
Setelah Sania menang atas perlawanan Feng sui, kini giliran Raynor yang di panggil ke atas arena.
Langkah santai Raynor naik ke atas arena, dia hanya tidak ingin terlihat heboh dengan melompat dan berputar-putar di udara hanya karena dipanggil oleh wasit untuk maju.
Lawan untuknya sekarang adalah salah satu petarung dari klan Naga langit, anak didik bawaan klan naga langit daratan tengah. Dia bernama Sang Darna.
Dari informasi yang Raynor dengar, bakat milik Darna tidaklah buruk, Bahakan terbilang cukup baik di karenakan usianya masih tujuh belas tahun namun sudah mencapai ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap akhir. Paling tidak jika dihitung dari usia fisik Raynor yang nyata, mereka seumuran, hanya berbeda dalam tingkat kekuatan saja.
Tapi melihat bagaimana sosok Darna yang muncul, itu membuat Raynor terkejut, bahkan jika dia sudah banyak bertemu manusia lain di alam semesta atas, Darna adalah keunikan tidak biasa.
Sosok lelaki bertubuh besar dengan otot lengan yang terlihat keras, dia membawa gada di pundaknya, setiap langkah kaki menunjukan tekanan energi tenaga dalam sangat kuat.
Raynor bingung, dia menunjuk ke arah orang yang naik ke atas arena..."Tunggu, apa dia benar-benar lawan ku sekarang ?."
"Benar, apa ada yang salah ?." Wasit bertanya balik.
"Jangan bertanya apa ada yang salah, jelas-jelas wajahnya tidak menunjukkan bahwa dia adalah generasi muda di bawah dua puluh tahun."
"Soal itu, menurut informasi yang ada, Sang Darna memang berusia 18 tahun, tidak ada kesalahan apa pun."
"18 tahun matamu !, dia lebih seperti paman berusia tiga puluh tahun beranak dua." Tegas Raynor membantah ucapan wasit.
Keanehan jelas di pikirkan oleh Raynor, karena sejak ujian pertama dan kedua, lelaki bernama Darna tidak menunjukkan wujudnya seperti sekarang, tapi tiba-tiba saja muncul untuk bertarung di atas arena.
Terlebih lagi, tekanan energi tenaga dalam yang Raynor rasakan tidak menunjukkan bahwa Darna adalah seorang ahli beladiri tingkat pemahaman bumi, melainkan dia adalah Raja tempur tahap tengah.
Para penonton tersenyum pahit, mereka mulai membandingkan perbedaan fisik antara Raynor dan Darna.
"Lihat orang itu, dia memiliki tekanan aura yang tidak biasa."
"Seperti sudah membunuh banyak orang."
"Aku merasa kasihan dengan dia yang akan melawannya."
"Kau benar, bagaimana cara dia mengalahkan orang sebesar itu."
Raynor sendiri mendengar setiap komentar dari para penonton, tapi yang terasa janggal tidak ada satu pertanyaan pun mengenai keanehan dalam wujud Darna.
"Jelas ini adalah kesalahan, tidak ada generasi muda dengan wajah setua dia." Raynor tetap menolak.
Seakan semua sudah direncanakan wasit membalas dengan membela Darna..."Menurut keterangan, Darna memiliki kemampuan unik yaitu mampu mengubah penampilan, jadi bukan masalah."
"Aku lebih yakin jika dia adalah orang berbeda."
__ADS_1
"Meski kau bilang begitu, dia sudah terdaftar dalam pertandingan untuk melawanmu, walau pun memang aku merasa ada sedikit yang tidak wajar."
'Sedikit apanya, orang bodoh pun tahu jika dia bukan Darna yang asli.' pikir Raynor kesal untuk sikap wasit.
Semua yang dikatakan Raynor dibantah oleh wasit, karena dia sendiri hanya mengikuti petunjuk dari panita penyelengara, dan salah satu orang dalam kepanitiaan itu masih satu saudara dengan klan naga langit.
"Aku benci kecurangan." Gumam Raynor semakin kesal.
"Apa kau akan memilih mundur, Raynor." Wasit bertanya.
"Tidak, biar aku selesaikan urusan ini."
"Baiklah kalau tidak ada pertanyaan lagi."
Raynor dan Darna saling berhadapan, melihat perbandingan tinggi antara mereka berdua jelas tinggi Raynor hanya sebatas pundak Darna, termasuk bentuk tubuh yang berkali-kali lebih besar.
Dari tempat duduk para anggota klan naga langit. Berbisik dua orang yang memiliki posisi penting disana.
"Apa semua aman ?."
"Tentu saja tuan, segala akan lancar jika uang sudah bicara."
"Itu bagus, dengan begini kita bisa mengamankan posisi peringkat atas."
