The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
besar dan keras


__ADS_3

Jika pagi Raynor dan Sania menyempatkan diri untuk berlatih teknik meditasi dunia beku abadi, dan ketika siang mereka berdua pergi ke pondok atas bukit dengan Lamo dan Sisha.


Raynor yang baru membentuk lempengan logam pamor kini harus melakukan penempaan, tapi tidak semudah mengayunkan palu saja, karena cukup banyak hal untuk Raynor pelajari dalam berlatih ilmu tempa.


Seperti kemarin, di atas batu dekat pondok sudah ada seorang wanita yang duduk menikmati suasana, meski pun sebenarnya wanita itu hanya terlalu bosan karena terlalu lama menunggu.


"Apa kau baru sampai." Ucap Raynor menyapa.


Namun ditunjukkan wajah serius dan menghembus pula nafas berat sebelum menjawab... "Kau berharap aku baru sampai ?, Aku sudah menunggu disini lebih dari dua jam."


"Maafkan aku, ada banyak hal yang harus di kerjakan." Raynor merasa tidak nyaman.


"Masalah sembelit ?." Balas Erza.


"Tidak, itu beda lagi ceritanya. Karena setiap pagi mulai sekarang aku harus memberi Sania sedikit latihan." Jawab Raynor.


"Yang aku tahu, nona Sania jauh lebih tinggi dari tingkatan mu, tapi kenapa kau yang harus mengajarinya."


"Ho ho ho, kau tahu, karena aku sangatlah jenius, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mampu melampaui pengetahuan ku." Berkata dengan penuh kesombongan.


Pada akhirnya tidak ada satu orang pun percaya, mereka menolak perkataan Raynor meski kenyataannya memang benar, di dunia antah berantah ini, tidak ada satu kehadiran yang melampaui pengetahuan di bidang beladiri.


"Sudahlah jangan banyak berkhayal, kita harus bekerja, kau membayar ku dan aku tidak ingin makan gaji buta." Erza menghindar dari percakapan Raynor.


"Kau tidak percaya kah Erza ?, Padahal aku mengatakan yang sebenarnya..."


Tidak ada jawaban dari Erza, dia segera memasuki pondok agar tidak dipaksa menjawab pertanyaan Raynor yang seenaknya sendiri.


"Tenang saja paman aku percaya." Sisha mengacungkan tangan penuh semangat.


"Terimakasih, kau sebenarnya gadis baik, jika saja tidak memanggilku paman."


Saat semua sudah di persiapkan, lempengan logam pamor mereka keluarkan dari wadah. Erza dan Sania yang tidak tahu apa pun soal logam pamor, mereka berdua menatap penuh semangat.

__ADS_1


"Jadi ini bahan logam yang ingin kau buat senjata Raynor." Sania bertanya.


"Ya, aku yakin jika ini akan menjadi senjata yang luar biasa."


"Bukankah kau bisa mendapatkan pedang terbaik dari logam platinum, tapi kenapa kau repot-repot membuatnya sendiri."


"Aku memiliki dua alasan, Pertama aku ingin belajar membuat senjata, dan yang kedua, asal kalian tahu, logam pamor jauh lebih kuat daripada logam platinum."


"Kenapa kau bisa mengatakan itu." Sania pun penasaran.


"Jangan heran nona Sania, logam pamor memiliki banyak kelebihan yang melebihi logam platinum, salah satunya adalah pedang dari logam pamor akan semakin tajam dan kuat ketika digunakan untuk waktu lama, semakin menghitam di mata pedangnya akan semakin tajam di gunakan." Kini jawaban yang mereka inginkan datang langsung dari tuan Lamo.


Semua senjata yang terbuat dari logam mana pun akan ada waktunya menjadi tumpul dan haruslah mereka asah kembali. Tapi berbeda untuk senjata dari logam pamor, dimana semakin banyak senjata itu menerima pukulan, maka akan memperkuat setiap unsur logam di dalam senjata.


Pandangan mata dari Erza tertuju kepada besar lempengan logam yang ada dihadapannya.


"Jadi Raynor, senjata seperti apa yang ingin kau buat sebenarnya." Bertanya Erza karena dia tidak yakin lempengan yang begitu besar hanya untuk satu senjata saja.


