
Peri penunjuk jalan menghampiri serigala yang berdiri paling depan. Keduanya berbicara cukup lama. Tampaknya peri itu agak kesulitan membuat serigala itu mengerti dan mengijinkan pasukan itu lewat.
Akan tetapi, peri itu akhirnya kembali. "Kita bisa lewat dengan satu syarat," ujarnya.
"Apa?" tanya salah satu komandan pasukan.
"Mereka ingin ikut membantu memerangi Orc di negaramu!" Sang peri menjelaskan syarat yang diminta para serigala putih.
"Mereka mau ikut membantu? Tentu saja boleh. Kami senang jika mendapat bantuan," jawab komandan pasukan.
"Hanya saja, jika mereka ikut ke negara kami, bagaimana dengan gerbang ini?" tanya yang lain menimpali.
"Tidak. Hanya dua serigala yang ikut serta. Mereka adalah ayah dan anak. Keluarga mereka tewas oleh Orc. Mereka ingin membalas dendam!" Peri itu kembali menjelaskan.
Para komandan pasukan itu saling memandang satu sama lain. Berdiskusi dengan mata mereka.
"Selama mereka bisa mengikuti rencana yang dibuat pangeran dan sabar menunggu waktu penyerangan, mereka bisa ikut!" jawab satu komandan pasukan mewakili yang lainnya.
"Akan kusampaikan persyaratan kalian." Peri tadi berjalan lagi ke arah serigala yang menunggu dengan sabar.
Tak lama, sang peri memanggil pasukan Elf mendekat. "Kita bisa melanjutkan perjalanan!" katanya senang.
Pasukan yang berjumlah lebih dari seratus lima puluh orang itu, berjalan beriringan dan memasuki gerbang dengan hati-hati.
Lima menit kemudian, terlihat cahaya terang di ujung terowongan itu. Semua merasa takjub. Betapa cepat perjalanan kembali jika melewati gerbang itu.
"Kita tidak persis berada di perbatasan negara Elf. Tetapi kita sudah menghemat beberapa jam, untuk mencapai perbatasan jika melewati jalan hutan,"kata peri itu.
"Jadi, tepatnya berapa lama lagi kita akan mencapai perbatasan?" tanya komandan.
"Satu jam lagi!" sahut peri itu dengan mengangguk yakin.
"Mungkin lebih baik kita istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan," saran komandan lainnya.
__ADS_1
"Baik, kita istirahat setengah jam. Setelah itu, berangkat dan menunggu di perbatasan!" jawab komandan pasukan tegas.
Rombongan itu berhenti dan duduk di pinggir hutan. Menikmati pemandangan indah yang terhampar di sana.
"Kalian juga harus memperkuat daerah perbatasan," kata komandan Elf.
"Yah, kau benar. Aku memang mendapat instruksi untuk menyampaikan pesan ketua pasukan penjaga perbatasan pada prajurit yang berjaga di pos depan sana," jawab prajurit Peri.
Komandan pasukan mengangguk setuju. Kemudian perhatian mereka teralih pada dua serigala putih yang merupakan ayah dan anak. Keduanya duduk berdekatan, tak sekalipun menyapa yang lainnya.
"Apa kau tahu tentang kisah mereka?" tanya komandan Elf penasatan.
"Tidak tahu persis. Hanya saja, dulu mereka tidak berada di sini. Aslinya gerbang itu mengarah ke perbatasan negara Penyihir. Namun, komunitas serigala putih itu diburu oleh para Orc yang kerap melewati daerah perbatasan Kerajaan Penyihir. Raja kami yang melihat mereka tak terlindungi, menawarkan untuk memindahkan gerbangnya ke perbatasan negara Elf. Sekarang mereka sudah hidup dengan tenang." Peri itu menjelaskan.
"Berarti perbatasan Negara Penyihir itu sudah lama tidak aman ya," komentar salah seorang komandan.
