
Mata merah yang bersinar itu menampakkan wujudnya, memang benar raja ikan julung-julung memiliki tubuh setidaknya lebih dari lima belas meter, dua tanduk tajam di depan kepala, dan sirip seperti pedang.
Raynor semakin tertarik untuk menangkap binatang iblis ikan julung-julung dalam tingkat raja ini. Batu kristal yang dimiliki oleh makhluk yang sudah membuka kecerdasan spiritual sangatlah kuat, karena mereka telah menyerap energi alam di dalam danau Cicaban selama ratusan tahun.
"Sungguh manusia hina, kau harus tahu tempat untuk menaruh kesombongan yang kau miliki dihadapan sang raja, sejak ratusan tahun aku mendiami danau Cicaban, hanya kau satu-satunya orang datang untuk menantang ku."
"Itu artinya, kau mengganggap tidak ada yang lebih kuat darimu, jadi kau akan tahu seberapa sombong aku membuktikan diri, bahwa kau tidak pantas di panggil raja."
Raynor menjawab apa yang dikatakan oleh raja ikan julung-julung itu.
"Dan juga, sekarang aku yakin, aroma tidak sedap yang mengotori tempat ini berasal darimu."
"Jangan seenaknya menuduh ku, sejak aku memasuki danau Cicaban ini, aku tidak membuang kotoran apa pun, mungkin itu karena kau mencium bau mulutmu sendiri."
Raynor tidak menyukai sikap ikan julung-julung itu yang seenak jidat main tuduh, mengatakan jika dirinya adalah membuang kotoran didalam air.
'Siapa juga orang yang buang hajat di dalam air, apa dia tidak punya otak, karena mencemari lingkungan.'
"Tidak perduli apa alasanmu, kau harus membayar karena sudah mengambil energi alam di tempat ini."
Dengan kecepatan tinggi raja ikan julung-julung melesat lurus untuk mengarahkan dua tanduk dikepalanya kepada Raynor.
Melapisi kedua tangan dengan tenaga dalam, tanpa membuka kekuatan penguasa tertinggi, Raynor menahan serangan kepala pedang raja ikan itu dengan pedangnya sebagai perisai.
Benturan keras antara tanduk raja ikan julung-julung dan pedang besar milik Raynor mengeluarkan gelombang energi kuat sehingga mampu mendorong mundur Raynor cukup jauh.
Meski Raynor sekarang adalah raja tempur, tapi kondisi tubuh setelah mendapat peningkatan tenaga dalam masih belum sepenuhnya sempurna. Terlebih lagi di habitat asli ikan julung-julung, dimana kekuatan binatang iblis ikan di dalam sangat berbahaya.
Raynor menerima serangan langsung sebelum bersiap menangkisnya, dia terbawa oleh raja ikan julung-julung keatas permukaan danau Cicaban.
Jika dia hanya seorang manusia biasa dengan kekuatan raja tempur sekali pun, mengalahkan raja ikan julung-julung di dalam air sangat sulit bahkan mustahil.
Mencoba melepaskan diri dari serangan ikan julung-julung, tapi tubuh Raynor diangkat naik hingga mencapai permukaan dari danau Cicaban.
Dia di lempar jauh hingga menghantam tanah dan berguling di pinggiran danau, meski tidak ada luka fatal, tapi ini pertama kalinya Raynor terlempar jauh karena seekor binatang iblis.
Tidak jauh dari tempatnya Raynor ada beberapa orang yang melihat terkejut.
"Oi, apa kau baik-baik saja." Ucapnya selagi mendekat.
__ADS_1
"Si*al, jika di dalam air, kekuatan fisikku seakan tidak berguna." Ucap Raynor selagi membersihkan diri dari semua pasir di baju.
"Syukurlah kau selamat, apa kau terluka ?."
"Oh, tidak apa-apa, aku tidak terluka, jadi jangan khawatir paman." Jawab Raynor melihat lelaki itu ada di sampingnya.
"Ini jelas tidak baik, jika raja ikan julung-julung itu muncul, ujian harusnya dihentikan."
"Kenapa harus di hentikan, jelas ini adalah salah satu hal seru didalam ujian."
"Seru kepala kau kotak-kotak, tidak ada yang bisa mengalahkan raja ikan julung-julung itu, dan mungkin semua peserta ujian akan tewas karenanya."
"Jangan khawatir, karena aku akan membunuh ikan julung-julung itu." Balas Raynor.
"Apa kau sudah tidak waras, para guru besar sekte teratai api sendiri belum cukup mampu mengalahkannya."
"Kalau begitu, jelas aku lebih kuat dari para guru besar."
Raynor berjalan kembali mendekati tepian danau, dia mengambil pedang yang ikut terlempar oleh raja ikan julung-julung itu. Meski pedang miliknya sangat berat, tapi di dalam danau tekanan air membuat berat pedangnya di kurangi.
