The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
dua wanita


__ADS_3

Semua energi yang di keluarkan oleh Sania berpusat di bilah pedang biru dalam genggaman tangannya, kilatan cahaya disertai titik-titik bunga es dari energi dingin menjadi serangan tingkat tinggi.


Raynor tersenyum pahit, khawatir Sania terbawa emosi karena semua yang dia ucapkan, penggabungan energi dingin Phoenix biru dan Teknik dunia beku abadi akan cukup untuk mengubah separuh kerajaan membeku.


"Nona Sania, apa kau tidak berlebihan." Ucap Raynor terlihat gugup.


"Ummmm, tidak, aku tidak mungkin menyerang mu dengan kekuatan yang setengah-setengah."


"Apa kau tidak berpikir dengan para penonton di belakangku ini."


"Apa mereka penting ?." Sania bertanya karena tidak perduli.


"Ya tidak juga, hanya sekumpulan orang yang senang bertaruh, aku sendiri tidak mengenal mereka." Tapi balas Raynor yang sama-sama tidak perduli.


"Kalau begitu tidak apa-apa."


Raynor tersenyum pahit untuk sikap Sania...."Tapi tetap saja. Sepertinya kau benar-benar marah, nona Sania."


"Memang kau pikir aku tidak marah, apa yang kau lakukan sama saja dengan menganggap ku lemah, Ray."


Tidak perlu keahlian dalam bidang menebak wajah seseorang, karena hanya dengan mendengar suara Sania saat menjawab pertanyaan, Raynor bisa tahu akan kemarahannya itu.


Coba Raynor menghentikan Sania..."Tunggu sebentar, kita bisa bicarakan."


"Disini arena pertarungan, jika kau ingin bicara kita lakukan di rumah saja."


"Kekuatanmu berbahaya loh, membunuh orang itu melanggar aturan."


Sania sudah tidak bisa diajak kompromi..."Jika kau masih banyak bicara dan tidak siap, maka terima saja resikonya."


"Tapi... "


Belum selesai untuk Raynor berbicara, Sania sudah mulai mengayunkan senjatanya, energi dingin yang terkumpul di dalam tubuh membentuk garis lurus dimana Raynor adalah target utama.


Para penonton di belakang Raynor tentu sadar jika nyawa mereka sedang terancam, segera saja semua orang berlarian pergi untuk menyelamatkan diri.


"Mati kau...." Sania menggunakan Teknik dunia beku abadi : musim dingin tanah beku.


"Itu tidak baik meminta orang untuk mati." Balas Raynor.


Seketika teriakan sosok Phoenix biru yang ada di atas tubuh sania terbang naik ke langit kemudian jatuh lurus dan melesat tajam menuju tempat Raynor.


Segala hal di dalam jalur terbang sosok Phoenix biru menghasilkan duri-duri es tajam yang muncul dari bawah lantai arena pertandingan, semakin kuat dan semakin besar.


Berbeda dari wujud duri es sebelumnya, kekuatan Sania sekarang memiliki konsentrasi energi dingin yang tidak bisa dihancurkan oleh serangan api biasa.


"Tidak ada pilihan lain...."


Tubuh Raynor memunculkan kobaran energi berwarna kuning keemasan, sebuah mahkota cahaya terbentuk di atas kepala Raynor, dan jubah emas memberi aura keagungan bagi siapa pun yang melihat.


Raynor telah membuka segel gerbang pertama dari tujuh segel langit surgawi.


Untuk kedua kalinya dalam satu hari, Raynor membuka segel penguasa tertinggi, tentu seketika itu efek samping dari tekanan tenaga dalam sudah dirasakan oleh tubuhnya.

__ADS_1


Mencoba menahan rasa sakit, Raynor menarik pedang dan mengayunkannya lurus untuk berhadapan langsung dengan wujud Phoenix biru.


"Pedang Sang dewa penghakim."


Bayangan pedang besar berwarna keemasan jatuh dari langit, mengadang langsung dan saling berbenturan satu sama lain.


Gelombang dari pertemuan dua kekuatan tingkat tinggi menyebar ke segala arah, semua yang ada di sekitar mereka berdua merasa takjub dan juga merasa takut.


"Bagaimana mungkin dua orang generasi muda mampu menghasilkan serangan sekuat ini."


"Aku takut kita juga akan menjadi korban, aku tidak aku mati, aku masih belum memiliki anak dan istri."


"Memang cuma kau saja yang takut mati, aku juga sama, sebaiknya kita pergi lebih jauh."


Benturan tenaga dalam antara serangan Raynor dan Sania semakin menjadi-jadi, lantai arena seketika retak dan hancur oleh gelombang energi yang dihasilkan.


"Nia, ini berlebihan, kau tidak boleh terbawa emosi ketika bertarung." Sedikit Raynor memberi saran.


"Kau sendiri lah yang membuatku emosi."


"Ok, kita bicarakan baik-baik."


"Tidak perlu, kecuali kau menyerah dan membiarkan aku menang." Itu yang Sania inginkan.


'Wanita benar-benar menyeramkan saat mereka marah.'


Sania mengeluarkan semua energinya, wujud Phoenix menjadi lebih besar dan itu cukup kuat hingga meretakkan bagian pedang dari pedang dewa sang penghakim.


