
Raynor meninggalkan kediaman Klan naga langit, ini memang tujuannya, dimana dia membiarkan Sisha memilih untuk hidup yang akan dipilih. Meski pun pada kenyataan ibunya sendiri telah meninggalkan semua demi kepentingan pribadi.
Seperti itulah takdir manusia, mereka bisa memiliki segalanya dan mereka pula bisa kehilangan segalanya, tidak ada yang benar-benar mampu mendapatkan semua tanpa mempertaruhkan apa pun.
Istian hanya satu dari triliunan makhluk hidup di jagat raya yang tergiur akan kekuasaan, termasuk juga Davendra, dia mempertaruhkan hidup untuk mengikuti keinginan di dalam jalan beladiri hingga menjadi sosok penguasa tertinggi.
Tanpa Davendra sadari dia sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya, keluarga, saudara, dan sahabat yang telah menjadi korban ketamakan Davendra untuk mencapai puncak kekuatan tenaga dalam.
Penyesalan akan datang di akhir, entah itu untuk Sisha atau pun Istian, keduanya sudah memilih jalan hidup masing-masing dan biarkan mereka merasakan bagaimana takdir membentuk keberadaan keduanya.
Sisha tertunduk sedih dengan wajah yang dibenamkan dalam pelukan antara kedua lututnya, Erza mengusap rambut untuk membuat gadis kecil itu lebih baik, sedangkan Raynor berjalan semakin dekat dengan santai tanpa ada niat memberi nasihat.
"Gadis kecil, kau yang menginginkan untuk pergi dari ibumu, apa kau menyesalinya." Ucap Raynor.
"Tidak paman, tapi...." Sisha menjawab dengan murung.
"Tapi apa ?."
"Aku takut ibu marah-marah lagi kepadaku."
"Kenapa kau harus takut, apa kau bicara yang salah ?." Raynor kembali bertanya dengan tegas.
"Tidak paman."
"Kalau begitu jangan menangis, jika itu benar maka jangan merasa bersalah."
Sisha mengangguk mendengar suara Raynor yang dengan tegas memberi pelajaran untuk Sisha teguh dalam pendiriannya.
Erza cukup paham bagaimana penjelasan Raynor kepada Sisha, meski pun bagi seorang wanita seperti Erza atau Sania, caranya itu terlalu berlebihan.
"Raynor apa kau tidak terlalu keras, dia masih kecil." Berkata Erza yang tidak senang atas perkataan Raynor.
"Erza, hidup bukan sesuatu yang akan memelas karena kita menangis, hidup itu kejam, kalau kita tidak kuat, maka kita akan dipecundangi, harusnya kau tahu karena kau pun merasakannya sendiri." Jawab Raynor tanpa perlu menahan diri.
Erza tidak bisa membantah, dia sejak kecil harus merasakan kepahitan hidup yang benar-benar pahit, melakukan segala cara demi bertahan dalam kejamnya dunia.
Begitu pula sania, dia cukup paham bagaimana Raynor menggambarkan kehidupan yang harus Sisha jalani mulai sekarang.
Seperti Raynor ketika harus menerima kenyataan bahwa keluarganya telah diban*tai, seluruh penduduk desa Maresha tewas, tidak ada kesempatan untuk mengubah kejadian itu, tapi dengan tekad kuat Raynor memiliki tujuan agar mampu membalaskan dendam.
"Semua ini membuatku lapar, ayo pergi, kita cari makan sekarang." Berkata Raynor dan melangkah menuju pusat perdagangan kota kerajaan.
Demi membuat Sisha merasa lebih baik, Raynor membawa semua orang ke rumah makan besar dan cukup terkenal di kerajaan Losborn.
Tidak perlu khawatir soal harga, karena di balik saku Raynor dia menyimpan puluhan ribu koin emas dari hasil rampasan bandit, tentu itu cukup membayar makanan di rumah makan mahal untuk sepuluh tahun kedepan .
Mengambil satu meja untuk empat orang, semua mata tertuju kepada mereka karena kehadiran Sania, siapa yang tidak kenal dengan kecantikan abadi dari klan harimau merah. Bahkan ketika seorang pelayan datang dan menerima pesanan, dia tersenyum-senyum layaknya orang habis menang lotre.
__ADS_1
"Bawa semua makanan termahal yang ada di tempat ini." Tanpa basa basi dan tanpa perlu tahu harga yang tercantum dalam buku menu, Raynor tanpa tawar menawar memesan apa pun untuk Sisha.
"Baik tuan." Pelayan itu gugup dan segera berjalan pergi.
Erza terkejut karena jelas harga yang tercantum benar-benar bukan makanan murah.
"Hei Raynor, apa kau yakin, lihat harga satu makanan saja bisa membeli pedang kualitas tinggi." Erza gugup setelah membaca daftar menu.
"Apa kau pikir aku orang miskin Erza ?."
"Tapi ini terlalu berlebihan."
"Santai saja, anggap sebagai hadiah agar Sisha tidak sedih."
"Selama kau yang bayar aku tidak akan menolaknya." Balas Erza.
Selagi menunggu makanan datang, beberapa lelaki yang tidak Raynor kenal mendekat untuk menyapa. Mereka menggunakan pakaian serba hitam dengan coretan gambar serigala dimana tentunya Raynor sadar siapa mereka.
"Oh, bukankah ini putri Sania, jarang sekali kita bisa saling menyapa di luar pertemuan empat klan utama." Lelaki itu mengajak Sania bicara.
Hanya saja Sania yang kini digantikan oleh Wilea terlihat tidak perduli untuk sapaan tiga lelaki dari klan serigala hitam.