"Sudah cukup lama. Hanya saja, sebelum ini mereka cuma melakukan tindak kriminal, mengganggu dan kita masih bisa menghukumnya. Bamun, tidak sekarang. Menguasai negara lain adalah gerakan besar!" Peri itu tampak cukup pintar di mata para Elf.
"Kurasa, waktu istirahat kita sudah habis. Saatnya melanjutkan perjalanan!" Komandan pasukan itu berdiri, diikuti yang lainnya.
*
****
"Lihat! Pantai yang sangat indah!" kata salah seorang pengawal, begitu merreka keluar dari terowongan yang membelah perut bukit cadas.
Sejenak mereka mengagumi pemandangan laut yang tak akan mereka temui di negara Elf. Udara segar dengan aroma berbeda menerpa penciuman. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan.
Tak jauh dari terowongan sudah terlihat bangunan rumah pertama yang menjual makanan. Pengunjung di situ memperhatikan para Elf yang datang. Tidak biasa Elf datang ke tempat terpencil itu.
"Kalian mau ke mana?" tanya seorang kurcaci tua.
"Kami mau pergi ke dinding cahaya untuk melaksanakan tugas," jawab satu Elf.
__ADS_1
"Terakhir kali juga datang manusia-manusia yang ingin menyeberangi dinding cahaya itu. Entah bagaimana kabar mereka sekarang," kata kurcaci tua itu.
Dua Elf mengangguk. "Kami ditugaskan untuk mencari mereka oleh sang putri." Seorang Elf mengatakan yang sebenarnya.
"Tempat itu sangat berbahaya. Kenapa kalian sangata ingin ke sana?" Kurcaci tua itu meggelengkan kepala heran.
"Kalian akan butuh kapal. Sekarang tidak ada kapal yang cukup bagus untuk dibawa melewati tempat itu. Kalian mungkin bisa memesan dulu pada pembuat kapal," sarannya.
"Waktu kami sedikit. Keadaan sedang genting di Kerajaan Elf. Orc menyerbu masuk ke ibukota!" jelasnya.
"Apa? Berani sekali para Orc itu. Bukankah dulu sudah menanda tangani perjanjian damai?" Kurcaci tua itu tampak marah.
Dua Elf hanya mengangguk. "Sekarang, apakah Anda punya saran bagaimana agar kami bisa melewati dinding cahaya di tengah laut itu?"
Kurcaci tua itu berpikir sebentar. Lalu dia mengangguk. "Ada. Ikuti aku," katanya seraya bangkit dari duduk dan melangkah pergi.
Dua Elf saling pandang dan akhirnya mengikuti dari belakang. Mereka dibawa masuk ke tengah desa nelayan. Melewati beberapa rumah dan tempat luas terbuka, dimana beberapa kurcaci biru sedang asik berkumpul, melakukan sesuatu.
"Tunggu di sini!" kata pria kurcaci tua itu. Dia pergi meninggalkan dua Elf yang menjadi pusat perhatian kurcaci biru lainnya.
"Apakah kalian tersesat?" teriak salah satu kurcaci dari dalam bangunan terbuka d sisi jalan.
Elf menggeleng. "Kami mau pergi melintasi dinding cahaya di tengaha laut," sahut mereka sungguh-sungguh.
Seketika para kurcaci terdiam mendengarnya. Wajah mereka tampak terkejut. Tak lama kemudian, derai tawa pecah membahana.
"Manusia-manusia Elf memang unik. Mereka sangat ingin mati!" ejek salah seorang kurcaci, disambut ledakan tawa lagi. Para Elf itu tak bisa berbuat apa-apa selain memasang wajah meringis.
"Diam!" Kurcaci tua itu kembali. Matanya menatap tajam pada orang-orang yang sedang tertawa mengejek.
"Jika tak tau apa-apa, maka lebih baik diam saja!" katanya pedas. Orang-orang yang berkumpul di bangunan itu, langsung diam seribu bahasa.
"Kalian, ikut denganku!" ujarnya, sembari melangkah ke arah pantai. Mata semua kurcaci biru, mengarah pada tiga orang yang lewat sambil menuntun kuda.
__ADS_1
********