
Menjelang sore Raynor pergi ke ruang pertemuan, dimana paman Regar meminta dirinya untuk bertemu dan berbicara.
Raynor hanya memikirkan beberapa hal untuk topik yang akan paman Regar bicarakan, pertama mengenai kesembuhan Furan, kedua dia ingin tahu soal ramuan itu dan ketiga dia hanya kurang kerjaan sehingga meminta Raynor menemaninya bengong.
Terlihat paman Regar berdiri di dekat lukisan gambar dimana itu adalah wajah-wajah yang ada di dalam ingatan Raynor, mereka terdiri dari kakek Souza, neneknya, paman Regar, ayahnya Rezar dan dua wanita menjadi istri mereka berdua.
Ketika Regar menyadari pintu ruangan terbuka dia pun segera berbalik dan melihat ke arah Raynor, ada senyum tersirat di wajahnya.
"Raynor kau sudah datang, duduklah."
"Baik paman." Raynor menjawab tanpa rasa curiga apa pun kepada Regar.
Seakan semua sudah di persiapkan untuk menyambut kehadiran Raynor, segala makanan kecil tersaji di atas meja, meski terlihat wajar, tapi ini terasa aneh, dimana jarang Regar membicarakan sesuatu dengan suasana begitu formal kecuali di saat pertemuan para ketua klan.
"Apa kau ingin minum sesuatu, bajigur, bandrek, wedang jahe, wedang ronde, teh hijau atau kopi." Sebut semua oleh Regar.
"Tidak perlu repot-repot paman, susu saja."Tidak ada penolakan dari Raynor
"Tentu..." Regar meminta pelayan untuk membawakan pesanan Raynor.
Satu cangkir susu kemudian....
Suasana hati Regar terlihat senang, itu semua karena kesembuhan Furan dan pencapaian Sania, dua alasan yang cukup membawa dirinya bahagia.
Tapi ada alasan lain dimana dia mengajak Raynor berbicara empat mata, termasuk sikap Regar pula yang begitu berhati-hati.
"Jadi bagaimana keadaan mu." Basa-basi Regar bertanya.
"Aku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu."
"Paman kenapa paman ingin berbicara kepadaku, apa ada hal penting ?." Raynor tidak cukup senggang untuk menemani Regar berbasa-basi.
"Bisa dibilang penting, bisa juga tidak."
"Memang apa itu."
Regar sedikit membungkuk..."Pertama-tama aku ingin berterima kasih kepadamu Raynor karena sudah menyembuhkan Furan, jika bukan karena mu aku sendiri sudah hampir menyerah."
"Itu bukan hal khusus, karena Sania bisa mendapatkan air dari bunga Rensa malam dan aku sedikit memiliki pengetahuan dalam membuat ramuan, tentu aku ingin menyembuhkan Furan." Jawab Raynor dengan senyum santai.
"Tapi tetap saja, karena bantuan mu, aku bisa melihat Furan sehat kembali."
"Baiklah, jadi paman, apa yang sebenarnya paman ingin bicarakan, tentu kehadiran ku disini tidak hanya membicarakan tentang Furan." Balas Raynor.
"Benar sekali."
__ADS_1
Regar mengeluarkan sebuah lencana berbentuk teratai yang di selimuti api, Raynor jelas tahu, karena ketika guru besar sekte teratai api yaitu Gundira datang, sempat Raynor mendengar semua pembicaraan mengenai keinginan guru besar membawa dia masuk ke dalam sekte teratai api.
"Apa ini paman ?." Raynor pura-pura bertanya.
"Satu Minggu lagi, sekte teratai api akan membuka pendaftaran untuk calon murid bagian luar." Jawab Regar.
"Jadi apa hubungannya dengan lencana ini."
"Lencana khusus yang bisa membawamu masuk kedalam sekte tanpa perlu melakukan ujian. Apa kau berminat ?."
Sebenarnya tidak ada alasan khusus untuk Raynor belajar ke dalam sekte, segala pengetahuan yang dia dapat ketika menjadi penguasa tertinggi sudah jauh diatas jangkauan manusia biasa.
Tapi ketika Raynor mendengar akan hubungan antara ayahnya Rezar dan sekte iblis tanah neraka, tentu dia ingin mencari tahu tentang mereka, sedangkan orang yang bisa dia minta penjelasan ada di dalam sekte teratai api. Guru besar Gundira.
"Raynor aku diminta langsung oleh tuan Gundira agar kau masuk ke Sekte teratai api, tapi semua terserah padamu, jika kau menolaknya aku pun tidak akan banyak bertanya." Berkata Regar dengan serius.
Tapi senyum Raynor sudah menjawab pertanyaan Regar .... "Aku akan menerimanya."
"Benarkah itu ?, Apa kau tidak tertarik untuk belajar di akademi pedang suci di daratan tengah."