Raynor mempersiapkan diri dengan menarik pedang besar yang tertancap di lantai arena.
Wasit memberikan aba-aba dimulai pertarungan.
"Jadi kau yang bernama Raynor." Darna tertawa terbahak-bahak selagi menunjuk ke arah wajah Raynor.
"Jangan sembarangan menunjuk ke arahku." Dengan kesal Raynor menampar tangan Darna dan itu cukup keras hingga membuatnya sakit.
"Aku akan berbaik hati untuk mu menyerah dan semua selesai, dari pada kau harus terluka saat melawanku."
"Oh, siapa sangka kau sangat baik hati sekali, tapi sayangnya orang-orang mengenalku sebagai orang yang keras kepala."
"Kalau begitu apa kepalamu itu cukup keras menghentikan serangan ku."
Seketika itu juga gada milik Darna diayunkan kuat dengan membawa kepulan debu menghalangi pandangan mata semua orang. Tidak tahu entah Raynor selamat atau pingsan menerima hantaman dari Darna, hanya saja ketika Darna coba menarik gada terlihat penuh kesulitan.
Debu lenyap, Raynor masih berdiri, tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya semula, tapi kakinya menginjak gada itu tanpa mampu di ambil oleh Darna.
Melepas pegangan gada nya, kepalan tangan Darna datang, Raynor tidak menghindar, dia menjadikan pedangnya sebagai tameng, suara keras benturan tangan dan pedang seperti dua besi yang saling beradu.
__ADS_1
"Bukankah itu terasa menyakitkan." Ucap Raynor mengejek.
"Jangan banyak omong kau."
"Aku kembalikan senjatamu." Raynor menendang gada yang dia injak kepada Darna.
Raynor berdiri dan menatap lurus ke atas langit, persis cahaya matahari berada tepat di atas kepala, ini adalah waktu yang ditentukan oleh para bandit sebagai tanda serangan mereka.
Sebilah pedang besar di tangan Raynor mulai melakukan pengisian energi tenaga dalam.
Darna pun dengan wajah tersenyum penuh semangat bersiap melawan Raynor untuk beradu kekuatan serangan senjata. Pengguna senjata berat memang bukan petarung yang lincah dan segala teknik rumit dalam bertarung.
Mereka lebih menikmati adu kekuatan dengan lawannya.
Ditunjukan sorot mata tajam dari Raynor...."Maaf tapi kau benar-benar belum setara untuk melawanku."
Ayunan pedang di tangan Raynor, menghasilkan gelombang ledakan besar dengan suara menggelegar layaknya gemuruh petir.
Kepulan asap membuat semua penonton tidak tahu apa yang terjadi antara Raynor dan Darna, tapi seketika itu juga satu bayangan terbang keluar arena.
Darna yang sebelumnya terlihat sehat walafiat, penuh semangat menggebu-gebu untuk melawan Raynor, kini tubuhnya melayang jauh hingga jatuh di tempat penonton.
Kemenangan Raynor tidak bisa dipungkiri lagi, raja tempur yang menggantikan posisi Sang Darna dikalahkan dengan mudah seakan tidak ada perlawanan berarti.
Pedang Raynor mengarah jelas ke tempat duduk para petinggi klan Naga langit.
"Jika kalian merasa bahwa dengan mengganti Darna dengan ahli raja tempur bisa mengalahkan ku, sungguh salah besar, setidaknya bawa seorang ahli beladiri tingkat lord, itu pun belum tentu menang." Ucap Raynor dengan sombong dan berjalan turun.
Sebuah penghinaan yang dengan telak memukul wajah klan naga langit, mereka baru pertama kali melihat seorang ahli beladiri mampu mengalahkan lawan yang tiga kali lebih tinggi dari kekuatannya.
Tapi di sisi lain ....
Sekelompok prajurit sudah berbaris rapi di balik bukit, begitu juga dengan puluhan manusia dengan jubah serba hitam yang bersembunyi di balik pepohonan hutan Jatilowa.
Jenderal Zernad menunggu tanda ketika Artefak peledak telah aktif, karena di saat itulah dia akan membawa para prajurit memasuki wilayah kota kerajaan Losborn.
"Ini sudah tengah hari, kenapa belum ada tanda-tanda jika artefak peledak sudah dinyalakan."
Satu bandit yang menemani Zernad menjawab...."Tunggu sebentar Tuan Zernad, sebaiknya kita menunggu sedikit lebih lama, karena mungkin ada sedikit kesalahan dari artefak yang kami pasang."
"Baik, kami akan menunggu." Zernad pun coba memaklumi.
Seketika itu juga, sebuah suara ledakan kuat terdengar dari pusat kota kerajaan Losborn.
__ADS_1
"Itu tandanya, kita maju." jendral Zernad memberi aba-aba kepada semua prajuritnya.