The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
bercocok tanam


__ADS_3

Malam mulai datang. Angin berhembus dingin perlahan dari Utara.


Semak-semak yang bergoyang-goyang menampakan dua pasang lelaki dan perempuan saling beradu gerakan tanpa ada satu helai kain pun menutupi.


Bagi mereka-mereka yang hidup sebagai manusia biasa, dinginnya malam di hutan Jatilowa tentu sudah cukup membuat mereka menggigil dan jatuh sakit.


Tapi seakan tidak memiliki pengaruh apa pun kepada Raynor dan Erza untuk berkeringat bersama-sama. Meski itu angin, hujan atau pun gempa bumi, tidak akan dipedulikan oleh mereka berdua ketika saling memberi kenikmatan.


Setiap gerakan Raynor dan Erza perlahan namun pasti, mereka saling terhubung satu sama lain di dalam pelukan hangat tanpa berharap untuk lepas.


"Raynor kau terlalu bersemangat....." Ucap Erza yang sekuat tenaga untuk bisa bertahan dengan setiap gerakan dari Raynor.


Cengkraman kuat memeluk erat tubuh Raynor, begitu juga Erza menggigit pundak karena tidak mau suaranya terdengar keras oleh siapa pun. Meski di sekitar mereka hanya ada binatang-binatang hutan yang berlalu lalang untuk mencari mangsa.


Nafas Erza tersengal-sengal oleh tubuh Raynor yang naik turun, sesekali gemetar dan seakan jiwa sedang di aduk hingga tumpah membasahi semak-semak dibawahnya.


"Bukankah kau yang menggodaku Erza, ketika aku berusaha keras tapi kau seperti ingin menyerah." Sedikit Raynor tersenyum kepada Erza.


"Tidak bukan begitu, hanya saja kau benar-benar tidak memberiku istirahat. Aku sudah lupa berapa kali kau membuatku lemas." Jawab Erza.


"Apa aku terlalu berlebihan."


"Aku tidak menyalahkan mu untuk hal ini, tapi jika diteruskan lebih lama lagi, mungkin aku hilang kesadaran." Lemas Erza untuk berbicara.


"Baiklah, kita istirahat sejenak."


Lemas tubuh Erza setelah lepas dari pelukan Raynor, berbaring dengan rasa lelah setelah sekian jam beradu teknik walau pada akhirnya dia tidak bisa menang.


"Apa kau baik-baik saja." Bertanya Raynor.


"Aku tidak bisa merasakan bagian bawah ku." Jawab Erza.


Raynor hanya tertawa sendiri melihat Erza yang masih mengatur nafas karena lelah. Dia tidak menyalahkan Raynor, bahkan untuk Erza sendiri, dia pun mengharapkan Raynor bisa menikmati pelayanan darinya.


"Erza kau tetap di sini, aku akan mencari sesuatu untuk kita makan." Ucap Raynor selagi membelai rambut Erza.


"Jangan terlalu jauh. Kau bisa tersesat nanti Ray."


"Hanya di sekitar sini saja."


Tapi ketika melihat Raynor berdiri dengan senjata tajam masih mengacung lurus tanpa lawan, Erza merasa malu sendiri.


"Kenapa kau ?." Bertanya Raynor karena bingung melihat sikapnya.


"Paling tidak pakai celana mu terlebih dahulu."


Bagi para ahli beladiri setingkat Erza, harusnya dia cukup kuat dalam permainan ini semalaman penuh. Tapi seperti memberi makan seekor singa yang tidak pernah kenyang, semua tenaganya dikuras habis untuk menyamai stamina Raynor.


Erza sekarang pun merasa bagian bawah tubuh terisi penuh, bahkan dia mengingat jelas bentuk senjata Raynor yang memasukinya dengan sangat erat.


Tidak lama Raynor kembali dengan seekor rusa tanduk merah yang dia bunuh untuk di jadikan makanan.

__ADS_1


Api unggun dinyalakan, Erza duduk semakin dekat hingga kulit mereka kembali bersentuhan. Raynor mengeluarkan sebuah selimut dimana dia menutupi tubuh Erza yang hanya menyisakan pakaian dalam.


