The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
soal lelaki


__ADS_3

Di penginapan kecil pinggiran kota kerajaan Losborn.


Erza memasuki penginapan, dia datang dengan tersenyum karena pekerjaan di hari ini membuatnya senang dan itu bisa dirasakan oleh wanita paruh baya yang duduk di bangku ketika melihat Erza datang.


Wanita paruh baya sedikit gemuk itu adalah pemilik penginapan tempat Erza sekarang, orang-orang memanggilnya nyonya Menear, wanita ramah dan baik, meski pun akan bersikap kasar kepada siapa saja yang menunggak pembayaran sewa.


"Nyonya Menear selamat malam." Sapa Erza.


"Kau sudah pulang Erza, bagaimana pekerjaan mu hari ini."


"Sangat melelahkan nyonya." Sedikit keluhan dari Erza meski begitu tidak bisa dia sembunyikan lengkungan senyum di wajahnya.


Sebagai seorang wanita yang berpengalaman menanggapi para tamu dari dengan segala macam bentuk dan rupa, nyonya Menear bisa membaca suasana hati Erza.


"Tapi kau terlihat senang, apa ada hal baik terjadi." Ucap nyonya Menear.


"Aku tidak bisa mengatakan jika ini adalah hal baik, hanya saja aku cukup menikmatinya." Balas pula Erza dengan senyuman.


"Aku tahu ini pasti soal lelaki."


Tiba-tiba saja Erza terkejut, sedangkan nyonya Menear tersenyum penuh makna, seakan senyum itu memaksa dirinya mengakui soal lelaki yang disebutkan.


"Kenapa nyonya bisa menyimpulkan seperti itu."


"Meski tua begini aku juga pernah muda."


"Aku tahu itu, tapi kenapa karena aku senang, nyonya mengatakan jika ini soal lelaki, bisa saja aku menemukan harta karun."


"Jadi apa ini soal harta karun ?." Balik Nyonya Menear bertanya.


"Tidak bukan itu."


"Karena itu, tidak mungkin ada hal lain yang bisa membuat seorang gadis cantik tersenyum manis kecuali soal lelaki."


Nyonya Menear menyudutkan Erza untuk mengakuinya dan dia pun tidak bisa pergi tanpa memberi jawaban.


"Aku ingat pertama kali kau datang kemari, begitu murung, takut dan bingung seperti orang tersesat."


"Apa benar ?."


"Jangan sembarangan, aku tidak pernah salah menilai seseorang, sudah banyak yang aku temui bahkan lebih bermasalah darimu." Nyonya Menear memahami isi pikiran Erza.


Erza tertawa kecil, di jelas ingat alasan kenapa dirinya datang ke kota kerajaan Losborn, yaitu untuk pergi meninggalkan kehidupan sebagai bandit. Menjadi bandit bukanlah cita-cita atau impian Erza, hanya untuk bertahan hidup karena sudah dibuang oleh keluarganya.


Tapi pergi dari kelompok bandit adalah hal sulit, karena itu Erza memilih pergi ke kota Tegalasa dan menyamarkan diri agar tidak diketahui oleh orang-orang itu.

__ADS_1


"Tapi untuk tiga hari ini, kau tersenyum setiap saat, bersemangat dan rajin mandi, berbeda dari sebelumnya kau sekarang menjadi sangat cantik." Ucap kembali nyonya Menear karena Erza sangat di perhatikan.


"Jangan mengejekku nyonya."


"Itu memang kenyataannya, aku pikir, ah gadis ini sedang jatuh cinta."


"Tu.... Tunggu, jatuh cinta ?." Erza membantah.


"Apa itu salah."


Erza bingung untuk menjelaskan kepada nyonya Menear, bahkan sebenarnya dia bingung tentang dirinya sendiri ketika harus berurusan dengan perasaan.


Selama ini Erza tidak pernah merasakan apa yang namanya cinta, termasuk ketika dirinya ada di dalam kelompok bandit, seakan dia menolak apa pun perihal asmara.


"Aku tidak tahu harus menjelaskannya nyonya, entah aku menyukainya atau sekedar rasa terimakasih saja." Jawab Erza.


"Kenapa kau bingung, jika kau merasa senang, bahagia dan tidak ingin pergi ketika bersamanya, itu sudah pasti cinta."


Seketika Erza membeku diam, semua yang dikatakan nyonya Menear memang terjadi, tidak bisa dipungkiri, pandangan hidupnya menjadi berubah ketika dia mengenal Raynor.


