
Terus dukung author dengan memberi Like, Komen, Gift, Vote dan Rate 5 bintang ya. Terima kasih.
*****
Kerajaan Kurcaci Biru mengadakan rapat untuk membahas perkembangan terkini yang terjadi di negara Elf.
“Kita harus memperkuat semua garis perbatasan kita, Yang Mulia,” kata jenderal Utama.
“Apa kau sudah mempersiapkan pasukan untuk itu?” tanya Raja Kurcaci.
“Sudah, yang Mulia. Saya sudah siapkan pasukan yang cukup untuk menjaga semua pos perbatasan yang luas dari sisi barat hingga timur, yang berbatasan dengan tanah tak bertuan,” jawab jenderal itu.
“Bagus!. Kau paling sigap dan bisa diandalkan untuk hal begini,” puji Raja.
Lalu bagaimana menurut kalian kita bisa membantu negara Elf?” tanya Raja lagi.
“Yang Mulia. Bukan bermaksud tidak peka dan setia kawan. Hanya saja, kita harus mengakui bahwa fisik kita berbeda dengan bangsa Elf. Kemampuan fisik kita tidak seberapa jika harus menghadapi pasukan Orc yang bertubuh raksasa!” ujar penasehat kerajaan.
“Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kita juga tidak bisa membiarkan Orc terus meraja lela. Hanya butuh waktu bagi mereka untuk masuk dan menguasai kita, jika negara Elf berhasil ditaklukkan!” sergah sang Raja.
“Baginda, Tuan Penasehat tidak terlalu salah jika berkata seperti itu. Negara Penyihir yang bertubuh besar dan punya kemampuan sihir saja, bisa dengan mudah mereka taklukkan, apa lagi kita yang kecil mungil!” Tuan bendahara bergidik ngeri.
“Tidak bisa seperti itu!” Baginda Raja Kurcaci Biru menoleh pada Perdana Mendtri yang belum angkat bicara sejak tadi.
“Menurutmu bagaimana, Tuan Perdana Mentri?” tanyanya.
“Mungkin kita perlu rundingkan hal ini dengan kerajaan Peri. Ajak mereka bekerja sama, menyerang para Orc dan mengusir mereka kembali ke negaranya yang gersang itu!” saran Perdana Mentri.
“Kurasa kau ada benarnya. Para peri itu juga punya kemampuan khusus yang dapat diandalkan.” Baginda Raja mengangguk.
Coba komunikasikan dengan Raja Peri dan Raja Elf. Apakah mungkin untuk melakukan serangan serentak agar bisa mengusir para Orc!”
“Saya akan mengirimkan pesannya segera.” Perdana Mentri mengangguk. Pelayan setianya dengan sigap menyerahkan kertas untuk ditulisi pesan ke negara tetangga.
“Menurut saya, bahkan meskipun kita ingin menyerang bersamaan, sebaiknya kita fokuskan serangan untuk mengusir para Orc dari perbatasan barat. Mendorongnya menjauh hingga ke Timur, dan kembali ke tanah tak bertuan!” ujar Jenderal Utama.
“Lalu bagaimana dengan para Orc yang ada di dalam negara itu?” tanya Raja lagi.
__ADS_1
“Itu tugas para Elf. Untuk menghancurkan kekuatan Orc. Sementara di perbatasan timurnya, Kerajaan Peri memberi dukungan serupa seperti kita juga.”
‘Kenapa kita tidak ikut serta dalam perang kota?” tanya Raja tak terlalu suka rencana defensif yang dikatakan Jenderal Utama.
“Apa kalian lupa, banyak juga warga kita yang tinggal dan menetap di sana dan butuh bantuan. Butuh perlindungan!” ketus sang Raja.
“Mungkin terdengar sangat egois, Yang Mulia. Tapi itulah pertimbangan saya, untuk menjaga lebih banyak nyawa warga kita.” Sang jenderal membela diri.
“Aku tahu maksudmu baik. Tapi mereka sungguh sedang butuh bantuan sekarang,” keluh sang Raja prihatin.
Perdana Mentri menyerahkan surat-surat yang ditulisnya ke hadapan Raja untuk diperiksa dan diberi cap negara. Raja Kurcaci Biru membaca ulang dua pesan yang ditulis tangan itu. Tak lama sebuah cap negara ditempelkan di sana.
Perdana Mentri menunduk hormat dan mengambil kertasnya lagi. Kemudain mundur dan membiarkan snag Raja melanjutkan rapat penting itu. DIa dan pelayannya sibuk menggulung kertas pesan serta menyelipkannya di kaki burung pos, untuk dikirim.
