The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Jurusan


__ADS_3

Seratus orang yang terpilih sebagai murid baru, kini memasuki gerbang masuk kedalam sekte. Sudah banyak murid-murid bagian luar dan bagian dalam berkumpul untuk melihat para junior mereka yang baru saja datang.


Tapi diantara semua murid-murid itu, berbaris sepuluh orang di atas balkon istana di wilayah tengah, mereka adalah sepuluh pilar utama sekte teratai api.


Sekumpulan murid-murid terpilih akan bakat diatas rata-rata yang diakui oleh para guru besar dan menjadi murid mereka sebagai langsung.


Kesepuluh pilar utama itu saling bercakap-cakap...


"Murid-murid baru sekarang tidak membuatku tertarik, mereka sangat biasa, bahkan terlalu lemah." Ucap satu lelaki yang sedang meremehkan.


"Jika kau bandingkan dengan kita sebagai pilar utama, tentu mereka tidak mungkin setara." Dibalas wanita yang ada di sebelahnya.


Pilar lain pun angkat bicara..."Tapi aku mendengar sesuatu yang cukup menarik."


"Apa itu ?."


"Jika di ujian kali ini, raja ikan julung-julung muncul." Ucapnya.


"Sungguh tidak beruntung."


"Apa kau lihat lelaki yang berjalan di sebelah guru besar Gundira itu."


"Siapa dia."


"Kalau tidak salah dia bernama Raynor, putra pahlawan besar Rezar. Tapi guru Gundira membawanya langsung sebagai murid bagian dalam." Ucap wanita yang menjadi murid dibawah pengawasan Gundira.


Ada ekspresi kesal di wajah lelaki itu ... "Cih, dia hanya mengandalkan nama besar ayahnya saja, apa yang bisa dibanggakan, dia tidaklah seperti pecundang."


Tentu siapa pun tahu sosok pahlawan besar bernama Rezar, tapi karena itu juga mereka menganggap bahwa kedekatan Raynor dengan Gundira hanya karena dia adalah putra Rezar.


"Bagaimana pun guru besar Gundira sudah memutuskan, apa yang bisa kita lakukan."


"Biar aku berikan anak itu pelajaran. Jangan menganggap karena dia mendapat perhatian guru besar Gundira statusnya disini akan sangat spesial."


"Huah... Kau sangat kejam, dia mungkin akan merengek minta pulang jika kau melakukan itu."


"Tentu aku merasa senang, karena di sekte teratai api ini tidak membutuhkan murid seperti dia." Ucapnya penuh kesombongan.


Tapi ketika salah satu dari sepuluh pilar itu menatap Raynor di kejauhan, dia merasa jika sorot mata Raynor mengarah kepadanya dengan senyuman mengejek.


"Apa kau sadar, jika Raynor itu memperhatikan kita." Ucapnya terkejut.


"Mustahil, tempat kita ini ratusan meter jauhnya, bagaimana mungkin dia tahu."


"Entahlah, tapi aku merasa dia tersenyum mengejek kepada kita."


"Kalau memang begitu biar aku menyapanya." Ucap satu lelaki yang bersikap sombong itu.


Di sisi lain....

__ADS_1


Raynor tentu menyadari akan kehadiran sepuluh pilar di atas istana utama wilayah tengah karena kemampuan ruang tanpa batas, termasuk semua hal yang mereka katakan.


Sepuluh pilar utama sekte teratai api menang sekumpulan bakat jenius kelas atas, bahkan tiga diantaranya adalah seorang ahli beladiri tingkat lord tempur.


Sehingga kekuatan yang mereka bertiga miliki hampir setara dengan guru besar, kecuali soal pengalaman.


Di Sekte ini memiliki lima jurusan, tidak semuanya mencari pengetahuan soal ilmu beladiri saja, tapi ada pula mempelajari ilmu alkemis, ilmu pengobatan, ilmu artefak dan ilmu tempa senjata.


Semua murid diwajibkan mengikuti pembelajaran ilmu beladiri, tapi juga mereka harus memilih satu jurusan lain.


"Jadi Raynor jurusan mana yang kau akan pilih." Bertanya guru besar Gundira.


"Hmmm aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya aku lebih tertarik dengan ilmu tempa senjata." Jawab Raynor.


Pengalaman dari penguasa tertinggi sudah mencakup segala hal, tapi tidak dengan ilmu tempa senjata. Bagaimana pun juga Raynor barulah kemarin belajar menempa senjata dan dia ingin memahami lebih dalam di jurusan ini.


"Bagaimana dengan kalian berdua." Raynor kini bertanya kepada Siva dan Erza.


"Aku cukup tertarik dengan ilmu tempa senjata sama seperti mu Ray." Jawab Erza.


Meski pun alasannya bukan dia tertarik, melainkan dia hanya ingin tetap bersama Raynor.


"Aku juga ingin belajar soal tempa senjata." Jawab Siva.


