The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
lima koin perak


__ADS_3

Lelaki pincang itu memiliki gerakan cepat melewati setiap orang yang saling berhimpitan, Raynor bisa tahu jika dia bukan orang sembarangan, seorang ahli beladiri dengan tujuan membunuh wanita tersebut.


Raynor mengikuti, melompat diatas kepala setiap orang untuk mengejar lelaki pincang yang hampir sampai dan sudah mempersiapkan pisau ditangannya.


"Siapa kau, menginjak kepala orang itu tidak sopan." Satu orang berteriak kesal untuk tindakan Raynor.


"Maaf tuan tapi ini keadaan penting."


"Awas saja kau."


Bergerak semakin cepat melompati kepala setiap orang, tapi Raynor sadar bahwa itu akan terlambat, dia pun berteriak keras.


"Hei kalian semua, hentikan orang berpakaian hitam itu, dia akan menyerang gadis yang kalian jaga." Berteriak Raynor untuk memberi peringatan.


Setiap penjaga menyadari akan kehadiran lelaki berpakaian hitam yang menerobos kerumunan dengan gerakan cepat, mereka pun bersiap untuk menghadang. Akan tetapi, satu persatu pengawal gadis itu jatuh setelah menerima perlawanan.


Lepas dari kepungan para pengawal, lelaki pincang hanya berjarak tiga langkah untuk melepas serangan kepada gadis yang hanya memiliki satu pengawal tersisa.


Tidak ada kesempatan untuk gadis itu menghindar, terlebih lagi pengawal yang ada di sampingnya pun masih dalam kondisi terkejut setelah melihat semua temannya jatuh.


"Matilah kau putri...." Ucap lelaki itu yang sudah mengayunkan tangan dengan pisau bergerak lurus ke depan.


Tepat sebelum pisau menusuk punggung gadis itu, Raynor melompat dari atas kepala seseorang melepas satu pukulan telak diselimuti energi tenaga dalam dan langsung menghantam kepala lelaki itu hingga jatuh ke tanah.


Jika bukan karena para pengawal menghadang gerakan lelaki pincang itu, Raynor akan terlambat untuk menyelamatkannya.


Gadis itu pun berbalik melihat orang yang datang dari belakang punggung.


"Eh ...."


Raynor mendengar suara yang terkejut, dia pun melihat ke depan tepat dimana gadis itu berdiri.


"Eh...."


Ada kebingungan diantara mereka berdua, entah gadis itu atau pun Raynor. Saling tunjuk satu sama lain, hingga lupa untuk bicara dengan benar.


"Eh...? "

__ADS_1


"Ehhh."


"Eeehhhh."


"Rujad, Cepat bawa putri Siva kembali ke istana, jika tetap disini mungkin ada orang lain yang mengincarnya lagi." Suara perintah datang dari seorang pengawal yang ternyata masih hidup namun mendapat luka sobek cukup besar.


Tanpa perduli apa pun, satu pengawal yang tersisa segera merangkul Siva dan membawanya lari masuk ke kereta kuda untuk kembali ke istana.


Raynor kembali sadar dari rasa terkejut setelah melihat Siva, dan melihat ke lelaki pincang yang kini pingsan di bawah kakinya.


Tidak perlu waktu lama Sania datang, wajahnya terlihat khawatir karena tahu kejadian ini berkaitan dengan hal berbahaya yang menyangkut nyawa seseorang.


"Ray, apa kau baik-baik saja ?."


"Bukan masalah besar, aku pun tidak terluka sama sekali." Jawab Raynor dengan santai.


"Syukurlah kalau begitu, tapi kenapa kau bisa tahu jika lelaki ini akan berbuat jahat."


Sedikit bingung untuk Raynor menjelaskan, karena semua ini adalah tentang insting dari pengalaman bertarung selama ratusan ribu tahun yang penguasa tertinggi miliki.


"Aku memiliki insting yang cukup kuat untuk merasakan niat buruk dari orang lain."


Satu pengawal yang masih tersadar kini berjalan mendekat dengan kondisi cukup serius, luka sayatan dari lelaki pincang itu mampu merobek baju besi hingga mencapai kulit.