"Nia sepertinya mereka mengenalmu." Ucap Raynor menggoda Sania.
Sebenarnya Raynor sadar jika sengaja Sania tidak menanggapi sapaan mereka karena dia sudah cukup terganggu akibat pertemuannya dengan Sursanto.
"Bagaimana mungkin putri Sania lupa, aku Rayos, putra kepala klan serigala hitam yang kini berguru di sekte teratai api."
"Begitukah ?, Maaf jika aku tidak mengingatnya."
"Tentu saja bukan masalah, karena mungkin mulai sekarang kita bisa saling kenal lebih akrab." Jawab Rayos dengan tersenyum.
Ada perasaan marah ketika dipaksa oleh Rayos untuk berjabat tangan, namun balasan senyum dari Sania yang terlihat pahit dan segera menarik tangannya kembali.
"Jadi kenapa anda kembali, bukankah pelatihan di dalam sekte teratai api cukup lama." Sania sengaja bertanya agar Rayos tidak tersinggung.
"Ayah meminta ku kembali untuk mengikuti festival peringkat generasi muda terbaik, tentu ini adalah waktu yang tepat membuktikan hasil latihan ku di dalam sekte teratai api." Rayos semakin tinggi untuk bersikap sombong.
"Aku lupa jika festival akan dimulai dua Minggu lagi." Balas Sania."
"Karena itu putri Sania, sebaiknya anda bergabung di meja kami, tentu kita bisa sedikit mengobrol." Berkata Rayos yang dianggapnya Sania.
"Maaf untuk itu, aku disini dengan seseorang, tidak mungkin meninggalkan mereka." Sania masih bersikap sopan demi menghindari keributan.
"Memang apa yang putri Sania harapkan dari obrolan dengan lelaki ini, jika bersama denganku, kita bisa bicara lebih banyak soal sekte teratai api, tentu anda tertarik untuk bisa bergabung." Rayos mencoba menarik perhatian Sania.
Raynor tersenyum mengejek selagi berpikir... 'Apa yang bisa dibanggakan dari sekte kecil itu, aku yakin kau sendiri hanya menjadi kacung disana, tapi bicaramu seperti mampu berjalan di atas langit.'
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf, tapi aku tidak berminat, silakan anda kembali, tuan... Terserahlah siapa." Balas Sania.
"Putri Sania, anda harusnya tahu, jika dengan bantuanku, masuk ke sekte teratai api adalah hal mudah, daripada kau mengenal lelaki yang tidak jelas seperti dia." Tunjuk Rayos di depan hidung Raynor.
Raynor menatap tajam kepada Rayos, tidak ada sedikit pun rasa takut jika harus bertarung, namun Sania menolak kekerasan hanya karena sedikit perdebatan.
Sania menghalangi Raynor...."Tuan... Jangan buat keributan disini, aku minta kepada anda."
"Baiklah, aku tidak akan memaksa anda putri Sania."
Tidak ada harapan untuk Rayos, bahkan untuk sekedar membuat Sania ingat tentang namanya pun sudah mustahil.
Rayos berjalan kembali ke meja, perasaan marah, malu dan sedikit sembelit tergambar jelas di wajahnya. Dia menang bisa menyombongkan diri sebagai murid sekte teratai api di hadapan wanita lain. Tapi tidak untuk Sania, minimal Rayos harus mampu mengalahkan raja penguasa hutan Jatilowa seorang diri, barulah Sania sedikit tertarik, ingat hanya sedikit.
Raynor dari meja mejanya bisa mendengar ocehan-ocehan Rayos.
"Si*al, bagaimana mungkin aku yang menjadi generasi muda terbaik di klan serigala hitam ditolak oleh seorang wanita." Rayos kesal sendiri.
"Kau kalah oleh lelaki tidak jelas yang di sana." Balas kawannya dengan tawa keras.
"Memang dia pikir siapa ?, Aku jauh lebih baik dari segala hal."
"Itu benar, tuan Rayos, jangan khawatir, ini yang dinamakan, wanita selalu jual mahal di awal, selebihnya kita dapat potongan harga."
Entah memang sudah bawaan lahir atau sifat mereka adalah ajaran dari orang tua, tapi setiap orang dalam klan serigala hitam selalu saja membuat Raynor kesal.
Selagi para pelayan menaruh pesanan di meja Raynor, dia pun berbisik kepada Sania, untuk mengatakan apa yang dia ucapkan kepada kelompok orang dari klan serigala hitam itu.
"Tuan, biar nanti tuan-tuan dari klan serigala hitam itu yang membayar makanan ini." Ucap Raynor kepada pelayan.
"Memangnya kenapa tuan ?." Balas pelayan karena meragukan Raynor.
Raynor memberi kode, Sania pun segera berdiri mengarah kepada Rayos dan berkata....
"Tuan muda, maaf jika membuat anda tidak nyaman." Itu yang Sania ucapkan.
"Tidak apa-apa putri Sania, nikmati saja waktu anda." Balas Rayos dengan senyum bodoh.
Pelayan pun mengangguk-anggukkan kepala seakan paham.
"Lihat.... Mereka adalah orang dermawan, jadi jangan heran." Berkata Raynor meyakinkan pelayan.
"Baiklah tuan."
Cepat mereka memesan, cepat pula mereka menghabiskan makanan, tidak lupa pula untuk membungkus untuk dibawa pulang, karena jarang Raynor mendapat makanan secara cuma-cuma.
Meninggalkan setumpuk bon pembayaran kepada Rayos dan kawan-kawan, tentunya itu bisa membuat uang saku mereka habis untuk membayar semua makanan milik Raynor.
__ADS_1