
Tak menunggu waktu lama, terdengar pertengkaran di dalam
bangunan kecil itu. Lalu bunyi suatu benda pecah, terdengar. Suara keras raja
Orc itu terdengar hingga keluar.
Namun para pengawalnya hanya menoleh sebentar saja. Mereka
kembali berjaga seperti semula. Saat Thorn membalikkan badan untuk mengamati
reaksi para wanita di kolam, dia juga terheran-heran. Mereka hanya mendongak
sebentar lalu menunjukkan wajah sinis dan kembali tak peduli.
“Mungkin sering terjadi pertengkaran di bangunan harem yang
tersembunyi itu,” kata Thorn.
“Kenapa kau menduga seperti itu?” Eric bertanya.
“Karena yang lain bersikap tidak peduli. Para wanita itu juga
tidak peduli,” sahutnya.
Akhirnya sang raja Orc melangkah keluar dengan kesal.
Wajahnya merah padam menahan murka. Dua pengawal yang mengikutinya, berlari
tergopoh-gopoh. Pria Orc itu melintasi danau di mana para wanita masiih
menunggunya dengan tersenyum manis. Dia mengatakan sesuatu yang membuat salah
seorang berteriak gembira dan yang lain terlihat kecewa.
Kemudian pria itu pergi diiringi salah satu wanita dengan
wajah berseri-seri. Lalu pengawal mengikuti dari belakang. Tampaknya, salah
seorang selir itu akan menari di kebun bunga bersama sang raja malam ini.
Eric dan Thorn kembali mengawasi rumah kecil yang terasing
itu. Ruangan itu kembali ditutup rapat. Dan penjaga kembali berdiri siaga di
tempatnya. Seorang wanita lain sedang berjalan dan masuk ke ruangan dengan
memegang wadah di tangan. Entah apa yang terjadi di dalam sana sebelumnya.
“Mari kita lihat siapa dia!” ajak Eric.
“Bagaimana caranya?” tanya Thorn. Mereka tidak punya
kemampuan menyamar jadi orang lain.
“Begini!”
Eric menjentikkan seberkas cahaya biru setipis jarum dan
nyaris tak terlihat, pada kedua penjaga. Mereka mengerang menahan sakit di
dada, lalu roboh dengan tubuh mengepulkan asap.
“Ayo!” Eric langsung melesat cepat dan membuka pintu ruangan
itu tanpa permisi. Thorn mengikuti.
Sebelum penghuni ruangan memekik, Eric mengurung dua wanita
yang ditemuinya, dengan selubung cahaya
keemasan. Meskipun ada yang berteriak, suaranya tidak akan terdengar ke luar.
“Periksa, apakah ada yang lain di sini,” perintah Eric pada
Thorn.
“Oke!” Pria itu memeriksa di balik tirai dan sekat di
ruangan, mencari orang lain yang bersembunyi.
“Tak ada siapapun,” jawab Thorn segera setelah memeriksa.
Eric mengangguk dan mengamati gadis cantik di depannya. Tangannya
di letakkan pada permukaan selubung. “Apa kau Putri Cristal?” tanyanya.
“Aku tak akan memberi tahumu!” ujarnya ketus dengan muka
marah, melotot pada Eric.
Pria muda itu memiringkan kepalanya sedikit. “Tak masalah.
Jika kau bukan sang putri, maka kami akan meninggalkanmu di sini!” ujarnya
acuh.
“Ayo kita pergi, Thorn,” ajak Eric pada Thorn.
“Kau yakin? Kukira dia agak mirip Putri Angel!” ujar Thorn
memperhatikan lebih teliti.
“Dia ridak mengakuinya!” bantah Eric.
“Jangan begitu, ibunya yang meminta kita mencarinya. Dan kita
sudah berjalan sejauh ini, lalu kembali sia-sia?” tanya Thorn tak setuju.
“Mungkin dia sudah jatuh cinta pada raja Orc yang tampan tadi
dan melupakan suaminya yang sedang sekarat di sana!” jawab Eric ketus.
Namun, tangannya masih menyentuh permukaan selubung cahaya,
hingga gadis di dalamnya dapat mendengar percakapan keduanya. Dia sengaja
melakukan itu sebelum melangkah pergi.
Thorn sedikit bingung dengan cara Eric, dia tidak setuju,
tapi sangat tidak mungkin membantah pria itu. Jadi dia tetap mengikuti meskipun
__ADS_1
dengan keheranan.
