
(note : mulai dari chapter ini akan menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan Davendra/penguasa tertinggi akan dipanggil dengan Raynor. untuk chapter sebelumnya baru akan di revisi)
Setelah satu bulan Raynor hidup didalam klan Harimau Merah, dia merasa nyaman, setiap kebutuhan terpenuhi tanpa perlu berkerja keras, ada pun keseharian dalam pelatihan sudah mendapat pengakuan dari paman Yuran.
Terlebih lagi, Darnu yang sebelumnya bertindak seenak jidat, kini lebih menahan diri, meski pun dia lebih sering mengajak Raynor berkelahi. Tapi tetap saja Raynor cukup mudah mengalahkannya.
'Ini terasa menyenangkan, hanya saja aku sadar ....'
"Bukan ini yang aku inginkan."
Hidup dengan semua kenyamanan, tanpa ada satu pun tantangan, Raynor sadar kalau ini tidak ada bedanya ketika berada di alam semesta atas sebagai penguasa tertinggi.
Bahkan di sana jauh lebih baik, Dia bisa bertemu dengan semua istrinya dan melakukan banyak hal bersama-sama seperti bercocok tanam. Sedangkan di tempat ini Raynor hanya bermain-main dengan anak kecil yang sombong dan orang-orang tua dengan kesibukan mereka.
'Sungguh tidak seperti harapanku.'
Kecuali untuk pertemuannya dengan Sania, ya itu satu-satunya hal yang tidak Raynor sesali ketika hidup di dunia antah berantah ini.
'Aku datang ke dunia ini bukan untuk liburan atau semacamnya, ya walau pun aku memang bosan sebagai penguasa tertinggi dan melakukan renkarnasi, tapi aku memiliki janji untuk mencari tahu kebenaran atas tragedi di desa Maresha.'
'Di tambah lagi aku merasa tidak nyaman, setelah ada beberapa anggota keluarga klan yang menganggap ku sebagai penganggu. '
Tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga dari Darnu, mengetahui jika anak mereka yang berbakat di kalahkan oleh Raynor, tentu ada rasa kesal setelah kehilangan kebanggaan Mereka.
Raynor bisa merasakan kebencian dari cara mereka memandangnya, seperti sebuah kotoran yang tidak sengaja terinjak, terlebih lagi jika kotoran dari kerbau, sungguh sangat besar untuk di bersihkan.
'Jika bukan karena keluarga Darnu adalah saudara dari klan harimau merah, tentu aku tidak akan berpikir dua kali untuk memberikan gelar almarhum dibelakang nama mereka.'
"Sungguh menyebalkan ...." Gumam Raynor sendirian dengan perasaan kesal.
Sebagian besar waktu Raynor gunakan adalah untuk memperkuat pondasi tubuh dan juga melakukan meditasi agar bisa mencapai tingkat pemahaman bumi. Namun karena teknik yang dia gunakan sangat spesial, itu memberi kesulitan berkali-kali lipat dari teknik meditasi biasa.
Ketika Raynor berhasil mencapai tingkat pemahaman bumi, tubuh ini akan mampu mengendalikan energi tenaga dalam dan mengubahnya ke bentuk yang lain.
Seperti halnya ketika seorang ahli beladiri mempelajari teknik Tombak petir penguasa langit, mereka bisa mengubah tenaga dalam menjadi bentuk petir untuk menyerang.
Tapi tujuan utama Raynor adalah meningkatkan kekuatan fisik serta daya tahan tubuh, sehingga untuk mengangkat beban hingga seratus kilo bukan hal sulit. Namun juga, jika ada satu kondisi yang memaksanya membuka segel kekuatan penguasa tertinggi, itu bisa mengurangi rasa sakit seperti saat bertarung melawan serigala merah.
Semua itu sangat dibutuhkan Raynor.
Jika terlalu memaksakan diri untuk membuka segel dalam tingkatan yang lebih rendah sangatlah berbahaya. Dampak yang harus Raynor tanggung yaitu kerusakan tubuh, Ini memberinya pilihan ketika ingin menggunakan kekuatan penguasa tertinggi adalah cara terakhir untuk mengalahkan musuh.
Hari sudah siang, Raynor pun merasa bosan jika bermeditasi seharian, dia putuskan untuk keluar kediaman Klan dan coba mencari sesuatu yang menarik di pusat perdagangan kota kerajaan Losborn.
__ADS_1
Tapi barulah sampai di halaman rumah, seseorang datang dan berdiri tepat dibelakangnya.
"Hei, anak numpang jangan seenaknya sendiri, kau harus tahu kalau di tempat ini bukan rumah bapakmu."
Sebuah suara terdengar mengejek, tapi entah kenapa membuat Raynor tersenyum bahagia. Mungkin karena beberapa hari terakhir Darnu tidak mengajaknya bertarung dan itu seperti mainannya hilang.
Tapi kali ini orang yang datang berbeda, dia adalah lelaki bertubuh buncit dan pipi yang gemuk, satu langkah kaki membuat lipatan lemak di perutnya bergetar.
"Siapa kau ?." Raynor baru melihat anak itu di klan Harimau Merah.
Saat melihat Raynor berjalan maju, dia terlihat ragu-ragu dan mundur satu langkah, kakinya bergetar, wajah pun menjadi sedikit pucat.
Sosok lelaki ini, tidak lebih seperti orang berkarakter lawak yang muncul dalam kisah petualangan sebagai bumbu humor agar pembaca tidak bosan.
