The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Suntik mati


__ADS_3

Beberapa orang yang tersembunyi di dalam kerumunan para penduduk kota, meski mereka bisa mengelabui siapa pun di sekitarnya, tapi tidak untuk Raynor.


Dia menyadari akan tatapan yang mengarah kepadanya melalui ruang tanpa batas, terlebih lagi ada niat membunuh disertai aura gelap dan terasa tidak menyenangkan untuk merasakannya.


Ada banyak alasan kenapa orang-orang itu mengincar Raynor, entah soal penjarahan harta ruang tersembunyi kelompok Taring Hitam, atau juga karena dia menyelamatkan Erza, meski seharusnya mereka tidak tahu soal Erza yang masih hidup.


Raynor mengambil langkah memasuki gang-gang sempit dan sepi, ada lima orang mengikuti dari belakang, masing-masing kemampuan mereka adalah seorang ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap tengah. Ini membuat Raynor tenang, dia sangat yakin menghadapi mereka bahkan tanpa perlu menggunakan pedangnya.


Diam-diam Raynor memperhatikan setiap gerak-gerik dari mereka berlima, empat orang berpisah, dimana hanya ada satu orang sengaja mengikuti dari belakang, satu menunggu di depan gang untuk memotong jalan dan tiga lainnya ada di atas rumah penduduk sebagai serangan kejutan.


Mereka jelas sangat terlatih sebagai para pembunuh bayaran, jika saja Raynor adalah orang lain, maka tidak ada kepastian selamat untuk melawan lima orang yang mengunci setiap arah perlawan musuhnya.


Raynor berhenti ketika satu orang menunggu di depan jalan kini menampakan diri, mereka sudah bersiap dengan senjata untuk membunuh siapa pun seperti yang diperintahkan.


"Ehhh ... Ternyata ada orang yang sedang mengincar nyawaku rupanya." Berkata Raynor berlagak bodoh.


"Kau cukup tenang ketika tahu ada pembunuh di depanmu, apa kau tidak terkejut ?."


"Dari pada terkejut, aku sekarang sedang berpikir cara apa yang akan aku gunakan untuk melawan kalian berlima."


Mendengar pernyataan Raynor itu membuat mereka merasa terhina... "Jangan berpikir kau mampu, kami berlima, dan kau hanya sendiri."


"Hei, bukankah di dalam kisah pahlawan, dia sendiri mampu mengalahkan seribu orang dalam pasukan hidup dan mati untuk menjaga kerajaan." Bantah Raynor.


"Itu di dalam cerita tapi ini adalah dunia nyata dan juga memang kau siapa ?, Pahlawan ?, Aku yakin bukan."


"Aku memang bukan pahlawan, tapi untuk melawan kalian berlima itu sangatlah mudah." Kepercayaan diri tinggi yang bisa Raynor sombongkan.


Mendengar provokasi Raynor yang sudah kelewatan, bahkan menganggap mereka sangat lemah untuk mengalahkannya, tentu satu orang tersulut emosi dan bergerak maju tanpa memperhatikan untung atau pun ruginya.


Sebuah pisau yang tersembunyi dibalik jubah bergerak lurus hendak menusuk perut Raynor, dia pun tertusuk, TAMAT.


Tentu saja tidak, meski itu diharapkan oleh semua orang yang hendak membunuh Raynor, nyatanya tanpa perlu menggunakan senjata, gerakan tangan Raynor sudah bisa menangkis arah pisau dan mengambilnya secara paksa.


Sepakkan kaki Raynor melayang di kepala orang itu, membuat tubuhnya terpental dan jatuh menghantam lantai hingga pingsan.


Melihat satu kawan mereka dikalahkan dengan mudah, bandit-bandit lain bersiap mengeluarkan senjata, tanpa pernah disangka target yang harusnya mudah untuk dibunuh kini berbalik melawan.


"Apa kalian akan maju satu persatu atau sekaligus, aku tidak masalah." Senyum Raynor mengejek mereka.


"Jangan banyak bicara, tetaplah diam dan mati dengan tenang." Sebuah teriakan datang dari atas kepala Raynor.


Tiga orang yang ada di atap rumah penduduk meluncur turun dengan pedang mengarah lurus, tapi sebuah pedang besar menghalangi senjata mereka, dentingan keras akibat senjata yang berbenturan mengeluarkan gelombang tenaga dalam dan melempar tubuh tiga orang untuk menjauh.

__ADS_1


Ini mengejutkan, dimana lawan mereka bertiga tidaklah lebih kuat, bahkan seimbang sebagai seorang ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap tengah, tapi perihal kekuatan Raynor mampu menahan tiga serangan seorang diri.


Empat orang segera menjaga jarak dan mundur dua langkah kebelakang, mereka tentu berpengalaman dalam hal membunuh sehingga sadar jika lawan mereka sekarang tidak mudah untuk dikalahkan.


"Dia bukan bocah sembarangan, kekuatan fisiknya mungkin sama seperti raja tempur.'


"Ini sudah membuktikan bagaimana dia mampu mengalahkan orang-orang kita dengan mudah." Jawab kawannya yang lain.


"Meski begitu dia sendirian, kita menang dalam jumlah."


