
Di dalam ruang ilusi itu Raynor menggunakan jiwanya yang nyata, yaitu sebagai sosok Davendra sang penguasa tertinggi. Jika semua di proyeksikan ke luar, tentu ketika orang-orang melihat, mereka akan bingung, karena jiwa milik Raynor berbeda dari tubuhnya sendiri.
Sebuah bayangan datang, perlahan namun pasti mulai membentuk sebuah sosok yang dimunculkan dalam ruang ilusi serba putih sebagai ujian ke tiga. Itu adalah binatang-binatang iblis dengan jumlah lebih dari seratus ekor.
Tidak bisa dibayangkan jika masing-masing peserta harus melawan sebegitu banyak binatang iblis secara nyata, tapi di sini adalah ilusi yang terpisah dari tubuh asli, sehingga meski pun mereka kalah dan mati, itu tidak akan pernah terjadi.
Senyum semangat ditunjukkan oleh Davendra dan sebilah pedang besar dia munculkan di tangan.
"Baik, aku hanya perlu mengalahkan mereka semua."
Barulah dia mengayunkan satu tebasan pedang, itu sudah menghempaskan seluruh binatang iblis dalam sekejap, itu tidaklah aneh, karena kekuatan dari jiwa Davendra sebagai penguasa tertinggi tidaklah tersegel, jadi dia benar-benar memunculkan semua kekuatannya sekarang.
Ilusi bayangan binatang iblis yang jauh lebih kuat muncul, tapi tetap saja semua Davendra kalahkan hanya dengan satu tebasan pedang.
Sekali lagi, Davendra melenyapkan semua ilusi dengan satu ayunan pedang.
Sekali lagi,
Sekali lagi,
Sekali lagi,
Sekali lagi,
Dan sekali lagi, bahkan belum ada satu jam dia berada di ruang ilusi.
Hingga kini muncul ilusi makhluk yang memiliki tinggi puluhan meter berdiri angkuh di hadapan Davendra, jika ada di dunia nyata, maka makhluk itu berada di kesetaraan seorang ahli beladiri tingkat saint suci.
Tapi ini adalah ruang ilusi, dimana semua makhluk yang dia hadapi tidaklah nyata, mereka di atur oleh rangkaian formasi prasasti, sehingga tidak aneh jika makhluk setara saint suci menjadi lawannya sekarang.
"Semua terlalu mudah jika menggunakan kekuatan ku yang sebenarnya." Terhembus nafas berat penuh kebosanan dari mulut Davendra.
Tidak perduli seberapa kuat makhluk yang di munculkan oleh formasi ilusi ini, Davendra dengan bosan mengalahkan mereka semua.
"Aku memikirkan sesuatu yang menarik." Terlintas senyum di wajah Davendra.
Di ujung jari Davendra memunculkan setitik cahaya dan mulai membuat simbol-simbol prasasti rumit yang mengambang di depannya.
Setelah semua selesai, Davendra pun berkata.... "Mari kita mulai pestanya."
Di dunia nyata, ruang ilusi jiwa.
Kejanggalan terjadi, dimana seluruh rangkaian formasi prasasti bergejolak hebat dengan lintasan energi kacau balau, tapi itu membuat semua pengawas kebingungan.
"Apa yang terjadi." Teriak satu pengawas merasa khawatir.
"Ada yang mengubah paksa bentuk simbol prasasti ini ketua." Jawab seorang Shaman itu.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan."
"Aku pun tidak tahu." Jawabnya pasrah.
Tapi itu membuat ketua pengawas marah...."Kenapa kau tidak tahu, bukankah kau yang membuat rangkaian formasi ilusi ini."
"Itu benar ketua, tapi sekarang jiwa mereka di paksa masuk ke satu tempat secara bersamaan."
Meski segala kesalahan bisa saja terjadi tapi tetap saja pengawas merasa khawatir jika sesuatu hal buruk menimpa para peserta dan tentu dia akan kena hukuman.
"Apa kau bisa memperbaiki rangkaiannya."
"Bisa ketua, tapi tidak untuk sekarang." Jawabnya mengangguk paham.
"Memang apa yang akan terjadi nanti ?."
"Jika aku melakukan perbaikan sekarang, jiwa semua orang bisa terkurung di dalam ruang ilusi dan sulit mengeluarkan mereka."
"Baik, kita biarkan terlebih dahulu."
Ketua pengawas tidak mau mengambil resiko yang mungkin membahayakan semua peserta, hanya sedikit harapan masalah ini akan berakhir tanpa adanya korban jiwa.
*******
Darnu perlahan membuka mata, dia melihat ada banyak orang disekitarnya yang sama-sama kebingungan. Darnu mengenal mereka semua, itu jelas para peserta festival peringkat generasi muda dimana harusnya ada di ruang ilusi masing-masing.
