The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Serin Sua


__ADS_3

Pak tua Goma melihat penuh kejutan, dimana dia tidak tahu, atas dasar apa anak muda itu datang secara tiba-tiba dan menyelamatkan dirinya.


Tapi sekilas Goma melihat lambang dari sekte teratai api membuatnya paham, jika penyelamat itu adalah anggota sekte teratai api yang lokasinya di danau Cicaban tidak jauh dari kota Tegalasa.


Rolfo melihat tangan merah Raynor yang terbakar dari di depan wajahnya. Hanya orang bodoh masih berani menentang, sedangkan nyawa sudah di ujung tenggorokan.


"Ampuni aku tuan muda, aku tidak akan menggangu tuan Goma lagi, aku mohon lepaskan aku." Rolfo bersujud meminta ampun.


"Segera kalian pergi, sebelum aku berubah pikiran dan menjadikan kalian dendeng balado." Ancam Raynor membuat Rolfo dan dua teman bandit ketakutan.


Keringat dingin bercucuran, nafas naik turun Senin Kemis, tubuh gemetaran dan sesegera mungkin berlari pergi untuk menyelamatkan diri. Tunggang langgang berlari entah kemana, tidak tahu arah kiri atau pun kanan, dari gerobak buah, tukang sayur, warung sate, hingga bakul jamu ditabrak Rolfo sejadinya.


Raynor membersihkan tangan, "Mereka selalu saja menyusahkan ku."


Shisa mendekat dan segera memeluk erat lengan Raynor, tidak lepas pula senyuman manis dari gadis cantik yang beranjak remaja itu.


"Paman kuat sekali, para orang-orang tidak berguna itu sampai meminta ampun..." Sisha terkagum melihat Raynor dengan mata berbinar-binar.


"Ini belum seberapa, kemarin aku sampai membelah gunung." Jawab Raynor menambahkan.


"Woooahhhh, luar biasa."


Setelah Rolfo dan kedua teman bandit nya pergi, lelaki tua itu datang mendekat dengan mencium tangan Raynor sebagai bentuk penghormatan.


"Tuan muda, terima kasih anda menyelamatkan ku." Goma membungkuk hormat, bahkan berniat untuk sujud dihadapan Raynor, tapi segera Raynor menghentikan tindakannya.


"Pak tua, aku hanya kebetulan lewat dan melihat manusia brewok itu mencari masalah, jadi tidak perlulah kau berterimakasih." Jawab Raynor dengan santai.


"Tapi.."


"Sudahlah pak tua Goma, jangan terlalu dipikirkan, harusnya kau berterima kasih kepada bocah ini. Karena dia yang memohon untuk menyelamatkan mu." Kata Raynor menghentikan ucapan Goma.


"Aku bukan bocah lagi, paman."


"Kelakuanmu itu seperti bocah." Balas Raynor tersenyum pahit.


Raynor bukan orang yang gila akan kehormatan, karena sejak dia menjadi penguasa tertinggi, ada banyak orang datang untuk bersujud di kakinya demi meminta pertolongan darinya.


Tapi beda pula Goma, untuk dirinya sosok Raynor yang sudah menjadi seorang penyelamat dari kesulitan perihal para bandit. Jika harus bersujud untuk berterimakasih pun akan Goma lakukan.


Tidak berselang lama, seorang gadis cantik berjalan mendekat ke arah Raynor. Kali ini Raynor ingat dengan jelas nama gadis itu. Karena dia adalah murid langsung dari guru besar Gundira, Serin Sua.


Serin Sua, menunjukkan senyum menawan kepada Raynor, dari pengalamannya perihal wanita, Serin Sua menjadi sosok yang begitu lembut dan santun. Bahkan ketika dia pertama kali memperkenalkan diri, tidak sekali pun terlihat angkuh.


"Tuan Raynor, tidak aku sangka akan bertemu di kota ini." Berkata Serin Sua dengan menujukan senyuman manis penuh hormat kepada Raynor.


"Itu benar-benar sebuah kebetulan dan juga keberuntungan, karena bisa bertemu dengan gadis secantik anda disini." Balas Raynor sedikit menggoda Sua.


