
Malam hari telah datang....
Nyonya Menear yang sibuk membersihkan meja, kini melihat Erza kembali dari pekerjaannya lebih cepat.
"Kau sudah pulang Erza."
"Iya nyonya." Jawab Erza dengan lemas.
Nyonya Menear melihat raut wajah Erza yang murung, tidak ada senyuman seperti kemarin, atau lebih tepatnya, Erza sedang bingung memikirkan sesuatu dan nyonya Menear tahu akan hal itu.
"Apa yang terjadi ?." Menarik tangan Erza sebelum pergi ke kamarnya.
Erza hanya diam tidak menjawab apa pun dari pertanyaan Nyonya Menear.
"Katakan apa yang terjadi Erza ?." Nyonya Menear memaksa.
Dia adalah tipe orang yang perhatian kepada siapa pun, meski memiliki sifat keras dan perhitungan, tapi sang wanita paruh baya pemilik penginapan ini tidak mungkin membiarkan orang seperti Erza di sakiti.
"Jangan membohongi ku, kau sudah tahu aku cukup ahli untuk melihat wajah seseorang, dan aku pun sadar kau tidak sedang baik-baik saja."
"Tapi menang tidak terjadi apa pun nyonya." Erza masih membantah.
"Apa kau di tolak oleh lelaki itu, katakan saja padaku Erza, biar aku datangi rumahnya dan aku seret dia kemari."
"Sungguh, tidak ada hubungan apa pun dengannya."
"Baiklah jika kau bersikeras. Tapi misalkan ada masalah, kau bisa cerita kepadaku, aku akan membantumu." Nyonya Menear tidak bisa menekan Erza terlalu keras.
"Terimakasih nyonya." Jawab Erza dengan menundukkan wajah.
Erza pun berjalan naik ke lantai dua dan masuk ke kamar. Hal pertama yang dia lakukan adalah membersihkan diri setelah berkeringat seharian di depan tungku bara api.
Melihat kearah cermin, tatapan mata tajam untuk dirinya sendiri, rambut pendek yang dianggap tidak feminin adalah sebagai bukti bahwa Erza susah menghilangkan sifat wanitanya.
Setelah selesai Erza segera mencari pakaian dan merapikan diri, membaringkan tubuh ke atas ranjang dengan semua kegelisahannya mengenai Raynor.
"Bagaimana caranya aku mengatakan ini kepada ketua, tidak bukan itu... Aku hanya tidak ingin Raynor dalam masalah karena ku." Gumam Erza sendirian.
__ADS_1
Seakan semua menjadi serba salah, berbaring ke kiri salah, berbaring ke kanan salah, tengkurap atau pun telentang seakan tidak ada bedanya, isi pikiran Erza sekarang adalah untuk melepaskan diri dari para bandit tanpa melibatkan Raynor.
"Kenapa kau mencari masalah dengan para bandit itu Raynor, memang kau seorang pahlawan yang datang membantu orang dalam kesulitan." Kesal Erza bicara sendiri.
Sejenak Erza sadar, jika memang seperti itulah sikap Raynor, dia bukan pahlawan atau sosok dermawan yang baik hati, tapi Raynor juga sudah menyelamatkan dirinya agar hidup lebih baik.
"Untuk sekarang aku harus mencari alasan agar para bandit itu tidak mengincar Raynor, dan juga gambar yang mereka berikan berbeda dari wajahnya."
Erza pun memutuskan untuk pergi ke tempat markas para bandit agar bisa menjelaskan alasan yang tepat, demi melepas Raynor dari masalah.
*******
Sebelumnya...
Raynor mengikuti Erza ketika berjalan pergi ke pinggiran kota kerajaan Losborn dan menuju sebuah rumah susun dua tingkat yang menjadi penginapan tempatnya tinggal sekarang.
Sedangkan di sisi lain, Raynor berjalan mengikuti Erza ratusan meter cukup jauh dari tempatnya, tanpa perlu mengendap-endap, atau bersembunyi dibalik dinding pertokoan sekitar.
Tidak jauh dari penginapan, Raynor mengambil satu tempat duduk di warung makan.
"Tuan apa anda mau pesan sesuatu." Bertanya seseorang yang mendekati meja Raynor.
"Maaf, jika memang tidak ingin pesan makanan atau minuman, kami tidak bisa membiarkan Anda di sini."