"Baiklah kita serang bersama-sama."


Raynor tersenyum mengejek karena mendengar apa yang mereka katakan secara jelas.


"Jika kalian ingin membuat rencana katakan dengan diam-diam agar musuh tidak tahu, itu aturan wajib dalam mengatur rencana." Raynor memberi saran.


"Aku sudah tahu jadi jangan mengajari kami." Tapi mereka merasa tidak terima.


"Kalau kalian tahu tapi kenapa masih melakukannya, apa anggota kelompok Taring Hitam hanya sekumpulan orang-orang bodoh."


"Kau yang bodoh." Balas mereka semakin marah.


Kini mereka berempat maju secara langsung dan bersama-sama, Raynor tidak perlu membuat rencana untuk mengalahkan lawannya.


Pedang berat di tangan bersiap dalam kuda-kuda, semakin dekat hingga memasuki area jangkauan serangan pedang Raynor. Hingga tepat dalam jarak dua langkah, tanpa ada keraguan sedikitpun Raynor menghantamkan pedangnya dengan ayunan kuat.


Empat orang sekarat dan hampir menemui ajal, tapi tidak untuk orang pertama yang menyerang Raynor, dia hanya mendapat luka pukulan dan pingsan di tempat.


Hingga ketika dia membuka mata, melihat Raynor sedang berjongkok selagi menunggunya sadar.


Tidak ada kata belas kasih untuk Raynor kepada orang yang menjadi musuhnya, kecuali tiga hal.


Pertama dia harus memiliki ikatan keluarga.


Kedua dia pernah memberi bantuan kepadanya.


Dan ketiga alangkah baiknya jika itu seorang wanita.


Lepas dari tiga hal itu, Raynor tidak segan-segan memberi kematian untuk perbaikan yang telah merugikannya.


"Kau sudah sadar."


"Ap... Bagaimana mungkin kau masih hidup." Ucapnya ketakutan.

__ADS_1


"Sungguh tidak sopan, tentu saja aku masih hidup, tapi aku tidak yakin dengan empat teman mu disana." Balas Raynor.


Tunjuk Raynor ke tempat dimana empat tubuh berjubah hanya tergeletak diam dengan semua darah yang keluar dari mulut.


Terkejut lelaki itu menatap empat mayat yang tergeletak di tanah...."Kenapa bisa kau mengalahkan mereka."


"Hei apa harus aku menceritakan semuanya dengan detail, aku lebih senang jika mempraktekkannya saja."


Tangan Raynor mengangkat kembali pedangnya, dia bersiap dengan ayunan yang langsung mengarah ke depan kepala lelaki itu.


Tapi Raynor tidak berniat membunuh lelaki itu sekarang, paling tidak sampai dia menceritakan tentang tujuan mereka datang kepadanya.


Satu jari tepat sebelum kepala lelaki itu pecah karena hantaman pedang yang diayunkan, dia segera bersujud meminta maaf di hadapan Raynor.


"Jadi apa kau bisa katakan tentang tujuanmu datang membunuhku."


Karena merasa nyawanya terancam dia pun harus setuju untuk mengatakan tujuan mereka ... "Kami mendapat perintah itu karena anda telah merusak bisnis di tempat ini, termasuk juga mengambil kembali harta yang anda curi dari kami."


"Ternyata memang soal harta, tapi apa salahnya mencuri dari pencuri." Gumam aynor.


"Apa ada hal lain."


"Hanya itu tuan."


"Begitukah ?, Baiklah semoga kau mati dengan tenang." Raynor sudah siap untuk membunuhnya.


Tapi cepat dia segera bersujud kembali... "Ada satu hal lain, tapi bisakah anda mengampuni ku jika aku mengatakannya."


"Tergantung, jika itu berita besar yang membuatku tertarik, aku akan membiarkanmu pergi."


"Kalau begitu, kami di perintahkan untuk membunuh keluarga kerajaan saat festival besok, bahkan kami sudah mempersiapkan artefak peledak yang dipasang di setiap arena nantinya."


Raynor merasa terkejut karena dia tidak tahu soal rencana pembunuhan masalah di acara festival besok...."Itu cukup menarik, Siapa yang menyuruh kalian."


"Kerajaan Soran."


"Disaat itu juga mereka akan mengirimkan pasukan untuk menyerang kerajaan Losborn." Tambahnya.


Ini sebenarnya sudah masuk hitungan Raynor jika kerajaan Soran akan datang menyerang setelah tahu Rezar telah tewas. Tapi penyerangan yang mereka lakukan terlalu cepat.


"Apa itu sudah cukup tuan." Dia masih berharap ampunan dari Raynor.


Tapi berbeda dengan niatnya... "Sebenarnya sudah cukup, tapi maaf....."

__ADS_1


Raynor sedikit memberi belas kasih, dia tidak membunuh lelaki itu dengan brutal. Tapi sebuah energi pengobatan yang digunakan untuk membunuhnya dari dalam secara instan tanpa rasa sakit. (atau bisa dikatakan 'Suntik Mati')


Jika Raynor membiarkannya pergi, tentu rencana kerajaan Soran akan berubah, sehingga apa yang lelaki itu katakan menjadi sia-sia.


__ADS_2