The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
beradu rangkaian formasi


__ADS_3

Keesokan harinya....


Ternyata arena lapangan yang berada di depan istana utama sudah dipenuhi oleh para Murid, entah itu dari bagian luar atau pun dalam. Mereka semua berdatangan untuk melihat bagaimana pertandingan Raynor dan Qiu Nan.


Melihat dari segi penampilan Qiu Nan yang menang cantik sudah dipastikan ada banyak pendukungnya, terlebih dia juga adalah sosok putri kerajaan dan pilar utama. Mereka tentu tidak menganggap penting sosok Raynor dan berharap agar dia segera mati saja.


Meski pun di tempat Siva, Erza Furan dan Xersas bersaudara menunjukkan sorak-sorai untuk menyemangati Raynor. Tapi itu hampir tidak terdengar karena suara pendukung Qiu Nan seperti orang gila.


"Ya aku sudah paham, tidak ada yang akan mendukung ku kecuali mereka berlima." Ucap Raynor bersedih.


Tapi melihat di balkon istana utama, ada tiga sosok yang duduk di atas kursi mewah, mereka adalah ketiga guru besar. Saproni, Juminem dan Gundira.


Begitu juga dengan sembilan pilar lain berdiri di belakang Tiga guru besar. Beberapa diantaranya Raynor kenal, Du Gong, Serin Sua, Yunai Salren, dan satu orang lagi Raynor lupa. Seperti biasa karena dia adalah lelaki.


Sedangkan yang lebih menyedihkan adalah kehadiran Jun, dia bersembunyi di balik tiang istana sembari melihat kepada Qiu Nan.


Raynor benar-benar merasa kasihan dengan lelaki itu, dia melihat seorang kekasih yang saat ini tidak pernah tahu bagaimana hubungan mereka sendiri.


Dari kerumunan penonton, satu sosok cantik berjalan naik dengan jubah biru yang menjadi simbol kemampuan seorang Shaman.


"Ternyata kau cukup bernyali untuk datang kemari Raynor."


"Aku tidak punya alasan untuk takut kepadamu. Kecuali kau lelaki yang menyukai sesama lelaki, aku lebih baik tidak bertemu denganmu dan pergi dari sekte ini." Balas Raynor.


"Kau benar-benar besar kepala Raynor, hanya karena guru besar Gundira mengakui mu, kau pikir bisa seenaknya sendiri."


Sebelum pertandingan dimulai, Raynor mengangkat tangan untuk berbicara terlebih dulu.


"Tapi tunggu putri Qiu Nan, aku tidak pernah menyukai sebuah pertandingan tanpa alasan." Ucap Raynor tersenyum sendiri.


"Alasan bagaimana yang kau maksud." Qiu Nan balik bertanya dengan bingung.


"Jadi begini, apa yang aku dapat jika bisa menang ?."


Qiu Nan tertawa...."Lucu sekali, kau merasa bisa menang ?."


"Apa salahnya bertanya. Jika itu cukup menggiurkan, aku memiliki alasan agar bisa menang."


"Itu tidak perlu. Jelas kau akan kalah."

__ADS_1


"Kalau begitu, aku lebih baik pergi." Raynor berniat turun dari arena.


Tidak peduli seberapa banyak orang yang akan mencemoohnya, atau menganggap dia sebagai pengecut, selama pertandingan antara mereka tidak memiliki keuntungan, Raynor menolak.


"Tunggu...." Qiu Nan menghentikan langkah Raynor.


Qiu Nan mengeluarkan sebuah lencana dari balik jubahnya. Semua orang tahu apa gunanya lencana itu, karena bagi siapa pun yang mendapatkannya mereka akan secara langsung masuk sebagai pilar utama.


"Jika kau menang, akan aku berikan lencana pilar utama kepadamu."


"Heeeh...." Terhembus nafas panjang dari Raynor.


"Tentu kau tertarik dengan ini ?."


"Aku tidak tertarik, benda itu tidak berguna untukku, jika harus memilih antara mendapat sepotong kue atau lencana itu, aku lebih memilih sepotong kue." Balas Raynor dengan malas.


Sejak awal dia benar-benar tidak menginginkan untuk menjadi pilar utama, bahkan secara khusus Raynor bisa menerima keinginan Gundira, tapi itu di olehnya.


"Jadi apa yang kau inginkan." Kini Qiu Nan bertanya.


Sejenak Raynor berpikir, kemudian menjawab ..."Bagaimana jika, kalau aku menang, kau harus pergi denganku untuk berjalan-jalan di kota Tegalasa."


