
Beberapa saat yang lalu....
Danau Cicaban, Sekte teratai api.
Dua lelaki dengan jubah putih bercorak merah berjalan menelusuri pinggiran danau Cicaban, mereka adalah murid bagian luar dari sekte teratai api.
Ada tiga tingkat yang dimiliki oleh para murid sekte, murid bagian luar, bagian dalam dan murid pilar utama. Setiap masing-masing tingkat itu adalah bentuk pencapaian selama berlatih.
Setiap murid baru tentu mengawali pelatihan mereka sebagai murid bagian luar selama tiga tahun. Setelah menyelesaikan pelatihan tiga tahun semua murid tahun ke tiga akan mendapat ujian untuk memasuki pelatihan murid bagian dalam.
Dua lelaki itu menunjukkan raut wajah muram dan lemas, melempar batu-batu kerikil ke permukaan danau dengan malas, tentu bukan tanpa alasan mereka berdua ada di luar sekte.
Sebagai murid dari bagian luar, tentu ada tugas yang harus di kerjakan seperti membersihkan halaman, merapikan peralatan berlatih, memasak, membantu pekerjan para guru dan mencari makan dengan berburu di hutan sekitar danau Cicaban.
Dan hari ini adalah tugas mereka untuk mencari bahan makanan, tapi dirasa ada yang tidak beres dengan suasana sekitar danau.
"Kakak, Kita tidak menemukan satu binatang iblis pun untuk kita tangkap." Ucap satu lelaki ketika berjalan dibelakang orang yang dia panggil sebagai kakak.
"Apa mungkin semua binatang iblis di sekitar sekte bersembunyi, karena tahu sekarang adalah jadwal kita memburu mereka." Balasnya yang dengan malas melempar batu ke danau.
Mereka berdua adalah Suji murid bagian luar tahun pertama, dan Jozan murid bagian luar tahun ke tiga.
"Jika hanya itu kita tidak perlu kesulitan mencari ikan di danau." Suji menjawab untuk pendapatnya.
"Sepertinya kau benar, ini memang aneh, bahkan biasanya kijang abu-abu yang ada di sekitar sekte untuk makan, sekarang hilang seperti di telan bumi." Jozan pun mengerti.
Tapi karena mereka tidak mendapat satu pun hasil buruan, ada kekhawatiran dari Suji.
"Bagaimana ini kakak, kita akan kena marah senior jika tidak mendapat makanan."
"Kalau begitu, kita coba pergi lebih dalam lagi." Balas Jozan.
"Tunggu kakak, kita bisa mendapat hukuman jika pergi terlalu jauh dan juga di sana adalah wilayah kekuasaan raja ular putih, guru pengawas memberi peringatan kepada kita untuk tidak mengusik wilayahnya." Suji menjawab dengan menolak rencana Jozan.
Ada banyak peraturan dari sekte yang harus di patuhi, tentu salah satunya adalah tidak mengusik wilaha raja ular putih.
Melihat bagaimana adik seperguruan tidak menyetujui rencananya, Jozan sedikit memaksa...."Aku beri kau dua pilihan, kita kena marah guru pengawas atau kena tampar senior atau kena amuk raja ular putih."
"Itu tiga pilihan kak."
"Terserah lah, apa yang kau pilih."
"Sebenarnya aku tidak ingin memilih apa pun, karena pada akhirnya tiga-tiganya membuatku kesulitan." Jawab Suji karena tidak ingin melanggar peraturan.
"Tapi yang jelas kalau kita tidak melanggar tugas dari senior, kita juga tidak akan dapat makan."
__ADS_1
Mereka tahu konsekuensi jika tidak bisa menjalankan tugas yang diberikan, selain kena marah oleh senior dan jatah makan pun harus hilang.
Rumit bagi Suji untuk memilih, jika harus menimbang dengan hukuman yang akan dia dapat, tentu dia melanggar peraturan sekte hanya akan kena semprot ceramah dari guru pengawas.
Tapi jika dia gagal mendapat bahan makanan, tidak hanya semprotan dari mulut senior, tangan dan kaki pun ikut maju untuk menghukum mereka.
"Aku tidak mau, Baiklah kakak, kita coba pergi sedikit lebih dalam." Pasrah saja Suji mengikuti keinginan Jozan.
Tidak terlalu jauh antara danau Cicaban tempat berdirinya sekte teratai api dan batas wilayah kekuasaan raja ular putih, hanya sebuah aliran anak sungai yang membagi kedua tempat.
Suji dan Jozan menemukan binatang buruan yang bisa mereka tangkap, seekor kijang abu-abu sedang memakan rerumputan di bawah kaki.
"Suji, kau jaga disini, aku akan memancing kijang itu agar mengarah kepadamu dan kau langsung menghabisinya." Jozan memberi rencana.
"Aku mengerti kak."
Namun sial untuk mereka berdua, belum sempat menangkap satu ekor binatang iblis, mereka berlarian pergi karena takut kepada sesuatu. Mereka mendengar suara nyaring seperti dua benda saling bergesekan dari muara sungai.
"Apa yang sebenarnya terjadi."