Tapi tidak lama, seorang wanita muncul dari balik semak-semak, tatapannya terkejut ketika melihat Raynor dan Erza duduk bersebelahan tanpa menggunakan pakaian yang utuh.


Dia adalah Siva, dimana ternyata kembali ke tempat ini karena khawatir untuk keselamatan Erza dan Raynor. Hanya saja ketika dia mendengar suatu suara di balik semak-semak, Siva pun melihat karena penasaran.


"Apa yang sebenarnya kalian berdua sedang lakukan. Aku sudah sangat khawatir dengan kalian dan memutuskan untuk kembali, tapi kau dan Erza malah sedang berduaan di semak-semak." Ucap Siva dengan perasaan campur aduk kepada mereka.


Raynor tertawa lemas, karena terlalu sibuk menikmati waktu bersama Erza, dia sampai tidak memperhatikan ruang tanpa batas yang membuatnya tidak sadar jika Siva datang.


"Ya kau tahu Siva, aku telah bekerja keras untuk bertarung melawan iblis itu. Setidaknya ini bisa membuatku sedikit lebih bersyukur karena masih bisa selamat." Jawab Raynor sedikit memberi alasan.


Siva tentu memperhatikan Raynor dan Erza, dimana sepasang kekasih berada di tengah hutan yang hanya tertutupi pakaian dalam berselimut kain tipis.


"Jadi apa kalian berdua sudah melakukannya." Bertanya Siva ragu-ragu.


"Melakukan apa ?, Membakar rusa tanduk merah ?, Apa kau juga mau Siva ?."


Merah wajah Siva ketika hendak mengatakannya...."Bukan itu.... Tapi ya, hubungan yang lebih intim untuk kalian berdua."


"Jika maksud mu 'Bercocok tanam', ya kami melakukannya." Jawab Raynor dengan santai.


Tiba-tiba saja Erza memukul pinggang Raynor keras ..."Kenapa kau begitu mudah mengatakan itu."


"Aku tidak mungkin mengatakan hal lain kepada Siva , jadi untuk apa harus berbohong."


"Meski pun begitu.... Harusnya kau sadar situasinya sekarang." Erza kesal sendiri untuk sikap Raynor.


Raynor melihat wajah Siva begitu muram, ada iskan tangis tertahan hingga menetes air mata di wajahnya.


Erza dengan kesal memukul pinggang Raynor kembali... "Lihat kau membuat Siva menangis."


"Tunggu, tunggu Siva, jangan marah. Aku tidak bisa mengatakan jika perbuatan ku dan Erza adalah salah paham, tapi sebagai lelaki yang sehat jasmani dan rohani, tentu merasa tergoda untuk melakukan hal-hal lebih." Raynor coba menjelaskan.


Sigap Erza memberi pelukan kepada Siva, bagaimana pun hubungan antara mereka berdua sudah sangat dekat.


"Maaf Siva, memang aku belum menceritakan tentang ini. Tapi aku akui akulah yang pertama menggoda Raynor." Ucap Erza dengan rasa sedikit menyesal.


"Aku tidak marah soal perbuatan kalian berdua, tapi aku merasa sedih kenapa aku merasa di tinggalkan oleh kalian." Jawab Siva.


"Eh ?." Erza bingung dengan jawaban Siva.


Raynor pun angkat bicara..." Kalau begitu ayo kita melakukannya."


Dia seperti bersiap membuka celana, tapi cepat Erza menendang bagian tengah antara dua kaki Raynor dan langsung jatuh bersimpuh lutut.


"Kenapa kau menendang aset berharga ku, bagaimana jika kau membuatnya rusak Erza." Raynor kuat menahan rasa sakit.


"Jangan bicara seenak jidat, apa kau tidak bisa menahan diri Ray.." Erza tidak membiarkan Raynor mengambil kesempatan terlalu banyak.


Pada dasarnya semua yang terjadi adalah kesalahan Erza, dia tidak mau membuat hubungan dengan Siva menjadi rumit.

__ADS_1


"Padahal aku hanya ingin mengabulkan keinginan Siva saja." Balas Raynor.


