
Keesokan harinya....
Festival peringkat generasi muda terbaik kerajaan Losborn tentu menjadi acara dengan banyak orang berdatangan untuk melihat.
Entah mereka adalah orang dari kota sebelah atau penduduk asli yang bisa datang dengan jalan kaki. Tapi memasuki hari kedua ujian suasana semakin meriah di arena pertandingan satu lawan satu antara para wakil petarung dari empat klan.
Raynor berjalan memasuki arena, di sekitar tempat pertarungan sudah banyak penonton saling berhimpitan untuk memasang taruhan ke jagoan mereka.
Tentu Raynor tidak ketinggalan, dia pun ikut memasang taruhan atas namanya sendiri, kepercayaan diri tinggi bahwa semua lawan akan kalah saat berhadapan dengannya.
Tapi melihat sekitar tempat para penonton, hingga sebuah area khusus tamu kehormatan yang akan di isi oleh para ketua klan utama dan anggota penting kerajaan Losborn.
"Sungguh tempat yang sesuai untuk membunuh semua orang di waktu bersamaan." Gumam Raynor tersenyum sendiri.
Setelah semua informasi perihal rencana penyerangan kerajaan Soran kepada kerajaan Losborn dengan bantuan para bandit yang memasang artefak peledak, Raynor tidak tinggal diam.
Semalam, dia sudah mengambil satu persatu artefak peledak yang nyatanya ditempatkan tersembunyi di area khusus tamu kehormatan, karena jelas target adalah anggota kerajaan Losborn.
Ruang tanpa batas tentu mampu mencari ke setiap titik dimana para bandit menyembunyikan artefak peledak yang mereka pasangan.
Kurang dari satu jam, Raynor sudah mengumpulkan semua artefak dan itu berjumlah seratus tiga puluh tujuh, menggunakan peledak sebanyak ini tentu bisa dipastikan seluruh manusia di dalam arena pertandingan tidak akan selamat.
Tanpa sengaja Rayos berjalan melewati Raynor, dia melihatnya tertawa sendirian, sedangkan tidak ada satu kejadian lucu yang ada di sekitar mereka.
"Kenapa kau tertawa sendirian Raynor, apa kejadian kemarin membuat pikiranmu menjadi gila." Berkata Rayos dengan tatapan aneh ke arah Raynor.
"Tentu saja tidak, aku hanya sedikit membayangkan bertarung di tempat seperti ini dan itu membuatku senang." Balas Raynor.
"Kau tidak akan senang jika harus melawan aku Feng Rayos, atau Sang Qian, karena kami berdua adalah yang terkuat di sini."
"Sombong sekali kau mengatakannya." Jawaban Raynor disertai senyum mengejek.
"Itu kenyataan, aku cukup percaya diri dengan kemampuan ku sendiri."
"Apa kau melupakan Sania." Sebut Raynor dengan satu nama yang membuat Rayos diam di tempat.
Ingatan Rayos ketika pertarungan di dunia ilusi sebelumnya sangat memperhitungkan Sania sebagai lawan terkuat setelah sang Qian.
Seorang ahli beladiri tingkat raja tempur termuda di kota kerajaan Losborn, dan pengguna kekuatan energi dingin yang terbilang langka.
__ADS_1
Cukup sulit menggambarkan raut wajah Feng Rayos, dia tidak bisa mengatakan mudah melawan Sania, tapi dia juga memiliki rasa percaya diri untuk menang dalam pertandingan.
"Sania kah ?, Aku pikir dia adalah kuda hitam di pertandingan ini." Ucap Rayos serius.
"Tidak sopan sekali kau mengatakan gadis secantik Sania itu seekor kuda, hitam pula."
Rayos terkejut atas sindiran Raynor...."Itu perumpamaan, jangan sembarang bicara kau Raynor."
"Aku tidak sembarangan saat bicara, aku hanya mengatakan apa yang aku dengar saja."
"Tetap saja kau salah mengartikannya."
Semua wakil petarung termasuk Raynor dibawa untuk duduk di samping area khusus, ada enam belas petarung dari masing-masing klan yang memasuki babak satu lawan satu.
Klan harimau merah menyisakan Empat petarung.
Klan serigala hitam menyisakan tiga petarung.
Klan Garuda api menyisakan tiga petarung.
Dan klan naga langit menyisakan enam petarung.
Meski pertandingan selanjutnya adalah tanding satu lawan satu, dari jumlah petarung yang mereka miliki sudah menunjukkan seberapa banyak orang kuat di pihak klan naga langit.
