The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Latih tanding


__ADS_3

Raynor cukup memperhatikan ketiga murid di sana, mereka memang bisa di bilang sebagai sosok jenius, karena usia yang baru melewati dua puluh tahun tapi pencapaian sebagai ahli beladiri tingkat raja tempur tahap tengah.


"Kenapa kau begitu serius Ray ?." Bertanya Sania karena bingung melihat cara Raynor melihat kepada tiga murid itu.


"Tidak bukan apa-apa, Hanya saja, aku tidak terlalu menyukai sikap dia." Tunjuk satu orang oleh Raynor.


Sania penasaran..."Memang kenapa dengannya ?."


"Dia meremehkan klan harimau merah ini."


"Ya apa boleh buat, mereka tidak mengenal kita dengan baik." Jawab Sania.


"Tapi untukku pribadi, aku pun tidak ingin mengenal siapa pun dari mereka." Balas Raynor dengan senyum mengejek.


Bagi seorang penguasa tertinggi, apanya yang murid akademi pedang suci, meski itu dibangun oleh kaisar pedang naga, dia hanya menjadi pengecut di hadapan Davendra.


Regar membawa ketiga murid akademi pedang suci ke hadapan para pengikut klan harimau merah, tentu ini sebagai bentuk kebanggaan dimana keluarga klan harimau merah mendapat undangan rekomendasi khusus dari guru akademi.


Semua orang memandang takjub, karena mereka semua tahu jika akademi pedang suci adalah salah satu perguruan terbaik di benua angin biru.


Bahkan sosok pendiri akademi menjadi pelindung benua yaitu kaisar pedang naga Elonel, seorang ahli beladiri tingkat saint suci dan hampir mendekati ranah immortal.


Karena itu Sania menjadi sosok membanggakan bagi mereka, bahkan jika hanya bercerita tentang saudaranya yang menjadi bagian akademi pedang suci sudah bisa mereka sombong kan di mata orang-orang kerajaan Losborn.


"Sania majulah." Panggil Regar untuk Sania.


Sania berjalan mendekat dan memberi hormat kepada tiga murid akademi pedang suci karena setelah Sania berada di sana, mereka bertiga adalah seniornya.


Tiga orang itu tentu menyadari betapa menakjubkan kecantikan yang kini ada di hadapan mereka sekarang. Seketika diam dan melongo, seakan semua di sekitar bukan hal penting.


"Salam senior-senior sekalian." Ucap Sania memberi hormat.


"Oh, tuan Regar jadi ini yang bernama Sania."


"Itu benar tuan Salim."


"Dari semua orang yang ada di tempat ini, memang aku mengakui, jika Sania ini adalah wanita menakjubkan." Salim menganggukkan kepalanya tidak lazim.


"Terimakasih atas sanjungannya tuan senior Salim." Meski ada perasaan tidak senang, tapi Sania bisa menyembunyikannya.


Salim pun berjalan mendekatinya, dia mencoba mengambil tangan Sania tapi cepat tangan itu menghindar. Tapi karena perbuatan Sania membuat Salim terjatuh.


"Maaf senior, apa kau baik-baik saja." Sania bertanya kepada Salim yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


Cepat Salim berdiri dan membersihkan diri, sikap yang berusaha terlihat berwibawa agar semua orang tidak memandang rendah dirinya.


"Tidak apa-apa, aku hanya tersandung." Balas Salim beralasan.


"Begitukah."


"Tapi siapa sangka, jika anda sudah mampu mencapai tingkat raja tempur sebelum dua puluh tahun." Berkata Salim dengan sikap santai.


"Ini adalah berkat bantuan seseorang, jika bukan karena dirinya, mustahil aku berada di tingkat raja tempur."


"Sungguh ?, Aku yakin dia adalah guru yang sangat hebat." Salim merasa kagum.


"Pada kenyataannya dia hanya lelaki yang senang menggoda wanita." Gumam Sania tanpa di dengar oleh siapa pun.


Raynor menyadari ada niat lain dari sikap baik Salim kepada Sania, meski begitu dia tidak mungkin asal mengatakan bahwa lelaki itu hanya ingin mencari keuntungan saja.


"Kalau begitu nona Sania, apa anda mau bertukar pukulan, seperti halnya aku ingin menguji kemampuan anda." Berkata Salim yang sebenarnya ingin menyombongkan kemampuan dari akademi pedang suci.


"Baiklah kalau begitu."


Semua orang berdiri di samping lapangan untuk memberi tempat bagi Salim dan Sania bertarung. Tidak ada rasa khawatir dadi Raynor kepada Sania, karena jelas dia percaya bahwa Sania memiliki kemampuan mengalahkan Salim.