Dari tempat penonton Erza berteriak keras.... "Apa-apaan kau Raynor, kau sudah memiliki aku dan Siva tapi kenapa kau malah mencari wanita lain."


Tentu Raynor bisa tahu jika itu suara Erza, tapi dia pura-pura tidak dengar.


"Putri Qiu Nan berjuanglah. Kalahkan lelaki hidung belang itu." Berbalik Erza mendukung Putri Qiu Nan.


"Hei. Kenapa kau malah mendukung lawan ku, dan juga hidungku tidak belang." Teriak Raynor membalas ucapan Erza.


Di sisi lain Qiu Nan ragu-ragu, tapi cepat wajahnya berubah dan tegas menjawab... "Baiklah. Aku terima keinginan mu, tapi jika kau benar-benar bisa mengalahkan ku."


"Terimakasih." Senyum penuh makna tersirat di wajah Raynor.


Seorang guru pengajar menjadi wasit. Dia datang untuk mempersiapkan pertandingan antara Raynor dan Qiu Nan.


"Dua ronde, pertama Raynor akan bertahan Qiu Nan menyerang. Kedua Raynor menyerang dan Qiu Nan bertahan."


Ketika pertandingan dimulai. Qiu Nan menggores lantai arena dengan tangan yang dialiri kekuatan tenaga dalam, dibentuklah sebuah pola lingkaran dan bermacam tulisan kuno yang menjadi rangkaian formasi serangan.

__ADS_1


Dia tidak menahan diri, sebuah perwujudan tiga tombak cukup besar, paling tidak itu dua kali lipat lebih besar dari tombak normal.


Dari tempat ketiga guru besar, Juminem tersenyum puas melihat kemampuan dari Qiu Nan sebagai muridnya secara langsung.


"Lihat kakak Gundira, Qiu Nan sudah mampu membentuk rangkaian formasi serangan yang harusnya baru di pelajari ketika dia berada di jubah hijau." Juminem jelas merasa bangga kepada Qiu Nan.


"Itu memang mengagumkan, aku akui Qiu Nan sangatlah berbakat. Tapi...."


"Tapi apa kakak ?."


Gundira menunjuk senyum penuh makna...."Kau akan melihat sendiri Juminem, ketika Raynor mulai membentuk rangkaian formasi miliknya."


Sedangkan Raynor tanpa perlu menggores lantai arena, hanya sebuah tangan maju ke depan dan bergerak tangannya seperti sedang melukis.


Hingga terbentuk gambar rangkaian formasi prasasti mengambang di udara. Seketika cahaya keemasan melebar membentuk kubah emas yang menutupi sekitar tempat Raynor berdiri.


Sebenarnya Juminem cukup kagum dengan cara Raynor membentuk rangkaian formasi tanpa perlu mengukir di lantai. Tapi ada kekecewaan terlihat di wajahnya, karena dia tahu, bahwa kubah emas itu adalah formasi prasasti tingkat dasar.


"Jika hanya rangkaian formasi dasar yang dia pakai, apa mungkin mampu menahan serangan milik Qiu Nan, kakak Gundira." Juminem sedikit mengejek.


Tapi santai Gundira, karena dia yakin bahwa Raynor tidak sesederhana itu menggunakan rangkaian formasi.


"Kita akan tahu hasilnya setelah kedua formasi itu saling beradu." Jawab Gundira merasa yakin.


Semua orang pun tertawa terbahak-bahak penuh semangat, melihat kemampuan yang Raynor pakai.


"Dia pikir hanya dengan formasi dasar kubah pelindung bisa menghentikan serangan putri Qiu Nan."


"Sekarang aku yakin jika dia hanya orang bodoh karena tidak tahu siapa lawan yang dia lawan."


"Pada akhirnya, semua yang dia katakan hanya omong kosong."


"Guru besar Gundira jelas menyesal karena membawanya masuk ke sekte teratai api ini."


Tentu mereka hanya tahu jika kubah emas yang Raynor munculkan hanya sebuah rangkaian formasi dasar. Tapi jelas ini berbeda, dia sudah mengubah struktur rangkaian dasar ke tingkat lebih tinggi.


"Baiklah Raynor, jangan menyesal karena sudah seenaknya sendiri di depanku. Mati kau." Qiu Nan menunjukkan niat dan aura membunuh kepada Raynor.


Qiu Nan mengayunkan tangan, mengendalikan satu tombak untuk melesat ke arah kubah pelindung milik Raynor, benturan antara dua kekuatan membentuk kilat yang menyambar ke lantai arena.

__ADS_1


__ADS_2