The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
120 kilo


__ADS_3

Siang sudah bercokol sombong di atas kepala, bersama Sania dan Sisha, Raynor datang membawa Lamo di punggungnya, langkah perlahan melewati jalanan berbatu agar menjaga Lamo tetap aman.


"Maaf tuan Raynor karena selalu merepotkan mu untuk membawaku kemari."


"Jangan meminta maaf, ini sudah menjadi tugas seorang murid kepada gurunya."


"Ini mengingatkanku ketika pergi bersama Tuan Janaga."


"Apa itu guru anda tuan ?."


"Ya, dia sosok yang luar biasa, meski pun aku sudah belajar dengan beliau selama lima belas tahun, aku tidak sampai menyamai separuh kemampuannya dalam menempa senjata."


Kemampuan menempa senjata tidak bisa dianggap remeh, tidak hanya sekedar mengayunkan palu untuk membuat senjata, tapi pada ahli tempa senjata harus memahami karakteristik dari setiap bahan dan jenis penggabungan logam.


Jika seorang ahli tempa membuat senjata secara asal, kekuatan serta ketajaman dari buatannya akan mudah rusak, dan salah satu hal tersulit adalah menggabungkan sebuah logam tempa dengan batu energi.


Batu energi alam sangat berguna, dimana ketika senjata di gabungkan dengan batu energi alam, maka senjata itu sendiri akan menghasilkan kekuatan sesuai dari energi alamnya.


"Kalau boleh tahu, apa tuan Janaga masih hidup."


"Aku tidak tahu, tapi aku percaya tuan Janaga masih melanjutkan perjalanannya."


"Lantas kenapa tuan Lamo memilih tinggal di kerajaan Losborn."


"Soal itu...." Tersirat ekspresi wajah murung untuk menceritakan kepada Raynor.


Tapi belum sempat tuan Lamo bicara, Raynor sudah sampai di dekat pondok, dan melihat satu sosok wanita yang duduk di atas batu dengan wajah rumit.


Melihat kehadiran Raynor, wanita itu berdiri dan melangkah maju untuk menyapa.


"Kau terlambat, Ray." Saut Erza dengan wajah kesal.


"Maaf, Aku memiliki banyak urusan, bahkan tadi pagi aku membutuhkan waktu cukup lama untuk bermeditasi di atas jam*ban."


"Kau harus lebih banyak makan sayuran."


"Aku hanya tidak suka pilih-pilih makanan."


"Aku pikir kau hanya rakus saja."


Sania datang dan berdiri di samping Raynor, tentu ada pertanyaan besar ketika Erza melihat sebuah kecantikan luar biasa dari wanita yang dibawa Raynor.


"Aku tidak tahu kau memiliki wanita secantik ini." Bertanya Erza dengan penuh kekaguman.

__ADS_1


Raynor tersenyum sombong... "Kau tidak mengenalnya?."


Erza menggelengkan kepala.


"Kau harus tahu, jika gadis cantik ini adalah putri dari klan harimau merah yang sangat terkenal di kerajaan Losborn." Jawab Raynor dengan kebanggaan.


"Jadi dia putri Sania." Terkejut Erza karena memang sosok putri Sania sangat terkenal.


"Itu benar."


"Aku memang sudah mendengar tentang putri Sania, tapi ini pertama kali aku melihatnya secara langsung." Erza tidak menyembunyikan rasa kagum akan kecantikan Sania.


Raynor bisa paham tentang kekaguman Erza, karena kecantikan seperti Sania dan Siva seakan tidak memandang jenis kelamin, tidak hanya lelaki saja yang terpana akan pesona mereka, tapi para wanita pun mengakui bahwa Sania berada di tingkat berbeda.


Bertanya Sania..."Siapa dia Ray ?."


"Oh, perkenalkan dia adalah Erza, kenalanku sewaktu di dalam penjara." Balas Raynor.


"Bagaimana mungkin kalian berkenalan di sana."


"Ya banyak hal terjadi karena masalah yang tidak biasa." Ditunjukkan wajah pahit Raynor.


Sania bukan wanita sombong yang memandang renda orang lain, tersenyum manis dan memperkenalkan diri, tidak perlu banyak alasan, keduanya bisa saling bicara tanpa rasa canggung.