“Mereka jelas para Elf, kau bisa lihat telinganya. Bagaimana bisa
kita tinggalkan di sini?” tanyanya sambil menyusul Eric.
Di dalam selubung, wanita yang tadi berbicara ketus,
memukul-mukul selubung cahaya dan memanggil-manggil putus asa.
“Apa kau mendengar sesuatu?” tanya Eric saat mereka menapaki
undakan tangga.
Thorn terheran-heran dengan pertanyaan itu. Namun, sikap Eric
yang sangat serius mencari-car suara entah dari mana, membuat Thorn ikut
mencari-cari. Pria itu sampai berbalik ke belakang dan melihat bagaimana wanita
dalam selubung itu memukul-mukul selubung dan mulutnya terbuka. Dia pasti
berteriak. Thorn mengerti maksud Eric sekarang.
“Kurasa ... kurasa gadis itu yang berteriak memanggil,”
tunjuk Thorn.
Eric ikut menoleh ke belakang dan menunjukkan wajah
keheranan. Matanya menyipit sebentar, lalu tak mengindahkannya lagi. Kalau kau
ingin tahu, tanya saja. Aku tunggu di sini dua menit!” katanya ketus.
Thorn bergegas kembali dan meletakkan tangan pada permukaan
selubung. “Ada apa?” tanyanya.
“Apakah kalian dikirim ibuku untuk mencari?” tanya gadis Elf
itu.
“Kami diminta mencari Putri Elf, Cristal. Karena kau bukan
dia, maka kai tidak akan mengganggumu!” Thorn yang telah mengerti permainan
Eric, akhirnya mengikuti trick pria itu.
“Aku putri Cristal!” ujarnya dengan wajah berseri dan penuh
harapan.
“Apa buktinya?” tanya Thorn lagi.
Dia melirik wanita lain yang juga ada dalam selubung berbeda.
Tubuhnya meringkuk sedemikian rupa di lantai. Wajah gadis yang terlihat putus
asa dan hampir menyerah. Garis hitam di bawah matanya menunjukkan dia sungguh
lelah. Thorn iba melihat gadis yang kurus kering itu.
“Aku ... aku tidak tahu cara membuktikannya. Semua milik kami
pulang, kembali menghilang.
“Hanya saja, jika kau
pernah bertemu ayah atau ibuku, maka kau akan tahu, bahwa aku mirip dengan
mereka berdua,” ujarnya putus asa.
“Lalu siapa dia?” tanya Thor sambil menunjuk gadis lain yang
ada di sana.
“Dia pelayanku. Tolong ... jika pun kau tidak mempercayaiku,
bawa saja dia. Hidupnya sudah sangat menderita di sini. Dia terus
menggantikanku menerima semua hukuman. Aku tak sanggup lagi melihat dia
dilecehkan di depan mataku hanya karena aku menolak raja Orc!” Gadis itu meneteskan air matanya pedih. Thorn
langsung menoleh pada gadis tadi yang hampir kehilangan sinar di matanya.
Thorn melangkah menuju si gadis pelayan. “Mereka sudah
menderita, Eric, jangan bermain-main lagi!” tegur Thorn lewat pikiran.
Pria itu menghilangkan selubung cahaya itu dan memberikan
sedikit air abadi pada gadis itu. “Aku akan membawamu pulang!” janjinya dengan
suara iba. Gadis itu langsung menghilang dalam penyimpanan Thorn.
Putri Cristal terkejut. Dia kembali berteriak panik. Hanya saja,
dia masih berada dalam selubung. Dan Eric sudah berdiri di sana menunjukkan
wajah sebal. Dengan cepat tangannya meraih selubung itu dan menyimpannya dalam
penyimpanan.
“Kau saja yang menyimpannya. Dia menyebalkan!” kata Eric
sambil menjulurkan jari pada Thorn. Temannya mengangguk dan mereka saling
menyentuh jari.
“Sekarang mari kita pulang,” ajak Eric. Tugasnya sudah
selesai.
“Bisakah kau musnahkan seluruh istana ini sebelum kita pergi?
Mereka orang-orang keji dan bar-bar!” pinta Thorn dengan kemarahan yang menyala
di matanya.
“Kecil!” jawab Eric.
__ADS_1
Keduanya keluar dari bangunan kecil itu, lalu melesat cepat
ke arah langit. Thorn mengikuti. Keduanya melihat dariketinggian. Kota itu
masih terlihat tenang tanpa kesibukan berarti. Artinya, berita perang di
perbatasan, belum menvapai ibukota!