"Bukankah itu tidak cocok denganmu Siva."


"Tidak juga."


Alasan Siva pun sama dengan Erza, itu semua karena Raynor, bukan hal lain.


Sedangkan tepat di belakang Erdian mendengar perkataan Raynor, dan dia pun berjalan maju untuk ikut bicara.


"Aku juga ingin belajar ilmu tempa senjata." Ucap Erdian kepada Raynor.


"Aku tidak bertanya kepadamu putri." Balas Raynor melihatnya aneh.


"Memangnya kenapa ?, salah ?."


"Bukan salah, tapi pilihanmu itu bukan urusanku, jadi kenapa kau mengatakannya kepadaku."


"Dasar lelaki tidak peka." Sindir Putri Erdian.


Raynor sudah yakin sekarang, jika semua putri kerajaan itu memiliki isi pikiran yang sama, entah Siva atau Erdian keduanya benar-benar mirip.


"Adikku, bukankah kau mengatakan ingin masuk ke jurusan ilmu pengobatan." Ucap Pangeran Erdan.


"Kau diam saja, ini urusanku." Balas Erdian dengan kesal.


Seorang lelaki tidak diduga datang mendekati Raynor, tentu sosok itu adalah salah satu dari sepuluh pilar utama sekte teratai api yang membicarakannya di atas istana.

__ADS_1


Lelaki itu membungkuk di depan Guru Gundira, sang guru besar pun mengangguk sebagai balasan salam darinya. Perawakan tampan, berambut panjang dan tatapan tajam, seorang lelaki sempurna untuk menjadi idaman para wanita.


"Ada keperluan apa kau datang kemari Zuang Wu Zang." Bertanya Gundira.


"Aku hanya ingin menyapa murid baru yang anda bawa guru Gundira." Jawab Zuang dengan sikap hormat.


Raynor sadar apa yang dia sebut dengan menyapa hanya sebuah kiasan kalau Zuang ingin menilai seberapa pantas Raynor di sekte ini.


"Tentu saja, itu akan menjadi hal baik untuk saling akrab satu sama lain."


Saling berhadapan Raynor dan Zuang, Zuang Wu Zang adalah seorang ahli beladiri tingkat raja tempur tahap akhir, tentu kesombongan atas pencapaian kekuatan itu memang pantas diakui.


"Salam kenal senior, aku Raynor avya."


"Jadi kau adalah putra pahlawan Rezar yang terkenal itu." Sebuah jawaban untuk meremehkan Raynor.


"Benar sekali." Tapi Raynor membalasnya dengan santai.


Zuang Wu Zang mengulurkan tangan untuk saling berjabat, Raynor tidak menolak untuk sikap baik yang penuh kepura-puraan.


Jabat tangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengukur seberapa kuat energi Raynor secara langsung. Dimana Zuang melepas tekanan aura cukup kuat kepada Raynor.


Jika dia adalah orang lain yang lemah mental, hanya dengan merasakan tekanan aura Zuang tentu seketika pingsan di tempat. Tapi Raynor tersenyum ramah, dia jelas menahan aura milik Zuang cukup mudah.


Gundira menyadari bahwa Zuang melepas tekanan aura kepada Raynor.


"Zuang apa yang kau lakukan." Tegas Gundira karena tidak menyukai caranya.


"Aku hanya sedikit menguji, apa dia cukup pantas menjadi murid sekte ini, guru."


"Oh, begitu tapi jangan berlebihan." Santai Gundira menjawab.


Raynor pun melepas aura untuk melawan balik, Gundira memperhatikan, dia juga cukup kagum dengan perlawanannya. Sangat jarang bagi seorang ahli dibawah tingkat lawan mampu bertahan.


Lantai di bawah kaki Raynor dan Zuang retak seketika, tekanan aura mereka berdua benar-benar saling beradu. Tapi selagi Raynor tersenyum ramah, Zuang kini mulai keringat dingin.


"Ada apa senior, bukankah kau ingin mengujiku, jadi aku layak atau tidak ?."


"Jangan besar kepala." Zuang kesal dan mencoba melepas aura lebih kuat.


Tidak ada kata kalah bagi Raynor, dia pun membalas Zuang, namun kali ini tidak menahan diri, kepulan asap merah menelan habis aura milik Zuang.


Kaki Zuang lemas seketika, nafas naik turun seperti bertarung terlalu lelah, dia pun jatuh karena tidak mampu menahan tekanan besar yang Raynor miliki,


"Aku anggap kau sudah mengakui kemampuan ku senior." Ucap Raynor tersenyum lebih ramah lagi.


Tanpa peduli kondisi Zuang yang masih duduk lemas tanpa menjawab perkataannya, Raynor lanjut berjalan meninggalkannya.


Gundira merasa paham ketika dia melihat wajah Zuang, bahwa seorang pilar utama pun masih belum mampu melawan Raynor.

__ADS_1


__ADS_2