"Tidak masalah aku belajar dimana pun, karena kemampuan seseorang bukan dari tempat mereka berada, melainkan diri mereka sendiri ingin berusaha atau tidak."
Regar merasa senang untuk keputusan Raynor...."Itu kata-kata bijak yang hebat, baiklah, Minggu depan kau bisa pergi ke sekte teratai api dan menyerahkan lencana ini kepada guru disana."
"Terimakasih paman Regar."
*******
Keesokan harinya, ketika Raynor baru memulai latihan pagi seperti biasa, teriakan keras terdengar mendekat dengan cepat.
"Tuan Raynor aku tahu, aku bisa mengurai formasi yang kau berikan."
Seorang bocah lelaki kecil berlari mendekat, dia tidak peduli dengan sekumpulan orang-orang yang sedang berlatih di tengah lapangan, dia melewati mereka tanpa permisi.
"Ini masih pagi dan kau ribut sekali bocah." Ucap Raynor keras kepada Aslan.
"Aku bisa menguraikan tentang formasi anda tuan, aku tahu bentuk apa saja yang anda gunakan di dalamnya."
Raynor mengangguk paham...."Baiklah, baik, aku sudah mendengarnya dari tadi, sekarang kau coba jelaskan."
Lembar kertas yang Aslan bawa dia letakkan di depan Raynor, termasuk empat kertas lain yang menjadi bentuk uraian dari keempat formasi dasarnya.
"Pertama adalah rangkaian formasi peningkat ketahanan. Kedua adalah rangkaian formasi anti karat. Ketiga adalah rangkaian formasi penyerap panas dan keempat adalah rangkaian formasi anti maling." Ungkap semua oleh Aslan.
Formasi rangkaian anti maling sendiri digunakan sebagai bentuk antisipasi jika sebuah artefak di curi oleh orang lain, dimana ketika mereka coba memakainya, formasi prasasti akan aktif dan memutus semua rangkaian sehingga tidak bisa digunakan.
"Oh. Oh. Oh kau menang sangat cerdas, aku salut kau bisa mengurangi semua rangkaian dalam waktu satu hari." Jawab Raynor.
__ADS_1
"Aku tidak tidur agar bisa menguraikan semua rangkaian anda tuan Raynor."
"Harusnya kau beristirahat dengan benar, itu tidak baik untuk pertumbuhan mu."
"Tapi aku tidak menyangka, Anda benar-benar seorang Shaman jenius, membuat empat rangkaian dalam satu simbol prasasti." Tidak lepas kekaguman Aslan kepada Raynor.
"Ini masih belum seberapa bocah, jika kau menyadari cara kerja dari rangkaian formasi, kau bisa menggabungkan sepuluh rangkaian dalam sebuah artefak." Balas Raynor.
"Woooaaahhhhh anda sangat menakjubkan." Semakin terkagum Aslan dengan sorot mata cerah.
Memang pemahaman Aslan diluar dugaan Raynor, dia tahu jika bocah itu memang jenius di bidang rangkaian formasi, tapi untuk mengurangi semua rangkaian dalam waktu satu hari jelas sangat luar biasa.
"Kalau begitu...."
"Tidak, jangan sekarang." Tolak Raynor cepat.
Tapi Aslan merasa kecewa...."Kenapa tuan Raynor, bukankah Anda berjanji akan mengajarkanku formasi rangkaian yang lain."
"Aku akan melakukannya, tapi untuk sekarang kau harus beristirahat."
"Tapi...."
"Tidak ada tapi, jika kau tidak beristirahat sekarang, aku tidak akan melatihmu." Jawab Raynor.
"Baik tuan Raynor, akan aku lakukan."
Aslan segera berlari pergi kembali ke gudang pembuatan ramuan, karena di sana lah tempatnya tidur sekaligus bekerja.
Sania yang melihat bagaimana Aslan sangat berantusias meminta pengajaran dari Raynor, dia pun merasa paham ketika seseorang menginginkan pencapaian demi hasrat mereka, apa pun akan dilakukan.
"Dia anak kecil yang sangat luar biasa, aku merasa malu kepada diriku sendiri." Ucap Sania.
"Kenapa kau malu, sebenarnya bocah itu seumuran denganmu Nia." Balas Raynor.
"Tunggu, dia seumuran denganku ?." Bertanya Sania meminta kejelasan.
"Itu benar."
"Tujuh belas tahun ?."
Raynor mengangguk.
"Tapi kenapa kau memanggilnya bocah."
"Ya hanya keinginan ku saja." Alasan Raynor.
Tentu hanya tubuhnya saja sebagai anak berusia tujuh belas tahun, sedangkan jiwanya sebagai seorang penguasa tertinggi, sudah hidup lebih dari dua ratus ribu tahun.
__ADS_1