"Tuan muda, terimakasih karena kau menyelamatkan nyawa putri Siva, walau pun kami benar-benar gagal menjaga putri."


"Itu hanya sedikit kewajiban untukku melindungi seorang wanita."


"Tapi tetap saja, apa yang kau lakukan sangat luar biasa Ray, apa kau tahu jika gadis itu adalah putri Siva, putri kerajaan Losborn." Jawab Sania penuh semangat.


'Putri kerajaan ?, Siva yang aku tahu hanya seorang gadis menyusahkan saja.'


"Tunggu anda putri Sania, kenapa anda ada disini." Pengawal itu tahu siapa Sania dan dia pun terkejut ketika melihat dirinya.


"Aku ?, Aku hanya mengantarkannya pergi membeli senjata." Tunjuk Sania ke arah Raynor.


"Tuan muda maaf kalau boleh tahu, apa hubungan anda dengan putri Sania."

__ADS_1


"Hmmm sepupu ?, Kurang lebih seperti itu." Jawab Raynor karena bingung untuk hubungan antara dia dan Sania.


"Lebih tepatnya Raynor ini adalah anak dari adik ayahku, putra pahlawan besar, Rezar Avya." Seakan Sania menyombongkan diri untuk membanggakan nama Raynor.


Tiba-tiba saja tubuh pengawal itu bergetar, seakan lututnya menjadi lemas dan jatuh seketika dengan posisi seperti akan sujud di hadapan Raynor.


"Sungguh aku tidak tahu apa pun, maaf karena telah membuat tuan muda sampai harus turun tangan membantu kami."


"Sudahlah, jangan bahas itu disini, aku tidak menyukai sanjungan yang berlebihan." Raynor berusaha mengangkat tubuh pengawal itu untuk berdiri.


Banyak hal yang membuat Raynor kerepotan, dimana ternyata nama ayahnya Rezar memiliki dampak besar bagi semua orang, seakan menjadi panutan untuk mereka, sehingga kehadiran Raynor tidak bisa dianggap remeh.


Setelah semua selesai dan lelaki pincang yang ingin membunuh Siva dibawa ke penjara, keduanya pun berniat untuk pergi.


"Padahal aku hanya ingin membeli senjata, itu saja, tidak lebih, tapi kenapa semua menjadi sangat merepotkan." Raynor pun mengeluh.


"Memang apa salahnya Ray, kau harus bangga dengan pencapaian mu."


"Mana bisa begitu, semua orang hanya melihatku karena aku adalah anak seorang pahlawan besar, dan aku membenci sanjungan yang terlalu berlebihan dari mereka." Balas Raynor dengan suara lemas.


"Padahal aku hanya ingin semua orang tahu jika kau sebenarnya sangat kuat."


Raynor tersenyum karena Sania begitu peduli dengannya .... "Lupakan itu Nia, untuk sekarang sebaiknya kita mencari tempat makan."


Tapi sebelum mereka berdua pergi, perhatian Raynor tertuju ke seorang anak kecil berdiri di depan toko senjata dengan membawa sebuah benda terbungkus kain usang yang di pelukannya begitu erat.


"Tuan, tolong belilah pisau ini, aku membutuhkan uang untuk makan." Ucap anak kecil itu memohon.


Pemilik toko mengambil bungkusan dan membukanya, senyum mengejek ditunjukan, karena melihat pisau yang dibawa gadis itu sangat kusam.


"Gadis kecil, pisau ini tidak ada harganya, tapi karena aku merasa iba, biar aku berikan 5 koin perak untuk pisau ini."


"Tolong tuan, itu satu-satunya benda berharga yang ayahku buat."


"Jika itu yang kau inginkan, aku tidak bisa, aku pun membutuhkan uang untuk makan keluargaku, tidak ada untungnya meski aku menjualnya lagi."


"Aku mohon tuan, kami tidak punya apa-apa lagi untuk bisa membeli makanan." Suaranya sendu dan seperti ingin menangis.

__ADS_1


Mendengar apa yang pemilik toko senjata katakan kepada anak kecil, membuat Raynor mendekati mereka, dan lagi mata Raynor sangat tajam, hanya sekilas pandang, dia merasa tertarik dengan pisau itu.


__ADS_2