“Apakah ada bangsa Cahaya di sini?” tanya Eric lewat
pikirannya. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada satupun bangsa cahaya yang
terjebak di negara Orc.
“Apakah ada bangsa Cahaya di kota ini?” tanya Eric sekali
lagi. Masih tidak ada jawaban.
Tangannya bergerak membentuk lingkaran luas, mengelilingi
kompleks istana. Tak lama, muncul selubung cahaya biru yang sangat terang
berbentuk kubah, memisahkan istana itu dari bangunan lain di sekitarnya.
Kemudian Eric juga terbang ke blok lain yang memiliki areal
bangunan luas dan berpenjagaan banyak. Setiap areal itu ikut diselubungi cahaya
biru. Hal itu mengherankan orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalan.
Sebagian dari mereka, tidak bisa masuk dan keluar dari kubah aneh, transparan,
dan berkilauan itu. Para Orc mulai panik, menari-cari musuh mana yang telah
menyerang ibukota.
“Mari kita mulai!” ujar Eric.
Dia terbang lebih tinggi dan mengangkat tangan. Dua tangannya
diarahkan pada begitu banyak kubah cahaya biru di bawah sana. Lalu sebuah
cahaya biru terang keluar dari setiap ujung jarinya dan diarahkan pada setiap
kubah cahaya. Membuat cahaya biru terang yang mematikan itu memenuh isi kubah.
Thorn bisa lihat kepanikan para Orc di jalan melihat bahwa
orc di dalam kubah mulai mengeluarkan asap dan kesakitan di dalam sana. Hingga
akhirnya asap-asap itu menutupi pandangan mereka sama sekali.
Setiap kali mereka mencoba menyenyuh dinding kubah, mereka
menjerit kepanasan lalu menjauh.
Lalu Eric dan Thorn terbang ke seantero kota. Setiap bangunan
yang terkena cahaya dari ujung jarinya, langsung terbakar. Di belakang, Thorn
menembaki beberapa Orc yang membidikkan pada pada Eric. Duri-duri tajam keluar
dari kedua telapal tangannya dan berhamburan mengenai banyak Orc yang panik di
jalan-jalan.
Dalam lima belas menit, kota itu langsung kacau balau. Eric
dan Thorn mengamati hasil pekerjaan mereka dari ketinggian. “Biar ku
selesaikan!”ujar Eric bosan.
Tangannya kembali bergerak dan membentuk satu kubah raksasa.
Begitu besar dan tinggi, hingga posisi keduanya kini berada tepat di atas kubah
itu.
“Kau menggunakan terlalu banyak tenaga, bahaya!” cegah Thorn.
“Lau bagaimana? Sumber kejahatan itu dari sini!” kata Eric.
Dia ingin menuntaskan semua urusan perang dan kembali ke rumahnya yang damai
untuk mengganggu ibu serta adik-adiknya.
“Biar kucoba memecahkan seluruh selubung cahaya yang tadi. Efek
panasnya juga tak kalah dengan kau mengirim energi cahaya langsung,” ujarnya.
“Coba saja.” Eric membiarkan Thorn melakukan ide di
kepalanya.
Thorn terbang cepat ke bagian kubah yang paling dekat dengan
kubah kecil yang dibuat Eric sebelumnya.
Dengan hati-hati dia menembakkan duri dari telapak tangan ke
arah selubung kubah cahaya. Tidak berhasil. Meski sudah mencoba tiga kali,
tetap tak mampu memecahkan kubah-kubah biru kecil itu. Eric membuatnya terlalu
kuat, hingga tak bisa dipecahkan oleh duri Thorn yang sangat tajam.
“Aku menyerah!” kata Thorn. Pria itu melayang ke tempat Eric.
Dua tangan Eric sudah menyetuh permukaan kubah. Tak lama,
sebuah kilatan petir kemerahan muncul di dalam kubah. Sebuah petir kuat
meluncur, menimbulkan banyak petir lain yang ikut menjalar ke sana sini.
“Astaga!” Thorn terkejut melihatnya. “Kapan Kau mengembangkan
kekuatan seperti ini?”
Eric tersenyum tanpa menjawab. “Ayo kita kembali dan bawa
dulu gadis tadi untuk memastikan
__ADS_1
identitasnya.”
“Ayo!” Thorn terbang menyusul Eric.