
Phoenix biru tidak bisa berlama-lama untuk menggunakan tubuh Sania, karena menyetabilkan kesadarannya membutuhkan energi cukup banyak.
Hingga tatapan mata lembut dengan aura sejuk yang biasa Raynor lihat di wajah Saina telah kembali, membuat dia sadar kalau Sania kembali kedalam tubuhnya lagi .
Kehadiran jiwa Phoenix itu yang membuat Sania seakan memiliki dua kepribadian, dimana terkadang saling bertukar posisi ketika Phoenix marah dengan orang seperti Darnu.
"Ray, apa yang terjadi sebenarnya." Bertanya Sania.
"Tidak terjadi apa pun, hanya meluruskan sedikit kesalahpahaman antara aku dan Phoenix." Jawab Raynor.
"Memang apa yang salah dengan Wilea ?."
"Siapa Wilea ?."
"Itu nama Phoenix yang kau sebutkan tadi." Balas Sania.
"Kau benar, aku lupa untuk berkenalan dengannya, jadi namanya Wilea."
"Untuk pertama kalinya Wilea marah kepada seseorang selain Darnu, tapi jika itu Darnu, aku cukup paham kenapa Wilea marah."
"Aku juga paham jika itu berurusan dengan Darnu, tapi ngomong-ngomong, sejak kapan Wilea muncul didalam jiwamu Nia." Kini balik Raynor yang bertanya.
"Sekitar empat tahun lalu, itu tiba-tiba saja, aku bahkan sempat bingung, karena awalnya Wilea hanya muncul di dalam mimpi, tapi aku sadar sesekali dia mengendalikan tubuh ku." Jawab Sania.
"Apa ada orang lain yang tahu soal Wilea."
"Aku pernah bercerita kepada ayah, tapi ayah atau pun saudara yang lain tidak paham dengan penjelasan ku."
Jelas ada kebingungan dari Sania, karena sejak pertarungannya dengan Wilea, kesadaran Sania di tekan begitu dalam hingga dia tidak bisa melihat apa pun.
Termasuk percakapan Raynor dan Wilea perihal kehidupan dirinya sebagai penguasa alam semesta atas dan melakukan renkarnasi. Tapi tidak ada niat untuk Raynor membicarakan rahasia itu kepada Sania.
"Aku bertanya-tanya kenapa Wilea begitu marah dan ingin membunuh mu Ray."
"Aku memahami kenapa dia marah, semua dikarenakan ingin melindungi diri, Wilea adalah satu kehadiran istimewa yang mungkin bisa membawa masalah kepadamu." Jawab Raynor.
"Padahal aku tidak pernah menganggap Wilea membawa masalah."
"Itulah kenyataannya, aku cukup yakin jika ada orang lain tahu kau memiliki jiwa Phoenix, mereka akan melakukan segala hal untuk mendapatkannya."
Sania kini tahu alasan kenapa saat Raynor datang, Wilea menunjukkan niat membunuh begitu kuat, bahkan dia sendiri cukup takut jika Raynor benar-benar akan tewas.
Tapi untuk semua kesalahpahaman itu, Raynor masih sehat walafiat, bahkan tidak terlihat jika ada luka goresan dari setiap dengan Wilea.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau kau menjadi sangat kuat, Ray."
"Kau tidak perlu memuji Nia, sebenarnya jika kau mampu mengendalikan jiwa Phoenix dari Wilea, di dunia ini tidak ada satu orang pun mampu mengalahkan mu." Raynor mengakui kekuatan Phoenix.
"Apakah itu benar ?." Seakan Sania tidak percaya.
"Apa kau meragukan perkataan ku ?."
"Bukan begitu, tapi jika kau mengatakan tidak ada yang mampu mengalahkan ku, bagaimana dengan para ahli beladiri tingkat Saint dan immortal, mereka adalah yang terkuat." Sania memiliki alasan, dimana di dunia ini kekuatan setingkat dewa tidak pernah disebutkan.
"Ketika kau menguasai jiwa Phoenix dengan sempurna, para saint dan immortal itu tidak lebih dari seujung jarimu." Jawab Raynor sedikit sombong.
Ada kekaguman di sorot mata Sania, meski pun dia masih belum yakin dengan ucapan Raynor, dimana Raynor tidak lebih seorang anak yang belum menginjak usia dua puluh tahun.
Hanya saja Sania tidak tahu apa pun soal jiwa Phoenix biru di dalam tubuhnya, jika orang tahu kekuatan binatang dewa itu sangatlah luar biasa, dan Sania mampu melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, namanya akan membuat alam semesta atas berguncang.