“Perintah Anda sudah dilakukan, Yang Mulia,” lapor Perdana Mentri.
“Sementara menunggu balasan surat, lakukan dulu rencana yang dibuat Jenderal utama. Pertahankan seluruh garis perbatasan kita. Tambah jumlah prajurit penjaga atar tak ada satupun Orc yang lolos!” pesan Sang Raja.
“Baik, Yang Mulia!” Jenderal itu mengangguk dan memberi perintah pula pada asistennya yang berdiri di samping. Asisten itu segera pergi dari ruangan, unutk menjalankan perintah.
“Sekarang mari kita bahas tentang cadangan pangan. Aku khawatir perang ini akan bejalan lama. Kita harus punya cukup persediaan pangan untuk seluruh rakyat, dan jika mungkin, membantu para rakyat Elf yang sebentar lagi akan kedulitan bahan makanan!” Raja membuka topik baru untuk dibahas.
Para Ahli danorang penting yang dipanggil ke istana, pulang dengan tugas berat yang harus mereka kerjakan sesuai keahlian masing-masing.
“Ayahanda!”
Seorang pria muda yang tampan, datang mendekat. Dia memijat pundak sang Raja dengan lincahnya, membuat Raja yang sedang menghadapi persoalan berat itu akhirnya tersenyum senang.
“Kau dari mana?” tanyanya heran. “Kau melewatkan rapat penting tadi,” tegur ayahnya.
“Aku sedang berkeliling. Dan mendengarkan keluhan rakyat, seperti biasa,” sahut Pangeran muda itu.
“Oh, apa lagi yang mereka keluhkan sekarang ini? Apakah kesulitan gandum?” tanya raja antusias.
“Tidak. Bahan pangan lebih dari cukup. Rakyat sama sekali tidak kekurangan makan.” Putranya menggeleng dan berputar, lalu duduk di depan sang Raja.
“Apa yang mereka keluhkan?” tanya Raja ingin tahu.
__ADS_1
“Mereka berharap kita membantu negara Elf. Karena jika negara itu jatuh, maka kita kan segera kena dampaknya!” jawab pangeran itu sungguh-sungguh.
“Itu juga yang kami bahas di rapat istana tadi,” jawab Raja. Dia membaringkan tubuh lelahnya di kursi panjang yang empuk.
“Oh ya? Lalu apa keputusan rapatnya? Apakah kita akan ikut ke medan perang dan membunuh para Orc jelek itu?” tanya sang Pangeran dengan penuh semangat.
Raja menggeleng sambil tersenyum. “Kami sedang menunggu jawaban dari negara lain. Setelah itu baru menyerang bersama sesuai daerah kekuasaan masing-masing,” jawab sang Raja sambil memejamkan mata.
“Benarkah?” Mata Pangeran itu berbinar cerah. Dengan lincah dia pindah duduk ke samping sang Raja.
“Apa maumu?” ujar sang Raja yang sangat hapal tindak tanduk putranya itu.
“Aku ingin ikut dalam peperangan. Bolehkan?” tanyanya penuh harap.
“Tidak! Di luar sana bukan perangmu! Kau putraku satu-satunya. Tak boleh ada hal buruk terjadi padamu di luar tembok istana!” Raja berkata tegas.
“Ayah, aku perlu mengasah ilmu bertarungku! Perlu melihat dunia luar agar berpengetahuan luas,” bujuknya sambil memberikan argumen.
“Kau tanyalah ibumu, kalau berani!” Sang Raja memejamkan mata. Sudah mengabaikan sepenuhnya keinginan sang pangeran.
“Ahh … itu sama saja bunuh diri!” Pangeran muda itu terduduk tak senang. Pijatannya hilang seketika
Seorang kurcaci cantik masuk. “Beraninya kau menuduhku akan membunuhmu!”
Sang Pangeran dan Raja langsung melihat ke arah pintu masuk ruangan. “Ibu, bukan seperti itu maksudku.” Pangeran muda itu berkelit.
“Lalu, apa maksudmu?” ibunya menatap tajam sang putra,
“Aku hanya ingin belajar,” jawab putranya.
“Perang adalah pelajaran yang sangat berbahaya,” tolak ibunya.
“Lalu bagaimana aku bisa menggantikan tugas ayahanda nanti, jika yang seperti ini saja aku tidak diijinkan?” keluhnya.
“Kau selalu bisa menggantikan tugasku, kapan pun aku pergi!” ujar sang Raja kalem. Dia sedang menikmati pijatan dari jari istrinya.
Pangeran muda itu cemberut. “Tapi aku tidak akan pernah bisa menjadi raja yang bijaksana dan dihormati seperti ayahanda!”
__ADS_1
*****