"Tidak, tidak, karena aku sering bepergian di kota ini, jadi itu tidaklah aneh." Balas Sua yang masih tersenyum manis.


Tampak Goma terbengong melihat kedatangan Serin Sua, sebagai salah satu murid pilar utama dan juga murid langsung dari guru besar Gundira tentu kehadirannya menjadi hal yang luar biasa untuk di ingat.

__ADS_1


Bahkan Raynor mengakui jika gadis satu ini sebanding dengan tiga kecantikan abadi dari kerajaan Losborn, Siva, Sania dan juga Diandra.


Tapi sikap sopan Serin Sua tidak dianggap penting oleh Sisha, secara cepat kembali menggandeng tangan Raynor dan terlihat ekspresi kesal di wajahnya


"Paman Raynor, duduklah, jangan berdiri terlalu lama, kau akan lelah." Sisha menarik tangan Raynor untuk duduk.


Senyuman Dia Kumala sedikit turun, melihat seorang gadis kecil mengganggu obrolannya dengan Raynor.


Tapi tidaklah mungkin dia akan menujukan emosi kepada gadis yang baru berusia tiga belas tahun, tentu sikapnya terlihat sangat memalukan.


Melihat isi dalam toko milik Goma, Dia merasa tertarik atas beberapa bentuk senjata yang dibuat olehnya, termasuk juga, sebuah pedang panjang berwarna putih kehitaman dengan ukiran rangkaian formasi.


Raynor cukup tertarik dimana dia seakan paham pedang jenis apa yang Serin Sua ambil, itu adalah pedang dengan bahan dari logam pamor sama seperti buatan tuan Lamo.


"Tuan apa kau yang membuat pedang ini." Serin Sua menarik pedang.


Wajahnya menujukan kekaguman, merasa aneh karena pedang ditangannya tidak berat, namun kokoh, kuat dan indah.


"Bukan nona Sua, pedang ini hasil tempa seorang teman, dia menjualnya kepadaku saat membutuhkan uang untuk berobat." Jawab Goma dengan sopan.


"Apa kau bisa membuat pedang seperti ini lagi." Dia mencoba menggerakkan pedang ditangannya.


"Aku tidak bisa nona, satu-satunya orang yang bisa membuatnya hanya temanku."


"Kalau begitu bisa aku membeli pedang ini."


"Maaf nona Sua, aku tidak bisa menjualnya."


Dia tidak menyangka menemukan pedang yang cukup baik untuk digunakan, tapi pada akhirnya tidak dijual.


Sisha terkejut ketika melihat pedang di tangan Sua..."Bukankah ini pedang ayah ku."


Pak tua Goma mendengar pernyataan Sisha, dan itu juga membuatnya terkejut..."Apa kau putri dari Lamo."


"Ya, itu benar, kenapa paman bisa memiliki pedang ayahku."


"Aku mendapatkannya dari ayahmu, jadi bagaimana keadaan Lamo sekarang."


Tiba-tiba saja Sisha terdiam, dia menjadi murung dan enggan untuk menjawab pertanyaan Goma.


Raynor datang dan mengelus rambut Sisha ..."Maaf pak tua, tuan Lamo sudah meninggal beberapa bulan lalu."


"Begitukah... Maafkan aku, aku tidak tahu, karena terakhir bertemu dengan Lamo dua tahun yang lalu, aku pikir dia sudah kembali sehat."


"Tapi sayang, tuan Lamo tidak lagi mampu bertahan melawan penyakitnya."


Raynor pun tahu jika senjata buatan Lamo adalah yang terbaik hampir di daratan timur, bagaimana tidak ilmu penempaan senjata milik Lamo adalah hasil belajar dari seorang empu tingkat atas selama berpuluh tahun.


Mereka beranjak pergi dari toko senjata Goma, dan Raynor bisa melihat ada kekecewaan di wajah Serin Sua karena tidak bisa mendapatkan pedang dari tuan Lamo.


"Nona jika kau tertarik, aku memiliki beberapa pedang pamor, saat aku belajar membuatnya dengan tuan Lamo." Raynor memberi penawaran dan mengeluarkan bilah pedang logam pamor di tangan.