"Ya mungkin saja." Sepintas senyum menjawab semua pertanyaan.


Nyonya Menear semakin penasaran...."Jadi siapa nama lelaki yang membuatmu kasmaran."


"Tentu saja." Nyonya Menear memaksa.


"Ray .... "


Belum sempat Erza bicara, beberapa orang yang menjadi penghuni kamar di penginapan ini sudah berdiri di belakang Erza dengan telinga terpasang lebar.


Nyonya Menear menghantam meja...."Hei kenapa kalian disini, pergi.."


"Apa salahnya jika kami ingin tahu nyonya."


"Tidak baik jika kalian ingin tahu urusan orang lain."


"Memang apa bedanya dengan mu nyonya, kau juga penasaran kan ?." Mereka tidak berniat pergi.


"Tapi aku disini adalah untuk memberi nasihat, bukan seperti kalian yang ingin bergosip."


"Itu tidak benar, kami bukan orang yang suka bergosip."


"Cepat pergi, pergi, atau aku usir kalian dari penginapanku." Nyonya Menear mengancam tapi Erza berjalan pergi.


Pada akhirnya Erza tidak berniat menceritakan apa pun soal Raynor atau hubungan yang sedang dirinya hadapi sekarang.

__ADS_1


Erza berjalan naik melewati anak tangga dimana kamar yang dia sewa berada di lantai dua, tempat cukup baik untuk penginapan di pinggiran kota.


Selain biaya sewa yang murah, senilai 40 perak untuk satu bulan, tempat itu juga bersih dan menyediakan kamar mandi di dalam ruangan, tentu membuat Erza nyaman tinggal berlama-lama.


Tapi ketika Erza membuka pintu, ada seseorang bersembunyi dibalik bayangan, menarik tangan dan menutup mulut Erza dengan paksa.


Nyatanya ada lima orang berjubah sudah menunggunya di dalam ruangan.


"Erza, apa kau pikir bisa lari dari ku." Ucap seseorang yang duduk di atas ranjang.


Mata Erza terbuka lebar, dia tahu sosok lelaki di depannya itu, pemimpin kelompok bandit kerajaan Losborn, Redloft. Dia juga orang yang membawa Erza dalam dunia kejahatan, Hensa Redloft.


"Ketua, maafkan aku, tapi aku ingin keluar dan menjalani hidup baru."


"Hidup baru... Jangan bercanda, hidup yang kau dapatkan sekarang karena aku menyelamatkan mu, jika saja saat itu aku membiarkanmu mati kelaparan, apa kau yakin untuk memiliki hidup baru."


"Tapi ketua, aku tidak ingin melakukan kejahatan lagi." Erza memohon.


"Aku mengerti, tapi jika kau ingin keluar, kau juga harus menyerahkan hidup mu." Tertawa sosok Hensa dengan tertawa.


"Tolong ampuni aku ketua, aku akan melakukan apa pun untuk membayar hutang karena anda telah menyelamatkan ku."


Tekad Erza untuk pergi meninggalkan hidup sebagai bandit sudah bulat, dia ingin berubah karena tahu ada hal lain yang bisa dilakukan, dan semua itu karena seseorang, yaitu Raynor.


"Hmmm baiklah, tapi aku bukan orang dermawan yang membiarkanmu pergi begitu aja."


"Akan aku lakukan apa pun."


"Apa kau tahu berita soal orang yang berniat membunuh putri Siva beberapa hari lalu."


"Ya aku mendengarnya."


"Dia adalah bawahan ku, pembunuh bayaran yang kuat bahkan jauh lebih terampil dari pada pasukan kerajaan, tapi ada satu orang yang telah menangkapnya."


Hensa melemparkan lembar kertas bergambar sebuah wajah dari lukisan tangan, Erza melihat dan merasa familiar dengan gambar yang di berikan.


"Temukan lelaki itu dan bawa dia kemari, dia yang sudah menggagalkan rencana ku, karena perbuatannya juga aku harus menanggung rasa malu."


"Akan aku lakukan." Erza tidak punya pilihan lain.


"Aku tunggu kabar selanjutnya."


"Baik ketua."


Tanpa ada hal lain yang untuk mereka bicarakan, kelima orang itu melompat pergi lewat jendela. Erza tidak bisa tawar menawar, demi mendapat kebebasan hidup dengan normal dia inginkan, menerima perintah adalah pilihan yang harus dia ambil.

__ADS_1


__ADS_2