"Aku paham, meski begitu aku tidak ingin kau melakukannya jika aku masih di sini." Ada rasa enggan dari Erza.


"Ehhh, padahal kita bisa melakukanya bertiga." Dengan mudahnya Raynor mengatakan itu kepada Erza dan Siva.


"Tidak, aku tidak mau, meski pun kami berdua sudah saling terbuka untuk menjadi kekasihmu, tapi dalam hal khusus seperti 'Bercocok tanam' kami tidak ingin saling membandingkan." Tegas Erza memberi penolakan.


"Aku tidak pernah sekali pun membandingkan antara kalian berdua."


Raynor selalu adil dalam memberi apa pun kepada setiap wanitanya, bahkan di alam semesta atas, ketika dia menjadi penguasa tertinggi ada lebih dari lima puluh istri dimana masing-masing mendapatkan perhatiannya tanpa kurang sedikit pun.


"Ya tapi tetap saja, di dalam pikiranku selalu beranggapan 'Bagaimana jika Raynor lebih menyukai Siva, apa yang harus aku lakukan' begitu. Apa kau paham ?." Kembali Erza berkata dengan kesal.


"Sayangnya aku tidak paham dengan cara berpikir mu Erza."


"Terserah kau saja, yang jelas, jika kau mau melakukannya dengan Siva. Jangan di depanku."


"Baiklah nanti kita lakukan di tempat lain, tapi jika kau tertarik, aku tidak menolaknya." Raynor menggoda Siva, nyatanya dia pun mengangguk setuju.


Setelah semua kesalahpahaman yang terjadi telah di jelaskan oleh Erza, Siva sedikit lebih baik dan ikut duduk di sebelah kiri Raynor selagi menikmati daging Rusa tanduk merah bersama.


"Apa yang terjadi dengan iblis itu Ray." Bertanya Siva.


"Aku membunuhnya." Santai Raynor menjawab seakan itu bukan hal penting.


Tapi serius Siva tergambarkan dari raut wajahnya...."Meski aku baru pertama kali melihat wujud dari ras iblis, tapi di jelaskan dari buku yang aku baca. Kekuatan para iblis mampu meleburkan energi milik manusia."


"Ya itu benar, tapi sayangnya sosok yang aku hadapi bukanlah ras iblis asli, dia seorang manusia." Perjelas Raynor.


"Tapi bagaimana pun aku lihat dia adalah iblis."


"Kau tidak salah Siva, tapi kekuatan iblis yang dia miliki berasal dari perjanjian kontrak, dimana saat itu terjadi, energi iblis akan masuk dan mengambil alih esensi kehidupan manusia yang terikat dengannya."


Siva sedikit paham dengan penjelasan Raynor, meski begitu dia tidak meragukan jika manusia yang mendapat kekuatan dari ras iblis benar-benar luar biasa kuat.


"Jadi selama ini kerajaan Soran menyimpan prajurit-prajurit dengan kekuatan semengerikan itu." Erza pun memberi tanggapan yang lebih serius.


"Bahkan ada kemungkinan raja kerajaan Soran sendiri sudah melakukan perjanjian dengan ras iblis, mereka mengatakan ingin membangkitkan kembali raja iblis Azarto." Ungkap Raynor.


Sejenak Erza dan Siva terkejut, dimana status dari nama raja iblis sudah sangat mengerikan untuk mereka berdua dengar.


"Padahal dulu, raja Greedan dan para penguasa kerajaan lain saling bekerjasama demi menghentikan sekte iblis tanah neraka." Ucap Siva.


"Entahlah soal itu, manusia mudah berubah ketika menginginkan sesuatu."


"Apa itu artinya kau juga akan berubah." Erza pun menambahkan.


Tersenyum Raynor sebelum menjawab...."Jika ini soal kekuatan iblis, aku tidak tertarik sama sekali, manusia memiliki potensi kekuatan di atas apa pun, sungguh akan rugi mengorbankan jiwa kita kepada iblis."


Erza dan Siva mempercayai ucapan Raynor, dimana dirinya pun sudah membuktikan bahwa kekuatan yang dia miliki mampu membunuh Xin Nian.

__ADS_1


__ADS_2