Akan menguntungkan jika pertemuan terjadi sesama wakil di klan yang sama, salah satu dari mereka akan lebih memilih mundur dan menyisakan wakil terkuat saja.
Tapi itu sangat jarang terjadi, dimana ini adalah soal harga diri dan harga hadiah yang akan mereka dapatkan jika mampu mendapat gelar generasi muda terbaik.
Sania duduk di sebelah Raynor, meski sejak kemarin dia terlihat kesal dan marah, tapi Sania sendirilah yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan.
"Ray, apa yang kau lakukan semalam, kenapa kau menyelinap keluar sendirian." Bertanya Sania.
"Ya kalo ramai-ramai jelas akan ketahuan, Nia." Jawab Raynor asal saja.
"Bukan begitu, tapi untuk apa kau pergi."
"Soal itu...."
Raynor sedikit menceritakan kejadian ketika melawan lima bandit setelah mereka pulang dari ujian kedua. Termasuk tentang artefak peledak yang dipasang di sekitar arena pertandingan ini.
__ADS_1
Sania terkejut dia pun tahu jika mereka ada dalam bahaya...."Kalau begitu kita harus memberitahu semua orang agar cepat pergi dari tempat ini."
"Tenang saja, aku sudah mengamankan semua artefak peledak di sini, jadi jangan khawatir." Jawab Raynor.
"Jadi itu alasanmu menyelinap keluar semalam."
"Memang kau pikir aku keluar untuk bermain-main."
"Karena tidak biasanya kau melakukan sesuatu yang serius." Balas Sania karena dia cukup tahu sikap Raynor.
"Aku juga memiliki kegiatan ku sendiri."
Sania tidak bisa setiap saat mengawasi Raynor, tapi sebagian besar waktu mereka adalah ketika berlatih bersama, sedangkan lainnya hanya sekedar bermain-main saja.
"Tapi bukankah ada masalah lain, yaitu penyerangan kerajaan Soran."
"Sudah aku katakan kepada raja Sura, tapi ini sangat terlambat untuk membawa pergi semua orang, termasuk adanya para pendatang yang berdatangan di kota ini terlalu banyak, dan aku yakin pasukan kerajaan Soran sudah bersiap di luar kota." Raynor pun menjelaskan secara rinci kepada Sania.
"Tidak mungkin, ini keadaan yang sangat gawat." Sania khawatir untuk keselamatan mereka yang tidak tahu apa pun.
"Tenang saja Nia, apa kau sadar jika semua orang di tempat ini adalah pria."
Sania melihat sekeliling dan apa yang dikatakan Raynor benar..."aku baru menyadarinya."
"Raja sura meminta para wanita, anak-anak dan orang tua mengungsi ke dalam istana, hingga sekarang hanya para lelaki dan prajurit wanita saja." Jawab Raynor.
Ini memang tidak bisa dikatakan rencananya untuk menahan serangan kerajaan Soran nantinya, tapi karena kerajaan Soran tidak tahu rencana mereka sudah ketahuan, raja Sura bisa mengatur balasan dengan mudah.
"Aku tidak bisa bayangkan jika penyerangan nanti akan membunuh anak-anak yang tidak bersalah."
"Dalam perang tidak ada belas kasih, mereka akan membunuh siapa pun lawannya, bahkan jika itu orang yang tidak tahu cara bertarung."
Seorang lelaki paruh baya berjalan maju ke tengah arena, dia adalah pengawas pertandingan yang akan segera dimulai.
"Baiklah para penonton sekalian, kita mulai pertandingan pertama, antara Feng Rayos dari klan serigala hitam melawan Sang Sizan dari klan naga langit."
Dua orang perwakilan klan yang dipanggil oleh wasit, mereka pun segera melompat naik ke tengah arena.
Jika harus dibandingkan antara kekuatan mereka berdua, tentu Rayos berada jauh diatas angin, Sang Sizan hanya ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap akhir sedangkan Feng Rayos sudah mencapai tingkat raja tempur tahap awal.
__ADS_1
Ibarat langit dan bumi, tapi seakan tidak ada niat mundur, Sizan sudah bersiap dengan menarik sebilah pedang yang tersimpan dibalik pinggangnya.
Ini adalah salah satu siasat, jika mereka tidak bisa mengalahkan lawan, paling tidak pertarungan mereka bisa membuat lawan lelah dan membiarkan wakil petarung dari klan naga langit lain mendapat keuntungan.