
Di dapur, Levyn yang suka mempelajari sihir, terus menguntit guru sihir itu. “Kakek guru, kenapa bagian belakang ini memiliki aura yang sangat aneh?” tanyanya.
“Kau merasakannya?” pria tua itu terkejut. Dia tak menyangka jika Levyn sangat berbakat dan sensitif.
“Ya. Apakah Kakek Guru juga merasakannya?” tanya Levyn.
Pria tua itu mengangguk. “Itu karena halaman belakang ini terhubung langsung dengan hutan sihir!” jawabnya.
“Benarkah? Bagaimana cara ke sana?” tanya Levyn gembira.
“Kenapa? Kau ingin ke sana? Apa kau tidak tahu bahwa hutan itu sangat berbahaya?” tanya guru sihir itu heran.
“Nenek sudah mengajariku cara memasukinya. Dan aku punya teman di sana,” kata Levyn penuh percaya diri.
Guru sihir itu benar-benar terkejut sekarang. “Aku tak mengira kau bisa berteman dengan penguasa hutan sihir itu,” katanya takjub.
“Aku tidak tahu dia penguasa hutan sihir atau bukan. Tapi dia sangat baik!” jawab Levyn lagi.
“Itu ada pintu di sana, hanya Raja yang berani pergi ke sana. Kau bisa coba. Pintu itu tak dikunci sama sekali, karena memang tidak ada yang berani ke sana. Bahkan para Orc itu menjauhi dapur ini karena tidak tahan dengan aura kuat di sini.”
“Biar aku lihat sebentar. Tempat ini sangat jauh dari hutan sihir yang berbatasan dengan negara kami. Entah apakah temanku ada di sini atau tidak.” Levyn melangkah melewati barisan tanaman yang memang diarahkan ke pintu menuju hutan sihir.
Hanya ada pintu besi biasa yang dikaitkan ke tiang kayu. Tembok tinggi sekelilingnya ditumbuhi tanaman merambat yang lebat dan menjulur ke mana-mana. Mungkin itu juga yang membuat orang jadi takut melintas.
Tangannya membuka pintu pagar besi lebar-lebar dan melihat hutan sihir yang gelap gulita. Malam memang sudah turun. Levyn duduk di tanah, tepat setelah melewati pintu. Seharusnya dia sudah berada di area hutan sihir saat ini.
Tangannya bergerak dan merapal mantera yang sebelumnya diajarkan neneknya. Guru sihir tua itu datang dengan membawa obor sebagai penerang bagi Levyn. Dia bisa lihat punggung anak muda itu bergerak seirama mantera yang dilagukannya.
Kerajaan Penyihir kehilangan sangat banyak rakyatnya. Bahkan para pelayan istana sudah tak banyak tersisa. Terutama para pelayan wanita. Kebanyakan mereka tewas setelas dijadikan pemuas atau dibawa ke kerajaan Orc sebagai tawanan dan persembahan bagi sang raja.
Dua pelayan tua membantu guru sihir membersihkan peralatan makan yang tadi digunakan. Guru sihir mengawasi dan menjaga Levyn dari kejauhan. Lama dia memperhatikan Levyn yang seperti sedang berbicara.
Sekitar satu jam baru pangeran muda itu bangkit dari duduk dengan membawa beberapa buah-buahan di tangan. Wajahnya terlihat cerah.
“Kakek Guru, aku tidak tahu bahwa hutan sihir begitu istimewa. Dia mendengar aku memanggilnya dan datang dari tempat sejauh itu,” ujarnya senang.
Disodorkannya buah yang ada di tangan pada pria tua itu. Dia sendiri menyimpan dua buah di balik baju dan memakan yang lainnya.
“Apa yang kalian bincangkan?” tanya guru sihir itu ingin tahu. Dia menatap buah ranum di tangan dengan ragu. Menatap Levyn heran karena memakannya tanpa prasangka sama sekali.
__ADS_1
“Aku katakan padanya bahwa Orc telah menguasai negara ini dan negara Elf selama lebih dari dua bulan. Itu menimbulkan kerusakan besar. Rakyat juga banyak yang tewas karenanya.” Levyn menunduk sedih.
“Lalu, apa kata temanmu?” tanya guru tua itu penasaran.
“Katanya akan mengatakan ceritaku itu pada penguasa hutan sihir. Dia ingin membantu, tapi ada aturan yang tak boleh dilanggar. Mereka dilarang memasuki negara ini, sesuai perjanjian nenek moyang.” Levyn menggeleng kecewa.
“Yah ... itu aturan yang sudah sangat lama. Saat kerajaan sihir ini masih berupa kumpulan kelompok besar penyihir. Itu kesepakatan bersama antar ketua kelompok. Mengusir salah seorang penyihir muda paling berbakat yang ada, karena dianggap membahayakan nyawa banyak orang.”
“Sudah lama sekali. Lebih lama dari kehadiran Leluhur bangsa ini, bukan?” tanya Levyn. Mereka berjalan kembali ke dalam istana.
“Benar. Kejadian itu berlangsung sebelum hadirnya Leluhur Kerajaan Penyihir. Leluhur menyatukan begitu banyak kelompok yang terpisah-pisah, menjadi satu kerajaan. Agar lebih kuat dalam menghadapi Orc yang kerap membuat onar,” jelas guru sihir itu.
“Apakah mungkin aturan itu dihapuskan? Toh sudah tak banyak lagi rakyat penyihir yang tersisa. Apa salahnya menyatukan kerajaan ini dengan hutan sihir? Atau setidaknya, punya perjanjian damai dan kerjasama. Bukankah itu baik?”
