
Raynor dan Erdian kembali ke tempat ujian bagi para peserta didik baru sekte teratai api bersama Gundira. Sebagian besar peserta menujukan ekspresi wajah ketakutan dan mendapat luka di tubuh mereka meski itu tidak parah.
Mendekat beberapa orang ke tempat Raynor, tentunya mereka adalah Erza, Siva dan Furan yang sejak kemunculan raja ikan julung-julung sudah harap-harap cemas dengan keadaan Raynor.
"Raynor apa kau baik-baik saja ." Cepat Siva bicara sebelum Erza mengatakan hal yang sama.
"Sedikit baik, tapi aku harus kehilangan pakaianku." Jawab Raynor karena sekarang dia hanya menggunakan secarik kain yang diberikan Gundira.
"Karena bertarung dengan raja ikan julung-julung tadi." Furan pun bertanya.
"Tidak, tapi karena di minta oleh wanita ini."
Siva dan Erza melihat wanita yang di tunjuk oleh Raynor, tentu mereka tahu siapa sosok wanita itu, karena bagaimanapun dia adalah putri kerajaan Balasumpang, Erdian.
"Apa kau tidak senang memberikan pakaianmu kepadaku."
"Jika kau berkata senang atau tidak, aku akan menjawab tidak. Tapi apa kau akan mengembalikannya sekarang." Balas Raynor.
Mustahil Erdian melakukannya, karena dari balik baju Raynor yang digunakan sekarang, hanya tersisa pakaian dalam untuk menjaga aset pribadi dari mata orang lain.
"Jadi Raynor, bagaimana pertarungan melawan raja ikan julung-julung tadi." Erza penasaran.
"Bukan masalah besar, meskipun tidak mudah untuk dikalahkan." Jawab Raynor dengan santai.
Bagi Raynor itu memang bukan masalah besar, bahkan membunuh raja ikan julung-julung sangatlah mudah. Tapi bagi orang lain, kejadian yang mereka alami, sama halnya mempertaruhkan nyawa dengan sedikit harapan untuk lolos dari kematian.
"Bukan masalah besar ?, Memangnya sekuat apa raja ikan julung-julung itu." Siva bertanya-tanya dengan apa yang dikatakan oleh Raynor.
"Hmmmm, setara ahli beladiri tahap raja tempur tahap akhir mungkin, itu sangat lemah." Raynor membandingkan tingkat kekuatan raja ikan julung-julung.
"Bagi kau mungkin raja iblis sekali pun hanya seperti kutu beras, tapi bagi kami semua, itu sama halnya bencana. Aku tidak habis pikir sebenarnya seberapa kuat kau itu Ray."
Sampai saat ini, Siva atau pun Erza tidak bisa membayangkan kekuatan penuh dari Raynor, bahkan kalau pun Erza tahu tentang rahasianya, belum cukup memahami sosok penguasa tertinggi itu.
Davendra atau penguasaan tertinggi yang Erza lihat ketika di dalam dunia jiwa Raynor, dia tahu kalau eksistensi kehadirannya terlalu menakutkan.
Tidak lama, pangeran Erdan dan para pengikutnya datang untuk bertemu dengan Erdian adiknya.
__ADS_1
Kedua bersaudara itu memang memiliki ikatan sangat erat sebagai adik dan kakak, tapi Erdan terlalu berlebihan sehingga membuat Erdian tidak nyaman.
"Adikku, kau harusnya tahu seberapa khawatir aku jika terjadi sesuatu kepadamu." Ucap Erdan dengan memeluk erat adiknya.
"Jangan anggap aku lemah sampai harus dikhawatirkan."
"Tapi tetap saja, kau terlalu berlebihan." Erdian semakin risih untuk prilaku sang kakak.
Berbalik Pangeran Erdan melihat Raynor, sikapnya berubah menjadi aneh. Jika biasanya dia menujukan ekspresi wajah sombong dan kesal, ibarat aktor antagonis yang keselek kedondong. Kini pangeran itu menjadi malu-malu seperti orang ketahuan be*rak di celana.
"Tuan Raynor." Ucap Erdan ragu-ragu.
Mendengar sapaan yang tidak bisa dari mulut busuk pangeran sombong itu, membuat Raynor terbatuk-batuk.
Ekspresi rumit ditunjukkan oleh Raynor yang mendengar suara panggung dari Pangeran Erdan itu.
"Huh ? Tuan Raynor ?, Sedang kerasukan apa anda ini Pangeran Erdan, coba aku periksa." Raynor berjalan mendekat dan meletakan tangannya ke kening Erdan
"Aku mengerti, jadi memang tidak ada apa pun di dalam kepala anda pangeran." Ucap Raynor yang mengangguk paham.
Setelah menunggu respon apa yang akan dikeluarkan oleh Jaro. Sungguh tidak disangka, sebuah kejutan dan benar-benar ada yang salah dari kepala Jaro.
