
Semua yang Raynor lakukan untuk belajar menjadi ahli tempa senjata terbilang sangat memuaskan. Di kehidupan sebelumnya sebagai sosok Davendra sang penguasa tertinggi, tidak sekali pun tertarik membuat senjatanya sendiri.
Semua senjata yang dia dapatkan adalah hasil rampasan pertarungan atau pun harta karun peninggalan para ahli beladiri di masa lampau. Termasuk senjata utama miliknya adalah salah satu senjata dari peninggalan dewa dan terbuat dari benda terkeras di alam semesta yaitu tulang Penguasa naga. Alvogard velsus Nagaraja.
Di alam semesta atas siapa pun tahu bahwa seluruh tubuh dari para naga adalah harta karun tidak ternilai, entah itu kulit, darah, daging, atau pun tulang. Dan sosok Alvogard memberikan tulang kepada penguasa tertinggi sebagai bentuk persembahan akan kesetiaan.
Tapi sayangnya pedang utama milik penguasa tertinggi harus dia tinggal di rumah, karena dalam proses renkarnasi tidak dapat membawa benda apa pun kecuali pakaian.
Lepas dari pekerjaan berat membuat senjata, Raynor masih memiliki hal lain untuk dilakukan, yaitu memberi tenaga dalam demi memperpanjang umur dari tuan Lamo.
Di dalam rumah gubuk milik tuan Lamo, Raynor mulai melakukan perawatan, walau hal itu sia-sia tanpa bisa mengobati penyakit yang Lamo derita. Paling tidak, mampu mengurangi rasa sakit dan memperpanjang umur sejauh tekad Lamo untuk beberapa bulan kedepan.
Menggunakan lima jari yang Raynor tempatkan di punggung tuan Lamo, aliran tenaga dalam milik Raynor mengalir perlahan hingga mencapai titik vital yang rusak.
"Tuan Lamo, sebenarnya aku memiliki cara untuk bisa mengobati anda, hanya saja saat ini masih sangat mustahil di lakukan." Berkata Raynor dengan nada menyesal.
Tapi senyuman yang ditunjukkan oleh tuan Lamo seakan menjadi kepasrahan..."Tidak perlu merasa bertanggung jawab atas hal ini tuan Raynor, semua yang anda lakukan untuk mengurangi rasa sakit di tubuhku sudah lebih dari cukup."
"Hanya ini yang bisa aku lakukan sekarang."
Selama masa pengobatan Hara selalu mendengar cerita tentang masa hidup lelaki bernama Lamo, awalnya dia adalah anak dari tuan tanah didaratan benua tanah merah, tapi dirinya lebih memilih hidup sebagai pengembara bersama dengan sang guru dan berakhir didaratan benua Angin Biru.
"Sebelumnya aku selalu membayangkan jika nanti aku pergi, siapa lagi yang akan menjaga Sisha, ibunya lebih memilih pergi dengan lelaki lain dan itu semua karena aku yang tidak mampu memberikan kebahagiaan."
"Tuan Lamo, anda adalah orang baik, hanya saja wanita yang menjadi istri anda tidak bisa menerima keadaan, jadi biarkan dia pergi." Jawab Raynor.
"Aku sudah merelakan istriku pergi, walau pun aku tidak tahu apa dia akan menerima Sisha, tuan Raynor bisa aku meminta satu hal terakhir."
"Apa itu tuan Lamo, selama dalam kemampuan ku akan aku lakukan." Raynor bisa berjanji untuk seseorang yang telah berbuat baik di dalam hidupnya.
"Tolong antarakan Sisha untuk bertemu ibunya." Itu yang menjadi permintaan tuan Lamo.
"Akan aku lakukan, meski pun aku tidak tahu apa Sisha akan mau hidup bersama wanita yang telah meninggalkannya." Raynor tersenyum pahit.
"Biarkan Sisha yang menentukan."
"Jika boleh tahu, dimana ibu Sisha berada sekarang."
__ADS_1
"Istian sekarang ada di klan naga langit, dia menjadi selir dari pemimpin klan disana." Jawab Lamo.
Raynor mengangguk paham, harta dan kekuasaan menjadi keinginan semua orang, tidak terkecuali istri dari tuan Lamo, hingga dia pergi ketika Lamo tidak lagi mampu memberikan hidup sesuai keinginannya.
Istian, istri tuan Lamo, tergiur akan kemewahan yang dimiliki oleh klan naga langit, hingga dia pergi meninggalkan keluarganya demi mendapat kebahagiaan meski itu dari orang lain.