Guru sihir itu menoleh pada Levyn. “Anda sangat cerdas, Pangeran. Namun negara ini dipimpin oleh raja. Beliau mungkin punya pertimbangan lain tentang hal ini,” kata guru itu bijak.
“Dari mana saja?” tanya Glenn saat melihat putranya datang bersama guru sihir.
“Pangeran Levyn membantu saya di belakang,” sahut guru tua itu. Glenn mengangguk mendengar penjelasan itu.
“Bagaimana dengan Yang Mulia Raja?” tanya sang guru.
“Paman Raja dan Permaisuri sudah lebih baik. Tapi Pangeran Juno terluka cukup parah. Kita tunggu perkembangannya dalam beberapa hari,” jelas Glenn.
“Pangeran Glenn,” sapa Eric, melihat pria itu datang menemui mereka yang berkumpul di halaman istana, diterangi api unggun.
“Kalian bisa beristirahat di dalam malam ini. Bukankah semua sudah kembali bersih,” katanya menawarkan.
“Kami sudah cukup beristirahat. Sekarang sedang mendiskusikan, bagaimana langkah kita selanjutnya,” balas Eric.
Glenn, Levyn dan Guru Sihir ikut duduk bersama Eric, Gerald, Hakon, dan Randall.
“Apa Kau punya rencana, Eric?” tanya Glenn.
“Aku tidak tahu apakah ini terlambat atau tidak. Tapi sebaiknya kami menjaga di daerah perbatasan. Menghadang semua Orc yang didesak mundur, agar tidak ada yang kembali ke negara mereka!” Eric merasa ragu dengan rencana itu.
“Kenapa kau terlihat ragu?” tanya guru sihir.
“Karena seharusnya kita sudah menghadang mereka di sana agar tidak bisa menyampaikan berita penyerangan balik negara Elf!”
__ADS_1
“Kau yakin negara Elf sudah memukul mundur mereka hingga perbatasan sore tadi?” tanya Glenn.
“Rencana kami di istana Raja Felix malam itu, seperti itu. Dan Ada banyak teman sebangsaku yang membantu di sana. Ayahku tidak memintaku menghadang di perbatasan, karena mengira Anda memiliki informasi dimana bisa mencari sang putri!” jelas Eric.
“Kau sangat bertanggung jawab. Sangat pantas menjadi calon pemimpin Bangsa Cahaya,” puji Glenn.
“Hanya saja, sekarang memang sangat terlambat untuk menghalangi mereka kembali ke negaranya. Jadi, mari kita pikirkan rencananya besok pagi. Menunggu Yang Mulia Raja pulih dan ikut dalam pembicaraan,” ujar Glenn.
“Kalau begitu, ijinkan kami bertiga menyisir jalan dari sini ke perbatasan dan memusnahkan Orc yang mungkin berlari masuk ke wilayah negara ini!” ujar Eric lagi.
“Baiklah. Kalian harus berhati-hati!” pesan Glenn.
Eric mengangguk, lalu berdiri dari duduknya. “Mari kita pergi!” ajaknya pada Gerald dan Hakon. Ketiganya langsung melayang naik dan terbang cepat di udara, menyisakan cahaya di gelapnya malam.
Sepanjang jalan menuju perbatasan tanah tak bertuan, hanya gelap semata di bawah sana.
“Lihat! Itu ada cahaya!” tunjuk Hakon ke bawah.
Dia antara kerimbunan pepohonan, beberapa api unggun dinyalakan. Ada sekelompok Orc beristirahat di rerumputan. “Mereka terluka!” kata Gerald yang mampu melihat dengan mata ajaibnya.
“Kurasa, mereka adalah kelompok yang lari dari negara Elf!” timpal Hakon.
“Mari kita habisi saja!” Eric tak mau repot-repot lagi.
“Ayo!” Ketiganya mengelilingi kelompok Orc yang sedang beristirahat itu.
Hakon bergerak cepat menebar tali tak terlihat dan mengikat mereka jadi satu. Lalu muncul Gerald. Mengelilingi para Orc yang terkejut melihat makhluk aneh muncul tiba-tiba di malam hari.
”Jangan bermain-main, Gerald!” seru Eric tak sabar.
“Aku hanya ingin menakuti mereka sedikit. Kau benar-benar tidak asik!” gerutu Gerald. Naga itu menyemburkan api besar ke arah para Orc yang terikat.
Sementara itu, Hakon mengumpulkan ranting kering dan ditumpuk di atas para Orc yang sedang menjerit-jerit. Dia ingin memastikan bahwa mereka semua tewas di tempat!
Setengah jam berikutnya, ketiganya kembali terbang dan menemukan lebih banyak lagi pasukan Orc yang sedang beristirahat di wilayah negara Penyihir. Semuanya mengalami nasib yang sama, dimusnahkan tanpa sisa!
“Aku lelah,” ujar Gerald. Dia turun ke hutan gelap di bawah. Eric dan Hakon mengikuti. Sejak awal, memang Gerald yang terus melakukan pembakaran para kumpulan Orc yang mereka temui.
“Mari istirahat sebentar.” Eric memberikan air abadi dan sedikit makanan untuk kedua temannya.
__ADS_1
Satu jam berikutnya, ketiganya kembali terbang hingga di perbatasan tanah tak bertuan. Mereka terkejut melihat begitu banyaknya Orc yang berkumpul dan di tempat itu. Sejauh mata memandang, tempat bebas itu telah diisi oleh Orc semata. “Ini gila!” desis Hakon terkejut.