"Ini sudah terlalu larut, sebaiknya kita pulang Nia."
Sania mengangguk perlahan dan menggandeng tangan Raynor untuk pulang bersama...."Ya benar, tapi bagaimana kita akan pulang."
"Memang kau berharap kita akan terbang ?." Jawab Raynor.
"Tidak, tapi batu cahaya yang aku bawa sudah kehabisan energi..."
"Itu hebat..."
'Hanya dengan ini saja kau mengatakan hebat, bagaimana jika aku menggunakan kekuatan penguasa tertinggi untuk mengubah malam menjadi siang.'
Hutan yang gelap cukup sulit melihat tanpa bantuan batu cahaya karena sudah habis energinya. Tapi itu membuat Sania semakin dekat dan tanpa sengaja pula Raynor menyentuh sesuatu yang menyenangkan.
"Nia sebaiknya kau jangan terlalu dekat." Raynor merasa tidak nyaman.
"Kenapa Ray ?, Disini sangat gelap."
"Aku tidak bisa berkonsentrasi jika kau terlalu dekat."
Tapi sebaliknya, Sania semakin erat untuk mendekatkan diri kepada Raynor..."Apa kau berniat meninggalkan ku."
"Tentu saja tidak, tapi... Terserah lah, aku juga tidak rugi."
Banyak hal yang tidak bisa Sania jelaskan tentang kehadiran Raynor, ingatan tentang seorang anak kecil di desa Maresha, kini berubah menakjubkan seakan tahu banyak hal.
Hingga memasuki kediaman Klan harimau merah, Raynor menyadari akan dua kehadiran yang bersembunyi di balik semak-semak. Nyatanya, dari ruang tanpa batas Raynor sudah tahu siapa yang berada di dalam semak-semak, mereka adalah Suwarto dan Ronayah.
__ADS_1
'Apa mereka tidak tahu kapan harus berhenti, ini sudah lebih dari tengah malam.'
Sania yang cukup penasaran dengan sesuatu di balik semak-semak itu, dia segera pergi untuk melihat, berjalan perlahan ketika Raynor tidak mengawasinya.
Tapi belum sempat Sania melihat, Raynor segera menutup mata Sania, karena dua orang itu sedang melakukan adegan 20+, ini jelas tidak baik untuk Sania yang belum mencapai usia dewasa.
"Apa yang kau lakukan." Bisik Raynor karena dia tidak ingin mengganggu kegiatan Suwarto dan Ronayah.
"Ray memang apa yang terjadi ..."
"Sudah diam, kau tidak boleh melihat hal seperti ini, khusus orang dewasa saja." Jawab Raynor membuat Sania penasaran.
"Kau dan aku sebaya, tapi kenapa aku tidak boleh melihat."
"Tidak perlu kau sebutkan, dan juga itu hanya dua ekor kucing yang sedang kawin."
"Kalau begitu kenapa aku tidak boleh lihat."
"Ya kau tahu, kucingnya besar dan jenggotan pula." Asal saja Raynor mencari alasan.
"Aku ingin lihat, aku tidak tahu kalau ada kucing yang memiliki jenggot." Sania memberontak.
"Sudahlah jangan ganggu dua kucing itu, sebaiknya kita segera kembali."
Walau penasaran, Raynor membawa pergi Sania dengan paksa dan juga tangan masih menutupi matanya agar dia tidak melihat.
Berada di bawah jendela kamar Sania, Raynor tidak pergi begitu saja, karena ada hal lain yang ingin dibicarakan.
"Nia karena aku tahu tentang Wilea, jadi ini adalah rahasia kita berdua, jangan katakan kepada orang lain." Pinta Raynor.
"Ya aku mengerti Ray."
"Dan juga aku akan memberi sedikit latihan agar kau bisa memaksimalkan potensi dari kekuatan milik Wilea." Raynor menunjukan ekspresi wajah serius.
"Bagaimana caranya ?."
"Kita lihat saja besok."
Raynor pun berjalan kembali ke kamarnya melalui jendela.
Dia sudah berjanji kepada Wilea atau jiwa Phoenix biru agar membawanya hingga ke tingkat dewa yang mulia, tentu bukan perjalanan mudah, tapi bukan pula hal yang mustahil.
Tapi alasan lain atas janji Raynor adalah jika Wilea tidak membentuk tubuh baru sebagai wadah jiwanya, dia takut kalau jiwa Sania akan termakan dan lenyap digantikan oleh sang Phoenix.
__ADS_1