The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
komplain


__ADS_3

Raynor yang sudah mengetahui tempat jalan rahasia dibawah lantai rumah, tidak membuatnya kesulitan mencari, ruang tanpa batas melihat kemana Erza pergi.


Tapi langkah Raynor berhenti karena pintu besi menghalangi jalannya, ini tidaklah mudah, meski dia menggunakan kekuatan penuh untuk mendobrak masuk, tidak akan mungkin jebol dengan satu percobaan.


Raynor memiliki siasat lain, dia mulai mengetuk pintu dan sepasang mata muncul dari balik celah.


"Tunjukan tanda pengenal mu."


"Tanda pengenal ?, Mana mungkin aku memiliki itu."


"Lantas ada keperluan apa kau datang kemari."


"Aku hanya seorang pedagang keliling yang tidak sengaja lewat untuk menawarkan barang."


"Memang apa yang kau jual ?."


'Hmmm, memang dia pikir aku benar-benar seorang pedagang keliling.'


Raynor ingat dia memiliki sisa-sisa batu jiwa binatang Ibis kualitas rendah yang belum sempat di jualnya, ini hanya sekedar alasan untuk di tunjukan agar bisa percaya.


"Oh begitukah, kau tunggu saja di luar, biar aku tanya temanku dulu."


'Ternyata para bandit itu sebagian besar memiliki otak yang bodoh, apa mungkin otak mereka sudah di jual.' Pikir Raynor.


Bagaimana tidak, jelas-jelas ini adalah jalan rahasia, sebuah lorong satu arah yang ada di bawah tanah, jika mereka memiliki otak tentu tidak akan percaya ketika Raynor mengatakan dirinya adalah pedagang keliling.


Siapa sangka, tidak perlu menunggu terlalu lama pintu besi itu pun terbuka, hanya saja anggapan bahwa para bandit hanya sekumpulan orang-orang bodoh yang otaknya sudah mereka jual di pasar loak, ternyata salah.


Karena saat Raynor masuk, beberapa orang sudah berdiri dan mengacungkan senjata tepat di ujung hidung.


Mereka adalah orang-orang kuat, para ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap akhir, jelas bukan keroco seperti yang dia lawan sebelumnya.


"Apa kau benar-benar berpikir kami orang bodoh dan percaya jika kau adalah pedagang keliling yang tidak sengaja lewat di depan markas rahasia ini."


"Sebelumnya begitu, tapi ternyata kalian cukup pintar, aku puji itu."


"Jadi bagaimana kau tahu tempat ini, jangan katakan kau sudah mengalahkan Johar."


"Johar ?, Siapa Johar itu ?."


"Dia adalah orang yang berjaga di luar."


"Ah... Jadi namanya Johar, yang aku tahu dia hanya seorang lelaki bertubuh besar hitam legam dengan bekas luka di wajahnya."


"Ya itu dia, katanya mengalahkan raja serigala merah sendirian."


Nyatanya semua ucapan lelaki bernama Johar sudah melegenda di telinga para anggota sesama bandit Taring Hitam, meski pun kenyataannya dia hanya pembual besar.


"Ok, ok, aku sudah mendengar keterangan itu tiga kali dari Johar, tapi sayangnya, dia sudah aku kalahkan."


"Tidak mungkin, dia yang bisa melawan raja serigala merah sendirian, bagaimana kau bisa mengalahkan Johar."

__ADS_1


"Apa kau percaya dengan semua ucapannya itu."


"Sedikit."


"Aku katakan, dia hanya membual, melawan raja serigala merah, jangan bercanda. Luka di wajahnya itu karena dia terpeleset di sungai, tidak seperti yang dia ceritakan."


"Pantas saja...." Mereka jelas sejak awal meragukan kisah heroik dari Johar.


Raynor sendiri sudah memastikan, ahli beladiri di bawah tingkat lord tempur, hanya akan tewas jika berhadapan dengan raja serigala merah, apa lagi seorang ahli pemahaman bumi seperti Johar.


"Baiklah, kita sudahi saja percakapan tidak berguna ini."


"Sejak awal kalian lah yang mengajakku bicara."


"Apa yang kau lakukan di tempat kami."


"Aku hanya ingin menjemput Erza."


"Erza masih menjadi anggota bandit Taring Hitam, dengan alasan apa kau ingin menjemputnya ?."


"Dia tidak pantas berada di tempat busuk seperti ini."


"Kau yang busuk..." Satu orang itu bergerak maju membawa pedang untuk menyerang.


Meski Raynor memiliki kekuatan dua tingkat diatas kesetaraan sebagai ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap tengah, dia tetap harus berhati-hati.


Jika delapan orang bandit menyerangnya secara bersamaan itu jelas membuat Raynor kerepotan, terlebih dia tidak mempersiapkan diri dengan senjata yang layak, hanya sebilah pisau logam pamor tersimpan dibalik pinggang.


Pedang itu patah, memang tidak perlu diragukan lagi soal kekuatan logam pamor, hanya sebilah pisau kecil mampu mematahkan pedang dari besi biasa.