Dari atas tempat guru pengawas, ketiga guru besar hanya melihat kondisi danau Cicaban yang kini sangat kacau. Ketiga guru besar pun langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kenapa raja ikan julung-julung keluar." Saproni berteriak terkejut dengan sosok ikan bertubuh 15 meter muncul ke permukaan.
"Apa ada orang yang main buang hajat di dalam danau, dan membuatnya marah." Juminem memikirkan kemungkinan yang ada.
"Sudah lama aku tidak melihatnya muncul ke permukaan, raja ikan julung-julung itu terlalu banyak menikmati waktu dengan bersantai di dalam danau." Gundira tampak santai melihat kemunculan raja ikan julung-julung sambari mengelus janggut putihnya.
"Kenapa kau tenang begitu Gundira, jika semua peserta mati, kita tidak medapatkan murid tahun ini." Juminem pun menjadi kesal karena sikap Gundira yang terlihat santai.
"Juminem, jangan khawatir, anggap saja ini menjadi salah satu tantangan dalam ujian." Balas Gundira.
Di sisi lain... Pangeran Erdan berenang sekencang mungkin agar lepas dari serangan binatang iblis raja ikan julung-julung. Tapi sial untuknya, karena makhluk itu mengincar sang pangeran yang hampir sampai ke tepian danau.
Erdan ketakutan setengah mati, dia menggunakan sisa kekuatan yang dimiliki untuk berenang lebih kencang lagi. Hanya saja raja ikan julung-julung memiliki gerakan yang melesat lebih cepat.
"Pangeran cepat, ikan itu sudah membuka mulutnya." Salah satu bawahan Erdan hanya bersorak memberi semangat.
"Diam kau, aku sudah tidak kuat lagi." Erdan berteriak kesal selagi mengayuh tangan dengan sisa-sisa tenaga.
__ADS_1
Tepat sebelum pangeran Erdan menjadi santapan raja ikan julung-julung, Raynor melompat dan berada di atas tubuhnya. Mengayunkan pedang yang sudah terisi penuh dengan energi tenaga dalam ke tubuh makhluk itu.
Terhempas jauh tubuh raja ikan setelah menerima ledakan gelombang energi dan mendapat luka besar yang mengelupas kulit hingga berdarah-darah.
Melihat kedatangan Raynor, pangeran Erdan benar-benar bersyukur karena jelas Raynor sudah menyelamatkan dirinya.
Hanya saja Raynor tidak berniat menyapa pangeran Erdan, dia segera masuk ke dalam danau untuk mengejar raja ikan julung-julung.
Salah satu bawahan Erdan mengulurkan tangan dan membantunya naik ke tepi danau.
"Pangeran apa kau baik-baik saja."
"Ya aku baik-baik saja, tapi dimana Erdian."
"Aku tidak melihat putri Erdian, apa mungkin putri masih di dalam danau."
"Apa !!!." Pangeran Erdan jelas terkejut...."Aku harus menyelamatkan Erdian."
"Jangan pangeran, situasinya terlalu berbahaya, bagaimana jika anda terluka, apa yang harus aku katakan kepada raja nanti."
"Itu tidak penting, adikku dalam bahaya."
Meski Pangeran berniat untuk kembali turun ke dalam danau, para bawahan segera menghentikannya, bagaimana pun juga Erdan adalah pangeran mahkota yang akan menggantikan posisi sebagai Raja.
Nyawa pangeran Erdan jauh lebih penting, meski pun mereka tahu bahwa Putri Erdian berada dalam bahaya.
Raynor terus menyelam dan mengejar Raja ikan julung-julung yang berniat meloloskan diri darinya, tapi Raynor tidak mungkin melepas harta karun di depan mata.
"Manusia ini sangat kuat, aku tidak mampu mengalahkannya dengan tubuh yang terluka." Raja ikan pun memiliki insting untuk kabur dari Raynor.
Kekuatan dari serangan pedang Raynor membuat luka besar di sekitar siripnya dan tahu kalau Raynor masih mengejar. Kecepatan seekor ikan memang tidak bisa di lawan oleh manusia, tapi karena luka itu, tubuh raja ikan tidak mampu bergerak leluasa.
"Aku merasakan ada satu manusia di bawah, jika aku bisa memakannya, tubuhku akan pulih."
Tepat di sekitar raja ikan melihat sesosok manusia terjepit diantara bebatuan dasar danau.
Dia adalah putri Erdian yang berusaha melepaskan diri namun kekuatannya tidak cukup untuk menggeser batu itu.
Wajah putri Erdian penuh rasa takut ketika sosok raja ikan julung-julung datang ke arahnya, tidak bisa menghindar dan tidak bisa melawan hanya pasrah untuk menerima nasib.
__ADS_1