__ADS_1


Serin Sua melihat serius dengan pedang yang diberikan oleh Raynor, kualitasnya mirip dengan pedang di toko Goma, tapi ada tambahan rangkaian formasi prasasti terukir di matanya.


"Berapa banyak uang yang harus bayar untuk ini." Jawab Sua tertarik.


"Dua ratus koin emas, itu sangat murah karena cukup sulit membuatnya."


Sebagai murid bagian dalam, Sua tidaklah kekurangan uang, tapi tetap saja... "Apa kau tidak bisa memberi sedikit potongan harga kepadaku."


Bagi Raynor bisnis adalah bisnis, tidak peduli dia wanita atau bukan, karena memang harga yang dikeluarkan untuk membuatnya menentukan kualitas.


"Hmmm itu cukup sulit, karena pedang dari logam pamor benar-benar sulit di temukan."


"Ayolah, sebagai sesama murid sekte teratai api dan juga untuk harga perkenalan berikan sedikit potongan untukku."


Tapi tetap saja.... Raynor cukup kesulitan dalam beradu argumen tawar menawar dengan seorang wanita.


"Baiklah, seratus delapan puluh koin emas, itu cukup bukan ?."


"Potongannya ?."


"Harganya nona Sua."


"Aku pikir kau memberikan potongan hingga seratus delapan puluh koin emas."


"Tolong jangan banyak meminta nona Sua." Jawab Raynor tersenyum pahit.


Serin Sua memberikan uang kepada Raynor, meski itu terbilang sangat mahal untuk harga pedang yang sebanding dengan senjata platinum. Tapi tidak ada penyesalan di wajah Sua, dia pun mengangguk kagum merasakan senjata buatan Raynor.


"Jadi pedang besar yang kau gunakan adalah buatan tuan Lamo ?." Sua bertanya akan hal itu.


Bagaimana tidak sekali Sua melihat seberapa besar dan kuat pedang milik Raynor ketika dia gunakan untuk menakuti para bandit sebelumnya.


Raynor pun mengeluarkan pedang Asarc Rex spatium dan ditancapkan ke tanah, suaranya terdengar keras seperti batu berat jatuh.


"Bisa di bilang begitu, tapi aku yang membuatnya, tuan Lamo hanya mengajarkan bagaimana cara untuk menempa senjata saja." Jawab Raynor.


Tapi bagi Serin Sua, entah Raynor yang membuatnya atau tuan Lamo, pedang itu menjadi pedang kuat dan ganas untuk digunakan.


Serin Sua berjalan mendekat, mencoba menarik pedang milik Raynor, dan benar apa yang dikira olehnya, jika pedang itu beratnya tidak main-main. Bahkan untuk sekedar mengangkat beberapa meter dari tanah, wajah Serin Sua seperti orang yang sedang menahan sakit perut selama berhari-hari.


"Bagaimana mungkin kau menggunakan pedang seberat ini Raynor." Sua tidak mampu untuk menggunakan pedang Asarc Rex spatium.


"Bagaimana ?, Tentu aku pegang, tapi tidak aku kocok-kocok." Balas Raynor sembari tersenyum aneh.


"Bukan seperti itu, tapi apa kau tidak merasa kesulitan saat menggunakannya." Balas kembali perkataan Raynor.


"Sampai saat ini aku tidak merasakan hal itu, bahkan aku berniat untuk menambah beratnya." Santai Raynor mengatakannya.


Serin Sua merasa bingung sekaligus aneh, melihat lelaki dihadapannya hanya seorang ahli beladiri yang baru kemarin masuk ke sekte teratai api, tapi menggunakan pedang besar dan mungkin hanya bisa digunakan oleh para guru saja.


Sejauh ini, pedang berat tidak terlalu diminati oleh para petarung, selain sulit digunakan termasuk juga membuat kram, kesemutan dan pegal-pegal.

__ADS_1


Serin Sua tidak salah memberikan perhatiannya kepada Raynor, dia lelaki dengan kekuatan tingkat tinggi yang tidak bisa dikalahkan oleh ahli ditingkat yang sama.


__ADS_2