Tidak ada keraguan untuk Raynor menebas leher musuh, jiwanya adalah sang penguasa tertinggi yang sudah membunuh jutaan orang tanpa ada rasa sedikit pun penyesalan.


Tujuh bandit lain terkejut, setelah melihat satu temannya jatuh dengan darah yang bercucuran dari leher, nyawa lelaki itu tidak mungkin di selamatkan dan tewas begitu saja.


"Ini adalah bentuk pembelaan diri, ketika ada orang yang berniat membunuhku jadi mereka pun harus siap mempertaruhkan nyawanya." Ucap Raynor selagi membuang sisa darah dari mata pisau.


Tiga orang bergerak maju, membawa masing-masing senjata untuk menyerang, menggunakan ruang tanpa batas, semua arah serangan mereka terbaca oleh Raynor.


Menghindar ke kiri dan ke kanan, sedikit mundur dan melompat, ayunan pisau memotong, menusuk serta mengoyak leher mereka bertiga, satu demi satu jatuh dan tewas tanpa perlawanan berarti.


Tidak ada alasan Raynor menahan diri, ini adalah dunia beladiri, membunuh atau di bunuh, siapa yang kuat dialah rajanya, mereka yang memiliki kuasa tentu tidak akan terluka.


Tersisa tiga orang dan kini tanpa perlu menunggu mereka datang menyerang, Raynor berinisiatif maju dan melayangkan pisau di tangan.


Bahkan tiga wanita berpakaian minim yang duduk santai, tampak ketakutan ketika melihat Raynor berjalan mendekat dengan semua darah membasahi wajahnya.


"Tolong jangan bunuh kami, kami hanya pelacur yang di bawa oleh mereka."


"Aku memiliki anak kecil, aku mohon ampuni nyawa ku."


"Aku... Aku... "

__ADS_1


Raynor tersenyum ke arah mereka dengan santai, meski dia sudah banyak membunuh orang, tapi sikapnya berbeda kepada para wanita, Raynor tidak mungkin menyakiti mereka. Itulah prinsip yang dia pegang selama ini.


"Tidak perlu takut nona, aku tidak akan menyakiti kalian, pergilah."


"Terimakasih tuan muda." Mereka membungkuk dengan penuh rasa syukur.


Mengambil semua barang-barang dan pakaian, mereka segera saja pergi meninggalkan tempat bandit.


Keributan yang terjadi akibat Raynor, ternyata membuat tiga orang di masing-masing ruangan terganggu, salah satunya adalah bersama dengan Erza.


"Apa yang sedang kalian lakukan, bagaimana mungkin kalian begitu berisik." Ucap seseorang ketika keluar dari ruangan itu.


Tapi melihat kondisi tempat yang berantakan, bahkan banyak tubuh manusia tergeletak di lantai dan bermandikan darah, tentu itu membuatnya terkejut.


"Ap ... Apa yang terjadi."


Seseorang muncul di depan pandangan, secara cepat mencengkram lehernya dengan kuat dan mengangkat ke atas.


Meski dia memberontak kuat cengkraman tangan Raynor bisa saja menghancurkan tenggorokannya, tapi sengaja tidak dia lakukan, karena ada hal lain yang ingin dibicarakan.


"Jangan ada yang melawan, atau aku akan membunuhnya." Ancam Raynor kepada dua orang dari ruang kamar lain.


"Sia... pa kau...."


"Aku adalah orang yang kau cari, orang yang menghentikan pembunuh bayaran saat ingin membunuh putri Siva."


"Ja... di itu k... au."


"Itu benar, tapi aku ingin memberi keluhan."


".... ?."


"Kenapa kau menggambar wajahku seperti seekor monyet, apa kau pikir itu lucu menjadikan wajahku yang tampan ini sebagai lelucon, huh ?."


"Ti.. dak."


Itu yang ingin Raynor bicarakan, tentu rasa kesal sudah membuatnya marah, bagaimana tidak, karena gambar mereka dia merasa terhina dan ditertawakan oleh Sania.


Di sisi lain....


Erza berjalan keluar karena mendengar ada suara yang familiar di telinganya, tapi nyatanya memang benar, Raynor berdiri di samping dinding dengan tangan mengangkat tubuh ketua Dorondo.


"Raynor, kenapa disini ?."


"Aku ingin mengutarakan rasa kesal ku karena gambar itu, dan juga aku ingin menjemput mu, Erza, kau tidak pantas untuk berada di tempat ini."


Ternyata selagi Raynor bicara dengan Erza, perhatiannya teralihkan, dimana orang yang berada di ruangan lain menggunakan teknik tenaga dalam untuk menciptakan kilatan cahaya terang dan membuat mata silau.


Raynor meski ruang tanpa batas melihat gerakan dari orang itu, tapi dia cukup terganggu akibat silau cahaya. Tubuh Raynor dihantam oleh pukulan keras yang membuat dirinya terpental.


Mereka ingin menyelamatkan Dorondo dan membawanya pergi dengan jalan rahasia lain. Raynor tidak sempat mengejar, hingga mereka berhasil selamat.

__ADS_1


__ADS_2