"Beliau adalah tuan Lamo, guruku untuk membuat senjata."


Erza membungkuk dengan hormat. "Perkenalkan aku Erza, tuan Lamo."


Dia yang sekarang bukanlah bandit wanita dan coba mengubah diri untuk bersikap sopan kepada orang lain.


"Dia yang akan membantu kita menempa senjata tuan."


"Apa anda yakin, menempa senjata sangat berat dan menguras banyak tenaga."


"Tenang saja tuan, meski dia terlihat cantik tapi kekuatannya tidak kalah dengan seorang lelaki." Jawab Raynor.


"Baguslah kalau begitu." Tuan Lamo percaya kepada Raynor.


Tapi di sisi lain, Erza merasa sedikit senang untuk pujian dari Raynor, meski pun ada rasa tidak nyaman karena Sania juga ikut mendengarnya.


"Kenapa kau begitu mudah memuji seorang wanita, apa putri Sania tidak marah dengan sikapmu."


"Apa kau marah Nia ?." Bertanya Raynor kepada Sania yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Tidak juga, aku malah lebih khawatir jika putri Siva lah yang nantinya marah kalau dia tahu kau menggoda wanita lain."


"Memuji kecantikan wanita adalah cara menunjukan bahwa lelaki menghormati mereka."


"Kau hanya beralasan saja, kenyataannya kau seorang lelaki hidung belang." Balas Sania.


"Tidak ada yang salah dari itu dan juga hidungku masih normal." Raynor tidak membantah apa pun kecuali masalah hidung.


Kemudian satu gadis kecil datang setelah memetik bunga liar yang ada di sekitar pondok.


"Paman, ini untuk paman." Sisha memberikannya kepada Raynor.


"Sudah aku katakan jangan panggil aku paman."


"Maaf paman."


"Sudahlah.... dan juga Erza, anak kecil ini adalah putri dari tuan Lamo, namanya Sisha."


"Senang mengenalmu adik."


Setelah Erza melakukan perkenalan kepada semua orang, pekerjaan pertama pun di mulai.


Raynor menyiapkan bahan berupa batu angkasa, batu energi alam jenis api dan sebuah tungku besar terbuat dari logam platinum yang Raynor pinjam dari gudang toko pembuat ramuan klan harimau merah.


"Pertama masukan batu angkasa dan batu energi api kedalam tungku untuk kita panaskan." Perintah tuan Lamo.


"Baik tuan." Raynor sigap untuk mengangkat seribu kilo batu angkasa.


Jika hanya mengandalkan pemanasan dari bawah tungku akan memakan waktu sangat lama, karena itu Lamo juga memerintahkan untuk memasukan batu energi sebagai pemanas tambahan di bagian dalam tungku.


Erza ditempatkan sebagai joki penggenjotan alat pemanas api yang menggunakan cara manual, memang tidak terlalu sulit karena dia hanya perlu menggerakkan tangannya saja, tapi alasan kenapa ini terbilang berat, adalah penggenjotan harus dia lakukan selama lima jam tanpa berhenti, itu pun bersama dengan Raynor.


Api sudah dinyalakan, proses pembakaran dimulai, Raynor dan Erza pun menggerakkan tangan untuk menggenjot alat kipas manual hingga api semakin besar.


Udara panas mengisi ruangan dalam pondok, jika tidak ada lubang angin tentu semua orang akan merasakan panas luar biasa hingga menunggu batu angkasa menjadi empuk.


Lima jam berlalu....


Batu yang sudah dipanaskan berubah menjadi cairan merah menyala seperti magma, tapi proses selanjutnya adalah memisahkan antara logam mineral di dalam batu.


Raynor memutar tungku dan menuangkan semua cairan magma itu kedalam air sedikit demi sedikit, bijih logam tidak meleleh dan tercampur ketika pembakaran, sehingga akan terpisah dengan sendirinya.


Titik-titik bijih logam berwarna perak kusam dan sedikit hitam mulai terkumpul, dari total seribu kilo batu angkasa, jumlah yang Raynor dapatkan sebanyak 120 kilo, itu sudah terbilang menguntungkan karena tidak ada orang bisa mengetahui isi dalam batu.

__ADS_1


__ADS_2