Tentu Raynor merasa tersinggung karena dianggap oleh pemilik warung dia hanya numpang duduk tanpa berniat membeli apa pun, itu sudah membuatnya rugi, rugi waktu untuk mengurusi orang seperti dirinya.
"Baiklah, bawa makanan apa pun yang kau miliki." Raynor mengeluarkan sekeping koin emas yang dia lempar untuk menutup mulut pemilik warung itu.
"Tentu saja tuan, silakan menunggu."
Raynor sudah sangat ahli dalam menghilangkan aura kehadiran agar tidak diketahui oleh Erza atau orang lain, termasuk dirinya pula memiliki kemampuan ruang tanpa batas.
Siapa pun yang berada di dalam jangkauan ruang tanpa batas tidak akan lolos dari pantauan Raynor, sehingga dia cukup duduk santai sambil minum kopi, namun sudah mengetahui segala sesuatu dengan gambaran jelas di kepala.
Melihat gambaran Erza yang memasuki penginapan disambut oleh seorang wanita.
'Siapa wanita tua itu, aku merasakan tekanan energi tenaga dalam luar biasa darinya.' Gumam Raynor.
__ADS_1
Sedikit memastikan bahwa tidak ada yang salah dari ruang tanpa batas, karena Raynor ragu-ragu, bagaimana mungkin seorang wanita tua dengan kekuatan sedemikian besar hanya bertindak sebagai pemilik penginapan.
'Sepertinya memang benar, wanita tua itu menyamapi kakek Souza, seorang ahli beladiri tingkat lord tempur.'
Hanya berpikir jika wanita itu sedang menyembunyikan profil atau mungkin sudah pensiun dari dunia beladiri dan mendirikan penginapan untuk melanjutkan hidup.
Banyak alasan untuk dipikirkan oleh Raynor.
'Kenapa aku merasa tidak nyaman dengan wanita tua itu.' Pikir Raynor seakan ada orang yang memiliki niat membunuh kepadanya.
Tapi percakapan antara Erza dan wanita tua itu tidaklah lama, hanya seperti menyapa dan Erza pun pergi menuju kamar di lantai dua.
Cukup serius Raynor memperhatikan Erza yang ada di dalam kamar mandi.
'Bukan berarti aku tertarik yah... Hmmm, ya ini hanya untuk mengawasi, tidak ada hal lain.'
'Tapi... Ngomong-ngomong Erza memiliki tubuh yang bagus.'
Raynor tidak bisa berbohong ketika harus memuji seorang wanita.
Tanpa Raynor sadari ketika dia memastikan keamanan Erza lewat gambar di dalam pikirannya, sudah bertumpuk macam-macam makanan di atas meja.
Karena memang sejak siang Raynor terus menerus bekerja mengayunkan palu dan sampai malam hari tidak ada sesuatu masuk ke perutnya. Tentu ketika mencium aroma makanan dia merasa lapar.
Mengambil satu paha ayam iblis hutan yang ukuranya sama seperti lengan manusia, Raynor mulai menggigit dan mengunyah perlahan.
"Ini lumayan, paling tidak mereka memasaknya dengan matang." Raynor bukan orang yang pilah pilih makanan.
Kembali melihat ruang tanpa batas, kini Erza terlihat begitu gelisah seakan sedang memikirkan sesuatu. Bolak balik mencari posisi nyaman untuknya tidur.
'Apa dia sedang mengalami gangguan tidur.'
'Jika memang begitu, tidak aneh kalau kondisi Erza sedang kurang sehat.'
Hingga untuk banyak waktu yang dihabiskan sembari mengawasi Erza, lima ekor ayam iblis hutan telah lenyap.
"Apa aku terlalu mengkhawatirkannya." Pikir Raynor karena sudah satu jam Erza tidak pergi kemana pun.
__ADS_1
Dia hanya melakukan rutinitas biasa seperti mandi dan berbaring dengan gelisah, itu tidaklah aneh, bahkan yang aneh adalah Raynor sendiri. Karena banyak orang melihat dirinya sedang bicara sendirian.
Tapi tidak lama Erza kini berjalan keluar meninggalkan penginapan. Tentu Raynor tidak tinggal diam dan pergi mengikuti Erza kembali.