Raynor merinding sendiri ketika melihat wajah Erdan yang biasanya terangkat tinggi penuh kesombongan, kini menunduk malu-malu seperti orang kena sembelit. Bahkan Siva dan Erza sampai terkejut melihat perubahan sikap yang tunjukan oleh sang pangeran.
"Baiklah. Terserah kau saja, yang jelas untuk taruhan kita, akulah pemenangnya."
"Tentu saja, tuan, silakan." Terlihat tidak ada penyesalan di wajah Erdan.
Bagi pangeran kerajaan Balasumpang, dimana cukup terkenal akan kekayaan dari hasil pertambangan emas, tentu seribu koin emas bukan masalah, kemungkinan itu hanya sedikit dari tabungan pangeran Erdan.
Gundira berjalan kembali ke tempat Raynor, dia membawa lencana ujian yang sebelumnya diberikan kepada guru pengawas.
"Raynor aku sudah berbicara kepada guru pengawas jika kau tidak perlu menggunakan lencana ujian, kau bisa langsung masuk dan menjadi murid bagian dalam atas perintah ku." Ucap Gundira.
"Kalau begitu terimakasih Tuan Gundira."
"Dan ini lencana ujian yang sudah kau dapatkan."
__ADS_1
"Untuk apa anda mengembalikannya kepadaku." Bertanya Raynor.
"Terserah apa yang ingin kau lakukan, jika kau berniat memberikan itu kepada orang lain tentu bukan masalah."
"Apa anda yakin tuan Gundira."
"Tentu saja, bagi siapa pun yang lolos karena ini, termasuk keberuntungan, karena bisa mendapat lencana darimu." Perjelas Gundira.
Raynor melihat sekitar, Erza, Siva atau pun Furan ketiganya sudah dipastikan lolos. Pangeran Erdan dan pengikutnya pun sama, mereka sudah menyerahkan lencana kepada guru pengawas.
Berjalan Raynor ke arah satu orang yang mungkin bisa dia manfaatkan, karena dengan memberi lencana ini, sama seperti sebuah hutang yang harus dibayar.
"Putri Erdian yang terhormat dan tidak pernah sombong, aku tahu kau gagal mendapat lencana ujian." Berkata Raynor kepada Erdian.
"Memangnya kenapa ?, Kau mau mengejekku ?, Jika bukan karena raja ikan julung-julung itu, tentu aku sudah mendapatkannya."
"Aku masih memiliki satu, kau bisa mendapatkan ini, tapi dengan satu syarat."
Mata Erdian terbuka lebar karena jelas dia menginginkan lencana itu agar bisa masuk ke Sekte teratai api..."Apa yang kau inginkan, uang ?."
"Tidak, aku sudah banyak mendapatkan uang dari saudaramu."
"Lalu apa syarat mu."
"Hmmm aku belum memikirkannya sekarang, bagaimana jika kau anggap ini sebagai hutang, dan mungkin di masa depan aku akan memintanya." Ucap Raynor dengan tersenyum.
"Baik. Aku setuju." Tanpa perlu ragu Erdian mengambil lencana dari tangan Raynor.
Untuk kemunculan raja ikan julung-julung yang datang secara tiba-tiba, ujian masuk pun berakhir, meski hanya ada depalan puluh delapan orang dinyatakan lolos.
Dua puluh dua kursi kosong yang belum di isi oleh murid baru, para pengawas menilai mereka berdasarkan tingkat kekuatan, hingga lengkap seratus orang.
Di dalam sekte teratai api, terdapat empat bangunan yang menjadi wilayah setiap murid dari berbagai tingkat. Wilayah awal akan menjadi tempat tinggal bagi para murid luar, wilayah kedua tempat murid dalam dan wilayah tengah adalah milik murid-murid khusus dari pilar utama.
Jika seratus orang yang baru saja masuk mengawali pelatihan sebagai murid bagian luar sekte, Raynor secara khusus mendapat pengakuan dari guru besar Gundira untuk langsung menjadi murid bagian dalam.
Ini jelas membuat iri semua orang, dimana mereka tahu, dibutuhkan waktu lama dan kesabaran karena menanggapi para senior yang terkadang seenak jidat untuk bisa naik tingkat selanjutnya.
__ADS_1
Meski begitu, di tempat ini Raynor tidak berniat untuk melakukan latihan, hanya sebatas mencari informasi tentang Rezar, bagaimana pun juga, segala ilmu pengetahuan milik penguasa tertinggi sudah lebih dari cukup menjadikan dirinya sebagai yang terbaik.
Dengan kata lain, status Raynor sebagai murid bagian dalam akan mendapat hak istimewa, dimana dia bebas dari segala tugas harian dan berlatih kapan pun tanpa di kekang peraturan.