Tersenyum Raynor sebelum menjawab..."Pertanyaan bagus, Aku ingin membuat pedang yang besar dan keras, agar mampu membelah gunung dengan satu ayunan."


"Aku pun serius menjawabnya." Balas Raynor.


"Tapi apa anda yakin tuan Raynor, setidaknya pedang yang berat dan besar sangat sulit di gunakan, sebagian ahli beladiri lebih memilih pedang ringan agar tidak menggangu gerakan mereka." Kini giliran tuan Lamo yang bertanya.


Dalam dunia beladiri memang benar, memilih senjata akan berpengaruh untuk kemampuan mereka bertarung. Tentu tidak sembarang orang bisa menggunakan pedang besar dan berat, karena mereka tahu kekurangan dari pedang itu.


Tapi Raynor memiliki jawabannya...


"Untuk apa melakukan gerakan yang tidak perlu, jika aku bisa mengalahkan musuh hanya dengan satu ayunan saja."


"Ya itu memang benar." Tuan Lamo sendiri bingung dengan cara berpikir Raynor.


Tuan Lamo bahkan merasa takjub jika senjata yang akan mereka buat memiliki berat lebih dari seratus kilo.

__ADS_1


Dia sudah membuat banyak senjata atas permintaan para ahli beladiri, tapi dari sekian banyak ahli, hanya Raynor yang memiliki cara sederhana saat memikirkan bagaimana senjata untuk dia gunakan.


"Baiklah kita mulai tuan Raynor." Ucap Tuan Lamo.


Suara palu berdenting keras, kobaran api membara panas dari dalam tungku, di dalam pondok penempaan senjata hanya ada tiga orang.


Erza yang menjadi joki penggenjotan alat kipas manual untuk menyalakan api ketika logam pamor di panaskan, Raynor yang siap mengayunkan palu besar untuk membentuk senjata, dan Tuan Lamo mengawasi mereka berdua.


Dari dalam tungku Raynor keluarkan lempengan logam pamor yang menyala merah setelah di panggang. Berukuran sepanjang dua meter dan lebar setengah meter, dihantamkan palu untuk memadatkan logam menjadi lebih kecil.


Erza tidak banyak berkomentar tentang rencana Raynor dengan senjatanya, dia hanya bertugas untuk menyalakan api semakin besar agar cukup panas memanggang lempengan logam pamor.


Tuan Lamo memberikan nasihat bagaimana cara menempa yang baik dan benar untuk menghasilkan bilah mata terbaik, termasuk membentuk wujud Senjaya agar enak dipandang mata.


Kekuatan fisik Raynor benar-benar diuji untuk mengayunkan palu seharian penuh, Terlebih lagi kuat logam pamor sangatlah luar biasa, bahkan dalam kondisi panas sekali pun itu masih sangat keras.


Membuat sebuah pedang bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam mengayunkan palu, sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti. Jika Raynor menempa terlalu keras maka senjata akan retak, tapi jika terlalu lembek memukulnya maka tidak akan selesai-selesai.


Jam kerja telah berakhir....


Erza bergegas keluar untuk mencari udara segar setelah seharian menggenjot alat kipas manual dan merasakan panas luar biasa di dalam pondok.


Semua keringat membasahi wajah dan pakaiannya, cukup transparan untuk siapa pun lihat wujud pakaian dalam berwarna hitam yang Erza gunakan.


"Aku seperti hidup lagi." Ucap Erza bernafas lega.


"Apa kau baik-baik saja Erza." Sania datang dan bertanya.


"Bukan masalah, aku masih baik-baik saja."


Sania tahu Erza bekerja keras untuk mendapatkan uang dan memberi sedikit bantuan..."Minumlah, Erza."


Sania memberi secangkir air, tanpa basa basi Erza mengambil dan menenggak habis semuanya. Sejenak Erza mendingan tubuh, menarik nafas panjang dan menghembuskan penuh kenikmatan.

__ADS_1


"Nona Sania apa kau tahu siapa orang di gambar ini." Erza menunjukkan sebuah kertas yang dia keluarkan dari dalam kantong.


Tapi rumit di wajah Sania ketika melihat rupa seseorang yang tergambar di dalam kertas milik Erza.


__ADS_2