The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
wujud Phoenix


__ADS_3

Sania menarik pedang ramping berwarna biru, itu adalah sebuah pedang dari bahan platinum, tentu soal harga terbilang sangat mahal, tapi Regar benar-benar memanjakan Sania untuk mendukung bakatnya.


Tapi Raynor juga tidak bertarung dengan tangan kosong, dia mengeluarkan pedang besar yang akan digunakan. Sania tentu tahu bagaimana kekuatan dan kemampuan pedang milik Raynor, selain kemampuan unik untuk menghasilkan ledakan energi tenaga dalam, berat pedang itu sendiri sudah menjadi masalah.


"Apa kalian berdua siap ?." Wasit bertanya.


"Aku siap." Jawab Sania.


"Begitu juga denganku." Raynor pun sama.


Wasit pun memulai pertarungan antara Raynor dan Sania.


Dimana Sania mengawali pergerakan untuk melepas serangan energi dingin yang merambat lurus dari lantai arena menuju tempat Raynor.


Mempertahankan diri dengan menjadikan pedangnya sebagai tameng, Raynor memperkuat kuda-kuda pertahanan ketika menghalau laju duri-duri es yang datang.


Sania adalah seorang ahli beladiri tingkat raja tempur tahap awal, ditambah lagi dengan kemampuan teknik dunia beku abadi, bisa dikatakan dia sudah cukup mampu mengimbangi kekuatan para ahli beladiri raja tempur tahap akhir.


"Kau benar-benar belajar untuk menguasai teknik dunia beku abadi Nia." Puji Raynor.


"Karena kau sendiri yang mengatakan jika kemampuan dunia beku abadi sangatlah luar biasa, jadi aku tidak main-main mempelajarinya."


"Ya itu bagus, tapi naif jika hanya dengan kemampuan serendah ini untuk melawan ku."


"Tentu saja tidak, aku juga bisa melakukan hal lain." Sania bersiap melepas kekuatannya.


Dari balik kabut dingin yang menyelimuti seluruh arena, pandangan mata semua orang tentu tidak bisa memastikan apa dibaliknya. Dimana duri-duri tajam terbang ke arah Raynor.


Tapi sayangnya, Sania tidak mengetahui tentang kemampuan ruang tanpa batas, dimana pergerakan menjadi lambat di mata Raynor, mengambil posisi untuk menghindari satu persatu duri tanpa kesulitan.


Dari balik kabut itu, Raynor tahu jika Sania terkejut, dimana semua sangat cepat, bahkan jika mereka memiliki refleks yang baik dalam menghindar, tidak mungkin bisa lolos tanpa luka gores.


Sania terkejut...."Tidak mungkin, bagaimana caramu melakukannya Ray."


"Ada banyak hal yang tidak kau ketahui dan aku tidak akan memberitahu mu soal kemampuan rahasia ini." Balas Raynor.


"Itu seperti kau bisa melihat masa depan." Tentu Sania berpikir demikian karena dia cukup yakin bahwa kesempatan Raynor menghindar adalah hal mustahil.


"Bicara soal masa depan, apa yang akan kau lakukan setelah festival ini berakhir Nia." Tapi Raynor bertanya hal lain.


"Kenapa kau bertanya di saat pertarungan kita."


Meski terdengar santai untuk mereka saling bercakap-cakap, tapi setiap serangan Sania datang tanpa henti dan Raynor masih menghindar dengan mudah.

__ADS_1


"Memang apa yang salah, aku hanya ingin tahu, apa kau akan pergi ke sekte teratai api untuk berlatih lebih dalam lagi."


"Ayah sudah mendaftarkan aku untuk pergi ke Akademi pedang suci, disana memiliki guru terbaik yang ada di benua angin biru." Jawab Sania.


"Begitu kah."


"Lantas bagaimana denganmu." Kini balik Sania bertanya.


"Mungkin aku akan ke sekte teratai api."


"Bukankah masuk ke akademi pedang suci jauh lebih menjanjikan, apa lagi kau memiliki bakat tinggi, Ray." Sania mengakui kemampuan Raynor.


Soal bakat atau pemahaman dalam dunia beladiri, Raynor tidak kekurangan apa pun, bahkan jika harus di sandingkan dengan para penjaga benua yang katanya adalah ahli beladiri tingkat saint suci atau immortal, penguasa tertinggi berada jauh di atas mereka.


"Mungkin karena aku sedikit penasaran dengan kehidupan Ayahku di sekte teratai api."


"Ehhh, kenapa bisa begitu." Sania merasa enggan dengan alasan Raynor.


