The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 44. Serangan Serentak


__ADS_3

Para Elf di perbatasan negara Peri menunggu petang dengan tak sabar. Mereka sudah tiba di perbatasan itu satu jam yang lalu. Sudah beristirahat dengan sangat cukup. Sudah mengisi tenaga, agar saat bertarung, tidak lagi terganggu dengan perut yang lapar.


Langit di ufuk mulai terlihat lebih berwarna.


“Bersiap!”


Pimpinan pasukan Elf memberi komando pada anggota pasukan masing-masing. Para prajurit itu berdiri dari duduk dan berbaris. Pimpinannya memeriksa kesiapan seluruh anggota.


“Garis perbatasan masih sekitar satu kilometer lagi. Jadi mari kita lanjutkan langkah, agar tiba tepat saat pertanda itu dilontarkan Putra Mahkota!”ujar pimpinan pasukan.


“Siap!” teriak para prajurit itu penuh semangat.


“Kami berangkat. Terima kasih untuk bantuan Anda. Setelah ini kalian mungkin harus memperketat penjagaan perbatasan agar para Orc itu tidak menerobos masuk ke sini,” Pimpinan Elf mengingatkan.


“Kami akan memperhatikan hal itu. Terima kasih!”


Para Elf melanjutkan perjalanan menuju perbatasan yang sebenarnya bisa mereka capai sejak awal. Hanya saja, mereka khawatir kehadiran pasukan besar di perbatasan bisa memancing alarm Orc Penjaga. Maka mereka menunda dan beristirahat sedikit lebih jauh.


Anggota pasukan yang besar itu melangkah penuh semangat namun tetap dalam kesunyian. Tak ada seorang juga yang berbicara dan membuat suara. Bahkan para kuda juga ikut diam. Dua Serigala putih menjadi tenaga tambahan yang sangat berarti bagi kelompok ini.


***


Tim Putra Mahkota yang melintasi ladang kupu-kupu, sudah tiba sejak siang hari di titik terakhir perjalanan mereka. Anggota pasukan itu menyebar, bersembunyi di rumah-rumah penduduk. Pinggir kota itu terlihat sunyi, karena seluruh rumah ditutup rapat sejak malam serangan Orc.


“Bagaimana situasi di luar?” tanya pemimpin pasukan itu pada bawahannya.


“Langit mulai berwarna jingga. Pastinya tidak akan lama lagi sang Putra Mahkota akan memberi tanda,” jawabnya.


“Beri tahu yang lain untuk bersiap,” perintah pemimpin pasukan.


“Baik” bawahannya pergi dan menghilang dalam sekejap.


Tim itu bergerak dalam senyap. Berpindah dari satu rumah ke rumah lain tanpa terdeteksi oleh para Orc yang terus memeriksa berkeliling.


***

__ADS_1


Di istana Raja Felix.


Seekor burung pembawa pesan tiba. Itu adalah pesan dari Putra Mahkota.


“Bagus!”


Felix Ockenlische sangat senang dengan rencana yang digagas oleh Putra Mahkota.


“Ada apa?” tanya istrinya penasaran.


“Putra Mahkota sudah berkoordinasi dengan semua pasukan untuk melakukan serangan serentak ke dalam kota!” bisik Tuan Felix ke telinga istrinya.


“Semoga mereka berhasil mengusir para Orc bedebah dan kurang ajar itu kembali ke negaranya,” geram istrinya.


“Mari kita berharap yang terbaik untuk mereka,” angguk Tuan Felix.


“Bagaimana dengan putra kita? Apakah dia akan pulang bersama pasukannya?” tanya Istrinya lagi. Dia sangat mengkhawatirkan Pangeran Glenn.


“Putra Mahkota tidak mengatakan secara spesifik tentang hal itu.”


“Kita tunggu saja kedatangan mereka membebaskan negara ini.”  Dia berdiri dan pindah duduk di


beranda luar, agar dapat mengawasi sang matahari. Petang segera menjelang.


***


“Putra Mahkota, petang sudah turun. Kapan kita akan mulai serangan serempak?” tanya bawahannya.


“Ya. Ayo bersiap!” Pria muda dan tampan itu berdiri dari duduk. Dilihatnya area persembunyian mereka yang sepi terlihat aman.


“Mari mulai bergerak. Kita harus bergerak dalam senyap. Perlahan-lahan tanpa menimbulkan kecurigaan para Orc yang berkeliaran,” ujarnya.


“Baik. Akan saya sampaikan.”


Pengawal pribadinya menghilang dengan cepat, menyampaikan informasi yang barusan disampaikan pemimpin pasukan mereka.

__ADS_1


Anggota pasukan Pangeran Glenn yang semula menjadi penunjuk jalan, sekarang juga membimbing jalan semua prajurit, agar tidak terdeteksi oleh para Orc.


Pasukan itu berpindah seperti bayang-bayang. Perlahan mendekati perbatasan hutan sihir yang dekat dengan pintu teleportasi menuju kediaman Pangeran Glenn.


Putra Mahkota bahkan harus berjalan kaki, untuk mencapai titik kumpul mereka.


Seekor kupu-kupu menghampiri Pangeran Levyn dan menyampaikan apa yang dilihatnya.


“Pasukan Putra Mahkota sudah bergerak?” Levyn menjadi tak sabar.


“Sabar, Pangeran. Jangan keluar dulu dan menimbulkan kecurigaan para Orc!” pengawalnya kembali memberi nasehat.


“Ya … ya. Aku akan sabar!” ujarnya ketus.


Kupu-kupu lain mengamati langit. Warna jingganya yang cerah, semerah darah, membuat hati ciut.


“Apakah ini pertanda perang besar akan segera dimulai?” tanya istri Raja Felix.


“Apa menurutmu seperti itu?” tanya suaminya sambil terus mengamati suasana langit.


“Lihatlah langit yang sewarna darah dan menutupi seluruh langit kerajaan Elf. Ini mengerikan!” katanya lirih.


“Kita akan berperang. Apapun resiko untuk mempertahankan negara, maka akan kita tempuh!” tekad Raja Sementara, Felix Ockenlische.


“Lihat itu!” tunjuk seorang prajurit Elf.


Langit yang berwarna semerah darah, dihiasi oleh suar dengan cahaya warna-warni nan indah.


“Itu pertanda sang Putra Mahkota.” Beberapa orang saling bisil.


Pemimpin pasukan Elf dari perbatasan negara peri saling mengangguk, meyakini bahwa itu adalah pertanda yang dimaksud oleh Putra Mahkota.


“Majuuuu!”


******

__ADS_1


__ADS_2