah matanya menunjukkan dia sungguh


lelah. Thorn iba melihat gadis yang kurus kering itu.


“Aku ... aku tidak tahu cara membuktikannya. Semua milik kami


pulang, kembali menghilang.


“Hanya  saja, jika kau


pernah bertemu ayah atau ibuku, maka kau akan tahu, bahwa aku mirip dengan


mereka berdua,” ujarnya putus asa.


“Lalu siapa dia?” tanya Thor sambil menunjuk gadis lain yang


ada di sana.


“Dia pelayanku. Tolong ... jika pun kau tidak mempercayaiku,


bawa saja dia. Hidupnya sudah sangat menderita di sini. Dia terus


menggantikanku menerima semua hukuman. Aku tak sanggup lagi melihat dia


dilecehkan di depan mataku hanya karena aku menolak raja Orc!”  Gadis itu meneteskan air matanya pedih. Thorn


langsung menoleh pada gadis tadi yang hampir kehilangan sinar di matanya.


Thorn melangkah menuju si gadis pelayan. “Mereka sudah


menderita, Eric, jangan bermain-main lagi!” tegur Thorn lewat pikiran.


Pria itu menghilangkan selubung cahaya itu dan memberikan


sedikit air abadi pada gadis itu. “Aku akan membawamu pulang!” janjinya dengan


suara iba. Gadis itu langsung menghilang dalam penyimpanan Thorn.


Putri Cristal terkejut. Dia kembali berteriak panik. Hanya saja,


dia masih berada dalam selubung. Dan Eric sudah berdiri di sana menunjukkan


wajah sebal. Dengan cepat tangannya meraih selubung itu dan menyimpannya dalam


penyimpanan.


“Kau saja yang menyimpannya. Dia menyebalkan!” kata Eric


sambil menjulurkan jari pada Thorn. Temannya mengangguk dan mereka saling


menyentuh jari.


“Sekarang mari kita pulang,” ajak Eric. Tugasnya sudah


selesai.


“Bisakah kau musnahkan seluruh istana ini sebelum kita pergi?


Mereka orang-orang keji dan bar-bar!” pinta Thorn dengan kemarahan yang menyala


di matanya.


“Kecil!” jawab Eric.

__ADS_1


Keduanya keluar dari bangunan kecil itu, lalu melesat cepat


ke arah langit. Thorn mengikuti. Keduanya melihat dariketinggian. Kota itu


masih terlihat tenang tanpa kesibukan berarti. Artinya, berita perang di


perbatasan, belum menvapai ibukota!


“Apakah ada bangsa Cahaya di sini?” tanya Eric lewat


pikirannya. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada satupun bangsa cahaya yang


terjebak di negara Orc.


“Apakah ada bangsa Cahaya di kota ini?” tanya Eric sekali


lagi. Masih tidak ada jawaban.


Tangannya bergerak membentuk lingkaran luas, mengelilingi


kompleks istana. Tak lama, muncul selubung cahaya biru yang sangat terang


berbentuk kubah, memisahkan istana itu dari bangunan lain di sekitarnya.


Kemudian Eric juga terbang ke blok lain yang memiliki areal


bangunan luas dan berpenjagaan banyak. Setiap areal itu ikut diselubungi cahaya


biru. Hal itu mengherankan orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalan.


Sebagian dari mereka, tidak bisa masuk dan keluar dari kubah aneh, transparan,


dan berkilauan itu. Para Orc mulai panik, menari-cari musuh mana yang telah


menyerang ibukota.


“Mari kita mulai!” ujar Eric.


Dia terbang lebih tinggi dan mengangkat tangan. Dua tangannya


diarahkan pada begitu banyak kubah cahaya biru di bawah sana. Lalu sebuah


cahaya biru terang keluar dari setiap ujung jarinya dan diarahkan pada setiap


kubah cahaya. Membuat cahaya biru terang yang mematikan itu memenuh isi kubah.


Thorn bisa lihat kepanikan para Orc di jalan melihat bahwa


orc di dalam kubah mulai mengeluarkan asap dan kesakitan di dalam sana. Hingga


akhirnya asap-asap itu menutupi pandangan mereka sama sekali.


Setiap kali mereka mencoba menyenyuh dinding kubah, mereka


menjerit kepanasan lalu menjauh.


Lalu Eric dan Thorn terbang ke seantero kota. Setiap bangunan


yang terkena cahaya dari ujung jarinya, langsung terbakar. Di belakang, Thorn


menembaki beberapa Orc yang membidikkan pada pada Eric. Duri-duri tajam keluar


dari kedua telapal tangannya dan berhamburan mengenai banyak Orc yang panik di


jalan-jalan.


Dalam lima belas menit, kota itu langsung kacau balau. Eric


dan Thorn mengamati hasil pekerjaan mereka dari ketinggian. “Biar ku


selesaikan!”ujar Eric bosan.


Tangannya kembali bergerak dan membentuk satu kubah raksasa.


Begitu besar dan tinggi, hingga posisi keduanya kini berada tepat di atas kubah


itu.


“Kau menggunakan terlalu banyak tenaga, bahaya!” cegah Thorn.


“Lau bagaimana? Sumber kejahatan itu dari sini!” kata Eric.


Dia ingin menuntaskan semua urusan perang dan kembali ke rumahnya yang damai


untuk mengganggu ibu serta adik-adiknya.


“Biar kucoba memecahkan seluruh selubung cahaya yang tadi. Efek


panasnya juga tak kalah dengan kau mengirim energi cahaya langsung,” ujarnya.


“Coba saja.” Eric membiarkan Thorn melakukan ide di


kepalanya.


Thorn terbang cepat ke bagian kubah yang paling dekat dengan


kubah kecil yang dibuat Eric sebelumnya.


Dengan hati-hati dia menembakkan duri dari telapak tangan ke


arah selubung kubah cahaya. Tidak berhasil. Meski sudah mencoba tiga kali,


tetap tak mampu memecahkan kubah-kubah biru kecil itu. Eric membuatnya terlalu


kuat, hingga tak bisa dipecahkan oleh duri Thorn yang sangat tajam.


“Aku menyerah!” kata Thorn. Pria itu melayang ke tempat Eric.


Dua tangan Eric sudah menyetuh permukaan kubah. Tak lama,


sebuah kilatan petir kemerahan muncul di dalam kubah. Sebuah petir kuat


meluncur, menimbulkan banyak petir lain yang ikut menjalar ke sana sini.


“Astaga!” Thorn terkejut melihatnya. “Kapan Kau mengembangkan


kekuatan seperti ini?”


Eric tersenyum tanpa menjawab. “Ayo kita kembali dan bawa


dulu gadis tadi untuk  memastikan

__ADS_1


identitasnya.”


“Ayo!” Thorn terbang menyusul Eric.


__ADS_2