Senyum Raynor menggoda Sania..."Apa mungkin sebenarnya kau tidak mau jauh dari ku, benar begitu Nia."


"Itu tidak benar, kau terlalu percaya diri mengatakannya." Balas Sania dengan wajah merah malu-malu.


Setiap orang yang ada di bangku penonton dan wasit yang mengawasi pertarungan mereka benar-benar menunjukkan wajah datar. Karena bagaimanapun Raynor dan Sania tidak seperti orang berkelahi dimana biasanya mereka akan adu pukul, adu jurus, adu mulut, saling provokasi, saling mengejek nama orang tua masing-masing.


"Diam kau, ini urusan ku jangan ikut campur." Raynor membalas dengan menunjuk kesal.


"Kau berani menantang ku, turun biar aku hajar kau."


Raynor terbawa emosi..."Memang aku takut."


Tapi segera Sania muncul untuk menghentikan Raynor yang mungkin benar-benar turun dan meladeni ucapan mereka.


"Sudah Ray, jangan urusi dia, kita sedang bertarung sekarang."


"Ya kau benar."


Sania kembali menyerang dengan bunga Es yang mekar besar dan hampir menutupi seluruh arena, termasuk membuat kaki Raynor ikut terkena energi bekunya.


Segera Raynor memunculkan kobaran api dari teknik pengendalian jiwa raja harimau membakar dan menghancurkan setiap duri es di sekitar Raynor.


Menarik pedangnya untuk diayunkan, batu kristal yang sudah terisi penuh meledak untuk menghancurkan seluruh bunga Es milik Sania.


Tubuh Sania terdorong dan hampir jatuh ke samping arena, jika bukan karena dinding Es yang menahan punggungnya tentu dia sudah keluar.

__ADS_1


"Aku tahu Ray, kau tidak benar-benar bertarung sekuat tenaga saat ini." Sania menyadarinya.


"Ya mau bagaimana lagi, jika aku lakukan itu maka kau akan kalah dengan mudah."


Wajah Sania berubah kesal..."Memang apa salahnya dengan kalah, kau terlalu meremehkan ku, Ray."


"Daripada meremehkan, aku lebih suka menyebutnya dengan istilah menghormati mu."


"Menghormati dari mana, jika kau serius maka serang aku dengan sekuat tenaga."


Sania benar-benar marah karena sikap Raynor, dia jelas enggan menyakiti seorang wanita yang dikenakannya dengan baik. Hanya saja kemarahan itu di tunjukan dengan selimut energi dingin membentuk wujud Phoenix.


Teriakan keras burung biru menyelimuti langit di atas kepala, orang-orang terkejut bukan main ketika mereka melihat wujud Phoenix itu muncul dari Sania.


Yuran yang ada di sebelah Regar melongo...."Tuan Regar, bukankah itu, Phoenix."


"Tidak mungkin, Phoenix adalah binatang dewa yang hanya ada didalam dongeng." Balas Regar.


"Tapi jelas-jelas itu adalah Phoenix."


Bagi mereka di dunia ini sosok Phoenix hanya hadir dalam dongeng, tidak sekali pun ada yang melihatnya secara langsung, oleh karena itu, kemunculan wujud Phoenix di tubuh Sania adalah kehebohan luar biasa.


Sedangkan Raja Sura menggeleng kepala seakan tidak percaya.. "Setelah kejadian muncul kekuatan luar biasa dari Raynor, kini muncul wujud Phoenix dari Sania, apa-apaan dengan keluarga mu Regar."


"Aku pun tidak tahu, jangan bertanya kepadaku."


"Apa mungkin, jangan-jangan kau juga..." Serius Sura bertanya.


"Aku juga kenapa ?. Kau pikir aku jelmaan siluman harimau." Balas Regar tidak nyaman dengan isi pikiran raja Sura.


"Itu bisa jadi." Dia mengangguk setuju.


"Jangan berharap lebih, aku hanya manusia biasa."


"Begitukah ?." Masih tetap raja Sura tidak percaya.


Tapi tetap raja Sura melirik kembali ke arah Regar dengan wajah penasaran.


"Sudah aku katakan, aku bukan jelmaan siluman harimau." Balas Regar kesal.


"Siapa yang tahu."


Kemunculan wujud Phoenix adalah tingkat lanjut dari pencapaian Sania dalam memahami kekuatan sang Phoenix. Bahkan ketika Sania mampu mencapai tahap lebih tinggi lagi, dia akan secara utuh mendapatkan wujud dari Phoenix biru.

__ADS_1


__ADS_2