Terlebih lagi, tempat yang sebelumnya hanya sebatas ruang serba putih, kini berubah menjadi padang rumput luas dan dipenuhi pepohonan hijau.
Hingga Darnu melihat dua orang kenalan dan menghampirinya, mereka adalah bawahannya di klan harimau merah yang sama-sama ikut di ujian kedua.
"Sen, Eru kalian disini." Panggil Darnu kepada mereka berdua.
"Saudara Darnu, kau juga." Sen bingung untuk kejadian yang sama-sama mereka alami.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kita bisa bertemu disini, apa ujian sudah selesi dan ini adalah dunia nyata."
"Sepertinya bukan." Eru menjawab dengan nada gemetar.
"Kenapa kau bisa yakin, Eru."
Tunjuk lelaki bernama Eru ke arah depan, Darnu dan Sen mengikuti ... "Apa di dunia nyata ada binatang iblis yang menunggu kita ?."
Tidak hanya mereka bertiga yang melihat, tapi semua orang pun sadar jika saat ini ada banyak binatang iblis bermunculan. Jumlahnya tidak sedikit, bahkan ribuan makhluk datang seperti ingin menyerang.
Sedangkan di tempat lain, orang yang menjadi dalang atas kekacauan rangkaian formasi prasasti ilusi menampakan dirinya sebagai Raynor. Semua itu agar Sania tidak tahu soal perbedaan jiwa Raynor dan Davendra.
Dia segera mendatangi Sania yang tentu sama bingungnya dengan semua orang.
__ADS_1
"Ray, kau juga di bawa ke tempat ini." Bertanya Sania.
"Begitulah, apa kau baik-baik saja."
"Ya, aku baik-baik saja, tapi dimana kita sekarang." Sania tidak tahu apa pun soal tempat yang mereka datangi sekarang.
"Sepertinya kita masih berada di ruang ilusi untuk melanjutkan ujian."
"Jadi ini bagian dari ujian kedua."
"Jika tidak kenapa ada banyak binatang iblis datang kearah kita." Balas Raynor.
Sania mendengar suara gemuruh langkah banyak langkah kaki di telinga, mengarahkan pandangan, dia pun melihat ada banyak binatang iblis berdatangan seperti perkataan Raynor.
Tidak main-main, hampir semua binatang iblis adalah tingkat tinggi dan cukup sulit untuk dikalahkan.
"Apa yang harus kita lakukan Ray.." Sania bingung.
"Tentu saja bertarung." Jawab saja Raynor singkat dan jelas.
"Kau terlihat sangat bersemangat."
"Memangnya kau ingin kabur ?."
"Tidak juga, tapi aku merasa kau tidak terkejut untuk kejadian ini."
"Hanya perasaanmu saja Nia."
Raynor segera mengeluarkan pedang besar yang dia simpan, begitu juga Sania, bilah pedang biru sudah siap ditangannya.
Orang-orang seperti Fang Rayos dan Sang Qian pun tidak tinggal diam, mereka cukup yakin bahwa ini adalah bagian dari ujian festival peringkat generasi muda dan mengeluarkan senjata untuk bertarung.
Ini yang Raynor harapkan, dia cukup malas bertarung sendirian dan menunggu hingga waktu berakhir, karena itulah dia mengumpulkan semua jiwa di tempatnya.
Berbeda dari rangkaian formasi prasasti sebelumnya, Raynor sudah memodifikasi aturan main dalam ruang ilusi, dimana kini mereka bisa merasakan sakit seperti nyata.
Tidak akan menjadi hal seru jika di dalam pertarungan tanpa ada rasa sakit, tapi bagi para peserta ini sangat aneh dan membuat mereka takut apabila harus tewas oleh binatang iblis.
"Bukankah bertarung seperti ini sangat menyenangkan, Darnu." Gumam Raynor dengan suara tawa keras.
Darnu tidak merasakan kesenangan seperti yang Raynor katakan... "Apa kau gila, bagaimana jika kita benar-benar mati."
"Kau takut mati, ehhh tidak aku sangka." Ucap Raynor menyindir Darnu.
"Tentu saja, aku bahkan belum menikmati masa depan celah sebagai ketua klan Wu Zang."
"Kematian juga termasuk masa depanmu, jadi nikmati lah." Balas Raynor dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Sang Qian, Feng Rayos, dan Woyzo Elvord tidak berhenti mengayunkan pedang membunuh satu persatu binatang iblis yang datang, cipratan darah seakan nyata membasahi pakaian mereka.
Rasa sakit akibat goresan cakar binatang iblis pun masih membekas di kulit, bagi orang-orang takut mati mereka berlari kabur untuk coba menyelamatkan diri, tapi sayangnya tidak ada jalan keluar, hingga satu persatu tewas di mangsa.