Raynor meminta untuk Sania tidak memperlihatkan kekuatan Phoenix biru kepada siapa pun, kecuali saat diperlukan. Meski itu diketahui banyak orang di acara festival peringkat generasi muda terbaik, tapi tetap saja akan menjadi kegemparan bagi siapa pun yang mengetahuinya.


"Nona Sania, mari kita lakukan lima gerakan untuk saling menyerang, jika nona Sania bisa bertahan dari lima gerakan itu maka bisa dipastikan lulus, meski pun ini hanya formalitas saja." Ucap Salim.


"Aku mengerti senior."


Langkah pertama Salim atau pun Sania bergerak maju secara bersamaan, dimana keduanya saling mengayunkan pedang dan mulai beradu keahlian bertarung.


Meski pun Salim terbilang ahli dalam memainkan pedang tapi Sania tidaklah buruk, bagaimana pun selama ini Sania berlatih tanding dengan seseorang yang memiliki kemampuan berpedang di atas rata-rata.


"Kemampuan anda dalam berpedang sangat bagus, meski pun teknik pedang yang aku pelajari dari akademi pedang suci jauh lebih hebat." Sedikit komentar dari Salim.


"Terimakasih lagi untuk pujian anda senior Salim, tapi aku belum selesai."


Gerakan pedang Sania bertambah cepat, Raynor jelas mengajarkan banyak hal, tidak hanya teknik dunia beku abadi, tapi juga teknik berpedang.


Dia mengalirkan energi dingin di kaki, bergerak menghindar dengan mudah, bahkan Salim tidak menyangka jika Sania memanfaatkan licinnya tanah yang dia ubah dengan kekuatan beku untuk berseluncur.


Salim segera melompat mundur karena dia tidak bisa mengikuti kecepatan Sania yang bersiap menyerang dari belakang.


"Oh, dia memiliki kemampuan untuk menghadapi Salim rupanya dan membuatnya mundur." Satu murid akademi pedang suci yang melihat pun mengakui.

__ADS_1


"Tapi kakak Jiang Wei, apa mungkin kakak Salim sengaja mengalah dan tidak serius untuk melawan nona Sania ini." Balas satu murid lain yang berdiri tepat di belakang.


"Kau masih harus banyak belajar dari pengalaman Wing Su."


"Kenapa kakak yakin itu kekalahan kak Salim."


"Jelas Salim menganggap remeh Sania, dia tidak menyangka Sania akan bergerak ke belakangnya, sehingga tidak ada kesempatan untuk Salim menangkis dan memilih mundur." Jawab Jiang Wei.


Jiang Wei yang menyadari kesalahan Salim tentunya memiliki lebih banyak pengalaman dalam bertarung dari kedua saudara seperguruannya.


Kembali ke pertarungan Sania dan Salim di gerakan kedua.


Salim mengingat kesalahannya dimana dia terlalu meremehkan Sania, menunjukan sorot mata serius karena jika dia dikalahkan oleh Sania, harga diri sebagai murid akademi pedang suci akan jatuh.


Kabut putih menyebar di sekeliling Sania, dia jelas tidak berniat kalah meski ini hanya sekedar latih tanding dan menggunakan energi dingin dalam gerakan kedua.


Keduanya maju dengan laju serangan energi yang keluar dari masing-masing senjata, kobaran api milik Salim membentur pedang es milik Sania.


Tapi Salim tidak menyangka energi dingin yang Sania gunakan mampu memadamkan api dari senjatanya, semakin kuat dan hampir menyentuh tangan Salim.


"Berhenti sampai disini." Ucap Jiang Wei yang menggunakan energi tenaga dalamnya.


Kekuatan yang dimunculkan oleh Jiang Wei jelas bukan buatan, itu adalah energi angin untuk memisahkan Sania dan Salim.


"Kakak Jiang, kenapa kau mengganggu ku." Salim merasa tidak senang.


Jiang Wei berjalan kedepan senyum yang tersirat di wajah itu secara tegas menunjukkan kekecewaan...."Jangan dibawa serius Salim, ini hanya sebuah latih tanding jadi santai saja."


"Tapi...."


Salim ingin membalas perkataan Jiang Wei, tapi menatap sorot mata yang di tunjukkan, dia pun seketika diam di tempat.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu Salim ?." Bertanya Jiang Wei.


"Tidak kakak, maaf." Tapi cepat Salim membungkuk.


"Baguslah kalau kau mengerti."


Jiang Wei kini menghadap ke arah Sania dengan tersenyum palsunya.


"Nona, aku anggap anda layak untuk memasuki akademi pedang suci, besok kita akan pergi dan kau bersiap-siap lah." Ucap Jiang Wei mengakhiri pertarungan mereka berdua.


"Baik senior."

__ADS_1


Ketiga murid akademi pun undur diri, mereka keluar dari klan harimau merah untuk kembali ke penginapan.


__ADS_2