Namun tidak lama kemudian, seorang gadis datang dari belakang, dia adalah Sania, tentu Raynor mengenal Sania, tapi tidak dengan lelaki gemuk itu.
"Kakak Furan, kenapa kakak keluar kamar bukankah ayah sudah mengatakan agar tidak memaksakan diri, bagaimana jika terjadi sesuatu." Ucap Sania ditunjukkan kepada lelaki gemuk yang berdiri di depan Raynor.
Terlihat wajah Sania begitu cemas, namun ketika dia tahu jika orang yang bersama Furan adalah Raynor, kekhawatiran Sania lenyap dan dia pun tersenyum.
"Nia aku dengar jika anak ini begitu arogan sampai membuat Darnu malu dan aku ingin membalas perbuatannya." Lelaki bernama Furan asal saja bicara.
"Kakak, aku sudah katakan jangan pedulikan Darnu, itu semua karena perbuatannya sendiri, Ray tidak salah." Sania membela Raynor.
"Terserah kakak mau bicara apa, tapi asal kakak tahu, tidak sekali pun Darnu menganggap kakak sebagai teman."
"Bicara apa kau Sania, jelas-jelas Darnu mengatakan kalau aku adalah temannya."
Terhembus nafas berat dari mulut Sania, dia seperti sudah menyerah untuk memberitahu saudaranya itu tentang sifat yang Darnu.
"Itu benar apa yang dikatakan Sania, jika di dunia ini hanya ada aku dan Darnu, lebih baik aku berteman dengan batu dari pada orang seperti dia."
Furan memandangku dengan tatapan marah, jelas sekali dia tipe orang yang menjaga persahabatannya, namun orang yang dianggapnya sebagai sahabat adalah orang busuk.
"Untuk sekarang sebaiknya kita kembali, nanti ayah akan marah, jika tahu kakak keluar kamar. " Kata Sania yang dengan lembut dan perhatian.
Raynor sedikit bingung, jika Sania tidak menyukai Darnu karena dia begitu sombong, itu sangat wajar. Tapi berbeda dengan Furan, Sania cukup sabar untuk menanggapi sikap keras kepalanya.
"Sebaiknya kau dengar nasihat Sania, karena kau tahu kita adalah keluarga, jadi jangan bertengkar seperti anak kecil."
"Siapa yang bilang aku anak kecil, aku lebih tua darimu." Furan kesal dengan ucapan Raynor.
'Tapi kalau kau tahu, aku jauh lebih tua dari nenek moyang mu.'
__ADS_1
"Lihat semua otot ku ini, akan aku tunjukan, jika aku bukan anak kecil seperti ucapanmu."
'Apa dia tidak pernah tahu, mana yang dinamakan otot dan mana itu lemak.'
Furan mengangkat tangan dan mencoba mengeluarkan tenaga dalam.
"Dengan satu tangan aku bisa membuatmu pingsan." Cukup percaya diri Furan.
Meskipun Raynor ingin sekali tertawa jika melihat pipinya yang gemuk itu sedang bicara.
Pada dasarnya kekuatan Furan sama seperti Raynor, seorang ahli beladiri tingkat pembentukan jiwa, tapi jika dibandingkan dengan Sania, Furan tertinggal jauh.
Raynor menahan pukulan itu dengan satu telapak tangan, wajah Furan berubah merah, dia menahan rasa sakit seperti memukul sesuatu yang sangat keras.
Demi menjaga reputasinya didepan Sania, Furan tersenyum sedikit terpaksa dengan wajah yang menahan rasa sakit.
"Awas saja kau, kita lanjutkan nanti, aku lupa kalau hari ini ada latihan." Kata Furan yang berjalan pergi sambil mengusap tangannya .
"Tapi bukannya guru tidak mengajar hari ini." Kata Sania membuat Furan semakin bingung.
"Maksudku guru latihan menari." Karena binggung, Furan mencari alasan lain.
"Kalau tidak salah, kakak menolak untuk berlatih menari ." Jawab kembali Sania dengan polos.
Sedangkan Raynor yang melihat hanya terdiam dan berusaha menahan tawa, itu dia lakukan agar Furan tidak malu karena bingung mencari alasan melarikan diri .
"Aku berubah pikiran, jadi sudahlah, lebih baik aku kembali ke kamar..." Dengan cepat Furan berlari hingga terjatuh, karena tubuh yang gemuk membuatnya bersusah payah untuk bangun .
Melihat hal itu, aku dan Sania membantu Furan untuk berdiri.
"Aku tidak perlu bantuan darimu." Furan berlari pergi dengan wajah malu.
Sebelum Sania pergi, Raynor langsung menangkap tangan putihnya yang halus.
"Tunggu sebentar Sania, aku ingin meminta sedikit bantuan."
"Ada apa Ray ?." Sania bukanlah orang yang tega menolak permintaan orang lain.
"Bisa temani aku pergi ke tempat perdagangan kota."
"Tentu saja, tapi biarkan aku mandi dan bersiap-siap terlebih dahulu." Jawab Sania yang tersenyum manis.
Meski tidak mandi dan bersiap-siap, saat orang-orang melihat Sania, mereka tidak perduli karena sejak awal kecantikan yang dia miliki begitu murni.
__ADS_1
"Aku akan menunggu di luar." Balas Raynor.