"Kemungkinan memang karena suara dari sana." Tunjuk Suji ke arah muara.
"Ayo kita lihat."
Suji dan Jozan tentu berpikir jika itu alasan kenapa para binatang iblis terusik dan terganggu.
Menunjuk ke arah tempat dia menatap... "Kakak, bukankah itu raja ular putih yang di ceritakan guru."
"Kau benar, tapi kenapa dia keluar dari sarangnya."
"Memang harus ada alasan apa untuk raja ular keluar dari tempatnya tinggal."
"Raja ular sangat jarang keluar dari sarang, kecuali untuk mencari pejantan di musim kawin, dia sedang kelaparan dan ada raja penguasa hutan Jatilowa lain ingin mengambil wilayahnya." Jozan cukup memahami karakteristik ular putih.
"Jadi apa yang harus kita lakukan, apa kita memberitahu kepada guru pengawas."
"Tidak tunggu, sepertinya raja ular putih itu sedang bertarung dengan seseorang." Jawab Jozan menghentikan langkah Suji yang ingin pergi.
Jozan tentu mengaitkan kejadian munculnya raja ular putih dan suara yang sebelumnya terdengar.
"Lantas apa tujuan kakak." Suji bertanya dengan khawatir.
Dia tahu bahwa kakak seperguruannya ini memiliki rasa penasaran tinggi serta tidak perduli soal konsekuensi dari peraturan sekte.
"Aku ingin melihatnya sendiri, siapa orang yang berani melawan Raja ular putih." Jawab Jozan dan dia pun berlari ke tempat pertarungan.
__ADS_1
Dan memang benar, tidak lama muncul ledakan kuat disertai gemuruh layaknya petir hingga membuat tanah bergetar. Mereka berdua juga melihat tubuh ular putih seperti di lemparkan kemudian jatuh di sungai.
Mustahil bagi seorang ahli beladiri biasa mampu melawan balik sosok raja penguasa hutan, bahkan untuk para guru di dalam sekte harus meminta bantuan pada guru besar ketika berhadapan langsung dengan raja penguasa hutan Jatilowa.
Suji dan Jozan semakin dekat dan dari balik rimbunnya pohon sekitar sungai, mereka ingin tahu siapa sosok ahli beladiri luar biasa itu. Melihat seorang lelaki yang berdiri dengan bilah pedang besar dalam pikulan bahu.
Tapi di sisi lain, ada dua gadis cantik yang menjaga diri di pinggiran sungai, Jozan tentu menyadari siapa satu sosok wanita disana.
"Bukankah itu, putri Sania." Ucap Jozan.
"Maksud kakak, wanita cantik di sana putri Sania dari klan harimau merah."
Jozan terkejut karena pertanyaan Suji...."Bagaimana mungkin kau tidak tahu."
"Mau bagaimana lagi, aku hidup di luar kerajaan Losborn, jadi aku tidak pernah melihat seperti apa rupa putri Sania." Suji coba membela diri.
"Baiklah sekarang kau perhatikan, wujud kecantikan abadi yang mampu membuat para lelaki di kerajaan Losborn bertekuk lutut." Di tunjukan Jozan dengan memutar paksa kepada Suji.
"Ya kakak, aku lihat, aku sudah melihatnya."
"Setelah itu kau ingat baik-baik dalam ingatanmu tentang wajah sempurna putri Sania."
Selagi mereka berbincang mengenai putri Sania dari klan harimau merah, ular putih kini bangkit kembali, dia bergerak pergi. Tapi seketika sebuah dinding es terbentuk oleh putri Sania untuk menghentikan ular putih, termasuk Suji dan Jozan tidak bisa lagi melihat putri Sania karena terhalangi dinding es.
Suara teriakan dari ular putih menggema kesakitan, tanpa perlu melihat pun mereka cukup yakin, jika penguasa hutan Jatilowa itu sudah di kalahkan oleh lelaki dengan pedang besar.
"Aku ingin tahu siapa lelaki itu, kenapa dia bersama dengan putri Sania." Ucap Jozan penasaran.
"Kenapa kakak bingung ?, Aku pikir dia adalah kekasihnya." Asal saja Suji menjawab.
"Jangan bicara sembarangan kau." Bentak Jozan dengan mencengkram mulut Suji.
Bagaimana pun Sania adalah sosok wanita yang ribuan lelaki dambakan, mendengar jika dia memiliki seorang kekasih tentu akan membuat mereka marah.
Suji ketakutan ketika dia melihat sorot mata Jozan ..."Maafkan aku, maafkan aku."
"Baiklah kita kembali, kita beritahu kepada guru pengawas soal raja ular putih dan lelaki itu bertarung."
Terkejut Suji dengan "Bagaimana soal tugas kita untuk mencari bahan makanan kakak."
"Itu tidak penting."
"Ehhhh, kita tidak akan mendapat jatah makan kalau begini." Suji pasrah saja mendengarnya.
"Jangan pikirkan makanan terus, kau tidak akan mati jika tidak makan sehari."
__ADS_1
Tidak bisa Suji melawan, dan Jozan pun pergi meninggalkan tempat pertarungan ular putih untuk kembali ke Sekte teratai api.