Raynor tidak mau kalah, dia coba menambah energi sang penguasa tertinggi, namun sungguh sayang, tubuhnya tidak lagi mampu menerima kekuatan sedemikian besar untuk dua kedua kalinya.


Energi sang penguasa tertinggi perlahan pudar, meski begitu Raynor coba menahan semaksimal mungkin, tapi Sania jelas tidak mau kalah.


"Jika memang begitu, maka....."


Raynor tidak kuat lagi menahan efek samping tekanan di tubuhnya, segera meledakkan pedang sang penghakim dan melompat dari jalur serangan Phoenix biru.


Wujud Phoenix terbang lurus hingga perbatasan wilayah tengah kerajaan Losborn, duri-duri es muncul sepanjang jalan yang di lalui oleh Phoenix dan berbentuk seperti sebuah dinding es.


Tapi di sisi lain, Raynor yang selamat dari serangan Sania, kini hanya tergeletak lemas karena rasa sakit luar biasa membuat persendiannya kaku, bahkan untuk mengangkat pedang pun mustahil.


Sedangkan sebilah pedang berada tepat di depan leher Raynor, dia Sania yang kini tersenyum puas karena berhasil membuat lawannya tidak bisa bertarung.


"Aku yang menang Ray."


Terangkat tangan Raynor sebagai tanda...."Baiklah, baiklah, kau menang Nia, aku menyerah."


Raynor tidak bisa memungkiri bahwa Sania mengalahkannya, pertumbuhan kekuatan dan pemahaman tentang kekuatan Phoenix biru membuat Sania menjadi sosok kuat yang sulit untuk dilawan.


Wasit mengumandangkan hasilnya... "Sania dari klan harimau merah menang, dia akan masuk ke pertandingan terakhir."


Sania membantu Raynor berjalan setelah pertandingan mereka selesai, membawanya ke ruang perawatan di luar arena.


Tapi di dalam perjalanan, sikap Sania jelas berubah sedikit murung, lebih tepatnya dia ingin berbicara namun ragu-ragu.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar kalah, atau sengaja mengalah Ray." Awal Sania bicara.


"Aku kalah, kau menang, ya itulah kenyataannya, tapi ingat Nia, aku sudah lelah setelah pertarungan melawan ratusan orang kerajaan Soran, merasa terganggu karena sorakan para penonton, aku bingung memikirkan masa depan, pakaian ku sobek, pinggang ku sakit dan terganggu karena sariawan, jika bukan karena itu semua, aku pasti menang." Balas Raynor.


"Kau itu kebanyakan alasan, pada akhirnya kau kalah melawanku."


"Mau bagaimana lagi, Sebaiknya aku meminta kompensasi kepada Raja Sura setelah ini selesai."


Meskipun Raynor sedikit menyesal, dimana dia kehilangan banyak koin emas karena bertaruh atas namanya sendiri.


"Tapi Ray, apa kau benar-benar tidak ingin ikut denganku ke akademi pedang suci."


"Untuk sekarang tidak, aku ingin tahu lebih banyak orang yang membunuh ayahku, dan mungkin di sekte teratai api ada petunjuk."


"Aku tidak bisa memaksamu." Jawabnya.


Meskipun Raynor tahu ada ketidaknyamanan dari ucapan Sania untuk dia dengar.


"Ah aku ingat, kau harus bisa menenangkan peringkat pertama." Pinta Raynor.


"Apa ada sesuatu ?."


"Hadiah peringkat pertama, salah satunya adalah tiga tetes air dari bunga Rensa malam, itu bisa membantu penyembuhan Furan." Jawab Raynor.


"Benarkah."


"Ya, tapi hanya aku yang bisa mengolah ramuan untuk penyembuhan Furan saja, karena di benua ini mungkin hanya aku yang tahu caranya." Balas Raynor serius.


Mata Sania terbuka lebar, ini juga menjadi salah satu alasan kenapa dia ingin hadiah sebagai peringat pertama.


Tapi siapa sangka di depan pintu ruang perawatan ada dua sosok wanita yang tentunya Raynor kenal.


Mereka adalah Siva dan Erza, berdiri gelisah dan pura-pura tersenyum meski ada kekhawatiran dibalik senyum keduanya.


"Ray...."


"Raynor..."


Panggil mereka berdua bersamaan, tapi tiba-tiba saja keduanya diam, saling menatap dengan wajah bingung.


"Nona apa dia orang yang kau tunggu." Tunjuk Siva ke arah Raynor.


"Ya begitulah." Erza pun mengangguk.


"Sangat kebetulan, karena aku juga menunggu orang ini."


"Sebenarnya aku juga sudah tahu."


Sedangkan Sania hanya tersenyum pahit, karena dia kenal mereka berdua dan juga mengetahui isi kepala masing-masing.


"Ray, sebaiknya aku harus pergi, biar Siva dan Erza saja yang merawat mu." Sania segera melepaskan Raynor dan berjalan pergi.


"Hei apa kau tega meninggalkan ku." Raynor jelas tidak nyaman untuk kehadiran dua wanita itu, tapi meminta bantuan Saina pun percuma.

__ADS_1


"Itu urusanmu, jangan bawa aku kedalam masalahmu."


Sania pergi meninggalkannya untuk menyelesaikan urusan antara Siva dan Erza.


__ADS_2