Energi pengobatan Raynor mulai bereaksi, wajah penuh kesakitan kini berubah menjadi lebih tenang. Ini adalah kenikmatan ketika Lamo bisa tidur dengan nyenyak.
Sania tidak nyaman ketika mereka memahami seberapa berat badan hidup yang harus tuan Lamo tanggung karena itu dia lebih memilih di luar rumah bersama Erza.
Sedangkan Erza yang menjalani kerasnya hidup sejak kecil tentu terbiasa untuk melihat sebuah penderitaan, sejak kecil Erza di jual oleh orang tuanya dan hidup bersama para bandit demi mencari uang.
Sania dan Erza melihat Raynor keluar dari rumah tuan Lamo.
"Apa kau sudah selesai Ray." Sania bertanya dengan ragu-ragu.
"Untuk hari ini sudah cukup, tuan Lamo sudah tidur."
Sisha dengan penuh rasa terimakasih membungkuk di depan Raynor...."Terimakasih paman."
"Tidak apa, ini adalah yang aku janjikan kepada ayahmu."
"Jika aku besar nanti, aku akan membalas semua yang paman lakukan."
"Paling tidak satu hal yang bisa kau balas sekarang adalah jangan panggil aku paman, itu sudah cukup." Raynor benar-benar mengharapkan hal itu.
"Eeeehhh, aku tidak mau."
Raynor tersenyum ketika melihat Sisha bisa tertawa, jika dia ingat bagaimana awal pertemuan dengan Sisha, gadis kecil berpakaian lusuh dan kotor, menggigit bibir seakan dipenuhi kesedihan dan keputusasaan. Sisha memohon belas kasih dari pemilik toko untuk bisa mendapat beberapa koin perak demi membeli makanan dengan menjual satu-satunya harta berharga yang dia miliki.
Tapi sekarang seakan berubah, dia bisa tertawa lepas, raut wajah kesedihan itu sudah lama hilang, meski pun gadis kecil ini tidak tahu takdir apa yang akan dirinya hadapi di masa depan.
Malam sudah semakin larut...
Sania, Erza dan Raynor berjalan ke perempatan pusat perdagangan kota kerajaan Losborn, dimana tempat Erza berlawanan dari jalan menuju klan harimau merah.
"Kalau begitu aku pulang Ray." Berkata Erza yang pamit karena pekerjaan di hari ini telah selesai.
__ADS_1
"Berhati-hatilah Erza, jangan terpancing rayuan lelaki hidung belang yang mengajakmu ke tempat sepi." Balas Raynor.
"Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri." Sania menyindir Raynor.
"Hei, aku tidak akan melakukan hal itu, kecuali jika Erza yang menginginkannya."
"Aku tidak akan melakukannya." Erza menjawab dengan berteriak kesal.
Raynor dan Sania melihat kepergian Erza hingga lenyap di dalam keramaian. Mereka berdua pun berjalan pergi untuk pulang ke rumah.
"Nia, bagaimana menurut mu tentang Erza."
"Hmmm dia cantik dan baik, meski sedikit keras kepala dan juga kasar, aku tidak akan berkomentar apa pun jika kau menyukai Erza."
"Begitukah... Tapi bukan itu yang ingin aku tanyakan."
"Jadi apa maksudmu."
"Dia pernah memiliki hidup yang buruk, sejak kecil Erza di jual oleh orang tuanya sebagai budak dan berakhir menjadi bandit di kota Tegalasa, karena kalian berdua sesama wanita, apa menurutmu dia benar-benar sudah berubah ?."
"Apa kau meragukannya ?."
"Tidak juga, aku cukup yakin, tapi memahami sifat seorang wanita sangatlah sulit, jika harus dibandingkan dengan bertarung melawan seratus binatang iblis maka aku lebih baik melakukannya." Tersenyum Raynor dengan pahit.
Tapi Sania tertawa, dia seakan tahu jika senyum yang di tunjukkan Raynor, seakan menunjukkan dia sudah banyak mendapat masalah perihal wanita.
"Seorang wanita berubah karena alasan khusus." Jawab Sania.
"Seperti apa ?."
"Ketika dia menyukai seseorang, dia akan berubah untuk mendapat perhatiannya." Perjelas Sania agar Raynor bisa mengerti.
"Jadi Erza memiliki kekasih yang membuatnya berubah. Aku baru sadar." Raynor mengangguk paham.
Hanya saja Sania melihat Raynor dengan tatapan aneh dan terhembus nafas panjang.
"Sudahlah, sepertinya kau memang harus banyak belajar soal wanita." Itu yang Sania tambahkan.
__ADS_1
Sania pun berjalan lebih cepat meninggalkan Raynor selagi diam mengangguk-anggukkan kepala tidak jelas.